
Jangan terburu-buru dalam cinta karena ia tidak pernah habis. Biarkan cinta menjadi orang yang mengetuk pintumu sehingga pada saat kamu mulai merasakannya, kamu akan tahu itu nyata. -- author
Setelah membelah janan tanpa ada obrolan, bahkan hanya iringan lagu dari radio saja menemani dua orang di dalam mobil itu selama kurang lebih satu jam.
23.10 akhirnya mobil yang ditumpangi Khalisa dan Refan sudah berhenti di depan rumah Khalisa.
Gua gak tega buat bangunin, dia lelap banget tidurnya, mungkim karna kecapekan-batin Refan
"Ki. .bangun" panggil Refan mencoba membangunkan Khalisa dengan menyentuh lenganya, tapi tidak ada respon dari Khalisa.
"Gua gendong aja deh, gak tega juga lihat dia kebangun," ucap Refan
Tok. .Tok . .Tok
"Devan," ucap lirih Refan sembari membuka kaca mobilnya dengan sedikit kaget karena kemunculan Devan disamping mobilnya itu.
"Khalisa tidur ya ?" tanya Devan
"Iya, tapi gua gak tega buat bangunin dia," sahut Refan
"Gak papa, biar gua gendong aja. Lo masuk ke rumah aja dulu bro," sahut Devan
"Gak usah bro, ini udah malem juga gua langsung pamit pulang aja," ucap Refan
"Oh gitu, ya udah thanks ya udah jagain adek gua, kapan kapan mampir lagi ya," sahut Devan dengan menggendong Khalisa ala bridal style.
Setelah menutup pintu mobilnya Refan langsung berpamitan untuk pulang. Sedangkan Devan yang saat ini sudah menggendong Khalisa masuk ke dalam rumah, bukannya dia tidak mau menggendong Khalisa sebenarnya hatinya sangat menginginkan tapi jelas saja dia merasa tak enak hati pada Devan.
"Hati hati di jalan, makasih ya ," pcap Devan berjalan ke arah pintu rumah.
.
.
Sayup sayup terdengar adzan subuh, Khalisa pelan pelan membuka matanya, ketika melihat langit langit atap kamar yang dia rasa tidak asing, pelan pelan mencoba mengingat ingat apa yang terjadi semalam, dilihatnya pakaiannya juga sudah berganti dengan piyama miliknya. Sontak saja dia mengangkat badannya dan duduk diatas rajang kini pikiranya sudah bertanya tanya apa yang terjadi semalam, siapa yang membawanya masuk ke kamar apakah Refan ? Siapa yang menggantikan bajunya apakah Refan juga ?
"Bunda..bunda. .bunda dimana ?" tanya Khalisa dengan berlari keluar kamar
"Apa si Ki, masih subuh teriak teriak saja," sahut bunda Asiyah.
"Bun, semalam mas Refan yang bawa Kia ke dalam kamar ? apa mas Refan yang gantiin baju Kia ? Kia kemarin ketiduran ya di mobil mas Refan ? Kenapa Kia gak dibangunin bun ?" tanya Khalisa dengan penuh penasaran
Alih alih Khalisa yang bertanya tanpa henti, bunda Aisyah hanya melirik pada Devan yang sudah berjalan menurunin anak tangga dari arah kamarnya.
"Iya semua yang lakuin itu Refan, emang kenapa ?" sahut Devan
"AAPPA ?? beneran bun ?? hiiks. .hikks," teriak Khalisa
"Jadi Khalisa udah ternodai dong bun, bunda kok diam aja sih anak gadisnya digituin, masa bunda gak marah, bang Devan juga gitu kenapa diam aja!!," Ucap Khalisa yang sudah menangis semakin menjadi jadi ketika bayangan wajah Refan tiba tiba muncul dipikiranya.
"Gimana gua ngelarang, lo aja menikmatinya hahahha," ucap Devan
"Enggak mungkin !! Bund, bunda marah ya sama Kia kok diam saja sih?" tanya Khalisa "Ini anak bunda sudah ternodai lho kenapa bunda diam aja," sahut Khalisa
"Bunda mana sih Ki yang rela anaknya disentuh laki laki bukan mahramnya sebelum halal," Ucap bunda Aisya
"Iya terus Kia digituin sama mas Refan kenapa semua diam aja!!" ucap pertegas Khalisa, sebenarnya dia juga gak begitu yakin kalau Refan yang membawanya ke kamar bisa saja kan Devan, tapi dia juga masih bingung kenapa dia bisa berpikir itu semua Refan yang melakukannya.
"Udah udah. . .ayo sholat subuh dulu, Kia buruan ambil wudhu, bunda tunggu diruang sholat," perintah bunda Aisyah.
.
__ADS_1
.
Setelah menjalankan ibadah sholat subuh dan membersihkan rumah Khalisa langsung bersiap siap untuk berangkat kerja, sebenarnya dia ingin sekali melanjutkan tidurnya, badanya masih terasa lelah, tapi apa boleh buat hari ini dia mendapatkan jadwal kerja pagi.
"Kia, buruan ntar gua keburu telat!" teriak Devan yang sudah siap didepan rumah dengan motornya
"Iya bentar bawel," sahut Khalisa
"Kia, gak baik kayak gitu sama abangnya," Ucap bunda Aisyah
"Iya bund maaf, ya udah Khalisa berangkat dulu," ucap Khalisa
"Gak sarapan dulu Ki? Jangan lupa pakai maskernya," ucap bunda Aisyah
"Kia bawa roti aja bund makan di motor, Assalamu'alaikum," pamit Khalisa
"Hati hati, Wa'alaikumssalam," jawab bunda Aisyah
Pagi ini Khalisa memilih berangkat kerja barengan dengan Devan, dengan alasan tempat kerjanya yang tidak jauh dari kantor Devan, dan disisi lain juga pasti jalanan di senin pagi akan lebih padat dari biasanya itu membuat Khalisa malas untuk membawa motor sendiri.
.
***
.
Benar saja setelah tiga puluh menit Khalisa baru saja sampai di tempat kerjanya, padahal hari biasa hanya lima belas sampai dua puluh menit saja.
"Makasih bang, hati hati ya," ucap Khalisa sembari turun dari atas motor Devan
"Iya, semangat kerjanya" sahut Devan.
"Semangat semangat semangat" ucap lirih Khalisa pada dirinya sendiri setelah kepergian Devan
"Khalisa !!" panggil seseorang dari arah belakang Khalisa
"Hay mona, kamu shift pagi juga," sapa Khalisa pada salah satu teman kerjanya
"Iya ki, wah kemarin habis jalan jalan nih ye" ucap Mona
"Haah, kamu kok tahu, kami lihat aku ya, tapi kok gak tegur sapa ke aku, lihat aku dimana cfd ya," tanya Khalisa
"Enggak lah, kemarin ak--" belum sempat Mona menyelesaikan ucapnya tiba tiba ada salah satu teman Khalisa yang menimpalnya
"Iya iyalah semua orang juga tau kali Ki, kalau baru jadian gak usah dipamerin pamerin juga kali!!" timpal Vika teman kerja Khalisa yang baru saja datang
"Apa maksud kalian?" tanya Khalisa
"Alah masih berlaga lugu, lo sebenarnya paham kan sama omongan kita" sahut Vika
"Maaf ! Tapi beneran aku gak paham sama apa yang kalian bicarakan," sahut Khalisa
Khalisa benar benar dibuat bingung dengan semua pembicaraan teman temannya tadi, apa yang sebenarnya terjadi ?
.
.
Seharian ini semua orang ditempat kerja Khalisa membuatnya merasa tidak nyaman, semua tidak seperti biasanya, mereka semua terus saja menatap Khalisa dengan penuh tanda tanya, bahkan ada saja yang saling berbisik ketika Khalisa melewatinya atau menyapa. Khalisa benar benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kalaupun ini kejutan ulangtahun saat ini dia juga sedang tidak ulangtahun, bahkan mencuri itu tidak mungkin terjadi.
Walaupun diotaknya sekarang banyak sekali pertanyaan tapi dia mencoba tenang dan bekerja secara profesional seperti tidak terjadi apa apa, dia juga terus berusaha untuk semangat.
__ADS_1
"Mbak Risa, kenapa sih hari ini semua orang melihat Khalisa aneh, apa Khalisa berbuat salah ?" tanya Khalisa pada managernya yang kebetulan ada di restaurant siang ini
"Apa kamu tidak tahu kenapa mereka bersikap seperti itu ?" tanya balik Risa
"Khalisa benar benar gak tahu mbak," jawab Khalisa, wajahnya sekarang sudah kusut tidak sesemangat pagi tadi, sesekali air matanya sudah ingin jatuh saja tapi dia selalu menahan.
Suasana restaurant siang ini juga tidak begitu ramai jadi beberapa karyawan bisa bersantai sembari menunggu pesanan ataupun pelanggan baru.
"Halah, mana mungkin dia tidak tau mungkin dia hanya pura bodoh saja," sindir teman Khalisa dari arah belakang
"Alah iya itu, dulu aja dia sok sokan menghindar dan gak suka, padahal aslinya juga mau," imbuh teman Khalisa
"Mungkin saja dia seperti itu, biar bisa naik jabatan" timpal teman Khalisa yang tidak jauh dari tempat Khalisa berdiri saat ini
"Iya benar kan dua sahabatnya sudah pindah kerja di perusahaan" sahut teman Khalisa dari arah bar
"Apa jangan jangan kemarin dia sudah dijamah juga, buat memuluskan rencananya itu" sahut teman khalisa lainnya
"Padahal dia cantik, alim, sholehah kenapa seperti itu ya, gua kira gak bakal mau sama yang model gituan." sahut kembali teman Khalisa
"Ya mungkin tergiur dengan jabatan, uang, atau tampang udah membuat dia klepek klepek," sahut teman Khalisa.
Please, jangan nangis disini !!-batin Khalisa
Kini buliran buliran bening di mata Khalisa sudah tidak bisa dibendung lagi, satu persatu jatuh membasahi pipinya, padahal dia sudah berusaha keras untuk tidak meneteskanya.
"Sudah sudah jangan seperti anak kecil saja, semua kembali bekerja!!" ucap Risa mencoba menengahi semua karyawannya itu.
"Khalisa kamu pergi istirahat saja dulu, tenangkan pikiranmu dan kembali bekerja setelah itu," perintah Risa pada Khalisa yang dilihatnya sudah meneteskan air matanya
"Baik bu, saya permisi dulu," ucap Khalisa
Setelah Khalisa berpamitan untuk istirahat dan menghindari teman temannya saat itu dia pikir bahwan teman temannya akan menghentikan semua ucapan dan kembali baik baik saja, tapi ternyata tidak teman temannya masih saling berbisik dan sesekali menatap Khalisa seperti orang yang begitu menjijikan.
Semua perlakuan teman temannya tadi benar benar membuat kepala Khalisa pusing, tanpa menjawab ucapan teman temannya Khalisa memilih untuk mengambil jam istirahatnya dan pergi ke kamar mandi untuk menumpahkan semua air matanya.
Apa sebenarnya salahku, dan apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa hari ini benar benar jahat padaku. Kenapa mereka tidak mengatakan padaku kalau aku berbuat salah- batin Khalisa dengan air mata yang tidak berhenti menetes dari tempatnya
Mengingat semua ucapan teman temannya itu membuat kepala Khalisa pusing, dadanya dirasa begitu sesak karena telalu lama menangis. Tiba tiba pikiran Khalisa begitu saja mengalih pada satu nama "Mas Refan ??" ucap Khalisa
.
.
.
.
Hay Teman Teman
Gimana gimana udah baca novelku kan
Udah penasaran apa yang terjadi selanjutnya
Kalau kalian ada masukan buat novelku, silahkan tulia di kolom komentar ya, masukkan kalian sangat berarti untuk ku
.
.
Oh iya jangan lupa buat tinggalin novelku 👍❤ yaa
__ADS_1
Sehat sehat semua, dan tetap semangat
Makasih teman teman :*