Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Masih Berusaha #1


__ADS_3

Kita hanya berjarak, bukan berarti saling bercampak, apalagi harus beranjak~


.


.


.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Khalisa


"Wa'alaikumssalam," jawab bunda Aisyah dari arah ruang keluarga


Wajah Khalisa terlihat begitu lelah dan sendu, tidak ada senyum sama sekali yang terukir diwajah cantiknya.


"Ya Allah nak, kamu darimana saja? semua khawatir sama kamu, kenapa baru pulang, terus kenapa gak ngabarin bunda apa abang kamu dulu sih," ucap bunda Aisyah sembari meraih tangan Khalisa


"Maafkan Kia bund, tadi sepulang kerja Kia menghandiri pengajian di masjid alun alun kota. Handphone Kia juga mati," sahut Khalisa


"Ya sudah kalau gitu kamu ke kamar bersihkan badan, habis itu makan dulu, terus kamu istirahat ya. Bunda mau telpon abang mu dulu, tadi keluar nyariin kamu," ucap bunda Aisyah


"Iya bun maafin Kia, Kia permisi dulu bun, oh iya Kia mau langsung istirahat saja," ucap Khalisa


Apa yang sedang kamu hadapi nak ? kenapa wajahmu tampak begitu sendu, apa yang sudah membuatmu sedih. Bukan bunda tidak mau bertanya kepadamu, tapi bunda ingin menghargai mu, kapanpun kamu ingin bercerita dan membutuhkan bunda, bunda siap kapan saja untuk anak anak bunda - ucap bunda Aisyah dalam hatinya :(


Hati bunda Aisyah sudah cukup lega melihat anaknya pulang dengan selamat, walapun ada kegelisahan melihat putrinya tampak begitu sedih. Bunda Aisyah juga sudah memberi kabar kepada Devan dan Refan mengenai Khalisa yang sudah pulang.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Refan dan Devan, memasuki rumah.


"Wa'alaikumssalam," jawab bunda Aisyah


"Dimana Kia, bund? apa dia baik baik saja ?" tanya Devan dengan wajah cemas


"Alhamdulillah, Kia baik baik saja. Bunda minta dia istirahat di kamar," jawab bunda Aisyah


"Apa Kia tadi sempat bilang ke tante kemana perginya sepulang kerja?" tanya Refan


"Iya nak Refan, tadi dia bilang kalau menghadiri pengajian di masjid alun alun kota. Dan handphone nya juga mati, mangkanya tidak bisa memberi kabar," ucap bunda Aisyah.


"Syukurlah," sahut Refan


"Maaf ya sudah merepotkan nak Refan sampai harus ikut Devan mencari adiknya," sahut bunda Aisyah.


"Mmm, iya tante. Tidak apa apa saya tidak merasa direpotkan kok," sahut Refan. Mendengar jawaban dari Refan, sorot mata Devan memutar kearah Refan seakan memberi kode agar tidak bercerita kepada bundanya.


"Tante Aisyah. .," panggil Refan


Seketika Devan memalingkan pandangannya ke arah tempat duduk Refan, menatap tajam Refan. Refan mengetahui hal itu tapi hanya diam dan kembali menatap bunda Aisyah.


"Iya ada apa nak Refan ?" tanya bunda Aisyah


*hening* " Tante. .sebelumnya Devan mau minta maaf," ucap Refan


Deg.


Jantung Devan seperti berhenti ketika mendengar ucapan sahabatnya itu, dia berharap Refan tidak akan menceritakan masalah adiknya dengan ibunya Refan.


Please, jangan cerita gua mohon - batin Devan sambil memejamkan matanya


"Kenapa harus minta maaf, ada apa nak Refan?" tanya bunda Aisyah

__ADS_1


"Gini tante, apa boleh kalau saya malam ini menginap disini," ucap Refan.


"Jelas boleh dong nak Refan, bunda siapkan kamarnya dulu ya," sahut bunda Aisyah


"Tidak usah bund, biar dia sama Devan saja," sahut Devan


"Ya sudah kalau begitu, bunda pamit permisi ke kamar dulu ya. Devan kamu kunci gerbang dan pintu depan ya," sahut bunda Aisyah kepada Devan.


"Iya bund," sahut Devan menyanggupi perintah bunda Aisyah


"Terima kasih banyak tante," ucap Refan


"Iya sama sama, sudah buruan istirahat sudah malam," ucap bunda Aisyah.


.


.


"Gila lo, bikin jantung gua mau copot aja," ucap Devan.


"Tenang bro, gak mungkin gua cerita," sahut Refan


"Sorry ya gua harus nginep disini, gua pengen besok pagi pagi bisa ngelihat Khalisa biar gua tenang sekalian mau minta maaf," sahut kembali Refan


"Iya gak papa, tapi kalau bisa jangan sampai nyokap gua tahu ya," pinta Devan


.


***


.


Hatinya masih terasa berat untuk bekerja mengingat hal buruk yang terjadi padanya, tapi bagaimana pun keadaanya dia harus profesional dalam hal pekerjaan.


"Kia mana bund ?" tanya Devan


"Ada dikamar masih siap siap," ucap bunda Aisyah


"Pagi bang Devan," sapa Khalisa berjalan menuruni anak tangga dari arah kamarnya


"Pagi, adik gua yang ngeselin," sahut Devan


Seketika tubuh Khalisa terasa dingin lemas, jantungnya juga terasa berdetak lebih cepat, dia dibuat kaget dengan keberadaan Refan yang sudah duduk disebelah Devan.


"Hai Kia," sapa Refan. Tidak ada balasan kata yang terucap dari bibir Khalisa, hanya senyuman seadanya.


"Sudah ayo makan nanti kalian keburu telat," ucap bunda Aisyah.


Seperti biasa ketika makan bersama, keluarga Khalisa menerapkam untuk tidak ada pembicaraan saat makan berlangsung.


"Bund, Kia berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Khalisa, setelah menyelesaikan makannya.


"Hati hati ya, wa'alaikumssalam," jawab bunda Aisyah


"Kia, tunggu!" teriak Refan


"Tante, Refan izin antar Khalisa sekalian pamit. Terimakasih untuk tumpangan dan makanannya. Assalamu'alaikum," pamit Refan, kemudian mencoba mengejar Khalisa sebelum berangkat dengan motornya


"Iya nak Refan, hati hati. Wa'alaikumssalam," sahut bunda Aisyah

__ADS_1


"Kia. .kia tunggu," panggil Refan


"Ada apa mas ?" tanya Khalisa


"Biar aku mengantarmu," ucap Refan


"Tidak perlu, saya bisa berangkat sendiri. Terima kasih untuk tawarannya," sahut Khalisa, kemudian berjalan menuju motornya


"Ki, aku mohon izin aku mengantarkan mu sebagai tanda perminta maaf," ucap Refan dengan memohon


"Tidak perlu mas, saya bisa berangkat sendiri," sahut Khalisa


"Baiklah kalau kamu menolak tawaranku, tapi aku mohon maafkan aku dan mama ku," sahut Refan


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan, Ki ?" tanya Refan


"Aku sudah memaafkan kalian, dan tidak perlu terus terusan minta maaf seperti ini. Biarkan saya menjalani hidup saya dengan tenang, saya mohon juga kepada mas Refan untuk menjauhi saya." ucap Khalisa


"Aku tidak bisa melakukan itu, Ki." ucap Refan


"Jangan membuat keadaan semakin rumit mas," sahut Khalisa


"Saya tidak mau bunda dan bang Devan tahu hal ini, lebih baik mas Refan pulang.," sahut kembali Khalisa.


"Aku benar benar serius denganmu Ki, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," sahut Refan


"Dan beri aku waktu untuk membuktikan semua akan baik baik saja, Ki," sahut kembali Refan meyakinkan Khalisa


"Semua akan baik baik saja mas, kalau mas Refan menghentikan ini semua. Dan turuti saja semua permintaan ibunya mas Refan !" ucap tegas Refan


"Beri aku kesempatan Ki untuk membuktikannya, aku tidak akan menyerah sampai disini," ucap Refan


"Sudahlah mas, hentikan semua ini. Aku benar benar sudah memaafkan dan melupakan kejadian kemarin," sahut Khalisa


"Kia, permisi dulu mas. Assalamu'alaikum," sahut kembali Khalisa


"Wa'alaikumssalam, hati hati Ki," sahut Refan sembari melambaikan tangan dan menatap kepergian Khalisa.


Aku tidak akan menyerah sampai disini Kia-batin Refan.


.


.


.


Hai Teman Teman :)


Maaf telat up nya, karena ada keperluan yang harus diurus dulu 🙏


Gimana sudah bacakan, jangan bosan dulu yaa ini masih masalah awal akan lebih seru di next cerita, ditunggu ya :)


oh iya kalau ada masukkan jangan lupa tulis di kolom komentar ya, karena masukkan kalian sangat berarti untukku


Kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan 👍❤ di novelku ya


sehat sehat semua, dan semangat terus


makasih teman teman :)

__ADS_1


__ADS_2