
Ricard menghentikan mobilnya di sebuah cafe setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Ricard tidak keluar dari mobil setelah sampai tujuan tetapi malah diam sambil menopang kepalanya.
Karena masalah anak-anaknya ini membuatnya sakit kepala sampai rasanya ingin memakan orang.
"Ah, bagaimana pendapat kak Sammy ya?" Gumam Ricard lelah.
Ricard mendongak dan menatap nama dari cafe yang dia kunjungi ini.
"Sudah lama ya, Cafe Smash" Ricard mengembangkan senyumnya saat memory tentang cafe ini terlintas di kepalanya.
Membuang nafas panjang sambil membulatkan tekadnya, Ricard akhirnya keluar dari mobil dan memasuki cafe smash dengan langkah yang bisa dibilang sangat pelan.
Sudah pasti Ricard sangat kepikiran tentang masalah kedua anaknya itu. Ricard tidak menyangka akan ada masalah seperti ini apalagi ini menyangkut geng black rose.
Saat Ricard membuka pintu cafe, dirinya langsung disambut oleh Thalita yang mengenakan celemek sambil bersedekap dada.
"Eh?" Ricard hampir saja menabrak Thalita bila dirinya tidak berhenti tepat waktu. "Kak Thalita?"
Thalita mendorong jidat Ricard dengan jari telunjuknya sambil berkata, "Mikirin apasih sampai melamun dan nggak keluar-keluar dari mobil?!"
"Auh!" Ricard mengelus jidatnya yang terasa sakit. Meskipun hanya satu jari telunjuk tetapi tenaga Thalita memang tidak main-main karena bagaimanapun Thalita sudah pernah mengikuti pelatihan keras untuk menjadi seorang agent.
"Sudah" Thalita langsung menarik tangan Ricard tanpa aba-aba membuat Ricard hampir saja terjatuh.
"Eh? Kok cafenya sepi kak?" Ricard heran ketika melihat keadaan cafe ini sangat sepi.
"Cafenya tutup" jawab Thalita lalu menunjuk sekelompok bapak-bapak yang sedang berkumpul.
"Tuh, udah ditungguin dari tadi" Thalita tersenyum ramah saat melihat Ricard.
"Ah, makasih ya kak" ucap Ricard sambil tersenyum lebar juga.
Thalita tanpa banyak bicara mengacak rambut Ricard lalu berjalan kedalam cafe lagi.
Ricard menatap Thalita sampai punggung Thalita hilang di balik pintu dapur yang ada di cafe, setelah itu Ricard menatap sekelompok bapak-bapak yang sedang menatapnya.
"Akhirnya datang juga!" Seru bapak berambut pirang dengan riang.
Ricard terkekeh, "Key, kamu udah tua tapi masih aja semangat kayak anak muda"
"Enak aja!" Keynan berkedip genit lalu berkata, "Aku masih kecil tau!"
Ricard berjalan lalu duduk di hadapan Keynan yang memang pada awalnya hanya kursi di hadapan Keynan yang tersisa.
"Jangan pasang ekspresi seperti itu!" Sammy yang duduk di samping Keynan langsung menutup wajah Keynan dengan tangannya. "Jijik tau" lanjut Sammy tanpa beban.
"Aduh!" Keynan menyingkirkan tangan Sammy yang ada di wajahnya lalu berkata, "Sakit tau kak!"
"Alay" celetuk Rangga yang berada di sisi lain Keynan. Rangga yang sedari tadi diam pun akhirnya angkat bicara setelah mendengar ucapan manja adik sepupunya itu.
"Iya, kayak banci" seru Sammy sambil menatap Keynan dengan pandangan jijik.
"Bukan 'kayak' tapi udah jadi banci" lanjut Rangga sambil tertawa kecil, mengejek.
Keynan yang merasa ternistakan akhirnya hanya bisa menggerutu kesal. "Nggak Abang, nggak kakak, masih aja suka bully aku"
Deg.
Ricard sekilas melupakan masalah anak-anaknya tetapi setelah mendengar ucapan Keynan, Ricard jadi ingat lagi.
Ricard menundukkan kepalanya, takut Sammy melihat ada keanehan di dalam dirinya. Ricard yang sudah mengenal Sammy dari dulu sudah tau bahwa Sammy akan sangat peka bila ada seseorang di sekitarnya menghadapi masalah.
"Kamu kenapa?"
Tidak Ricard sangka bahwa yang pertama peka dengan keanehan dirinya bukan Sammy tetapi seseorang yang ada di samping kanannya, Devan.
Sontak saja semua bapak-bapak itu langsung menatap Ricard.
"Cerita aja kalo lagi ada masalah" Satrio yang berada di samping kiri Ricard langsung menepuk pundak Ricard sambil tersenyum meyakinkan.
Ricard menatap setiap orang yang ada di sini lalu mata Ricard berhenti ketika bertemu dengan mata Sammy yang tajam.
Ricard menahan nafasnya sejenak lalu menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus menceritakan masalah ini.
Ricard membuka mulutnya lalu berkata dengan pelan, "Jack dan Dewa..."
Semua yang ada di meja itu menatap Ricard sambil menunggu kelanjutan dari kata-kata Ricard.
__ADS_1
"Jack dan Dewa kenapa?" Tanya Rangga yang sudah tidak sabar dengan ucapan Ricard yang menggantung.
Memang sebelum Ricard datang, Sammy sudah menceritakan tentang Dewa yang adalah anak angkat Ricard saat ini. Jadi semua bapak-bapak ini sudah tau tentang siapa yang di maksud 'Dewa'.
Ricard juga menyadari tidak ada yang bertanya tentang siapa itu Dewa, dia sadar pasti Sammy sudah menceritakan semuanya.
Ricard pun melanjutkan setelah tidak ada yang bertanya tentang anak angkatnya itu, "Di bully" kali ini suara Ricard lebih pelan dari sebelumnya.
Sunyi--
"APA?!" Sammy yang pertama bereaksi memecah keheningan yang terjadi setelah sadar dari keterkejutannya.
Sammy sebenarnya cukup terkejut mendengar kedua ponakannya di bully begitupun dengan bapak-bapak lain yang ada di sini.
"Sstt! Nanti kak Thalita--"
"Ada apa?" Sebelum Ricard bisa menuntaskan kata-katanya, Thalita sudah lebih dulu memunculkan kepalanya dari balik pintu.
Mendengar teriakan Sammy tentu saja membuat Thalita terkejut begitupun dengan anaknya yang saat ini juga ikut mengintip di samping ibunya.
"Nggak ada apa-apa kok. Mending kamu lanjutin aja masaknya, kita udah laper nih" ucap Rangga sambil melambaikan tangannya kedepan, menyuruh Thalita masuk lagi kedalam.
Thalita cemberut kesal lalu berkata, "Yaudah"
Setelah itu anak Thalita, Benua, juga ikut masuk ke dalam dapur lalu menutup pintu dapur dengan hati-hati.
"Nah," melihat Thalita dan Benua sudah kembali masuk, semuanya langsung menatap Ricard lagi. "Sekarang tolong jelasin apa maksud ucapanmu tadi" titah Satrio yang penasaran.
Ricard menghela nafas lalu berkata, "Jack dan Dewa di bully. Udah itu aja"
"Sama siapa?" Tanya Devan yang cukup tenang.
Mendengar pertanyaan yang dia takutkan terlontar membuat Ricard hanya bisa pasrah. Ricard mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berkata, "Tolong jangan terkejut atau nanti kak Thalita akan mengamuk setelah mendengar dalangnya"
Meskipun Ricard sudah sangat geram dengan geng black rose yang ada di Tangerang tetapi Ricard tidak bisa membuat geng cabang itu hancur begitu saja mengingat banyak anak jalanan yang tinggal di dalam geng cabang itu.
"Udah cepet jawab aja" titah Sammy geram dengan Ricard yang berhobi membuat orang penasaran.
"Pembully itu adalah..." Ricard tidak yakin untuk mengatakannya tetapi setelah melihat dirinya di tatap tajam oleh lima orang di sini membuat Ricard tertekan. Akhirnya Ricard hanya bisa menjawab dengan pasrah. "Anggota geng black rose bagian Tangerang"
Ricard sudah menutup matanya, bersiap-siap menghadapi keterkejutan dari bapak-bapak yang ada disini tetapi reaksi mereka tidak seperti yang Ricard pikirkan.
"APA?!!"
Secara serempak Rangga, Sammy, Devan, Keynan, dan Satrio berteriak sambil berdiri juga menggebrak meja dengan keras.
Melihat reaksi yang dipikirkan Ricard datang terlambat juga tiba-tiba membuat Ricard menjadi sangat terkejut sampai dia memundurkan badannya dengan reflek dan akhirnya dirinya jatuh terjungkal ke belakang.
Mendengar suara yang sangat berisik secara tiba-tiba membuat Thalita dan Benua yang ada di dapur meloncat kaget. Apalagi gebrakan meja yang keras juga di gebrak lima orang secara bersamaan membuat suaranya begitu keras.
Thalita keluar dari dapur bersama Benua lalu menatap dengan bingung lima orang pria paruh baya dan seorang pria paruh baya yang baru saja bangun setelah jatuh dari lantai.
"Ada apasih?" Melihat Ricard yang seperti baru saja berdiri dari lantai juga mengusap kepalanya membuat Thalita menebak bahwa Ricard baru saja terjatuh.
Tebakan Thalita itu diperkuat oleh kursi yang beberapa saat lalu di duduki oleh Ricard sedang dalam posisi jatuh.
"Nggak, nggak! Nggak ada apa-apa! Sayang, cepat selesaikan masakan yang kamu buat, kita udah sangat lapar" segera saja Sammy bertindak dengan cepat.
Sammy menghampiri Thalita juga Benua lalu mendorong mereka berdua agar memasuki dapur kembali.
Melihat tingkah Sammy yang mencurigakan membuat Thalita semakin yakin telah terjadi sesuatu. Saat Thalita ingin bertanya, dirinya dan anaknya sudah lebih dulu memasuki dapur.
Thalita berbalik dan dirinya terkejut ketika pintu dapur langsung di tutup oleh Sammy. Thalita melongo melihat pintu yang tertutup di hadapannya.
Segera saja Thalita membuka pintu itu tetapi secara ajaib pintu dapur tidak bisa dibuka!
"Sammy! Kenapa pintunya dikunci?!" Thalita berteriak sambil menggedor-gedor pintu dapur yang tertutup rapat.
Melihat Thalita yang masih berusaha membuka pintu itu membuat Benua bingung, "Papi kenapa mi?"
Thalita mengakhiri kegiatannya lalu berkata, "Mami nggak tau" Thalita meremas tangannya yang menggempal lalu berkata sambil tersenyum kesal. "Nak, mari kita selesaikan masakan ini lalu kita keluar dengan mendobrak paksa pintu ini"
Melihat Thalita yang begitu percaya diri bisa mendobrak pintu itu membuat Benua langsung menatap pintu besi yang tertutup rapat itu dengan iba.
Sementara di sisi lain,
Setelah mengunci pintu dapur, Sammy langsung kembali ke tempatnya lalu menatap Ricard dengan tajam.
"Apa maksudnya? Anggota geng black rose membully kedua anakmu?" Tanya Sammy tidak percaya.
__ADS_1
Ricard mengangkat bahunya lalu berkata, "Itu memang kenyataannya"
Tepat setelah Ricard mengatakan itu, suara keras yang berasal dari pintu dapur terdengar. Sontak saja keenam pria paruh baya yang sedang berdiskusi langsung terkejut.
"Apa-apaan itu?!" Rangga yang pertama bereaksi.
Semua yang melihat itu secara bersamaan menelan ludah mereka. Thalita bukan seorang remaja lagi tetapi tenaga yang dimiliki Thalita masih saja sama membuat orang-orang yang melihatnya langsung bergidik ngeri.
"Oke, kembali ke topik" Keynan menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap Ricard lagi. "Mengapa bisa begitu? Lalu bagaimana bisa anggota geng black rose tidak mengenal wajah anakmu yang mirip sekali denganmu?" Tanya Keynan heran.
"Betul, bukankah foto dirimu di kenang selalu oleh seluruh geng black rose yang ada?" Tanya Devan membenarkan.
"Secara dirimu adalah black lion. Orang terkuat setelah queen black" Satrio juga sama herannya dengan yang lain.
Ricard menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung, "Sebelum berangkat ke Paris tujuh belas tahun yang lalu, aku meminta kak Thalita untuk menyimpan semua fotoku"
Semua orang menatap Ricard datar dengan perasaan kesal.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Sammy memijat keningnya yang sakit akibat masalah yang mengejutkan ini.
Ricard tersenyum tipis lalu mengangkat bahunya. Sebenarnya dia buru-buru kemari untuk menanyakan pendapat dari teman-temannya ini. Ricard sendiri sudah pusing saat mendengar geng black rose adalah dalang dibalik pembullyan anak-anaknya.
Ricard sebenarnya ingin sekali mengunjungi geng black rose bagian Tangerang. Bukan secara baik-baik, tapi secara tidak baik. Ricard masih percaya diri dengan kemampuannya, jadi Ricard sangat yakin bisa menghabisi geng black rose cabang itu seorang diri.
Tapi Ricard juga memikirkan keberadaan Thalita disini. Bila Ricard melakukan itu, entah apa yang akan dilakukan Thalita kedepannya. Ricard sungguh tidak ingin melihat kemarahan Thalita lagi.
"Rencananya, aku akan mengunjungi geng black rose bagian Tangerang setelah kak Thalita pergi dari negara ini" ucap Ricard pelan.
"Itu rencana yang bodoh" Rangga dengan cepat menimpali. "Kamu pikir kak Thalita nggak bisa kembali lagi ke Indonesia setelah mendengar salah satu cabang gengnya musnah?"
"Mengunjungi cabang geng black rose tidak memastikan dirimu tidak menghancurkan geng itu bukan? Apalagi geng black rose bagian Tangerang sudah berani membully anak-anakmu" Rangga menatap Ricard lekat-lekat.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ricard sambil menatap mata Rangga yang menatapnya.
"Bukankah seharusnya kamu menyelidiki dulu?" Sekarang Keynan yang buka suara. "Kamu tidak bisa menyimpulkan semuanya hanya dengan ucapan seorang bocah" Keynan menatap Ricard sambil tersenyum miring.
"Dimana otakmu? Bukankah dulu bila ada masalah di geng black rose pusat, kamu menyelesaikan masalah itu dengan otak cerdas mu?" Tanya Keynan.
"Dia tidak akan bisa berpikir dengan jernih ketika hatinya dipenuhi dengan amarah" celetuk Satrio saat melihat wajah Ricard yang memerah entah karena malu atau amarah.
"Cih" Ricard menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu berkata, "Jujur aku sangat marah. Aku berpikir apakah Jack juga diperlakukan demikian saat di Paris? Pikiran itu membuatku hampir tidak bisa menahan amarah ini"
"Apa maksudmu?" Tanya Sammy saat mendengar Ricard mengucapkan hal itu. Wajah Sammy menjadi seram ketika mendengar kemungkinan Jack juga diperlakukan demikian di Paris.
"Dulu di Paris, Jack sering pulang dengan luka lebam di wajahnya. Aku kira itu adalah luka hasil dia bertengkar. Sekarang aku curiga, bila dia bertengkar mengapa tidak ada surat panggilan orangtua dari sekolahnya yang lalu? Hal ini memperkuat dugaan ku bahwa Jack juga di bully di Paris" Ricard menjelaskan dengan wajah yang masih ditutupi oleh kedua tangannya.
"Itu kelakuan geng black rose juga?" Tanya Satrio yang geram.
"Kemungkinan bisa terjadi, secara geng black rose juga ada di Paris" ujar Rangga yang mulai pusing dengan masalah ini.
"Begini saja" Devan mulai buka suara. "Bagaimana kalau kamu tanya kedua anakmu? Selidiki dulu seperti kata Keynan, apa benar geng black rose adalah dalangnya? Setelah kamu menemukan kenyataannya, kamu lakukan apa yang kamu inginkan" Devan berhenti sejenak lalu berkata.
"Bahkan bila kamu menghancurkan geng black rose bagian Tangerang, kami akan mendukungmu. Tapi bila kamu tidak melakukan itu, aku percaya kak Sammy tidak akan diam saja" lanjut Devan sambil tersenyum lemas.
Mereka baru menyadari setelah Devan tersenyum tidak berdaya bahwa sekarang wajah Sammy sangat buruk. Hal itu membuat semua bergidik ngeri.
Bagaimanapun juga Jack adalah keponakannya dan Dewa, dia sudah menganggap Dewa sebagai keponakannya juga.
Sammy sangat menyayangi kedua keponakannya seperti dia menyayangi anaknya, Benua.
Mendengar kedua keponakannya di bully membuat amarah Sammy bergejolak. Apalagi yang membully adalah geng yang dipimpin oleh istrinya sendiri. Sammy sungguh geram dengan kelakuan geng black rose kali ini.
Belum sempat semua melanjutkan perbincangannya, aroma lezat yang keluar dari dapur menggugah selera mereka semua.
Sontak semuanya menatap pintu dapur yang tertutup rapat. Bunyi perut dari masing-masing orang terdengar tetapi dengan cepat bunyi perut itu dikalahkan oleh kerasnya bunyi pintu dapur.
Brak...
Semua terkejut tak terkecuali Ricard yang sebelumnya melamun. Bapak-bapak yang sebelumnya tergoda oleh aroma harum makanan, sekarang melongo dengan mulut terbuka lebar sambil menatap pintu dapur yang lepas dari tempatnya.
"Makanan sudah siap!"
Thalita membawa makanan sambil tersenyum lebar. Dia bahkan tidak peduli dengan pintu dapur yang lepas dari tempatnya akibat tendangannya.
Tidak ada pilihan lain, mereka semua akhirnya hanya bisa melupakan sejenak masalah pembullyan ini ketika melihat Thalita menyajikan makanan.
Sedangkan Benua, dia masih berdiri sambil menatap pintu yang terlepas. Sammy pun juga menatap pintu itu dengan iba.
Pintu dapur... Batin ayah dan anak itu sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
like.