Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Libur Kerja


__ADS_3

Allahu akbar. .Allahu akbar (Suara adzan subuh) 📣


Sayup sayup mendengar suara adzan subuh dari musholla yang tak jauh dari rumahnya, Khalisa mulai membuka pandanganya.


"Kia, buruan sholat!" seperti biasa bundanya selalu membangunkan setiap subuh.


aa. . .akkh, perasaan baru tidur kok sudah pagi aja- batin Khalisa sambil menggeliat diatas ranjangnya dengan sekuat tenaga mengumpulkan nyawanya kembali


Setelah dirasa nyawannya terkumpul, Khalisa mulai berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap siap sholat subuh.


Tok. . .Tok. .Tok. . .


"Ki. . .aa, lama amat ayo buruan sholat!!" teriak Devan didepan kamar Khalisa


Cleek !! (pintu kamar terbuka)


"Iya, abang gua yang bawel. Ini udah siap gua, cuus," jawab Khalisa dengan senyuman manja ke Devan.


Setelah selesai sholat subuh, kini Khalisa sudah bersiap siap untuk pergi ke cfd, tidak lupa bunda dan kakaknya juga ikut.


Karena sekarang hari minggu, kebetulan Khalisa juga mendapat libur kerja hari ini jadi mereka sepakat setelah selesai sholat subuh pergi bersepeda ke cfd.


"Masyaallah, seger banget rasanya libur kerja hari minggu," celetuk Kia sembari keluar garasi menuntun sepedanya.


"Mangkanya libur kerja itu tiap minggu!" sahut Devan dari belakang Khalisa


"Lah abang kira coffee shop nenek moyang kita minta libur tiap hari minggu!" jawab Khalisa


"Coba lo ulu lulus SMA mau disuruh kuliah sama Ayah. Pasti sekarang enak, lo bisa libur tiap hari minggu atau tiap hari, hahaha," ucap Devan dengan tertawa mengejek adiknya yang sudah melipat muka karna sikapnya.


Belum sempat Khalisa menjawab Devan, kini Aisyah udah muncul dari garasi rumah menuntun sepedahnya.


"Kalian ini ya masih pagi sudah ribut aja, pusing kepala bunda kalau kalian ribut terus, apa bunda masukkan perut lagi biar pada diam!!" sahut bunda Aisyah


"Bang Devantuh bund." jawab Khalisa


"Sudah. . sudah, Devan kunci pintu garasi. Kita berangkat sebelum siang." ucap bunda Aisyah yang sudah siap dengan sepedahnya


Tanpa menjawab perintah bundanya, Devan sudah berjalan untuk mengunci pintu garasi dan gerbang rumah.


Saat ini mereka sudah bersepedah menuju cfd di jl. besar ijen, Malang.


Mereka bersepeda beriringan, dengan paling depan dipimpin bunda Aisyah, diikuti Khalisa, dan paling belakang ada Devan.


.


**


.


Jalanan minggu pagi cukup ramai dengan orang orang bersepedan, ada juga mereka yang jogging atau sekedar berjalan santai bersama teman ataupun keluarganya.


Cukup waktu sepuluh menit Khalisa, bunda Aisyah, dan Devan sudah sampai di jl. besar ijen.


.


.


"Bund, cari sarapan yuk!" ucap Devan dengan menunjuk kearah jajaran pedagang makanan di cfd


"Halah, abang ini olahraga belum tapi udah ngajak gedein perut aja!" sahut Khalisa


"Ih biarin aja, kalau lo gak mau ya udah biar gua sama buda aja yang cari makan. Lo disini aja lihatin kucing nari tuh," jawab Devan yang sudah menujuk ke arah kumpulan komunitas pecinta kucing.


"Sudah . .sudah ribut terus, ayo cari makan. Kia kamu disini apa ikut?" tanya bunda Aisyah


"Ikut lah bund, entar kalau disini Kia hilang gimana ?" jawab Kia dengan menujukan puppy eyesnya


Setelah mereka pergi minitipkan sepedah, Khalisa, bunda Aisyah, dan Devan sudah berjalan diantara pedagang makanan yang cukup banyak. Mulai dari jajanan pasar sampai makanan khas madura juga ada di pasar minggu cfd.


"Bang Dev, makan apa ini?" tanya Khalisa ke Devan yang masih celingukan bingung memilih makanan.


"Bingung gua, pengen nasi jagung, pengen bubur ayam, pengen nasi rames, pengen nasi pecel juga," jawab Devan

__ADS_1


"Nasi pecel aja Kai, bunda lama gak makan nasi pecel," sahut bunda Aisyah


"👍👍," Hanya acungan jempol dari kedua putranya itu.


Suasana pasar makanan di cfd memang cukup ramai, bahkan mereka harus berdesak desakan seperti nonton konser dangdut via vallen dilapangan aja.


Khalisan dan Devan pergi membeli makanan, bunda Aisyah memilih untuk mencari tempat duduk dibandingkan harus ikut membeli makanan, yang ada sampai rumah malah encok gara gara antri panjang.


.


***


.


Setelah berdebat cukup lama karena bingung memilih menu sarapan, akhirnya pilihan mereka jatuh di makan khas jawa timur "Pecel" lebih tepatnya itu pilihan sang bunda.


Warung Pecel Pincuk bu Dyah 🎪


"Bu, pecel 3 lauknya tempe goreng sama telur ceplok ya." ucap Khalisa pada ibu penjual pecel


"Siap neng, silahkan ditunggu." jawab ibu penjual pecel


"Kia, tunggu sini ya gua beli minum dulu," ucap Devan


Khalisa yang menanggapi ucapan Devan dengan anggukan kepala saja, kini pandangannya mengarah ke lauk yang berjajar di etalase, tentu saja itu sangat menggoda lidah Khalisa.


Masyallah kok lauknya enak enak semua kelihatanya-batin Khalisa sesekali menelan salivanya.


"Khalisa," seketika Khalisa memalingkan pandangnya kearah sumber suara.


"Mas Refan?" ucap Khalisa.


"Sama siapa kamu, Octa atau Febi ?" tanya Devan


"Sama bunda sama kakak." jawab Khalisa "Mas Refan ngapain disini?" imbuh Khalisa.


"Ini beli siomay." jawab Refan dengan terkekeh kecil sembari menunjuk ke arah warung pecel tempat Khalisan berdiri


Kenapa sih gak kerja masih ketemu nih orang, mana becandanya garing lagi - batin Khalisa yang masih menatap Refan didepannya


Tidak lama kemudian terdengar suara sapaan dari arah belakang Khalisa "Refan!"


"Lo bener Refan kan ?" tanya Devan yang sudah mendekat dan melihat wajah Refan dengan ragu.


"Iya gua Refan, lo . .Devan kan ?" tanya balik Refan yang masih mengingat orang yang menyapanya itu


"Sialan, lo makin keren aja!" umpat Devan


"Kalin kenal ?" tanya Khalisa dengan melirik ke Devan dan Refan secara begantian.


"Ini teman satu tim basket gua waktu SMA," jawab Devan


Mendengar jawaban Devan itu, Khalisa hanya menanggapi dengan ber 'oh' ria dilanjut dengan anggukan kepala.


"Yuk, ke bunda bang!" ajak Khalisa selesai menerima dan membayar nasi pecelnya


"Lo udah pesenkan ? makan bareng kita aja." ucap Devan dengan menepuk pundak Refan


"Serius boleh gabung ?" tanya Refan


"Tiga rius !! ya serius bambang, lo ini kayak sama siapa aja pakai tanya dulu," jawab Devan


Apaan sih banh Devan ini, pakai acara ngajak gabung makhluk venus itu- gurutu Khalisa dalam hati.


.


***


.


Tidak jauh dari tempat mereka membeli nasi pecel, bunda Aisyah sudah menunggu dibawah pohon duduk diatas tikar yang sudah disiapkan para pedangang.


"Bunda, maaf lama ayo kita makan." ucap Khalisa

__ADS_1


"Iya gak papa. Loh ini teman kamu yang semalam nganterin kamu kan ki ?" tanya bunda Aisyah pada Khalisa


Khalisa memilih membuka makanannya dibangingkan untuk menjawab pertanyaan sang bunda.


"Assalamu'alaikum tan," ucap Refan yang masih berdiri disamping Devan


"Wa'alaikumsalam, ayo sini silahkan duduk kita makan bareng." jawab buna Aisyah


Belum sempat Refan menjawab bunda Aisyah, tapi Devan sudah melempar pertanyaan.


"Oh, jadi semalem lo kerumah gua nganterin nih tuyul," tanya Devan menatap Khalisa


"Apaan sih bang, bilang gua tuyul. Kalau gua tuyul lo juga tuyul kan kita dilahirkan dari rahim yang sama." timpal Khalisa


"Udah dong, kalian ini gak dirumah gak dimana aja ribut mulu," sahut bunda Aisyah, "Ayo kita makan, jangan debat didepan makanan gak baik." imbuh bunda Aisyah.


Refan hanya terkekeh kecil melihat keributan Khalisa sama Devan yang baru dia tahu kalau mereka itu kakak beradik.


.


.


Selamat makan :)


Nasi Pecel Pincuk



Selesai makan dan ngobrol mereka melilih untuk langsung pulang, karena dirasa matahari sudah begitu terik dan tidak bersahabat lagi.


"Ref, lo langsung pulang apa lanjut olahraga?" tanya Devan


"Gua mau lanjut bersepeda dulu, tapi nanti langsung balik rumah sih," jawab Refan


"Ya udah, kita pamit duluan ya. Oh iya lo kan udah tahu tuh rumah kita entar sore kalau lo gak sibuk mampir lah kerumah." ucap Devan sembari pamitan ke Devan


"Okey, insyallah entar gua usahain ya." jawab Refan


"Nak Refan kita pulang duluan ya, assalamu'aliakum." ucap bunda Aisyah.


"Wa'alikumssalam tan. Hati hati," jawab Refan.


Khalisa yang sedari tadi hanya diam, saat ini dia lebih memilih untuk memberikan senyuman dibandingkan harus ngomomg walaupun sekedar mengucap pamit ke Refan.


Refan yang sadar akan senyuman manis dari Khalisa, langsung membalas senyum itu dan lambaian tangan.


Setelah kepergian Khalisa dan keluarganya, Devan juga memilih untuk melanjutkan bersepedanya.


.


.


Lokasi cfd, jl. besar ijen



Hai Teman Teman


Gimana udah baca novelku kan,


Jangan lupa kasih masukan dikolom komentar ya, masukan kalian sangat berarti untuk ku


.


.


oh iya jangan lupa kasih novelku 👍❤ ya


.


.


Makasih :)

__ADS_1


__ADS_2