
"Hallo. .hallo, ada apa ini kok tegang banget suasananya," ucap Devan berjalan menuruni anak tangga
"Gak ada apa apa," sahut Khalisa
"Kalau kalian mau ngobrol berdua gak papa kok, gua tinggal keatas dulu," sahut Devan
"Jangan!!" teriak Khalisa bersamaan dengan Refan
"Iya iya gak usah teriak juga kali, santai," sahut Devan sambil memperlihatkan smirk di wajahnya
"Kalau gitu jangan tegang gini dong, kan gak seru," sahut kembali Devan
"Kia, permisi ke kamar dulu bang," ucap Khalisa mengangkat tubuhnya dari sofa yang dia dudukki
"Aauw, sakit," ucap kembali Khalisa, merasakan sakit ditangannya yang ditarik oleh Devan
"Siapa yang suruh lo pergi ?" tanya Devan
"Kan bang Devan sudah disini, jadi Kia lebih baik balik kamar. Kia capek bang," sahut Khalisa
"Duduk dulu, gua mau ngomong," sahut Devan
"Iya iya, udah buruan ngomong," sahut Khalisa sambil mendudukkan kembali tubuhnya
Sedangkan Refan hanya diam dan melihat dua orang yang sedang dihadapannya saat ini, seolah olah seperti menonton adegan drama telivisi.
"Kia, Refan mau sampai kapan kalian seperti ini ?" tanya Devan menatap Khalisa dan Refan bergantian
"Apa sih maksud abang ini ?" tanya balik Khalisa
"Gua sudah tahu masalah kalian berdua, gua juga gak terima kalau adik gua dihina orang lain, Ki. Tapi mau sampai kapan lo marah sama Refan ? lo adik gua, Refan sahabat gua, gua gak mau lihat dua orang yang deket sama gua bermasalah seperti ini," ucap Devan
"Bang, Kia gak marah sama mas Refan. Kia sudah melupakan semua kejadian tempo hari," sahut Khalisa
"Terus kenapa sikap kamu masih seperti ini, apa kamu mau bunda tahu terus bunda kepikiran yang ada ayah sama bunda gak bakal ngizinin kamu kerja disana lagi," sahut Devan
"Bro, udah. Kia kan juga sudah bilang gak marah dan mau memaafkan, gua udah cukup senang kok dia mau maafin gua sama mamah," sahut Refan
"Kia benar benar tidak ingin membahasnya lagi bang, Kia anggap tidak ada yang terjadi, dan itu hanya kesalah pahaman saja," sahut Khalisa
"Oke, kalau seperti itu. Tapi, gua harap kalian bisa akrab dan gak tegang seperti ini," sahut Devan
"Insyallah, Kia hanya bersikap sewajarnya saja bang, Kia tidak mau membuat kesalah pahaman sama siapapun," sahut Khalisa
"Terima kasih, Ki. Kamu sudah mau memaafkan aku dan mama," sahut Refan
"Iya mas," sahut Khalis
" Tapi saya harap, mas Refan tidak melakukan hal hal seperti hari ini. Saya benar benar berterima kasih banyak sudah diberikan begitu banyak paket hari ini, termasuk makan malam yang mas bawakan, tapi Kia harap jangan lakukan itu kembali mas. Saya benar benar tidak ingin kesalah pahaman terjadi kembali, saya harap mas bisa mengerti," sahut kembali Khalisa
"Iya Ki," sahut Refan
Suasana kembali hening tidak ada pembicaraan kembali diantara mereka bertiga, Khalisa memainkan remote tv, sedangkan Devan dan Refan fokus ke layar ponsel mereka masing masing.
"Kia," panggil bunda Aisyah
"Iya bund," jawab Khalisa dengan berjalan kearah bunda Aisyah
"Ini bawa kedepan, bunda lupa kalau tadi pagi buat pudding susu," sahut bunda Aisyah mengulurkan piring berisi pudding kearah Khalisa
"Iya bund," sahut Khalisa
"Bunda mau ke kamar lagi ?" tanya Khalisa
"Iya sayang, tadi ayah kamu bilang mau telpon," jawab bunda Aisyah
"Oh gitu, ya sudah titip salam buat Ayah, bilang ke ayah suruh cepat pulang ya bund," sahut Khalisa
"Iya sayang," sahut bunda Aisyah
Khalisa berjalan ke ruang keluarga, dengan membawa pudding buatan bundanya.
"Bang Devan, mas Refan ini ada pudding dari bunda silahkan dimakan," ucap Khalisa setelah meletakkan piring pudding diatas meja
"Iya Kia, terima kasih," sahut Refan
"Terima kasihnya sama bunda, jangan sama Kia," sahut Khalisa
__ADS_1
"Kan kamu sudah bawakan kemari," sahut Refan
"Tapi bunda yang lebih banyak perannya, soalnya bunda yang buat," sahut Khalisa
"eheem. .eheem, sudah damai nih ya, sudah pada ngobrol," sahut Devan
"Apaan sih, tuh makan sudah dibuatin bunda, bunda sudah capek capek buatin kesukaan lo," sahut Khalisa
"Iya iya bawel," sahut Devan
"Enak banget," sahut Refan
"Alhamdulillah, kalau mas Refan suka," sahut Khalisa
"Nambah lagi aja bro, apa mau bawa pulang juga," sahut Devan
"Gak usah, makan disini aja sudah cukup," sahut Refan
"Gak makan juga Ki?" tanya Refan
"Enggak mas," jawab Khalisa sambil menggelengkan kepalanya
"Kamu kenapa gak jualan pudding, Ki ?" tanya Refan
"Mana bisa dia buat pudding seenak ini, yang ada pelanggan kecewa, haha," sahut Devan meledek Khalisa
"Kata siapa gak enak ?? kapan hari siapa yang habisin pudding susu buatan gua ?" tanya Khalisa
"Kucing mungkin," jawab Devan malu malu
"Lo wajib coba pudding buatan dia, bro," sahut Devan sambil mengacak acak kerudung Khalisa
"Ih bang," sahut Khalisa dengan kesal menarik tangan Devan dari atas kepalanya
"Jualan aja Ki," ucap Refan
"Iya mas," jawab Khalis
"Bunda sama dia jualan kok bro, cuma gak setiap hari juga, kalau pas ada yang pesan aja." Ucap Devan
"Oh gitu, kalau gitu kapan kapan bisa pesan dong," sahut Refan
"Lihat saja di akun instagramnya bro, kalau mau pesan, namanya Simanis_bybunda," sahut Devan
"Wah kalau gitu bisa pesan buat acara kantor dong," sahut Refan
"Loh kamu buat dessert box juga Ki ?" tanya Refan
"Mmm, Iya mas," jawab Khalisa
"Berarti tadi siang ak-," sahut Refan tapi belum selesai dia berbicara sudah dipotong oleh Khalisa
"Gak papa kok mas, emang ada aturan buat orang yang jualan dessert box gak boleh makan dessert box orang lain, lagian lebih bagus dan enak dari buatan saya kok mas, saya masih belajar," sahut Khalisa
"Sudah kamu makan Ki ?" tanya Refan
"Hehe, maaf mas tadi Kia bagi bagikan ke teman teman," jawab Khalisa
"Hah," Refan terkejut dengan jawaban Khalisa
"Kenapa mas ?" tanya Khalisa
"Gak papa kok Ki," jawab Refan dengan senyum sedikit kecewa
Padahal gua beliin jalan kaki panas panas dari kantor ke ruko seberang jalan, eh sama dia malah dibagi bagikan. Niat gua bikin senang dia, eh dianya bikin senang orang lain-batin Refan
"Hahaha, lo beliin dia dessert box ? kalau mau buat dia senang jangan yang mahal mahal bro, beliin saja dia cimol atau kalau enggak beliin dia siomay baru dimakan, dia itu gak sukan makan makanan manis kayak gitu," sahut Devan
"Hahaha, iya gua buat kesalahan, gua kira semua cewek suka yang manis manis," sahut Refan
"Iya pokok bukan janji manis saja mas," sahut Khalisa
"Hahaha bener tuh, dari dulu lo kebanyakan nebar janji manis sih," sahut Devan
"Jangan buka aib dong bro," sahut Refan
"Gua bilang ke temen temen deh besok kalau ada acara biar pesan disini" tanya Refan
__ADS_1
"Iya mas terima kasih, tapi kalau bisa H-3 atau 2 ya, soalnya harus nyesuaikan jadwal kerja juga," jawab Khalisa
Drrt. .drrt (ponsel Devan bergetar)
"Gua permisi angkat telpon dulu," ucap Devan
Khalisa hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Refan hanya melempar senyuman kepada Devan
"Ki, besok masuk kerja apa ?" tanya Refan mencoba memecahkan keheningan antara Refan dan Khalisa saat ini
"Pagi mas," jawab Khalisa
"Pas kalau begitu," sahut Refan
"Apanya yang pas mas ?" tanya Khalisa
"Oh enggak kok," jawab Refan dengan senyum manis terukir di wajahnya
"Ki, besok ikut gua makan malam ya," ucap Devan sembari mendudukan badannya ke sofa setelah kembali dari menerima telpon
"Ha, sama siapa ,teman teman bang Devan ? ogah ah, Kia gak mau," sahut Khalisa
"Sudah ikut saja, besok kamu kerja apa ? sore ? tukar pagi aja apa libur gitu," sahut Devan
"Seenaknya saja, dikira restaurant nenek kita apa. Kia besok masuk pagi, tapi makan malam sama siapa dulu ini?," tanya Khalisa
"Ref, lo besok ikut juga ya. Besok gua kirim pesan alamat makan malamnya, lo jemput Khalisa dirumah gua berangkat duluan," ucap Devan pada Refan
"Gua ikut ?" tanya Refan sambil menunjuk dirinya sendiri dan sedikit kaget dengan ajakan Devan
"Iya.. lo gak bisa ya ?" tanya Devan
"Bis..bisa kok," jawab Refan
"Ya udah, besok habis maghrib lo jemput Khalisa dirumah terus ke alamat yang gua kasih besok ya," sahut Devan
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari sudah semakin malam, obrolan antara Khalisa, Devan dan Refan harus dihentikan karena jam ditangan Refan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dia hendak pamit untuk pulang.
"Devan, Kia, gua pamit pulang dulu ya," pamit Refan
"Gak nginap sini bro?" tanya Devan
"Enggak usah, makasih gua pulang aja," jawab Refan
"Ya udah gua pamit ya, assalamu'alaikum," ucap salam Refan
"Wa'alaikumssalam," jawab Khalisa dan Devan
"Hati hati bro," ucap Devan melambaikan tangannya ke aras kaca mobil Refan
"Abang kunci ya pintunya, Kia masuk kamar dulu," sahut Khalisa setelah kepergian Refan
"Iya," sahut Devan
.
.
.
Hai Teman Teman :)
Maaf jarang dan telat buat upnya, maaf ya 🙏
Teman teman jangan bosa buat baca dan nunggu upnya yaa
Terima kasih banyak buat support kalian semua, dan kalau kalian semua ada masukkan buat novel ini silahkan tulis di kolom komentar ya.
.
.
Sehat sehat semua
Semangat terus
👍❤
__ADS_1
Terima kasih