
Disebuah kamar inap rumah sakit
" Amira..!!" Didik (paman Amira) berusaha berbicara lembut pada keponakannya *padahal dalam hatinya mencibir*. 😏
"iya paman..?" sahut Amira dengan senyum yang agak dipaksakan.
didik memasuki ruang perawatan tersebut " bagaimana keadaan nenekmu..?" ia bertanya sambil mengelus kepala Amira.
"belum ada kemajuan paman, padahal sudah 2 Minggu nenek dirawat dan keaadannya semakin memburuk" mata Amira seketika berkaca-kaca menatap tubuh tua sang nenek yang tebaring lemah.
didik menatap ibu tirinya seraya berkata " Paman selalu berdoa agar nenek mu cepat sembuh, walaupun dia ibu tiriku tapi sesungguhnya aku juga menyayangi nya seperti ibuku sendiri" (pura-pura sedih padahal didalam hatinya selalu mengumpati wanita tua itu) 😠
" oh ya bagaimana dengan biaya rumah sakit ini , pasti sudah sangat banyak kan? apa kamu masih punya uang untuk membayarnya?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
seketika Amira terdiam dengan berbagai fikiran yang berkecamuk karena uang tabungan hasil penjualan mobil satu-satunya peninggalan mendiang ayahnya dan uang tabungan hasilnya bekerja tinggal sedikit, karena neneknya sering bolak balik rumah sakit akibat penyakit jantung yang dideritanya.
"eemm itu yang sekarang masih Amira pikirkan paman bagaimana membayar biaya jika nenek benar-benar harus dioperasi" Amira menunduk sedih.
membuat didik menyeringai tipis, "Ahh.. ini dia kesempatan ku agar cepat dapat uang dan melunasi hutang ku pada Juragan Ardi" batin didik.
otaknya bekerja agar dapat menjalankan rencana licik yang sudah di susunnya beberapa hari ini bersama anaknya Fadli .
lalu ia kembali menatap keponakan nya " emmm... tapi paman akan membantu mencari cara agar kita dapat pinjaman untuk biaya rumah sakit dan juga operasi nenekmu jika benar-benar harus dioperasi" .
Amira sebenarnya sudah tidak nyaman dengan perkataan paman nya itu sepertinya ada sesuatu yang paman nya rencana kan dan mungkin akan merugikan dirinya, hanya saja kekhawatiran nya dengan kondisi kesehatan sang nenek yang terus menurun membuat ia tidak terlalu bisa berfikir seakan-akan otaknya sudah buntu .
"iya paman terima kasih" Amira berusaha tetap tersenyum pada sang paman lalu kembali melihat tubuh tua sang nenek yang tidak bergerak sama sekali selama Seminggu ini padahal awal awal ia dirawat kondisi nya sudah mulai membaik tapi setelah beberapa hari kembali memburuk dan melemah.
__ADS_1
" hmmm semoga saja apa yang dikatakan paman bukan sekedar basa-basi atau membohongi ku saja". batin Amira, yang sedikit banyak sudah memahami sifat paman nya yang terkadang suka memanfaatkan orang lain walaupun itu keluarga nya sendiri. Tapi ia juga tidak dapat berfikir lagi bagaimana cara melunasi biaya rumah sakit yang semakin lama semakin menumpuk apalagi iya cuma bekerja sebagai karyawan admistrasi di perusahaan kecil yang gajih nya tidak terlalu besar ditambah lagi iya harus membayar uang rumah kontrakan yang iya tempati bersama sang nenek.
lalu didik pura-pura berpikir *padahal rencana licik yang ia susun sudah benar benar rapih serapih baju yang sudah disetrika* .... 🙄
%ckckck sampai othor ikut esmosi sama nih Paman paman% 😒😒😒😒
√dukung karya pertamaku yaa 😘
*maaf jika ceritanya masih kurang menarik*
*sampaikan kritik dan sarannya yaaa*
#dan terimakasih yang sudah mau mampir🥰🥰😘
__ADS_1