Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Keributan


__ADS_3

Ketika sang bulan sudah berganti dengan mentari yang tidak malu malu lagi menampakkan dirinya, disitulah satu persatu anak manusia mulai menapaki jalanan, suara bising kendaraan juga sudah ramai terdengar. Akhir pekan memang tidak akan membuat sepi jalan kota, yang ada akan semakin ramai dan padat.


Pagi ini Khalisa sudah rapi berseragam dan menaiki motor maticnya, dengan helm bogo melekat dikepalanya, dia mulai menyusuri jalanan kota menuju tempat bekerja.


Akhir pekan bukanlah hari yang spesial untuk seorang Khalisa, tapi istimewa untuk restaurant tempat Khalisa bekerja sebab kunjungan customer akan meningkat dari hari biasanya. Semangat kerja juga tampak dari setiap karyawan yang mulai berdatangan.


"Pagi semua,"sapa Khalisa kepada semua rekan kerjanya


"Hai Pagi," jawab satu persatu rekan kerjanya


"Semangat akhir pekan gais!" teriak salah satu rekan kerja Khalisa


"Semangat semangat semangat!!" teriak semua karyawan diruang karyawan


Suasana restaurant juga sudah mulai ramai, tidak ada lagi obrolan atau candaan untuk semua karyawan yang ada mereka disibukan dengan masing masing pekerjaan.


Siang ini di restaurant tempat Khalisa bekerja sedang ada reservasi lumayan besar dari kalangan penting di kotanya, mereka merupakan para pengusaha yang bisa dikatakan sebagai sektor penyumbang ekonomi kota. Dan beruntungnya Khalisa bisa mendapat tugas untuk melayani reservasi tersebut.


"Kia, kamu istirhat saja dulu," ucap Mia salah satu teman kerja Khalisa


"Kamu saja dulu, aku harus handle kembali meja reservasi sama mbak Mayang," sahut Khalisa


"Oke, aku tinggal dulu ya," sahut Mia


Diruang outdoor dengan tanaman rindang disana sudah ada meja panjang dengan kursi yang sudah ditempati para tamu reservasi, tampak beberapa wanita karir berkelas sudah berada disana.


"Pelayan!!" teriak salah satu tamu reservasi yang baru mendudukan tubunya bersama rekan rekannya


Khalisa menganggukan kepala dengan iringan senyum ramahnya, dia segera berjalan menuju meja reservasi tersebut.


"Selamat siang ibu, dengan saya Khalisa ada yang bisa saya bantu?" tanya ramah Khalisa


"Iya, saya mau pesan satu ice lemon tea less sugar,"Ucap tamu


"Baik ibu, mungkin ada tambahan lagi?" tanya kembali Khalisa


"Cukup, sementara itu dulu," sahut tamu


"Baik ibu, kalau begitu saya permisi dahulu," ucap Khalisa


..


"Khalisa," panggil salah satu perempuan paruh baya di meja reservasi, Khalisa yang sudah berjalan menjauhi meja reservasi langsung menghentikan langkahnya dan berjalan kembali mendekat ke meja tersebut.


"Iya ibu, ada yang bisa saya bantu ?" tanya ramah Khalisa


"Tolong semua pesanan kami dipercepat!" ucap sinis perempuan tersebut dengan tatapan mata yang tajam seperti tidak menyukai Khalisa.


"Baik ibu, akan kami usahakan secepat mungkin, mohon ditunggu ya bu," sahut Khalisa dengan ramah


Cukup lama bekerja di restaurant membuat Khalisa sudah terbiasa dengan berbagai macam karakter tmu, dan sudah paham bagaimana harus menanganinya.


"Jeng Misya kapan datangnya? makasih lho sudah ajak kita kita makan disini" ucap salah satu tamu, Khalisa yang masih belum jauh dari meja reservasi bisa mendengarkan dengan jelas nama Misya diucapkan, dia merasa tidak asing dengan nama tersebut.


Misya ? Sepertinya aku mengenal nama itu tapi siapa ?- tanya Khalisa dalam hati


Dua jam sudah acara reservasi itu berjalan, semua permintaan dari tamu reservasi kali ini cukup membuat kualahan semua karyawan restaurant, tidak terkecuali untuk Khalisa yang dibuat bolak balik dengan permintaan mereka.


"Kia," panggil Risa dari arah dapur restaurant


"Hai bu Risa, sedang apa disini ?" tanya Khalisa

__ADS_1


"Aku selesai membantu menyiapkan dan mengecek makanan pesanan ibu ibu rempong itu, kamu ngapain disini ?" tanya balik Risa


"Ih gak boleh gitu, Kia lewat saja tadi dari gudang ambil saus, didepan habis. Kia permisi dulu ya," sahut Khalisa


.


***


.


Diluar restaurant sendiri sudah ada Refan yang baru saja keluar dari mobilnya, kali ini dia datang bukan untuk menemui Khalisa melainkan untuk menemui Risa yang sudah dijadwalkan akan membahas projek baru perusahaan dan restaurant.


"Mobil mama, ngapain disini ? Jangan jangan. ..aah tidak tidak aku tidak boleh berpikir buruk, mama belum pernah bertemu dengan Khalisa. Tapi kenapa perasaanku gak enak," ucap lirih Refan sambil mengamati mobil yang terpakir didepan restaurant


.


.


"Refan," teriak perempuan paruh baya dari arah balik badan Refan


Suara teriakan itu membuat semua mata memandang kearah saat ini Refan berdiri, tidak terkecuali semua karyawan yang berada diarea depan termasuk Khalisa.


Refan memutar balikkan badannya, jelas saja dia mengenali betul suara itu.


"Kemarilah nak," ucap perempuan itu sambil melambaikan tangannya


"CK," Refan berdecak lirih kemudian berjalan dengan berat hati mendekati perempuan tersebut.


"Semua kenalkan ini Refan anak pertama saya," ucap perempuan paruh baya itu yang ternyata adalah Misya, mama dari Refan dan Lya yang sudah mengadakan reservasi di restaurant bersama rekan rekan bisnisnya.


Refan hanya menanggapi dengan senyuman, melihat semua orang dimeja tersebut melambaikan tangan padanya, tidak jarang dari mereka saling berbisik membicarakan tubuh dan ketampanan dari seorang Refan.


Jadi nama yang diucap ibu tadi adalah nama mama nya mas Refan mangkanya seperti tidak asing ditelingaku-Batin Khalisa sambil menutup mulutnya


"Kia, ini jus tambahan dari meja reservasi," ucap salah satu barista restuarant


Haruskah aku yang mengantarkan, aah bagaimana ini-Batin Khalisa sembari melihat kearah meja Misya dan Refan berada saat ini


"Permisi, ini untuk tambahan jus kiwi," ucap Khalisa


"Iya disini mbak," sahut salah satu tamu


Refan mulai merasa cemas melihat Khalisa kini berdiri disebalah mamanya, tambah senyum sinis terukir diwajah Misya.


Tuhan lindungi Khalisa-Batin Refan sembari melihat kearah Khalisa


Diam diam Misya memperhatikan sikap Refan terhadap Khalisa, dia mulai merasa kesal sebab Refan terus saja menatap Khalisa.


"Khalisa," panggil Misya


"Iya ibu, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Khalisa dengan senyum ramahnya


"Apa kamu kenal dengan Refan ?" tanya balik Misya


"mmm, Iya bu. Khalisa mengenal pak Refan," jawab Khalisa


"Sejauh apa kamu mengenal Refan ?" tanya kembali Misya


"Sebatas karyawan dam atasan, bu," awab Khalisa


"Baguslah kalau beitu, tapi diluar itu saya minta kamu jauhi anak saja!" ucap Misya, sontak saja membuat kaget semua rekan bisnisnya yang berada dimeja reservasi saat ini, termasuk Refan yang berdiri tepat disamping Misya.

__ADS_1


"Ma, apa maksud mama, jangan sampai buat keributan disini," bisik Refan pada Misya, sedangkan Khalisa hanya tertunduk takut dan malu


"Mama hanya ingin dia menjahui kamu, dia tidak pantas untukmu. Mama tidak suka dengan dia, dia sengaja mendekati dan menggodamu hanya ingin mendapatkan uangmu saja Refan!" ucap Misya dengan mendongkakkan wajah Khalisa,


"Jangan menangis dihadaan saya, air mata mu itu hanya akan sia sia. Lebih baik kamu jauhi anak saya, atau kamu tidak akan bisa bekerja disini lagi," ucap kembali Misya


"Ma, cukup jangan buat malu disini. Apa mama tidak malu semua orang melihat kita," ucap lirih Refan


"Mama akan jauh lebih malu kalau kamu bersama pelayan ini," sahut Misya dengan mendorong tubuh Khalisa, Refan berlari untuk segera menangkap tubuh Khalisa yang terhuyung kebelakang.


Bahkan semua mata yang berada diarea outdoor maupun sekitarna sudah menatap keributan yang dibuat Misya, ada juga yang saling berbisik dan terang terangan membicarakan mereka.


"Maaf sebelumnya tante, tapi apa yang tante tuduhkan kepada Khalisa itu tidak benar," ucap Khalisa, berulang kali air matanya terjatuh membasahi pipinya


"Ma, disini Refan yang salah bukan Khalisa. Dan lebih baik kita bicarakan dirumah saja, jangan membuat keributan disini, malu ma!" ucap Tegas Refan


"Refan, biar semua orang tahu bahwa dia tidak pantas untuk kamu Kamu jangan menutupi kesalahnya, apa kamu sudah dibutakan oleh dia? Sadar Refan dia tidak sepadan dengan kita," sahut Misya


"Tante, Khalisa benar benar minta maaf tolong jangan tuduh itu pada Khalisa. Disini Khalisa sadar akan siapa diri Khalisa, dan kalau tante minta Khalisa untuk menjauhi pak Refan, itu akan saya lakukan." ucap Khalis


"Tapi Ki," sahut Refan sembari menarik tangan Khalisa, Khalisa mencoba mlepaskan tangan Refan.


"Kamu dengar sendirikan Refan, sekarang lepaskan tangan dia dan jauhi dia sekarang juga!!" perintah Misya


"Maa," ucap Refan sembari menatap Misya


"Permisi, saya akan kembali bekerja," ucap Khalisa


"Tunggu !!" teriak Refan menghentikan langkah Khalisa


"Refan, sudah biarkan dia pergi," ucap Misya


Khalisa mulai berjalan menjauh dari tempat Misya dan Refan saat ini, sedangkan teman teman kerjanya berdatangan mendekati Khalisa dan merangkulnya.


"Ki, lebih baik kamu istirahat dulu dan tenangkan dirimu biar aku yang handle reservasi," ucap Mayang eman kerja Khalisa


"Tapi mbak --" sahut Khalisa belum sempat menyelesaikan ucapanya, tapi Risa sudah menimpalnya.


"Benar kata Mayang, kamu pergi istirahat dulu. Tidak mungkin kamu bekerja dengan mata sembab," timpal Risa


"Baik bu," sahut Khalisa.


Khalisa benar benar dibuat kaget dengan kejadian hari ini, tidak pernah sedikitpun terlintas dipikirannya sampai terjadi seperti ini. Bukan hanya malu yang dia rasakan saat ini, bahkan dia merasa takut.


.


.


.


Hai Teman Teman :)


Bagaimana sudah bacakan, menurut kalian bagaimana apa ada masukkan untuk novelku ?


Kalau ada jangan lupa tulis di kolom komentar ya, masukkan kalian sangat berarti untukku.


.


.


Oh iya kalau kalian suka jangan lupa kasih 👍❤ dinovelku ya

__ADS_1


sehat sehat semu, dan semangat terus


makasih


__ADS_2