Jack

Jack
Claudia


__ADS_3

"Jack! Cepat nanti kamu terlambat!"


Teriakan Ricard yang menggelegar itu membuat Jack terkejut sekaligus lebih cepat mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah.


Memang hari ini Jack akan memasuki sekolah barunya yang berada di Indonesia.


Jack menali sepatunya lalu berdiri dan menghela nafas pelan.


"Semoga baik-baik saja" gumam Jack pelan.


Jack menuruni anak tangga satu persatu lalu melihat papanya sedang menunggunya di mobil yang ada di teras.


"Ayo!"


Jack mengangguk dan menutup pintu rumahnya lalu berjalan menuju mobil.


Sebelum Jack masuk ke dalam mobil, suara yang Jack kenal memanggilnya.


"Jack!"


Serontak Jack menoleh dan menemukan Dewa yang sedang menghampirinya.


Dewa tersenyum lebar ketika sudah berada di hadapan Jack lalu pandangannya beralih pada Ricard yang berada di mobil.


"Pagi om" sapa Dewa ramah.


Ricard menggangguk, "Pagi"


Dewa mengalihkan pandangannya pada Jack lalu beralih lagi pada Ricard. "Eh? Eh! Maaf! Maaf kak! Saya kira kakak adalah papanya Jack" ucap Dewa panik.


Jack menaikkan alisnya begitupula dengan Ricard lalu Jack dan Ricard tertawa bersamaan.


"Beliau memang papaku" jelas Jack sambil menepuk pundak Dewa.


Dewa linglung sejenak. "Tapi... Kalian... Kelihatan seumuran? Wajah kalian juga... Sama"


Ricard menggeleng pelan lalu membunyikan klakson mobilnya yang membuat Dewa dan Jack reflek menoleh.


"Kamu sekolah naik apa?" Tanya Ricard pada Dewa yang sedang menunjuk dirinya.


"Saya... Om?"


Ricard mengangguk.


"Saya mau naik angkot om" jawab Dewa.


"Kalau begitu masuk" perintah Ricard.


"Eh? Masuk kemana om?" Tanya Dewa bingung.


Ricard membuang nafas lelah, "Mobil, kamu dan Jack satu sekolah"


"Serius pa?" Tanya Jack sedikit senang.


Karena Jack masih memakai seragam yang dia miliki dari sekolahnya yang lalu, Jack tidak tau bagaimana warna seragamnya.


Ricard mengangguk, "Iya, papa serius"


Jack tersenyum begitu lebar lalu menatap Dewa. "Ayo kita berangkat"


"Wah, makasih ya om!"


Dewa dan Jack langsung memasuki mobil yang sudah Ricard hidupkan sedari tadi.


Ricard menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan kedua laki-laki remaja itu.

__ADS_1


Ricard melajukan mobilnya sambil berpikir bagaimana kabar Angga sekarang?


Melihat Jack dan Dewa membuat Ricard mengingat Angga.


Perjalanan yang mereka lalui begitu tenang. Jalan memang ramai tapi lancar. Tidak ada halangan apapun yang mereka temui sampai Ricard menghentikan mobilnya saat sudah sampai di tempat sekolah Jack.


Melihat sekolah itu membuat Ricard tidak bisa menahan senyumnya.


Sekolah ini tidak berubah sama sekali, pikir Ricard.


Memang, sekolah yang Jack masuki adalah sekolah Ricard yang lalu.


Sekolah yang menjadi tempat dimana dia mengenal Angga dan sekolah yang menjadi tempat dimana dia lulus.


Ricard sangat rindu dengan sekolah ini.


"Pa, aku berangkat dulu ya" Jack menyalimi tangan Ricard sebelum keluar dari mobil.


"Iya"


"Om makasih ya, atas tumpangannya" ucap Dewa sambil menyalimi tangan Ricard setelah Jack selesai menyalimi Ricard.


Ricard terkekeh, "Besok datang saja ke rumah om, nanti berangkat bareng Jack"


"Beneran om?!" Tanya Dewa senang.


"Ya, tapi ada syaratnya" ucap Ricard.


"Apa itu om?"


"Jagain Jack ya di sini. Jangan sampai Jack bertengkar" pesan Ricard.


"Eh? Jack suka bertengkar om?" Tanya Dewa lalu menatap Jack yang tersenyum canggung.


"Ya, begitulah. Dulu waktu di Paris Jack selalu pulang dengan wajah yang tidak pernah mulus" celetuk Ricard sambil terkekeh.


Ricard dan Jack tertawa di dalam mobil.


"Yaudah pa, nanti jemput ya" pesan Jack.


"Jam berapa?"


"Jam dua om" jawab Dewa memberitahu.


"Oke, nanti papa tunggu disini"


Jack mengangguk sebelum keluar dari mobil bersama dengan Dewa.


"Dah om!"


Jack dan Dewa melambaikan tangannya saat mobil Ricard berjalan. Ricard membunyikan klakson untuk menjawab.


"Udah siap sekolah?" Tanya Dewa dengan senyum lebar.


Jack membalas senyuman itu sambil mengangguk.


"Yuk"


Jack berbalik tetapi karena dirinya tidak melihat-lihat terlebih dahulu, dirinya menabrak seorang gadis.


Buku yang dibawa oleh gadis itu berjatuhan membuat gadis itu harus berjongkok untuk mengambil bukunya.


"Maaf"


Setelah mengatakan itu, Jack juga ikut berjongkok dan membantu mengambil buku yang berjatuhan.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf" ucap gadis itu dengan suara lembut.


Jack diam sejenak setelah mendengar suara itu lalu menatap gadis itu yang juga sedang menatapnya.


Jantung Jack langsung berdetak dengan cepat. Jack seperti tenggelam didalam mata hitam gadis itu.


Jack sadar setelah Dewa menepuk pundaknya sambil bertanya,


"Kamu nggak apa-apa?"


Jack menatap Dewa lalu menggeleng, "Aku baik-baik saja"


Jack mengalihkan pandangannya pada gadis itu sebelum memberikan buku yang dia ambil, "Sekali lagi maaf"


Jack berdiri lalu menarik tangan Dewa dan meninggalkan gadis itu sendiri.


"Hei, siapa namamu?" Teriak gadis itu yang sudah berdiri.


Lapangan sekolah sedang sepi karena hari masih terlalu pagi, jadi teriakan gadis itu tidak terdengar oleh siapapun kecuali Jack dan Dewa yang ada di sana.


Jack melirik gadis itu sekilas, "Apa kamu menanyaiku?" Tanya Jack tanpa menoleh.


"Ya"


Jack membuang nafas panjang, "Kenapa aku harus memberitahu namaku padamu?"


Jack tidak berani menatap mata gadis itu karena takut dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Sombong sekali" seru gadis itu kesal.


Dewa melongo sejenak karena gadis itu memiliki identitas yang tidak biasa. Bisa gawat kalau sampai Jack ketahuan dekat dengan gadis itu.


"Jack" jawab Jack singkat lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti sambil menyeret Dewa yang masih melongo.


Gadis itu tersenyum begitu lebar, "Ingat baik-baik, namaku Claudia!"


Jack mengacuhkan Claudia yang menggerutu kesal.


"Jack," Dewa sadar dari keterkejutannya setelah cukup jauh dari Claudia.


"Apa?"


"Kamu tidak boleh dekat-dekat dengan Claudia!" Ucap Dewa mengingatkan.


"Aku memang tidak mau dekat-dekat dengannya"


"Kenapa?"


"Karena jantungku berdetak lebih cepat saat berada di dekatnya. Apalagi menatap matanya" jelas Jack polos.


Dewa menepuk jidatnya saat mendengar itu, "Jack kamu pernah pacaran?"


"Nggak mau"


"Kenapa?"


"Kalau pacaran berarti harus melindungi pacarnya kan?" Tanya Jack dengan alis terangkat.


"Harus lah! Bila kita mencintai seseorang, apapun kondisinya pasti kita akan selalu memikirkan orang yang kita cintai" jelas Dewa lalu berhenti sejenak.


Dewa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Entah itu memikirkan kebahagiaannya ataupun keselamatannya"


"Kamu berkata seakan-akan sudah sangat berpengalaman" celetuk Jack.


Dewa hanya menunjukkan cengirannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau berpacaran karena aku harus melindungi papaku. Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang tua yang aku miliki"


like.


__ADS_2