Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Awal Penolakan


__ADS_3

Membuka hati itu memang tidak salah, dan memang mudah. Tapi, menerima segala masa lalunya itu adalah resiko yang harus diterima.---


.


.


Keesok paginya setelah sarapan bersama Lya berpamitan kepada bunda Aisyah, Devan dan Khalisa. Pagi ini Lya akan berangkat pergi ke bandara Surabaya untuk menjemput mamanya, mungkin bagi orang lain itu hal spesial tapi tidak bagi Lya dan kakaknya.


"Bunda, mas Devan dan Mbak Kia saya pamit pulang ya, terima kasih sudah mengizinkan saya menginap disini," ucap Lya


"Sama sama nak Lya, kapan kapan datanglah kemari pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu," sahut bunda Aisyah


"Terima kasih banyak bunda," ucap Lya sembari mencium punggung tangan bunda Aisyah


"Ly, titip salam buat tante ya," ucap Devan


"Iya mas, insyaallah nanti Lya sampaikan," sahut Lya


"Mbak Ki, terima kasih ya Lya pamit dulu," ucap Lya sambil memegang kedua tangan Khalisa


"Iya, kamu hati hati ya, salam untuk mama kamu," sahut Khalisa


"Iya mbak. Lya pamit dulu assalamu'alaikum," pamit Lya sembari berjalan menuju mobil milik mama nya yang sudah terparkir didepan rumah Khalisa


"Wa'alaikumssalam," jawab seretak bunda Aisyah, Devan dan Khalisa


Setelah kepergian Lya, Devan juga segera berpamitan untuk pergi bekerja, dia tidak mau datang bekerja terlambat walaupun sekali saja.


"Devan berangkat dulu, assalamu'alaikum," pamit Devan


"Hati hati, wa'alaikumssalam," ucap bunda Aisyah dan Khalisa.


Rumah kembali terasa sepi hanya tersisa Khalisa bersama bunda Aisyah, jam kerja Khalisa juga masih sangat lama.


"Ah, aku sangat bosan, apa yang harus aku lakukan sekarang" gerutu Khalisa sambil mengguling gulingkan tubuhnya diatas ranjang.


Clek...


Pintu kamar Khalisa terbuka, menampakkan bunda Aisyah yang berdiri didepan pintu dengan pakaian yang sudah rapi.


"Bunda, bunda mau kemana ?" tanya Khalisa segera mendudukan badanya diatas ranjang


"Bunda mau pergi dulu, adaacara sama ibu ibu pengajian. Nanti kalau kamu mau pergi kerja, pintunya kunci saja pakai kunci cadangan kamu ya," ucap bunda Aisyah


"Yaaah, aku dirumah sendiri dong. Bunda mau Kia antar ?" tanya Khalis


"Tidak usah, semua berkumpul di masjid komplek sini kok, Ki. Kalau begitu bunda berangkat dulu ya Assalamu'alaikum," pamit bunda Aisyah


"Hati hati bund, wa'alaikumssalam," jawab Khalisa.


suasana rumah semakin sepi, bagaimana tidak kini hanya tinggal Khalisa serang diri didalam rumah yang cukup besar. Hanya terdengar musik yang diputar Khalisa dari dalam kamarnya.


"Oke, sekarang waktunya me time," ucap Khalisa sambil mengaplikasikan masker organik diwajahnya.

__ADS_1


Sembari menunggu maskernya kering Khalisa membuka ponselnya yang sudah dari kemarin malam tidak dia sentuh. Terlihat begitu banyaknya notif pesan masuk dari Refan dan sahabat sahabatnya sejak kemarin malam, tapi Khalisa tidak berniat untuk membalasnya.


Sungguh aku tidak tega melihat Lya, keadaan keluarganya sangat kacau, Lya dan mas Refan harus kehilangan kasih sayang orangtua. Apa sebenarnya yang mamanya pikirkan sampai tega melupakan anaknya sendiri, aah tidak tidak pasti bukan melupakan tapi waktu terlalu mengambil mamanya dari mereka. Tapi kenapa papanya seperti itu dan istri baru papanya sangat membenci mas Refan, apa karena mas Refan juga membencinya ? Apa aku coba bantu saja bicara dengan papa dan mamanya. Aaah Tunggu . .aku bukan siapa siapa mereka aku tidak boleh berpikir buruk, Khalisa sadar jangan berpikir buruk dan ikut campur urusan orang !-Batin Khalisa


Khalisa masih terus bertanya tanya dengan batinnya sendiri, dia merasa iba dan kasihan dengan keluarga Lya dan Refan tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


"Sepertinya masa lalu mas Refan memang benar benar menyakitkan untuknya, sampai sampai dia harus melarikan dirinya ke hal hal buruk. Apa yang dia pikirkan sampai bertindak bodoh, berpendidikan tapi pikiranya kenapa cetek sekali. Dan apa yang harus aku lakukan, apa aku harus membantunya ? Kalau aku membantunya berarti aku harus dekat dengannya, Ya Allah aku belum siap untuk semua hal yang akan terjadi kedepannya. Padahal dia bukan aktor terkenal, sekalianya jalan sama dia aku yang diserang netijen, huh.>~<


Tapi .... aku kasihan padanya dan Lya, aku


harus bagaimana ini," ucap Khalisa sambil memukul mukul bantalny


.


***


.


Ditempat lain Lya sudah memasuki area bandara, dan sudah menunggu kedatangan mamanya. Memang tidak butuh waktu lama untuknya sampai di bandara, dia hanya butuh waktu satu setengah jam saja bisa sampai di bandara karena jalan tol sangat membantunya.


Tampak saat ini perempuan berkacamata hitam, dengan baju setelan blazer warna coklat muda milik brand ternama sedang berjalan kearah Lya. Lya yang sibuk dengan ponselnya tidak menyadari akan hal itu, bahkan earphone yang sudah menempel di telinganya membuatnya tambah asik dengan dunianya sendiri.


"Hallo anak mama yang cantik," sapa perempuan itu


Itu adalah Misya, mama Lya dan Refan.


Dari sapaanya tadi tidak ada jawaban dari Lya, bahkan melihat saja tidak. Sontak Misya yang merasa diabaikan segera menarik earphone ditelinga Lya sampai lepas dari sang pemilik.


"Mama?" ucap Lya"Kapan mama datang?" tanya Lya dengan memberikan senyum terpaksa.


"Sudah sedari tadi, tapi kamu tidak menyadari kedatangan mama," ucap Misya


"Iya maaf, ayo kita jalan pulang," ajak Lya


Mobil miliknya terparkir tidak jauh dari area kedatangan Misya, sopir Misya juga dengan cepat mengambil alih koper yang ditariknya.


Sudah setengah perjalanan pulang Lya dan mamanya dari bandara, tapi sama sekali tidak ada pembicaraan antara mereka berdua.


Lya hanya menatap keluar jendelan mobil, sedangkan mamanya sibuk dengan ponselnya yang terus berdering.


Ck, Brisik sekali-Umpat lirih Lya


"Bagaimana kabarmu Ly ?" tanya Misya memecahkan keheningan didalam mobil.


"Baik," jawab singkat Ly


"Kakak kamu masih sibuk bekerja ?" tanya kembali Misya


"Mmm, seperti yang mama tahu," jawab Lya


Misya sendiri sama sekali tidak kaget dengan sikap Lya yang dingin kepadanya, semenjak perpisahannya dengan mantan suaminya, dan dia disibukkan dengan kerja hubungannya bersama anak anaknya juga ikut renggang tidak seperti dulu lagi. Tapi tidak masalah bagi Misya, yang terpenting keuangan keluarganya tidak memburuk.


"Kemarin malam sebelum mama tepon kamu, mama telpon rumah tapi yang jawab bibi, memang kemarin kamu kemana ?" tanya Misya

__ADS_1


"Lya menginap dirumah mbak Kia." jawab Lya


"Mbak Kia ? Siapa itu, apa teman baru kamu ?" tanya kembali Misya


"Mmm, dia karyawan direstuarant perusahaan mas Refan," ucap Lya


"Apa kamu tidak punya teman lain ? Kenapa harus berteman dengan dia Lya, dia hanya seorang pelayan," ucap Misya dengan nada sedikit tinggi karena merasa tidak senang dengan ucapan Lya


"Memang kenapa ma, apa slahnya seorang pelayan restaurant, pekerjaanya juga halal. Bahkan dia perempuan baik, dan dia adalah perempuan yang akan membuat mas Refan menjadi seperti dulu ma!!" bentak Lya


"Ngomong apa kamu Lya, jangan ngaco kamu !! Refan tidak mungkin dekat dengan perempuan seperti itu, mama tahu betul selera Refan. Pasti itu perempuan gak bener," sahut Misya


"Kenapa mama sudah berbicara seperti itu, padahal mama belum melihat dan mengenal mbak Kia secara langsung," sahut Lya


"Halah, pasti dia mendekati dan enggoda Refan hanya untuk karir nya saja atau untuk mendapatkan uang dari Refan," sahut Misya


"Jaga ucapan mama, kenapa mama bisa berpikir seburuk itu, ingat maa kita dulu juga bukan siapa siapa jadi tolong jangan menilai orang karena profesinya," ucap tegas Lya


"Lya, dengar mama !Jaman sekarang mana ada perempuan yang tulus, semua karena uang !" ucap Misya sambil memegang pundak Lya


"Terserah mama saja !, Tapi Lya tidak suka dengan cara pandang mama ke mbak Kia. Dan asal mama tahu mbak Kia sama sekali tidak pernah mendekati mas Refan, tapi sebaliknya ma." ucap Lya


"Tidak mungkin, Lya, itu hanya akal akalan dari perempuan itu. Percaya saja sama mama ," sahut Misy


"Ah sudahlah percuma Lya capek capek menjelaskan pada mama, tapi pikiran mama sekarang terlalu buruk. Silahkan mama tanyakan sendiri pada mas Refan." sahut Lya, emosinya sudah tidak terkendalikan lagi, dia benar benar kecewa dengan sikap mamanya yang sudah sangat berbeda dengan dulu.


"Okey, mama akan tanyakan pada Refan. Dan mama akan melarang Refan mendkati perempuan yang hanya seoranh pelayan itu, kamu juga jangan berteman dengan dia, kamu bisa berteman dengan anaknya tante Asih pengusaha batik itu," ucap Misya.


Lya mencoba mengabaikan ucapan mamanya, percuma untuk dia berdebat dengan mamanya itu tidak akan ada habisnya. Lya lebih memilih kembali menatap keluar cendela dan berharap mobil yang dia tumpangi segera sampai dirumah.


.


..


.


Hai Teman Teman :)


Bagaimana sudah baca novelku ?


Bagaimana apa kalian ada masukkan untuk novelku, kalau ada jangan lupa tulis dikolom komentar ya. Masukkan kalian sangat berarti untukku :)


.


.


Jangan lupa tinggalkan 👍❤ dinovelku ya,


sehat sehat semua


semangat terus


makasih

__ADS_1


__ADS_2