Jack

Jack
Pilihan


__ADS_3

Tepat satu bulan sudah terlewati sejak Ricard masuk rumah sakit. Sekarang kondisi Ricard bisa dikatakan benar-benar pulih.


Sebenarnya satu Minggu yang lalu Ricard sudah pulih sepenuhnya dan keluar dari rumah sakit. Tapi karena Jack dan Dewa memaksa Ricard untuk istirahat selama satu Minggu, alhasil Ricard pun menghabiskan satu Minggu itu dengan bermalas-malasan di rumah.


"Udah ketemu titik terang dimana markas si bedebah-bedebah itu?" Tanya Jack tanpa beban.


Dewa yang sedang sibuk dengan laptopnya pun menjawab, "Belum." Ucapnya singkat.


Mereka berdua sedang sibuk mencari dimana markas baru geng black rose yang berada di Tangerang saat ini.


Karena beberapa tahun ini situasi di Tangerang tidak mendukung, akhirnya geng black rose memilih untuk menyembunyikan diri. Mereka memindah markas mereka ke tempat yang tidak diketahui oleh orang-orang.


Sekarang Jack dan Dewa sedang berusaha mencari markas itu. Untuk apa? Tentu saja untuk memperingatkan mereka agar tidak menganggu kehidupan Ricard ataupun Jack dan Dewa lagi.


"Sesusah itu?" Tanya Jack lagi.


"Menurutmu?" Tanya Dewa malas dengan mata yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Kok bisa nggak ketemu ya markasnya? Emang mereka sembunyi dimana sih? Nggak mungkin kan--"


Brak!


Belum sempat Jack berkata dengan lengkap, Dewa dengan tatapan jenuhnya menggebrak meja dengan keras.


"Kau kenapa?" Tanya Jack yang bingung dengan perubahan ekspresi Dewa.


Dewa menatap Jack dengan matanya yang suram. "Capek. Pengen minum kopi."


.


***


.


"Jangan sampai lolos..." Bisik Jack pada Dewa yang sedang meminum moccacino-nya.


Dewa mengangkat bahunya. "Mataku sakit karena dari kemarin liat laptop terus. Jadi sekarang ini tugasmu."


Jack berdecak kesal sembari memutar bola matanya malas. Sesekali mata Jack melirik sekelompok orang yang memakai jaket berlogo geng black rose tidak jauh dari mereka.


Sekarang mereka berada di cafe tempat biasa anak remaja nongkrong. Sangat kebetulan orang yang Jack dan Dewa cari juga ada di sini.


Ya meskipun di sekelompok geng black rose yang mereka lihat sekarang tidak ada calon ketua cabang yang bulan lalu sudah membuat Ricard kecelakaan.


Tapi dengan kehadiran satu anggota geng black rose saja sudah membantu mereka.


"Eh, mereka pergi!" Jack bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Dewa yang masih ingin menghabiskan kopinya di cafe ini.


"Ehhh..." Dewa buru-buru mengambil kopinya dan pasrah saat Jack menyeretnya pergi entah kemana.


"Mereka lari! Ayo lebih cepat Dewa!"


Jack berlari sambil menyeret Dewa yang kesusahan menyamakan langkah kaki Jack.


"Tapi motor kita masih di parkiran!" Dewa mengingat sesuatu yang dilupakan oleh Jack.

__ADS_1


"Nanti kita balik lagi!" Jack sudah tidak peduli lagi dengan itu.


Mencari markas baru geng black rose sangatlah susah dan sekarang mereka memiliki kesempatan untuk menemukannya maka jika mereka menyia-nyiakan kesempatan ini, sudah pasti mereka akan menyesal.


Bukan tidak mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menemukan markas geng black rose yang baru.


"Hah... Hah... Hah... Udah sampe?" Dewa mengatur nafasnya saat tangannya ditarik oleh Jack ke bawah untuk bersembunyi dibalik semak-semak.


"Sstt!" Mata Jack terus menatap sekelompok geng black rose yang sekarang memasuki gedung kosong.


Gedung itu dipenuhi dengan lumut dan terlihat menyeramkan. Bulu kuduk Jack bahkan berdiri saat mengamati gedung itu. Jack tidak menyangka ada gedung seperti itu di sini.


Dewa tidak peduli. Dia meminum moccacino-nya lagi saat nafasnya sudah mulai teratur.


"Loh? Eh?"


Dewa menatap Jack yang sekarang terlihat seperti terkejut. "Ada apa?" Tanya Dewa yang berusaha menghabiskan moccacino-nya.


"Itu... Rendy? Ada Claudia juga!" Tunjuk Jack pada dua orang yang akan dimasukkan ke dalam mobil setelah keluar dari gedung kosong itu. "Eh, itu si bedebah yang buat papa kecelakaan kemarin!" Lanjut Jack.


Dewa membuang wadah kopinya yang sudah kosong ke sembarang arah lalu dia ikut mengintip apa yang dilihat oleh Jack. Dewa mengerutkan alisnya bingung saat melihat Rendy dan Claudia yang tidak berdaya dipaksa memasuki mobil.


"Kau nggak mau menyelamatkannya?" Tanya Dewa sambil menatap Jack lekat-lekat.


"Tentu saja kita harus menyelamatkan--"


Mata Jack melebar saat dia menggertakkan giginya kuat-kuat sampai terdengar bunyi gemertak.


Dewa menoleh untuk menemukan Ricard yang juga dipaksa masuk ke dalam mobil oleh sekelompok geng black rose itu.


Secara bersamaan, Jack dan Dewa keluar dari persembunyiannya dan langsung menghajar sekelompok geng black rose itu dengan membabi buta.


Mereka berdua sudah digelapkan oleh emosi ketika melihat Ricard dengan keadaan babak belur diperlakukan seperti hewan.


Batas kesabaran mereka sudah habis. Bagaimanapun juga, Ricard baru saja sembuh tapi sekelompok geng black rose ini malah membuat Ricard babak belur lagi.


Alasan Jack dan Dewa mencari markas geng black rose bagian Tangerang adalah untuk keselamatan papa mereka. Tapi belum sempat mereka menemukan markas geng black rose, mereka sudah melihat keselamatan Ricard terancam.


"Dewa? Jack?" Ricard terkejut saat melihat kedua anaknya yang tiba-tiba datang dan bertengkar.


Begitupun dengan Rendy dan Claudia yang hampir saja pingsan. Bola mata keduanya membulat dengan sempurna saat melihat Jack dan Dewa yang mengamuk bagai hewan buas yang terlepas dari rantainya.


Rendy menelan ludahnya dengan susah payah. Andai Jack dan Dewa melawan seperti ini saat dia bully dulu mungkin dia tidak akan berani lagi melakukan hal yang tidak senonoh pada mereka.


Calon ketua cabang yang sebelumnya juga terkejut langsung ikut turun tangan untuk menghentikan Jack dan Dewa.


Jack dan Dewa sudah ceroboh. Mereka tidak tau pasti jumlah geng black rose yang ada di sini sekarang. Akhirnya Jack dan Dewa berhasil dipojokkan setelah semua anggota geng black rose yang masih di dalam gedung keluar dan ikut turun tangan.


Jack menatap penuh permusuhan pada calon ketua cabang yang sekarang sedang menyeringai. "Berani sekali kau menyerang ku." Ucap calon ketua cabang dengan nada merendahkan.


Calon ketua cabang maju, berniat menghajar Jack seperti dulu tapi sebelum itu terjadi tubuhnya membeku ketika mendengar suara dari belakangnya.


"Bocah, jika kau berani menyakiti anak-anakku maka akan ku pastikan kau mati hari ini..." Bisik Ricard dengan nada yang mengerikan.


Tubuh calon ketua cabang terpaku seiring dengan bulu kuduknya yang merinding. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana pria paruh baya di belakangnya ini menghajar semua anggota geng black rose yang ada di sini tanpa rasa takut.

__ADS_1


Andai saja calon ketua cabang tidak punya Rendy dan Claudia sebagai sandera maka mungkin Ricard sudah menaklukan semuanya sekarang.


Ricard mampir ke gedung tua yang dulunya adalah markas geng black rose bagian Tangerang saat dirinya masih sekolah. Tidak disangka Ricard malah melihat calon ketua cabang juga ada di sini.


Ricard awalnya berniat hanya memberi calon ketua cabang itu peringatan tapi siapa sangka dirinya malah melihat Rendy dan Claudia sedang disiksa.


Beruntung Ricard cepat datang, jika tidak maka pasti Claudia sekarang sudah menjadi gila karena keperawanannya diambil paksa oleh calon ketua cabang itu.


Tentu saja Ricard mengingat Rendy dan Claudia sebagai teman kedua putranya. Ricard langsung menyerah dengan syarat geng black rose harus membebaskan Claudia, karena bagaimanapun Claudia adalah seorang gadis. Akan buruk kondisinya jika sampai dibawa oleh anggota geng black rose.


"Menarik." Calon ketua cabang geng black rose melirik Ricard sekilas lalu menatap Jack dan Dewa sambil menyeringai. "Dua bocah bodoh itu adalah teman kalian bukan?" Tunjuknya pada Rendy dan Claudia.


Jack mengangguk tapi tidak dengan Dewa yang diam saja.


"Aku akan membebaskan satu dari ketiga manusia ini. Pilihlah mana yang ingin kau bebaskan?" Calon ketua cabang tersenyum dingin.


Jack berada dalam dilema besar. Dia berfikir sambil menatap satu persatu dari ketiga pilihan. Tidak dengan Dewa yang dengan cepat menjawab setelah calon ketua cabang selesai berkata.


"Tentu saja kami memilih papa kami!" Ucap Dewa dengan penuh keyakinan.


Sebuah senyuman terlihat di wajah Ricard saat mendengar Dewa dengan yakin memilihnya. Sebenarnya Ricard tidak peduli dengan pilihan ini tapi dia juga ingin tau seberapa sayang anak-anaknya pada dirinya. Tapi senyuman itu tidak bertahan lama setelah mendengar ucapan Jack yang tidak terduga.


"Tidak!" Jack berkata dengan keras. Dia memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. "Kami memilih Claudia."


Calon ketua cabang tertawa terbahak-bahak. "Anak dan bapak sama saja."


Calon ketua cabang menggeleng lalu mengambil Claudia dengan kasar dan langsung melemparkan tubuh Claudia yang tidak berdaya pada Jack.


Jack menangkap tubuh itu dengan baik.


"Hahaha!"


Calon ketua cabang memasuki mobil diikuti oleh anak buahnya yang membawa Rendy dan Ricard.


Rendy merasa lega ketika tau Claudia sudah aman sekarang sedangkan Ricard, sebelum memasuki mobil, dia menatap Jack dan Dewa sekali lagi sambil memberikan senyum yang tidak pernah dia tampakkan.


Hati Jack berdenyut sakit saat melihat senyum papanya itu. Kekecewaan juga terlihat di mata papanya. Sekarang Jack mulai meragukan keputusannya ini.


Mata Dewa menggelap saat mobil itu sudah tidak terlihat lagi. Sekarang hanya ada Dewa, Jack, dan Claudia yang tidak sadarkan diri di sini.


"Apa kau gila Jack?" Nada yang Dewa pakai penuh dengan permusuhan.


Jack menoleh untuk menemukan Dewa yang tatapannya seperti orang psikopat.


"Kau gila. Kau sudah gila. Benar-benar gila." Dewa bangkit dan menatap Jack dengan penuh ketidak percayaan.


"Aku.. punya alasan..." Jack mencoba menjelaskan.


Dewa diam untuk menunggu Jack menjelaskan tapi tidak ada suara lagi yang terdengar. Hati Dewa sakit. Bagaimanapun Dewa sudah pernah kehilangan kedua orang tua kandungnya. Sekarang Ricard yang menerimanya dengan tulus sebagai anak, telah pergi entah kemana.


Dewa berbalik dan pergi meninggalkan Jack yang masih merenungkan keputusannya itu.


"Baiklah. Rawat saja gadis yang kau pilih itu. Aku akan menyelamatkan papa apapun bayarannya." Dewa berkata dengan acuh tak acuh.


.

__ADS_1


like.


__ADS_2