Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Pelukan Sahabat :*


__ADS_3

πŸ€


.


Senyum yang sengaja diukir sejak pagi kini sudah menghilang bersama sang mentari diufuk barat, ratusan buliran bening sudah lolos dari tempatnya, dan entah seberapa runtuh benteng pertahanan hatinya saat ini. Hari ini memang terlalu berat untuk Khalisa, belum dia membuka hati untuk seorang pria tapi sudah begitu terasa sakit.


.


***


.


Sore ini suasana rumah Khalisa terasa sepi, dan tak terlihat satu orang pun. Tapi ketiga sahabat Khalisa begitu yakin kalau dia saat ini berada dirumah, sebab sesedih apapun Khalisa dia tak munkin untuk pergi seorang diri.


"Assalamu'alaikum," ucap salam ketiga sahabat Khalisa


Cleek (Sura pintu terbuka)


"Wa'alaiakumssalam," jawab bunda Aisyah membuka pintu rumah


"Bundaa ...!" sapa Octa


"Masyallah, sini sini ayo masuk, silahkan duduk," ajak bunda Aisyah mengarah ke ruang tamu,


"Kalian kok lama gak pernah kesini, bunda kira kalian sudah pada nikah jadi gak pernah main bareng, hehe ?" ucap bunda Aisyah


"Ah bunda bisa saja, baru dua bulan gak kesini masa sudah dikira nikah, hahaha," sahut Febi


"Kita masih jadi joblo fisabilillah kok, bund," sahut Risa


"Kita kalau menikah pasti ngabarin Kia sama bunda kok," sahut kembali Risa


"Oh iya bund, dimana Kia ?," tanya Febi


"Ada.. dia dikamar, tadi pulang kerja diam aja terus masuk kamar. Apa dia ada masalah ditempat kerja ?" tanya balik bunda Aisyah


"Enggak kok bund, hari ini cukup ramai mungkin Kia kecapekan bund," ucap Risa, bukan niat membohongi bunda Aisyah, tapi Risa tidak ingin bunda khawatir.


"Boleh kita temui Kia, bund ?" tanya Octa


"Iya boleng dong, kalian langsung ke kamarnya saja. Bunda permisi ke dapur dulu ya," ucap bunda Aisyah.


"Oke bund," sahut kompak mereka bertiga


Benar saja sepulangnya Khalisa dari tempat kerja sore tadi, dia memilih berdiam diri di kamar, bahkan dia ibadah sholat pun di kamar. Bukan karena ingin meratapi hari ini tapi dia takut kalau bundanya tahu saat ini matanya sudah bengkak.


.


***


.


Saat ini Khalisa masih disibukkan dengan Al-qur'an kecil yang sudah berada ditangankan, beberapa ayat dia lantunkan dengan harapan hatinya tenang.


Dia juga sama sekali enggan untuk membuka ponselnya walaupun notif telpon maupun pesan masuk sudah berbunyi sejak tadi, bahkan mungkin sudah ratusan entah juga dari siapa.


Tok. . . Tok. .Tok


"Masuk !!" teriak Khalisa dari dalam kamar setelah mengakhir mengajinya.


Cleeek


Pintu kamar sudah terbuka, terlihat paras cantik Khalisa dengan mukena warna merah muda ditubuhnya, matanya masih begitu sembab, raut wajahnya juga masih masam tapi tidak mengurangi kecantikannya.


"Assalamu'alaikum syaantiiikk. . .," salam Octa dengan centilnya


"Wa'alaikumssalam," jawab Khalisa


"Uluuh. .uluuh princess masih cedih yaa," goda Febi dengan berjalan menuju ke atas ranjang Khalisa


"Yuk cini ... cini peyuk princss duyu," ajak Febi


Diatas ranjang king size bermotif boneka panda itu, kini Khalisa dan para sahabatnya sudah saling berpelukan bak anak beruang kutub yang kedinginan.


"Ak. . .ku gak bisa nafas," ucap terbata bata Khalisa, merasakan begitu kuatnya pelukan tiga sahabatnya itu.


"Hehe maaf," ucap mereka bertiga, sembari melepaskan pelukannya satu persatu.


"Kamu baik baik saja kan Ki ?" tanya Febi


"Heemb," jawab Khalisa menganggukan kepalanya


"Udah lah Ki, ngapain sih dipikirkan. Yang ada entar kamu stress terus masuk rumah sakit jiwa, cedih deeh akyu gak punya temen penggila drakor dan kpop lagi, huhu," ucap Octa goda Khalisa


"Apaan sih," ucap datar Khalisa


"Ki, udah lah jangan sedih sedih mulu, senyum dulu napa, mana senyumnya," pinta Risa

__ADS_1


":) nih nih," senyum Khalisa


"Gitu dong, manis amat sih senyumnya neng," sahut Febi


CUP πŸ’‹ kini bibir merah Octa sludah mendarat dipipi mulus Khalisa


"Octaaa !!" teriak Khalisa sambil mengusap pipinya


"Tahu nih anak, bar bar amat sih main nyosor aja," sahut Febi


"Apaan sih kalian, aku kan sayang sama Khalisa," ucap Octa denga bibir manyun


"Octa, kau normal kan?" tanya Risa


"Normal lah," jawab Octa


"Beneran ?? Padahal aku maunya dicium ikhwan tampan lho, bukan kamu," ucap Khalisa


"Maksudmu dicium Refan ??" tanya Octa


"Apaan sih, Ih amit amit ogah gua dicium dia!!" teriak Khalisa dengan menutup kedua telinganya


"Alah sekarang bilang ogah ogah, entar kalau sudah ngerasain bilangnya lagi lagi, hahaha," ucap Octa


"Gila, bar bar amat sih mulut lo," ucap Febi sambil membungkam mulut Octa


"Oh ya kita bawain minuman lho buat balikin mood kamu," ucap Risa


"Apaan mbak ?" tanya Khalisa


"Taaraaa. . ini dia minumany--," jawab Risa mengeluarkan minuman dari kantong plastik yang sudah dia bawa, tapi belum selesai dikeluarkan sudah ditarik Khalisa.


"Dasar, kalau gini aja semangat," ucap Octa


.


#bukanendorsya haha



"Maacih syantik syantik cuu," ucap Khalisa memeluk sahabatnya satu persatu, melihat apa yang dibawa sahabatnya itu membuat semangat Khalisa seperti diisi ulang kembali.


"Minum daah minum, pokok jangan nangis lagi yaa nak syantik," sahut Febi


"πŸ‘" Acungan jembol dari Khalisa


.


.


"Iya Ada apa mbak ?" tanya Khalisa


"Kamu suka sama Refan?" tanya Risa


uhuuk uhuuuk 🌬


Sontak saja pertanyaan itu membuat Khalisa tersedak untung saja minuman boa yang dia minum tidak nyangkut dikrongkongannya.


"Tenang. .tenang" ucap Febi sembari memukul mukul punggung Khalisa


"Dulu iya pas awal ketemu, tapi seka..--" ucap Khalisa terhenti


Kring. .Kring. . .πŸ“±notif telpon masuk nomer tanpa nama dari whatsapp Khalisa (bukan bel sepedah lo ya πŸ˜‰)


"Kok gak diangkat ki ?" tanya Febi


"Gak papa, salah sambung," jawab Khalisa


"Salah sambung πŸ™Ž?" tanya Octa,


"Ki, itukan foto profilnya Refan," ucap Risa


"Heemm," jawab Khalisa


"Angkat aja dulu ki, barangkali penting," sahut Risa


"Iya bener Ki," timpal Octa


"Enggak ada yang penting kok," sahut Khalisa


"Ya sudah kalau menurut kamu seperti itu," ucap Febi


"Ki, kita tahu kok kamu dibuat bingung dengan hari ini, mood kamu juga berantakan. Kamu hebat kamu sudah cukup kuat menghadapi hari ini, tapi saranku kalau ada masalah itu jangan dihindari tapi dihadapi. Kalau kamu butuh penjelasan dari Refan angkat saja telponnya apa kalau perlu temui dia dan tanyakan mungkin saja dia punya alasan sendiri," tutur Risa


"Enggak perlu kok mbak :)," jawab halisa


"Jangan bohongi dirimu sendiri ya, Ki," Ucap Octa

__ADS_1


Sebenarnya hati Khalisa memang ingin sekali bertemu dan bertanya pada Refan tentang semua ini, tapi tidak dengan tubuhnya yang menolak. Perlakuan teman temannya hari ini cukup bagi dia untuk menghindari Refan, dan menanamkan kembali pada pikirannya bahwa Refan itu bukan laki laki baik, setelah perlakuan manisnya kemarin malam pada Khalisa.


"Aku benar benar tidak ingin menemui atau mengangkat telpon darinya," Ucap Khalisa


"Apa kamu takut dengan perlakuan teman teman kita ?" tanya Risa


"Heem," jawab Khalisa


"Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa alasan Refan mengunggah foto kamu itu semua yang tahu hanya dia, Ki," ucap Febi


"Lalu aku harus bagaimana ?"tanya Khalisa


"Tanyakan padanya!" perintah Febi


"Dan apapun nantinya alasan dari dia membuatmu tidak nyaman, katakan saja." Sahut Octa


"Benar yang dikatakan Febi dan Octa, Ki. Hati seseorang itu gak ada yang tahu, dulu benci sekarang sayang juga gak ada yang tahu kan. Kalau dia beneran suka sama kamu pasti dia bisa berubah lebih baik, merubah orang lain lebih baik apa salahnya," Ucap Risa


"Salah lah mbak !!, Kia cuma pelayan restaurant, Kia gak cantik, Kia gak ada apa apanya dibandingkan teman teman mas Refan, kalian tahu kan mas Refan dan teman temannya begitu high class, apalagi semua pacarnya," Jawab Khalisa dengan menundukan kepalanya, saat ini pikirannya sudah tak karuan, baru sehari jalan sudah seperti ini apalagi kalau sudah tiap hari pasti banyak heaters.


"Jangan pernah menilai dirimu sendiri seperti


itu Ki !! Kalau kamu mau merasa cantik dan


segalanya itu tidak ada puasnya, yang menilai dirimu baik burunya itu orang lain Ki. Buat dirimu bersyukur dengan kamu yang saat ini, dan yang harus dibuat cantik indah itu HATI bukan wajah Ki, semua perempuan juga cantik," tutur Risa,


"Kalau orang menilai kamu baik itu berarti nilai plus buat kamu, kalau orang menilai kamu minus berarti kamu harus belajar lebih baik lagi. Dan kalaupun rasa sayang dan cinta sudah bermain bersama tidak ada yang namanya memandang derajat seseorang, Ki" tiimpal Febi


"Betul. .betul. .betul, hehehe," sahut Octa.


"Octa !!" panggil Febi, dia geram dengan Octa sudah tahu lagi serius bisa bisanya bercanda


"Iya maaf, biar gak tegang aja. Aku gak suka suasana kayak gini," ucap Octa, "Iya Ki bener, mending temui Refan bilang kalau kamu gak nyaman sama sikapnya selama ini ke kamu, apalagi masalah postingannya," ucap kembali Octa


"Kamu gak baper kan sama sikapnya selama ini ?" tanya Febi


"Enggak sih mbak, tapi buat kemarin malam---" jawab Khalisa tiba tiba terhenti


"Kamu belum disentuh kan sama dia ?" tanya kembali Febi


"Cuma digenggam aja tanganku kemarin pas turun dari paralayang,huhu, :(" jawab Khalisa


"Alhamdulillah," ucap Risa sembari mengelus dadanya


"Kamu sudah dengar dan tahu sendirikan kelakuan Refan selama ini ?" tanya Risa


"Iya, aku tahu dia playboy dan banyak wanita one night standnya," jawab Khalisa


"Kalau memang dia serius sama kmu, dan kamu memantapkan hati padanya pasti dia akan berubah lebih baik, Ki" ucap Febi


"Aku belum tahu,"sahut Khalisa


"Jangan terburu buru juga, lebih baik tanyakan saja dulu masalah postingan itu. Biar semua masalah ditempat kerja cepet selesai, kamu kembali kerja dengan nyaman," ucap Octa


"Benar kata Octa, lebih baik selesaikan masalah saat ini dulu, masalah perasaan kalian berdua kedepannya gimana cuma kalian berdua yang tahu. Satu lagi kita cuma punya dua tangan, kita gak bisa menutup mulut semua orang, gunakan kedua tanganmu untuk menutup dua telinga mu," Tutur Risa yang menggerakan kedua tangannya terbuka untuk menerima pelukan dari Khalisa


"Semangat ya syantik ku, kamu bisa melewati ini semua. Ini semua hanyasalah paham teman teman kita, besok kerja harus lebih sangat yaa, senyummu terlalu manis untuk dihilangkan," sahut kembali Risa yang sudah memeluk Khalisa


Khalisa dan Risa merenggangkan pelukkannya dan meminta dua sahabatnya lagi untuk ikut berpelukan.


Setumbang apa Khalisa hari ini, dia cukup bersyukur mempunyai tiga sahabat yang selalu ada dan mendukungnya baik susah maupun senang.


Tadinya tidak ada niatan Khlisa bertemu apalagi bertanya pada Refan, tapi setelah mendapat nasihat dari sahabat sahabatnya besok dia berniat menanyakan pada Refan, agar masalah ini cepat selesai, dia ingin kembali bekerja seperti biasanya.


.


.


.


Hai Teman Teman :)


Gimana sudah baca novelku ?


gimana . .gimana apa kalian ada masukkan buat novelku, kalau ada silahkan tulis dikolom komentar ya, masukkan kalian sangat berarti untukku


.


.


Oh iya jangan lupa tinggalin πŸ‘β€ buat novelku ya


Sehat sehat semua


Semangat


Makasih teman teman

__ADS_1


__ADS_2