
Kalapun waktu bisa dihentikan, mungkin Refan sudah menghentikan waktu yang terus berjalan saat ini.
Tak ingin rasanya melewatkan setiap senyuman manis yang terukir di pipi Khalisa, begitupun dengan Khalisa rasanya dia ingin melupakan semua keburukan Refan dan bisa terus bersamanya walapun dia tahu itu hanya terjadi malam ini saja.
"Mas ! Jangan lihatin saya terus dong, nantin makanannya jadi es lo," ucap Khalisa yang sudah merasa tidak nyaman karena Refan sedari tadi terus menatap dirinya.
"Aku sedang menikmati setiap inchi keindahan ciptaan Tuhan," sahut Refan.
"Maksud mas Refan ?" tanya Khalisa
"Kamu benar benar ciptaan Tuhan yang begitu sempurna Ki," jawab Refan yang masih terus menatap Khalisa dengan bertopang dagu.
"Kesempurnaan hanya milik Tuhan, mas!" sahut Khalisa. Sebenarnya dia sedikit senang dan malu dengan ucapan Refan itu, tapi dia berusaha menutupinya.
"Hahaha, iyaa. Tapi aku kagum dan terpesona sama kecantikan kamu Ki. Ayah sama Bunda kamu dulu benar benar hebat ya bisa buat anak yang secantik ini," sahut Refan
"Mas Refan ini ngomong apa sih, udah buruan habisin makanannya keburu jadi es lo," ucap Khalisa seketika menundukan wajah nya saat ini, kalau tidak bisa saja Refan melihat pipinya yang dirasa sudah panas dan memerah itu.
Apakah setelah ini pulang, aah aku belum mau pulang :( -batin Khalisa
"Setelah ini kamu mau pulang atau jalan lagi Ki?" tanya Refan
"Terserah mas Refan aja," sahut Khalisa
Diliriknya jam dipergelangan tanganya saat ini masih menujukan pukul 20.05, sebenarnya dia masih ingin mengajak Khalisa jalan jalan tapi dia takut kalau saat ini sudah terlalu malam bagi Khalisa.
"Kok terserah sih, kan sudah aku bilang jangan bilang TERSERAH itu jawab yang sulit," tegas Refan
Khalisa semakin dibuat bingung dengan jawaban Refan, apa yang harus dia katakan. Kalau bilang ingin pulang itu tidak sejalan dengan hatinya saat ini, bilang masih ingin jalan juga gengsi dia malu.
"Aku telpon bang Devan dulu ya mas, tanya sudah pulang atau belum," Ucap Khalisa
"Okey," sahut Refan
Khalisa mencoba menghubungi kakaknya, beberapa kali belum ada jawaban dari sang kakak. Kalaupun nanti telponnya direspon dia benar benar berharap kalau kakak dan bundanya itu masih belum berada dirumah.
"Hallo, Assalamu'alaikum Ki. Ada apa ?" terdengar jawaban dari Devan di seberang telpon
"Wa'alaikumssalam bang, bang Devan sama bunda udah pulang?" tanya Khalisa
"Belum Ki, mungkin jam 22.00 baru sampai rumah." jawab Devan, "Kamu dimana ini kok suaranya ramai, kamu masih sama Refan kan ?" tanya Devan
"Iya bang, Kia masih sama mas Refan kok ini kita makan di pos ketan legenda," jawab Khalisa
"Oh gitu, nanti kalau mau jalan pulang abang kabari ya. Kamu kalau pulang duluan tunggu aja sama Refan di teras, terus hati hati jangan macem macem kalian, entar gua kirim pesan ke Refan biar jagain lo, gua tutup dulu ya telponya, Assalamu'alaikum," ucap Devan
"Iya abangku bawel, wa'alaikumssalam," sahut Khalisa, dan menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan telponnya terputus.
Satu jawaban yang membuat Khalisa cukup senang, padahal dia bingung harus kemana setelah ini sedangkan perutnya sudah terasa penuh sekali.
"Gimana Ki, apa kata Devan ?" tanya Refan
"Abang sama bunda insyaallah nyampek rumah baru pukul 22.00 mas, kalau kita mau pulang duluan suruh nunggu di teras aja katanya,"Sahut Khalisa dengan nada memelas.
"Emm gitu, ya udah ayo kita keluar dari sini aku mau ajak kamu ke salah satu tempat pasti kamu suka," ucap Refan
" Kemana mas ?" tanya Khalisa
"Sudah ayo, nanti pasti kamu tahu," sahut Refan
.
__ADS_1
***
.
Saat ini mobil Honda HR-V seri warna putih yang ditumpangi Khalisa dan Refan sudah melaju membelah jalanan yang berbelok belok dan menanjak.
Sepanjang jalan mereka hanya disuguhkan dengan pemandangan hutan pohon pinus di kiri dan kanan jalan yang gelap, bahkan lampu jalanan juga tidak begitu terang. Khalisa semakin penasaran dengan lampu lampu yang terlihat menyala terang diatas gunung, sebenarnya mau dibawa kemana dirinya, apa yang ada disana, kini satu persatu pertanyaan dan ketakutan sudah menghampiri diri Khalisa.
"Kita sebenarnya mau kemana sih mas, kok jalanya curam banget?" tanya Khalisa
"Nanti kamu juga tahu, ini kita sudah hampir sampai," jawab Refan
"SELAMAT DATANG" π»
Sekarang mereka sudah memasuki gerbang loket tempat yang akan Refan tunjukan ke Khalisa, Refan sudah tidak sabar untuk melihat Khalisa senang.
Dua tiket masuk sudah ada ditangan Refan, saat ini mobilnya juga sudah memasuki area parkir. Udara dingin terasa lebih menusuk dikulit dibandingkan saat mereka masih di taman alun alun tadi.
"Kita sekarang diatas gunung mas ?," tanya Khalisa. "Iya, ini namanya wisata paralayang di Gunung Banyak," jawab Refan
"Paralayang ? Kia sering denger orang orang ngomongin itu tapi ini baru pertama kali Kia kesini mas," ucap Khalisa
"Ya udah ayo kita jalan naik kesana, pasti kamu bakal lebih suka lagi," sahut Refan
.
.
Pemandangan di Paralayang saat malam hari
Ckrek. .Ckrek π±
Terdengar beberapa kali ponsel Khalisa sudah mengambil gambar pemandangan yang disuguhkan depan matanya. Tak henti hentinya juga dia mengucap syukur atas ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Tak mau kalah dari Khalisa, Refan juga mencoba mengambil gambar dengan pemandangan yang menurut dia lebih indah saat ini dibandingkan waktu kemarin kemarin dia datang kesini. Benar saja menurutnya indah sebab dia diam diam mengambil gambar Khalisa, beberapa gambar candid Khalisa sudah ada di ponselnya, walaupun hanya candid Khalisa masih terlihat sangat cantik.
"Mas Refan sering datang kesini ?" tanya Khalisa yang membuat kaget Refan
"Enggak kok Ki, palinga pas ngerasa suntuk aja kesini buat menenangkan pikiran," Jawab Khalisa
"Oh gitu, sering sering aja mas Refan suntuk biar sering kesini ajak Kia," ucap Khalisa "hahaha, bercanda kok mas β," sahut Khalisa
"Gak perlu suntuk juga kali Ki, kalau mau kesini tinggal bilang aja pasti aku siap antar, hehe," sahut Refan
.
.
Khalisa dan Refan saat ini sudah duduk berdua dikursi yang disediakan dengan gelas kopi panas ditangan mereka masing masing.
Saat berada diatas gunung angin malam berhembus tidak terlalu kencang hawa dingin juga tetap terasa, bahkan awan kabut sudah terlihat, kepulan asap dari gelas kopi lah yang membantu sedikit rasa hangat dikulit. Semakin malam dan semakin dingin malah membuat wisata paralayang diatas gunung itu semakin ramai dan padat oleh pengunjung.
"Ki, kamu tahu gak kalau disana ada taman sama rumah pohon yang gak kalah bagus dari disini,?" tanya Refan sembari menunjuk kearah kiri dari tempat duduk mereka.
"Enggak tahu mas, tapi Kia pernah tahu beberapa gambar taman bagus lokasinya juga disini," ucap Khalisa
"Kapan kapan aku ajak kesana, tapi cuma siang aja Ki," sahut Refan "Beneran mas ?" Tanya Khalisa
"Iya beneran," jawab Refan.
__ADS_1
.
Tidak terasa mereka hari ini cukup banyak bercerita dan saling bertanya satu sama lain, dan setelah dirasa cukup puas menikmati pemandangan dari atas gunung Khalisa dan Refan memutuskan untuk pulang, kalaupun terlalu lama disana yang ada mereka juga bakal kenyang angin.
"Kita jalan turun ambil mobil dulu ya Ki," ajak Refan
"Oke mas," jawab Khalisa
Lokasi parkir mobil memang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini, tapi mereka harus menuruni beberapa anak tangga.
Dan lagi lagi jantung Khalisa dibuat terasa bergedub lebih cepat dibatas normal, pipinya terasa panas, dia terus berusaha membuat dirinya tenang tapi semakin dia tahu apa yang membuatnya kaget tubuhnya terasa lemas. Benar saja saat ini tangan Khalisa sudah digenggam oleh Refan saat menuruni anak tangga yang ada disana, walaupun itu hanya genggaman tangan itu membuat Khalisa hampir kehabisan nafas.
Khalisa yang hendak melepas gengaman itu, sontak ditolak oleh Refan, genggaman itu terasa lebih erat.
iih dasar buaya, main genggam tangan orang aja, izin dulu kek Kan kalau izin dulu gua bisa siap siap, dan jantung gua gak bakal kayak gini, aah gua gak suka seperti ini, hiiks hiiks-batin Khalisa
Sesampainya disamping mobil, Refan melepaskan genggamannya dan membukakan pintu untuk Khalisa
"Silahkan masuk," ucap Refan
"Makasih mas," sahut Khalisa.
"Ki, kamu mau makan lagi atau langsung pulang?" tanya Refan
"Pulang saja mas, perutku masih terasa penuh," jawab Khalisa
Tujuan mereka saat ini hanya pulang ke rumah Khalisa, sebenarnya mereka masih ingin menikmati malam ini berdua, tapi apa boleh buat badan mereka sudah cukup lelah, bahkan Khalisa juga sudah terlelap.
"Kamu manis banget kalau lagi tidur,Ki." ucap lirih Refan dengan mengusap pucuk kerudung Khalisa.
Bagi Refan hari ini adalah hari keberuntungan nya, sebab bisa bersama Khalisa dan menikmati setiap senyuman manisnya lain dari biasanya yang hanya melihat Khalisa bersikap cuek padanya.
.
.
.
Hai Teman Teman :)
Gimana sudah baca novelku kan ?
Aku berharap kalian bisa menikmatinya, oh iya kalau ada masukkan buat novelku silahkan kalian tulis aja di kolom komentar ya
Masukkan dari kalian sangat bermanfaat untuk ku:)
Buat teman teman yang sudah penasaran sama visual Khalisa, sabar dulu ya π
.
.
.
Jangan lupa tinggalin πdan β€ di novelku ya
Semangat semuanya
.
Makasih
__ADS_1