
"Ternyata kita sekelas!" Heboh Dewa yang gembira setelah Jack keluar dari ruang kepala sekolah dan memberitahukan ruang kelasnya.
"Benarkah?" Jack juga senang bisa satu kelas dengan temannya ini.
"Iya! Duduk sebangku denganku ya?"
Jack menaikkan alisnya, "Lalu bagaimana dengan teman sebangkumu?"
"Aku duduk sendiri!"
Jack tersenyum lalu mengangguk.
"Kalau begitu mari kita ke kelas!"
Dewa begitu antusias karena untuk pertama kalinya dirinya mempunyai teman sebangku.
Mereka berdua berjalan sambil mengobrol tentang sekolah ini, tentu Dewa yang lebih mendominasi di pembicaraan ini karena Dewa yang lebih tau tentang sekolah ini.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas.
Dewa memasuki kelas diikuti oleh Jack. Kelas yang sudah ramai itu akhirnya menjadi hening ketika Jack dan Dewa memasukinya.
Dewa duduk di bangku depan meja guru diikuti oleh Jack yang duduk disampingnya.
Murid-murid yang ada dikelas menatap Jack dengan bingung. Tidak sedikit juga para gadis yang terpanah dengan ketampanan Jack.
Tidak lama setelah Jack dan Dewa duduk, bel masuk berbunyi membuat semua murid langsung duduk di bangku masing-masing.
Meskipun sudah begitu, Jack tetap menjadi pusat perhatian seluruh kelas.
Guru yang mengajar jam pertama pun masuk.
Guru itu tidak menyadari kalau ada murid baru di kelas ini. Guru itu duduk di tempatnya sebelum mulai memberi salam.
Murid-murid pun membalas salam tersebut.
"Pagi Bu" sapa Dewa seperti biasa.
Guru itu tersenyum lalu membalas, "Pagi Dewa"
Mata guru itu beralih pada seseorang yang duduk di samping Dewa. Setahu guru itu, tidak ada orang yang duduk di samping Dewa.
Guru itu langsung melebarkan matanya ketika melihat wajah orang tersebut.
"Kamu... Ricard?!"
Guru itu bahkan sampai bangkit dari duduknya membuat semua terkejut termasuk Jack yang pasti tau nama Ricard.
"Ibu... Kenal papa saya?" Tanya Jack sambil menaikkan alisnya.
"Ah" guru itu langsung tersadar setelah Jack mengatakan itu, "Benar juga, Ricard kan sudah lulus" gumam guru itu.
Tidak ada yang tidak mengenal Ricard saat itu karena Ricard adalah adik dari seseorang pemilik tanah tempat guru itu pijak.
Apalagi guru itu adalah wali kelas Ricard dari kelas sebelas sampai dua belas dan guru itu adalah salah satu guru yang masih mengajar di sekolah ini selama hampir tujuh belas tahun.
"Jadi kamu anaknya Ricard?" Tanya guru itu yang sudah mengontrol keterkejutannya.
Berita tentang Ricard memiliki seorang anak diluar nikah sudah menyebar di sekolah ini, jadi guru itu mengetahui kalau Ricard sudah mempunyai anak.
"Ya"
__ADS_1
Guru itu menghembuskan nafas, "Ibu juga wali kelas papamu dulu"
"Papa sekolah disini?"
Jack baru mengetahui tentang hal ini.
"Iya"
"Ibu tau apa saja tentang papa saya? Apa ibu tau tentang mama saya?" Jack sampai bangkit dari duduknya yang menunjukkan betapa berharapnya dia guru ini menjawab iya.
"Eh? Apakah Ricard tidak memberitahu tentang mamamu?" Tanya guru itu bingung.
Jack menggeleng.
"Ah"
Guru itu merasa tidak pantas memberitahu kalau papanya saja tidak memberitahu.
"Lupakan itu, mari berdiri disini. Perkenalkan dirimu" ucap guru itu sambil tersenyum.
Jack membuang nafasnya, dia gagal mengetahui sekali lagi dimana mamanya saat ini.
Jack berdiri dari duduknya lalu berjalan ke depan kelas. Tanpa basa-basi, Jack langsung memperkenalkan dirinya.
"Saya Jack pindahan dari Paris, mohon bantuannya teman-teman"
Murid-murid serontak histeris ketika mendengar darimana Jack berasal.
Jack hanya bisa geleng-geleng kepala lalu menatap guru yang sedang tersenyum menatapnya.
"Apa ada pertanyaan untuk Jack ini anak-anak?" Tanya guru itu.
Seseorang siswi mengacungkan tangannya. "Jack munduran dikit napa"
"Gantengnya kelewatan" lanjut siswi itu.
"Hiyaak!"
"Wkwkw"
"Hahaha"
Jack spontan langsung mendatarkan wajahnya, tidak salah tingkah sedikitpun.
"Apa saya udah boleh duduk Bu?" Tanya Jack sambil menatap guru itu.
Guru itu tertawa, "Ya, silahkan"
Jack pun duduk di samping Dewa yang masih tertawa.
Jack menghembuskan nafas panjang sebelum mengaktifkan mode pura-pura tuli.
***
Buk...
Punggung Jack menabrak dinding koridor yang sepi setelah seorang siswa mendorong dirinya dari depan.
"Jangan sok kegantengan deh Lo! Lo hanya murid baru disini!" Bentak siswa itu.
Jack mengerutkan alisnya, bingung kesalahan apa yang dia perbuat sampai belum satu hari dia masuk sekolah ini sudah dibully.
__ADS_1
Jack mengalihkan pandangannya pada Dewa yang juga dibully.
Melihat itu Jack menggempalkan tangannya erat-erat.
"Apa... Yang aku lakukan?" Tanya Jack dengan suara pelan.
"Lo masih tanya?!"
Bugh...
Sebuah bogeman mendarat di rahang kiri Jack tapi tidak membuat sang korban meringis.
Jack hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
Setelah satu tahun lebih dia dibully di Paris dulu, Jack jadi mulai kebal dengan segala jenis pukulan.
"Awas Lo sampai berani deket-deket Dia lagi!"
Siswa itu pergi bersama dengan teman-temannya yang sebelumnya ikut membully Dewa.
Setelah tidak terlihat lagi, Jack langsung berlari menghampiri Dewa yang duduk sambil bersandar di dinding koridor.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Jack khawatir.
"Seharusnya aku yang tanya gitu... Kamu... Nggak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja"
Jack tersenyum lalu ikut duduk di samping Dewa.
Hening.
Karena bel masuk sudah berbunyi sedari tadi dan kedua cowok itu sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jangan bilang ke papaku kalau kita habis dibully" ucap Jack memecahkan keheningan.
Dewa mengerutkan alisnya sambil menatap Jack bingung.
"Bilang aja, kalau kita bonyok gara-gara habis bertengkar" lanjut Jack tanpa mau menatap Dewa yang terkejut.
"Kalau begitu" Dewa menghentikan ucapannya sejenak, "Selama ini kamu dibully tapi nggak pernah bilang ke om Ricard?"
Sudah pasti Dewa mengetahui nama Ricard dari guru tadi yang menyebutkan nama papa Jack.
Jack tersenyum tipis, "Aku nggak mau papa terlibat masalah"
Diam. Dewa tidak bisa berkata apa-apa.
Jack menatap Dewa setelah mengingat sesuatu, "Dia itu siapa?" Tanya Jack masih belum menyadari apa kesalahannya.
Dewa tersenyum pahit sebelum berkata, "Claudia. Dari awal aku udah siap dibully lagi setelah tau siapa yang kamu tabrak di gerbang sekolah lagi"
"Memang apa hubungannya gadis itu sama cowok tadi?" Tanya Jack sambil menaikkan alisnya.
"Cowok tadi namanya Rendy. Penguasa sekolah karena dia termasuk anggota geng black rose"
Seketika pandangan Jack berubah menjadi datar. Jack dengan menggempalkan tangannya dengan keras.
"Kamu tau kan geng black rose?" Tanya Dewa memastikan.
Jack mengangguk pelan sambil berkata dalam hatinya,
__ADS_1
Geng black rose. Kenapa harus geng itu lagi?! Aku... Akan menghancurkan geng itu! Geng *** yang nggak bisa mendidik anggotanya nggak pantes bertahan di dunia ini karena akan menjadi parasit bagi orang-orang!
like.