
"Kiii. . buka pintunya ki," suara teriakan seorang perempuan dari luar toilet.
"Ki, please buka pintunya Kia. Ini aku Febi sama Octa," pinta kembali Febi sahabat Khalisa.
Febi dan Octa sendiri merupakan teman dekat Khalisa diluar jam pekerjaan, walaupun mereka tidak satu tempat kerja, mereka akan bersikap profesial saat dilingkungan dan jam kerja, tapi kalau sudah diluar jam kerja mereka bisa dibatas normal bahkan tak mengenal waktu. Sebenarnya bukan cuma Febi dan Octa saja, Risa yang dikenal sebagai manager restaurant tempat Khalisa bekerja juga merupakan sahabat dari Khalisa.
"Ki, tolong buka pintunya apa kita minta orang dobrak ini pintu !!" teriak Octa, yang sudah geram karna Khalisa tak kunjung membuka pintunya
"Huuh" Khalisa menarik nafas dalam dalam dan mengusap kasar cairan bening yang membasahi pipinya.
Cleeek suara pintu toilet terbuka
"KIIAA...." peluk Febi dan Octa bersamaan, Khalisa yang merasakan pelukan dari dua sahabatnya itu hanya diam, dia tidak berniat membalasnya. Tubuhnya benar benar lemas sebab dia menangis hampir satu jam didalam kamar mandi.
"Ayo kita ke ruang karyawan dulu aja," ajak Octa, diikuti febi yang merangkul tubuh Khalisa
Karena belum jam pergantian shift jadi ruangan karyawan masih begitu sepi. Sedangkan untuk karyawan yang mengambil jam istirahat mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk makan di halaman belakang.
"Nih minum dulu, Ki" ucap Octa sembari memberikan botol minum.
"Aku gak mau minum," ucap Khalisa
"Tolong minum dulu Ki !! Please, Kia jangan susah dong kalau dikasih tahu. Kalau situ pingsan disini sapa yang mau ngerawat, kita ? aduh maaf kita terlalu sibuk Ki." ucap Febi dengan smirk diwajahnya
"Heem" sahut Khalisa, merahi botol yang diberikan Octa
"Sekarang tarik nafas dalam dalam, dan tenangin pikiran mu dulu," pinta Octa
"Kalian kenapa disini ?" tanya Khalisa
"Kita kebetulan mau ada urusan sama team restaurant, dan pas banget kita mau berangkat Mbak Risa telpon ngasih tahu keadaan kamu," jawab Febi
Risa memang sempat telpon dua sahabatnya itu, setelah kepergian Khalisa izin untuk istirahat. Risa tahu kalau Khalisa pasti akan pergi ke toilet untuk menumpahkan semua cairan beningnya yang sudah dibendung sejak pagi.
Posisi Risa memang benar bnar membingungkan dia harus profesional dan menengahi karyawannya apalagi masalah diluar pekerjaan, tapi disisi lain dia gak tega melihat Khalisa sedih, jadi dia menelpon dua sabahatnya itu.
"Aku benar benar dibuat bingung, apa salah ku sebenarnya hari ini ," ucap Khalisa pepilis matanya sudah basah kembali.
"Kamu gak salah Ki," ucap Risa yang baru saja muncul dari balik pintu
"Maafin aku Ki, aku gak bisa bantu apa apa, gak bisa belain kamu, posisiu terlalu sulit Ki," sahut Risa dengan memegang kedua tangan Khalisa.
"Mbak Risa gak salah, Kia cuma bingung kenapa teman teman bersikap aneh pada Kia, mbak. Kia gak tau salah apa," sahut Khalisa
"Kamu benar benar gak tahu Ki apa yang membuat mereka kayak gitu ke kamu ?" tanya Octa
"Enggak" jawab Khalisa dengan menggelengkan kepalanya.
"Refan," ucap Risa
"Refan ?? Kenapa dengan mas Refan ?" tanya Khalisa
"Sejak kapan kami dekat dengan dia?" tanya Febi
"Enggak, aku gak dekat dengannya," ucap Khalisa "Tunggu. .tunggu kemarin aku keluar sama mas Refan, soalnya kemarin bang Devan sama bunda nitipin aku ke dia," sahut Khalisa
__ADS_1
"Nitipin ? Bunda sama Bang Devan ?" tanya Kembali Febi wajahnya sudah tidak setenang tadi, dia dibuat kaget dengan ucapan Khalisa
"Iya, mas Refan itu ternyata dulu teman dekat bang Devan kemarin kita ketemu di cfd, terus abang minta dia main kerumah, pas bunda mau pergi sama bang Devan aku disuruh keluar sama dia soalnya bunda gk tega kalau aku dirumah sendirian," cerita Khalisa
"Kenapa harus Refan sih, Ki? Itulah yang membuat mereka membenci mu hari ini," Ucap Risa
"Maksud mbak?" tanya Khalisa
"Semalam Refan memposting foto mu di story instagram dan status whatsappnya Ki," sahut Octa
"Haa," Khalisa benar benar kaget dengan ucapan sahabat sahabatnya itu, dia mengusap pipinya yang sudah basah.
"Iya, coba kamu minta penjelasan ke Refan Ki," ucap Octa
"Aku balik kerja dulu. Nanti sepulang kerja kita ketemu lagi, di parkiran depan," Khalisa tidak menjawab ucapan Octa, dia memilih merapikan penampilannya dan pamit meninggalkan ketiga sahabatnya itu.
Sebenar Khalisa masih ingi menenangkan pikirannya, tapi apa boleh buat jam istirahat Khalisa juga sudah selesai mau tidak mau dia harus kembali bekerja dan mencoba mengabaikan sikap teman temannya.
Khalisa sendiri tidak berniat untuk menemui Refan atau meminta penjelasan padanya, dia takut kalau teman temannya tahu makan akan bersikap lebih dari hari ini.
.
***
.
Khalisa yang sudah kembali bekerja, dia tetap bersikap ramah dan mencoba melupakan apa yang barusan terjadi.Tapi tidak dengan teman temamnya, mereka masih tetap membicarakan Khalisa.
"Sepertinya dia meminta bantuan teman temanya," ucap teman Khalisa dari arah Bar sedangkan Khalisa saat ini berdiri di bagian depan untuk menyambut kedatangan customer
"Sekarang Refan, besok siapa lagi yang akan didekati," sahut teman Khalisa
Saat Khalisa hendak mengambil minum, sontak saja teman temannya saling berbisik dan melirik pandangan mereka kearah Khalisa
"Kemarin aja nolak, tahu tahu udah keluar sampai malam, dia cewek keberapa yang diajak tidur pak Refan, pasti lah kemarin malam dia sudah menghabiskan waktu berdua di hotel, bentar lagi pasti dia disamperin tuh sama pacar pak Refan atau nanti pulang kerja dijemput sama pak Refan," beberapa pembicaraan teman temannya yang sempat Khalisa dengar ketika mengambil minum.
"Sabar ya Ki, aku tahu kamu pasti gak seburuk yang mereka katakan," ucap Dina teman Khalisa sembari mengelus pundak Khalisa
"Iya mbak Din, Kia coba tutup telinga kok," ucap Khalisa
Penderitaan Khalisa menjadi buah bibir di tempat kerjanya tidak berhenti sampai situ saja, saat pergantian shift mereka semakin menjadi jadi, yang tadinya tidak tahu sekarang juga ikut membicarakan Khalsia.
Jam kerja telah selesai Khalisa yang hendak pergi absen pulang pun harus tegar dan menutup telinga rapat rapat untuk melewati teman temannya yang sedari tadi membicarakannya, memang tidak semua teman temannya membicarakannya tapi tetap saja itu membuat Khalisa tidak nyaman bekerja hari ini.
"Ah palingan dia sudah penjual asetnya pada pak Refan untuk naik jabatan," ucap teman kerja Khalisa
"Sudahlah palingan hubungan mereka tidak bertahan lama, kita lihat saja," sahut kembali teman kerja Khalisa
"Maaf, lebih baik kalian bekerja saja daripada membicarakan orang," sahut Khalisa mendekat ke arah dua temannya yang sedang membicarakannya.
"Memang kenapa apa kamu merasa ?" tanya teman Khalisa
"Merasa atau tidak merasa saya tidak suka kalau kalian membicarakan orang lain dan itu hukumnya dosa!!" ucap Khalisa
"Alah sok suci kamu!!" teriak teman Khalisa dengan smirk diwajahnya
__ADS_1
Khalisa tidak ingin menambah dosanya dengan manjawab pembicaraan teman temanya, Khalisa memilih jalan ke tempat parkir untuk menunggu tiga sahabatnya.
.
***
.
Saat ini jam pulang dan segera keluar dari tempat kerjannya cukup membuat tenang, karena dia tidak akan mendengar ucapan teman temannya lagi.
Khalisa memaikan ponselnya sembari duduk di bangku yang disediakan diarea parkir depan restaurant, dia masih fokus memainkan jari jarinya dilayar ponselnya.
"Bukannya perempuan itu yang ada di postingan Refan kemarin ya ?" ucap dua perempuan yang keluar dari mobil, mereka saling berbisik namun masih dapat didengar oleh Khalisa
"Alah mungkin dia cuma perempuan one night stand Refan," ucap pria dari balik mobil sembari menatap Khalisa
"Tapi boleh juga, dia cantik," sahut kembali pria itu
"Sayang dia cuma pelayan resturant gak mungkin juga jadi kekasih Refan," ucap dua perempuan itu.
"Bisa bisanya Refan memilih iti cewek, palingan cuma ngambil uang Refan," ucap salah satu perempuan itu
"Dasar cewek murahan !!" ucap perempuan itu sembari melewati Khalisa
Tak terasa bulir bulir bening tiba tiba jatuh dipipi mulus Khalisa, dia mencoba menundukan pandangnya agar tidak terlihat menangis oleh tiga orang di hadapannya itu.
Jangan dengarkan omongan mereka Kia, please abaikan aja Kia-batin Khalisa
Hari ini benar benar terasa berat untuk Khalisa, bukan hanya sikap dan ucapan teman temannya saja yang begitu menyakitkan. Tapi, customer restaurant yang mungkin itu adalah teman teman Refan juga ikut membicarakanya, perasaan Khalisa saat ini benar benar berantakan semula dia masih bisa menahan tapi kali ini tidak, air mata yang di bendung mati matian terus jatuh.
Khalisa yang sudah tidak bisa menahan emosinya dia memilih segera memesan taxi online dan pulang dibadingkan menjawab semua ucapan orang orang ditempat kerjanya.
Khalisa juga mengurungkan niatnya untuk menunggu tiga sahabatnya itu, dia akan pulang terlebih dahulu dan menghubungi mereka setibanya dirumah nanti.
.
.
.
Hai Teman Teman
Gimana sudah baca novel ku ?
menurut kalian gimana, kalau dari kalian ada masukkan silahkam tulis di kolom komentar ya, karna masukkan kalian sangat berarti untuk ku :)
.
.
Oh iya jangan lupa tinggalon 👍❤ dinovelku ya
Sehat sehat semua
Semangat semua :) 😊😉
__ADS_1
Makasih