
Sudah cukup lama sejak keluarga besar itu berkumpul. Hari sudah berganti begitupun dengan tahun yang sudah berganti. Selama ini Jack tidak bertemu dengan Kayrah lagi.
Meskipun berusaha menyembunyikannya, tetapi Jack tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya pada Dewa.
Dewa merasa ada yang salah dengan saudaranya ini sejak pulang dari perkumpulan keluarga besarnya.
Tentu Dewa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi tetapi Dewa tidak mau merusak suasana hati Jack. Akhirnya Dewa hanya bisa diam sambil menunggu Jack bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan sendirinya.
Menunggu sesuatu yang tidak pasti kapan datangannya tentu sangat membuat penasaran tetapi Dewa bisa menahan semua itu cukup lama.
Dewa menahan rasa penasarannya sampai saat ini. Dimana bahkan ujian tengah semester genap sudah selesai terlaksanakan.
"Setelah ini mau kemana?" Tanya Dewa saat menunggu Jack mengeluarkan motornya.
"Pulang aja" ucap Jack lesu sambil mengeluarkan motornya.
Dewa menghela nafas lelah lalu berkata dengan kesal. "Jika kamu tidak cerita, bagaimana aku bisa tau masalah apa yang terjadi padamu?!"
Jack yang akan menghidupkan sepeda motornya pun berhenti lalu menatap Dewa lekat-lekat. "Yang kuhadapi bukan masalah"
"Lalu?!" Sahut Dewa geram.
"Kenyataan yang sangat menyakitkan"
"Ha?" Dewa menatap Jack dengan bingung sekaligus ngeri karena tiba-tiba Jack berubah seperti ini.
"Hah" Jack menghela nafas panjang lalu berkata, "Kau tau, ternyata ibuku adalah sepupu dari ayahnya Kayrah"
Dewa memiringkan kepalanya sambil berkata, "Intinya kamu dan Kayrah adalah saudara?"
Jack mengangguk lesu.
"Nah, kalau begitu biar aku saja yang menjadi pendamping Kayrah" sahut Dewa dengan cepat sambil bertepuk tangan.
"Benar, lebih baik be--" Jack langsung melotot sambil berteriak, "Apa?!"
Dewa tertawa ketika melihat ekspresi wajah Jack yang menurutnya lucu.
"Yang benar saja" gerutu Jack tidak terima sambil memakai helmnya. "Cepat naik sebelum aku tinggal!"
"Hei, hei!" Dewa dengan cepat naik lalu menepuk pundak Jack. "Jahat banget"
Jack tidak merespon. Setelah Dewa duduk dengan benar, Jack melajukan motornya menuju rumah tanpa banyak bicara.
Dewa pun tidak bicara karena mengetahui suasana hati Jack saat ini sedang tidak baik atau bisa dikatakan akhir-akhir ini suasana hati Jack buruk.
Saat sampai dirumah, Dewa dan Jack langsung masuk tanpa berbincang satu sama lain seperti sebelumnya.
"Argh! Bang!!"
Jack dan Dewa tersentak kaget saat mendengar suara teriakan perempuan dari rumah mereka. Dengan cepat, kedua remaja itu memasuki rumah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bang! Itu cemilan gue! Balikin!!"
Terlihat seorang gadis sedang mengejar seorang pemuda yang dengan santainya berlari sambil memakan cemilan yang berada di dalam toples.
"Aelah dek, Abang cuma mau incip sedikit--ekh?!"
Pemuda yang sebelumnya berbicara, terkejut ketika tangan sang gadis mengunci lehernya. Pemuda itu jatuh dengan tangan terangkat untuk menyelamatkan toples yang dia bawa. Sang gadis juga tidak mau kalah, bukan hanya tangannya yang bertindak dileher pemuda, gadis itu juga mengunci sang pemuda dengan kakinya.
"Balikin!!"
"Nggak mau!"
"Bang! Lo ngeselin banget sih!!"
"Lo nya aja yang pelit dek!"
"Apa?!"
"Lo pelit! Jangan makan banyak cemilan nanti Lo bisa gendut tau! Emang Lo mau--ekkhh!!"
__ADS_1
Sang gadis yang kesal langsung mengeratkan tangan dan kakinya membuat pemuda itu langsung mengerang.
"Coba bilang lagi..." Tatapan dingin juga suara menusuk sang gadis membuat pemuda bergidik ngeri dan berusaha lebih keras lagi untuk lepas dari adiknya itu.
"Ah," mata pemuda itu tidak sengaja melihat Jack dan Dewa yang berada di pintu sedang mengamati mereka. "Jack! Tolong Abang!!" Teriak pemuda itu dengan keras.
Sang gadis langsung menoleh setelah mendengar abangnya berteriak. "Jack!" Gadis itu itu melepaskan pemuda lalu berlari menuju Jack dan memeluknya.
Jack membalas pelukan itu dengan senang hati. "Jangan gitu sama Abang kak, bisa aja nanti Abang nggak traktir kita lagi."
"Kakak masih sanggup buat traktir Jack kok, jadi tenang aja!" Gadis itu melepaskan pelukannya. Ditatapnya Jack dengan intens lalu tertawalah dia.
"Kenapa ketawa?" Tanya Jack bingung dengan kakaknya ini.
"Nggak. Cuma ternyata kamu tumbuh dengan baik ya."
Memang meskipun Amel lebih tua beberapa tahun dari Jack tetapi tinggi mereka sudah sejajar. Karena Jack adalah laki-laki maka badan Jack lebih besar dari badan Amel.
Pemuda yang sedari tadi hanya melihat langsung menjitak kepala sang gadis. "Siapa dulu ayahnya!"
"Yang jelas bukan Lo!" Sinis gadis itu cepat.
"Siapa juga yang bilang gue ayahnya?!"
Jack menggeleng pelan saat sang gadis dan pemuda mulai bertengkar lagi. Jack menatap Dewa yang masih takjub dengan adik-kakak yang bertengkar lagi itu.
"Ehem..." Jack berdehem membuat semua orang memandangnya.
"Ada apa Jack?" Tanya pemuda yang dalam posisi bergelut dengan adiknya.
"Ah, aku cuma mau ngasih tau."
"Apa?" Tanya gadis penasaran.
Jack menepuk pundak Dewa. "Ini Dewa, saudaraku."
Pemuda dan gadis saling berpandangan lalu tertawa dengan keras membuat Jack kaget sekaligus bingung dengan keduanya.
"Hahaha! Kamu pikir Abang nggak tau?"
Jack mengerutkan keningnya bingung. "Tau darimana kalian?"
Pemuda dan gadis itu berhenti tertawa dan berdiri dari posisi mereka yang bergelut. Pemuda memeluk pundak Jack sedangkan gadis memeluk pundak Dewa.
"Kamu pikir kak Ricard nggak ngasih tau kita?" Tanya pemuda itu sambil tersenyum.
Jack menepuk jidatnya. Benar juga, pasti papanya sudah menceritakan ini pada semua kerabatnya.
"Halo adik kecil" gadis mencubit hidung Dewa membuat sang empu salah tingkah.
"Ha..halo kak..." Ucap Dewa tergagap dengan canggung.
Gadis dan pemuda tertawa sekali lagi melihat tingkah Dewa yang imut menurut mereka. Begitupun dengan Jack yang tidak bisa menahan tawa lagi.
Dewa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sadar mereka bertiga sedang menertawakannya entah karena apa.
Jack berusaha menghentikan tawanya saat melihat Dewa yang semakin canggung. "Ah, kalian belum kenalan." Ucap Jack menghentikan tawa kakak dan abangnya.
Gadis yang lebih dulu menghentikan tawanya. Gadis mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. "Nama kakak, Amel!"
Dewa membalas uluran tangan itu dengan canggung. "Dewa"
"Gue Adit." Ucap Adit dengan nada yang sombong.
Melihat abangnya yang sombong membuat Amel menjitak kepala Adit. "Ngapain sombong begitu?"
"Terserah gue lah!" Sinis Adit sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh Amel.
Jack menghela nafas panjang saat melihat mereka berdua bertengkar lagi. Tanpa sengaja mata Jack menangkap sebuah toples yang berisi makanan tergeletak di lantai.
"Bukannya ini yang diperebutkan mereka berdua tadi?" Gumam Jack sambil menghampiri toples itu lalu membukanya.
__ADS_1
Jack memakan cemilan itu diikuti oleh Dewa yang mengikuti Jack sedari tadi.
"Enak." Puji Dewa dengan mata yang berbinar setelah mencoba makanan ringan itu.
Jack mengangguk, ini pasti cemilannya kak Amel. Pikir Jack sambil memakan makanan ringan itu lebih banyak.
Sedangkan sang pemilik cemilan masih saja berdebat dengan abangnya tanpa tau ada pencuri yang memakan habis cemilannya.
Saat adik-kakak itu sudah lelah berdebat, mereka baru menyadari toples yang sebelumnya penuh dengan makanan sekarang sudah kandas tidak tersisa.
Mulut Amel terbuka lebar saat melihat cemilan yang susah payah dia dapatkan sudah habis di tangan Jack dan Dewa.
Saat Amel akan mengajukan protesnya, Jack langsung bertanya karena sadar bila kakaknya itu bisa saja mengomelinya seharian penuh.
"Ngomong-ngomong, papa mana ya?" Tanya Jack sambil celingak-celinguk mencari Ricard yang tidak terlihat batang hidungnya sedari tadi.
Mendengar pertanyaan Jack itu membuat tubuh Adit dan Amel membeku. Mereka berdua secara serentak mengalihkan pandangan mereka, tidak berani menatap Jack.
"Bang Adit? Kak Amel?" Jack menyadari keanehan keduanya.
Amel menyenggol lengan Adit dengan siku nya sedangkan Adit melakukan hal yang sama pada Amel.
"Lo kan pinter ngomong" protes Amel pelan.
"Kata siapa gue pinter ngomong?" Bantah Adit pelan.
"Lo udah sering presentasi di depan banyak orang. Udah pasti Lo pinter ngomong kan" geram Amel pada abangnya ini.
"Enak aja. Lo kira--"
"Dimana papa sekarang?" Sela Jack yang geram juga dengan keduanya.
Adit menatap Amel sejenak sebelum menghela nafas panjang. "Jack ayo kita jalan-jalan. Abang yang traktir"
"Bang dimana papa?!" Teriak Jack.
"JACK!!" Bentak Amel yang mulai marah. "Jangan kekanakan! Emang Lo nggak malu udah gede tapi masih bergantung sama papa Lo?!"
"Aku cuma tanya! Papa kemana? Sama siapa?!"
"Nggak lucu tau Jack! Emang papa Lo nggak punya urusannya sendiri gitu?!" Bentak Amel pada Jack. "Lo laki-laki Jack! Jangan bermanja terus sama papa Lo meskipun Lo anak tunggal tapi Lo harus tau batasan!"
Adit membekap mulut Amel yang mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya. "Jack, sekarang sudah awal bulan. Pasti kak Ricard sedang berziarah ke makam kak Keysha."
"Kak Keysha?" Beo Jack.
Amel menggigit tangan Adit lalu menginjak kaki Adit. "Lo nggak perlu tau siapa itu kak Keysha!" Peringat Amel sambil menunjuk Jack.
"Kak! Aku berhak tau siapa itu Keysha! Siapa dia?! Apa hubungannya dengan papa?!" Tanya Jack sambil mencengkram tangan Amel.
"Aw!!" Amel berusaha melepaskan cengkraman Jack tetapi nihil, tenaga Jack lebih besar dibanding dirinya yang seorang perempuan.
Adit mencengkram tangan Jack yang mencengkram tangan adiknya. Adit tersenyum tipis sambil menatap Jack yang langsung melepaskan cengkramannya dari tangan Amel setelah kesakitan dengan cengkraman Adit.
"Tidak perlu menyakiti adikku. Aku akan mengantarmu ke tempat kak Ricard berada." Ucap Adit dingin.
Meskipun Ricard sudah menyelamatkan kehidupan Adit juga Amel tetapi Adit tidak akan segan dengan Jack meskipun Jack adalah anak Ricard. Karena Jack sudah menyakiti adiknya maka dia sudah mempunyai alasan untuk membela adiknya.
Adit tidak akan bersikap seperti ini jika di hadapannya sekarang adalah Ricard karena Adit yakin Ricard tidak akan melakukan apa yang dilakukan Jack pada adiknya.
Adit berbalik dan menarik Amel untuk ikut bersamanya sedangkan Jack dan Dewa masih diam ditempatnya.
"Kau nggak apa?" Tanya Dewa khawatir saat melihat tangan Jack yang memerah akibat cengkraman Adit tadi.
Jack menggeleng pelan sambil mengelus pergelangan tangannya. Terdengar bunyi klakson mobil di teras membuat Jack dan Dewa memantapkan hati mereka untuk memasuki mobil.
Mobil berjalan setelah dua remaja laki-laki itu masuk. Mobil itu melaju menembus angin dan melewati jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan. Dalam perjalanan ke tujuan mereka, tidak ada satupun yang membuka suara untuk memecah kesunyian di dalam mobil.
.
like.
__ADS_1
mengetik lagi naskah yang sudah lama terlupakan ini wkwk:v