Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Cerita Refan dan Devan


__ADS_3

Sore ini kota Malang masih terasa panas, langit juga masih terlihat cantik padahal jam sudah menujukan pukul 16.30.


Gelak tawa dan sesekali teriakan dari ruang keluarga Khalisa masih terdengar jelas, bahkan beberapa kali terdengar umpatan yang membuat geli di telinga.


'Welcome To Mobile Lagend' 📣 (Suara game)


Benar saja Devan dan Refan yang sudah duduk di ruang keluarga dari siang tadi sampai saat ink masih betah disana jari jari mereka dengan lihainya juga masih menari-nari diatas layar ponsel memainkam game online yang sedang marak digandungri kaum muda mudi warga +62 ini.


"******, mati kau !! Hey Maju kau jangan hanya sembunyi disemak semak aja!!" umpat Devan


"Lo ke kiri van, gua bantu serang dari arah belakang," sahut Refan


Tanpa mereka berdua sadari saat ini sudah ada sepasang mata yang menatap penuh dengan kekesalan.


"Astagfirallah, ingin rasanya hambamu ini berkata kasar pada mereka berdua Ya Allah. Kenapa sih dari siang gak bisa diam," gerutu Khalisa yang saat ini duduk di kursi ruang makan, menatap dua laki laki itu penuh kesal


"Sabar Ki, namanya juga mereka lama gak ketemu," sahut bunda Aisyah yang berjalan menghampiri Khalisa


"Eh bunda, bunda gak istirahat pasti gak bisa ya gara gara mereka berisik ?" tanya Khalisa


"Enggak kok ki, bunda udah tidur tadi siang selesai makan brownies sama kamu. Ini bunda selesai ngaji dikamar," jawab bunda Aisyah


Mendengar jawaban bunda Aisyah, Khalisa hanya diam dan kembali memainkan ponselnya padahal juga tidak ada yang kirim pesan.


"Ki, mending kamu kedepan deh tanya mereka lapar apa tidak, habis ini siapin makan buat mereka," ucap bunda Aisyah


"Iya bund," jawab Khalisa dengan muka lungset


"Bang. . . .Bang. . .Bang Dev!!" panggil Khalisa


Karena tidak ada jawaban khalisa merasa cukup kesal.


"Bang Deeevaan !!!" 📣 teriak Khalisa


Sontak Devan dan Refan terkejut dengan suara teriakan Khalisa yang menggelegar.


"Apa sih Ki, gak usah teriak teriak napa sakit tau ditelinga gua! Kalau gendang telinga gua pecah gimana, ?" ucap Devan dengan menutup telinganya.


"Salah lo sendiri, ya jelas gua syukurin kalau beneran pecah," sahut Khalisa


"Udah udah jangan berantem. Ada apa ki kok sampai teriak teriak ?" tanya Refan yang mencoba menanggapi teriakan Khalisa


"Sama bunda disuruh tanya kalian berdua lapar gak," jawab Khalisa


"Kalau aku masih kenyang ki, brownies buatan kamu bikin kenyang," sahut Refan


"Gua juga masih kenyang," sahut Devan


"Okey kalau gitu, Khalisa sampaikan ke bunda," ucap Khalisa dengan niat pergi dari ruangan itu


"Eeeh Ki mau kemana, sini aja temenin Refan gua mau mandi dulu," minta Devan yang sudah melihat adiknya itu akan meninggalkan ruangan.


"Ta. . pi bang," ucap Khalisa dengan menatap Devan


"Udah sini aja, entar gua yang bilang ke bunda kalau kita masih kenyang," sahut Devan yang sudah menjauh dari sofa.


.

__ADS_1


***


.


Hening, itulah yang terasa di ruang keluarga Khalisa saat ini. Dua orang yang berada disatu ruangan itu bukannya ngobrol tapi malah kompak menundukan kepala seperti mengheningkan cipta saat upacara bendera saja.


Refan yang sudah berniat memecahkan suasana hening diruangan itu, sesekali mencoba melihat ke arah tempat duduk Khalisa. Alhasil saat mencoba melihat kembali dua bola mata mereka saling bertemu dan rasa canggung begitu terasa.


"Kia," ucap lirih Refan


"Iya mas, ada apa ?" tanya Khalisa setelah mendengar namanya disebut


"Eemb gak papa ki, gak jadi," sahut Refan dengan gugup dan lidah yang sudah ngilu, pertanyaan yang tadinya hendak ia lontarkan ke Khalisa seketika menghilang begitu saja setelah melihat senyum Khalisa.


"Kenapa gak jadi mas, mas Refan butuh sesuatu ?" tanya Khalis


"Enggak kok, maaf ya tadi aku sama Devan berisik pasti kamu sama tante Aisyah terganggu," sahut Refan


"Enggak merasa terganggu kok mas, udah biasa kalau temen bang Devan datang kerumah kayak gitu," jawab Khalisa, padahal ingin sekali dia berteriak ke telinga Refan kalau itu benar benar mengganggunya


Refan yang mendengar jawab Khalisa hanya menganggukan kepala dan tersenyum, sebab dia sudah kehabisan kata kata untuk memulai obrolan kembali dengan gadis depan matanya yang selalu membuat jantungnya berdegub melebih batas normal.


"Mas Refan temen deket bang Devan aktu SMA?" tanya Khalisa


"Embb, iya tapi dulu sebelum...,"


Flashback On


Devan dan Refan dulu adalah dua sahabat bagaikan lem dan perangko, kemanapun dan dimanapun ada Devan pasti ada Refan.


Bahkan mereka juga dua siswa yang selalu menjadi incara para siswi di tempat mereka bersekolah. Bagaimana tidak wajah tampan, tubuh tinggi dan badan bagus membuat setiap kaum hawa menjerit dan ingin memiliki mereka.


"Dev, gua sepertinya suka deh sama Gisella," ucap Refan yang sudah duduk di kantin seraya menatap gadis pujaanya.


Devan yang menikmati satu mangkok mie ayam rasanya sama sekali tidak berniat untuk menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Dev, menurut lo gimana kalau gua nembak Gisella sekarang?" tanya Refan


Uhuuk. .uhuk. .😵


Devan tiba tiba terseda mendengar ucapan dari sahabatnya itu.


"Eh lo kenapa, minum minum," sahut Refan


"Lo beneran suka Gisel ?" tanya Devan


"Gua serius Dev, gua rasa udah jatuh cinta deh sama dia. Gua juga serius mau jadiin Gisel istri gua, kan bentar lagi kita lulus SMA, kuliah terus kerja," jawab Refan


"Mau lo kemanain cewek cewek di SMA sebelah itu," Ucap Devan


"Putusin lah, lo tahu kan udah lama gua naksir Gisel tapi susah banget dapetin dia. Gua janji kalau dapetin dia gua berhenti jadi playboy," sahut Refan


Satu SMA juga sudah tahu kalau Refan itu playboy level atas yang sering banget gonta ganti pacar, dengan modal ampang dengan mudahnya bagi dia buat dapetin cewek kayak apapun.


Devan juga sudah menghentikan makannya setelah mendengar ucapan sahabatnya itu, kini pikiranya tak sejernih tadi badanya juga terasa panas. Dia hendak menceritakan sesuatu ke Refan tapi diurungkan karena bingung untuk memulainya.


"Hai beb," sapa gadis manis dari seberang meja dengan melambaikan tangan

__ADS_1


"Dev, dia nyapa gua dev" sahut Refan sembari memukul pundak Devan, sesekali memegang dadanya yang dirasa jantungnya mau loncat


"Kamu makan apa beb, kenapa pesanku gak kamu baca sih ? Nanti sore kita jadi jalankan ?" tanya gadis manis itu yang sudah berdiri disamping Devan


"E..LO!!" teriak Refan dengan menujuk kearah Devan


"Ref. .Ref lo tenang dulu gua bisa jelasin Ref," Mencoba membuat tenang Refan yang kini mukanya sudah merah. Devan juga mencoba menyentuh pundak Refan, tapi belum sampai tanganya mendarat di pundak Refan sudah ditampik dengan kasar.


Bruuk !!💥


Satu kepalan tangan sudah mendarat di wajah mulus Devan darah segar juga lolos dari hidungnya. Terdengar teriakan para siswa siswi yang berada di kantin


Gadis manis yang berdiri disamping Devan tadi itu adalah Gisella. Kini Gisella sedang dibuat tercengang oleh sikap Refan, seketika buliran bening juga membanjiri pipinya melihat kekasihnya dipukuli sahabatnya sendiri.


"Lo tenang Ref, gua bisa jelasin semua," ucap Devan


"********!! Apa yang lo mau jelasin sekarang ? semua udah jelas Dev !!" sahut Refan, "Lo bener bener ******** Dev, tega teganya nusuk gua dari belakang," sahut Refan kembali.


"Refan tenang dulu, biar Devan jelasin semua," ucap Gisel yang mencoba mendekat ke arah Refan


"Semua udah jelas, gua gak butuh penjelasan kalian berdua!!" ucap Refan


"Ref. .," panggil lirih Devan


"Ck, jangan pernah panggil nama gua lagi !! Mulai saat ini jangan pernah deketin gua, atau berteman sama gua. Gua ogah punya teman ******** dan pengkhianat seperti lo," sahut Refan dengan menujuk ke arah wajah Devan


Setelah kepergian Refan dari kantin, suasana disana sudah mulai tenang, para siswa siswi sudah kembali makan. Sesekali terlihat beberapa siswa siswi saling berbisik dan menatap Devan, Gisella yang disibukkan mengobati luka Devan sama sekali tidak menggubris sikap teman temannya itu.


Devan dan Gissela memang sudah menjalin hubungan lebih dekat sejak mereka kelas IX, jauh sebelum itu Devan adalah sahabat Gisella sewaktu duduk dibangku SMP. Dengan seiringnya waktu mereka sering bersama tumbuhlah rasa lebih dari sahabat, bahkan orang tua mereka juga sudah tahu akan kedekatan dua anaknya itu.


Devan juga sempat ingin bercerita ke Refan akan hubungannya bersama Gisella, tapi belum ada waktu yang tepat menurutnya, padahal Gisella sudah sering meminta Devan untuk segera menjelaskan kepada Refan. Gisella memang sudah tahu dari Devan kalau Refan menyukai dirinya, belum sempat bercerita ke Refan hal buruk sudah terjadi terlebih dahulu sejak itu juga persahabatan mereka putus, dan tidak pernah bertemu sampai lulus dari bangku perkuliahan.


Flashback Off


"Begitulah ceritanya ki," ucap Refan


Belum sempat Khalisa menjawab dan bertanya kembali kepada Refan, Devan yang sudah selesai mandi tiba tiba muncul dihadapan mereka berdua.


"Hayo ngomongin apa kalian, pasti ngomongin ketampanan gua ya, hehehe," sahut Devan


"Ngomongin masa depan sama Kia, iya kan Ki ," ucap Refan dengan tersenyum kearah Khalisa


Khalisa yang mendengar jawaban Refan matanya sudah melotot, wajahnya juga sudah merah seperti tomat.


.


.


Hai Teman Teman


Gimana udah baca novelku kan, aku berharap kalian menikmatinya.


Kalau kalian ada masukkan buat novelku tulis aja dikolom komentar ya, masukkan kalian sangat berarti buat ku


.


Oh iya jangan lupa tinggalin 👍❤ di novelku ya

__ADS_1


Semangat semua :)


Makasih


__ADS_2