Jack

Jack
Kawan lama


__ADS_3

Terlihat seorang pria dengan beberapa keriput di wajahnya. Pria itu tersenyum membuat sudut matanya tercipta keriput baru.


"Kamu ingin mengetahui markas geng black rose yang baru?" Tanya pria itu sambil menatap Dewa.


Dewa mengangguk dan menatap Billy dengan penuh kebingungan. Sorot matanya seperti mengatakan, 'siapa Paman ini?'.


Billy tersenyum canggung lalu berkata, "Beliau ketua geng serigala putih."


"Oh--Hah?!" Dewa sampai bangkit dari duduknya lalu menatap pria itu dengan tidak percaya. Tentu saja Dewa terkejut karena ketua geng ini--Geng serigala putih--tidak pernah menampakkan dirinya.


Bahkan saat Dewa masuk ke geng serigala putih sampai keluar pun, Dewa tidak pernah sekalipun melihat ketua geng serigala putih. Sekarang ketua geng yang misterius sedang berdiri di hadapannya.


"Ke..ketua!" Dewa memberikan hormatnya.


"Hahaha, tidak perlu sungkan nak." Pria itu tertawa senang.


"Maaf ketua, saya tidak tau jika itu anda..."


"Tidak apa. Wajar saja kamu tidak tau karena aku sudah pergi selama... Em... Tujuh belas tahun ya?" Pria itu menatap Billy.


"Benar." Billy langsung menjawab.


Pria itu mengangguk puas lalu menatap Dewa yang masih menunduk. "Duduklah dan lagi, panggil aku Paman."


"Baik, Paman ketua!" Dewa langsung duduk sesuai perintah.


Billy menahan tawanya saat mendengar panggilan yang Dewa berikan pada pria yang sekarang sedang melongo.


"Paman...ketua..khikik..." Billy memegang perutnya sambil berusaha mati-matian menahan tawanya yang bisa meledak kapan saja.


Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memelototi Billy yang sedang menahan tawa. "Apa yang kamu ketawakan?!"


Mendengar ucapan kesal pria itu membuat Billy langsung berhenti menahan tawa. Billy berdehem pelan lalu menatap Dewa seperti tidak terjadi apa-apa.


"Apa Lo inget wajah anggota geng black rose yang menculik ayah Lo?"


Dewa mengangguk yakin. "Dia juga punya jabatan di geng black rose bagian Tangerang ini."


"Oh ya?" Pria itu duduk di meja antara Dewa dan Billy lalu menatap Dewa dengan penuh antusias. "Apa jabatannya?"


"Calon ketua katanya." Jawab Dewa enteng.


Uhuk uhuk!!


Billy langsung tersedak sampai terbatuk-batuk saat mendengar jawaban Dewa yang seperti tidak mempunyai beban itu.


Pria itu juga menatap Dewa dengan takjub, sangat jarang menemukan orang yang tidak takut dengan calon ketua geng besar seperti geng black rose meskipun itu hanya cabangnya saja.


"Lo bercanda kan?" Billy menatap Dewa khawatir. Bagaimanapun juga calon ketua cabang itu akan menjadi seorang ketua geng black rose bagian Tangerang di masa depan.


Jabatan Billy tidak bisa dibandingkan dengan calon ketua cabang setelah menjadi ketua cabang kelak.


"Gue serius Billy. Ini menyangkut bokap gue, nggak mungkin gue bercanda di situasi saat ini." Jawab Dewa jengah.


"Hahaha! Nak, kamu pemberani juga ternyata!" Pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Lalu ketu--ah maksud saya Paman ketua. Apa anda bisa membantu?" Tanya Billy sambil menahan tawanya lagi.

__ADS_1


Pria itu menjitak kepala Billy dengan kesal. "Kau menyebalkan ternyata!"


Dewa tersenyum canggung. Dia masih menanti jawaban memuaskan dari pria di hadapannya ini.


Pria itu menatap Dewa sambil tersenyum miring. "Tenang saja nak, akan ku tanyakan pada kawanku dimana markas geng black rose saat ini. Aku akan menghubungimu setelah menemukan titik terang."


.


***


.


Seorang pria paruh baya menatap sebuah rumah berukuran besar dengan senyum tipis di wajahnya.


"Sudah tujuh belas tahun ya... Kita tidak bertemu." Gumamnya sembari memencet bel rumah itu.


"Cari siapa ya?" Seorang satpam menatap pria paruh baya itu.


"Apa ini masih rumahnya Ricard?" Tanya pria paruh baya itu.


Satpam itu diam sebentar sebelum menjawab, "Benar. Ini kediaman tuan Ricard. Anda siapa?"


"Katakan pada Ricard. Kawan lamanya, Angga, datang berkunjung." Ucap pria paruh baya yang bernama Angga itu.


"Tunggu sebentar." Satpam itu memasuki rumah.


Angga mengangguk pelan.


"Bagaimana kabarmu kawan? Oh, Jack pasti sudah besar ya..." Gumamnya sambil terkekeh geli ketika mengingat wajah Jack yang masih bayi saat Ricard meninggalkan negara ini dulu.


Setelah menunggu beberapa saat, satpam itu kembali lagi. Satpam itu membuka pintu gerbang lalu mempersilahkan Angga masuk.


Angga berhenti ketika sampai di depan pintu rumah yang terbuka. Ada seorang remaja yang menyambutnya di pintu.


"Paman Angga?" Remaja itu tersenyum.


Angga menatap remaja itu lekat-lekat lalu tertawa. "Ternyata kamu Jack!"


Jack ikut tertawa, "Iya Paman. Mari masuk."


Angga mengangguk dan mengikuti Jack dari belakang.


"Bagaimana kamu bisa tau kalau ini aku Jack?" Tanya Angga seraya duduk di sofa.


Jack ikut duduk di hadapannya. "Papa selalu menceritakan tentang Paman."


"Hahaha! Kamu sudah besar yaampun! Paman masih ingat, dulu kamu masih bayi kecil segini." Angga mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya sampai tersisa sedikit jarak.


"Paman juga tambah tua." Celetuk Jack sambil tertawa.


"Meskipun udah tua tapi masih ganteng kan?" Angga bergaya sok cakep.


"Astaga Paman, malu sama umur!"


Jack dan Angga pun tertawa bersama. Disaat keduanya sedang berbincang, seorang gadis datang membawa minuman beserta cemilan.


"Silahkan Paman." Jack mempersilahkan Angga yang langsung meminumnya.

__ADS_1


"Papamu dimana?" Angga menaruh kembali gelas yang isinya tinggal setengah itu.


Jack tidak menjawab pertanyaan Angga hanya saja matanya mengandung kesedihan yang mendalam. Claudia, yang membawakan minuman, merasa bersalah saat melihat tatapan Jack.


"Jack?" Angga merasa ada sesuatu yang salah.


"Papa--"


"Ada tamu ternyata."


Dewa yang baru keluar dari kamarnya langsung memotong ucapan Jack. Jack hanya tersenyum kecut melihat Dewa lalu Jack memperkenalkan Dewa pada Angga.


"Paman, dia Dewa. Saudara angkatku." Jelas Jack.


Angga menatap Dewa lekat-lekat begitupun dengan Dewa yang menatap Angga dengan teliti. Di saat yang bersamaan terlihat keterkejutan di wajah mereka berdua.


"Loh? Paman ketua?!"


"Bocah pemberani?!"


Dewa dan Angga saling menunjuk satu sama lain dengan mata yang melebar.


"Kenapa Paman ketua ada di sini? Apa Paman sudah menemukan titik terangnya? Cepat sekali." Dewa menjadi antusias dan duduk di samping Jack.


"Paman ketua? Titik terang? Apa maksudmu Dewa?" Tanya Jack bingung.


Dewa menatap Jack sekilas lalu berkata, "Diam saja. Aku sedang berusaha mencari papa."


Angga terdiam saat melihat kedua bocah di hadapannya ini. Pikirannya mulai menggabungkan semuanya satu sama lain.


Bocah pemberani meminta tolong pada dirinya untuk menemukan papanya yang diculik oleh geng black rose. Sekarang bocah pemberani itu dikenalkan oleh Jack sebagai saudara angkat? Bukankah itu berarti papa bocah pemberani adalah papa Jack juga?


"Tunggu-tunggu..." Angga tidak berani memikirkannya lebih jauh. "Bocah, kamu mencari papamu yang diculik bukan?" Tanya Angga sembari menatap Dewa lekat-lekat.


Dewa mengangguk dengan cepat. "Ya Paman ketua."


"Lalu... Papa yang kau maksud itu... Ricard... Namanya Ricard?" Tanya Angga dengan tubuh gemetar.


Dewa mengangguk lagi. "Benar. Paman ketua mengenal papaku?"


Wajah Angga menjadi pucat saat mendengar jawaban Dewa yang sudah diduganya. Apa ini? Pikir Angga, saat aku kembali untuk bertemu dengan kawanku malah ada masalah seperti ini? Ricard diculik? Dan pelakunya geng black rose?


Saat memikirkan itu, Angga tidak bisa menahan tawanya. Dewa, Jack, dan Claudia mengerutkan kening mereka saat melihat Angga yang tiba-tiba tertawa.


"Paman ketua?" Panggil Dewa yang menyadarkan Angga dari tawanya.


Angga menghentikan tawanya lalu menatap Dewa dengan serius. "Saat itu aku bilang, aku akan menanyakan markas geng black rose pada kawanku kan?"


Dewa mengangguk.


"Orang itu adalah kawan SMA ku. Alasan geng black rose membangun cabangnya di Tangerang karena dia. Dia orang terkuat kedua setelah ketua besar. Maka dari itu dia dijaga oleh seluruh geng black rose yang ada."


Dewa dan Jack mendengarkan semuanya dengan serius.


Angga melihat kedua bocah dihadapannya lalu menghela nafas panjang. "Dia yang ku maksud adalah Ricard, papa kalian."


.

__ADS_1


Like.


__ADS_2