Jangan Salahkan Takdir !

Jangan Salahkan Takdir !
Cerita Lya #2


__ADS_3

"Mbak. .menurut mbak Kia, mas Refan itu seperti apa sih orangnya?" tanya Lya


"Hah. .mas Refan? mas Refan it. .tu baik orangnya" jawab Khalisa gelagapan, benar saja pertanyaan Lya barusan membuatnya terkejut


"Haha, semua orang juga bisa baik mbak," sahut Lya sambil tertawa mendengar jawaban Khalisa


"Abisnya aku bingung harus jawab gimana," ucap Khalisa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Menilai orang itu tidak mudah," ucap kembali Khalisa


"Apa yang mbak Kia menghindar dari mas Refan ?" tanya Lya yang sudah menghadapkan tubuhnya sejajar dengan Khalisa diatas ranjang.


"Aku tidak menghindar," jawab Khalisa


"Aku tahu lho semua tentang mbak Kia,hehehe," ucap Lya sembari tersenyum


"Memang apa yang kamu tahu?" janya Khalisa sambil mengerutkan dahinya dan mematap tajam Lya


"Santai. .santai. .jangan marah, Lya bercanda kok, hehehe. Lya hanya tahu beberapa saja dari mas Refan," jawab Lya


"Kalau boleh tahu cerita apa saja mas Refan ?" tanya kembali Khalisa, dia sudah dibuat benar benar penasaran apa yang sebenarnya Lya tahu dari dirinya.


"Kata mas Refan--," Lya sengaja menghentikan pembicaraanya, kemudian tersenyum kepada Khalisa dan mengangkat kedua alisanya


Khalisa kesal dengan Lya yang sempat menghentikan pembicaraannya itu, padahal Khalisa sedang serius seriusnya mendengarkan.


Hampir tiga menit Lya menutup rapat bibirnya, hanya tersenyum menatap Khalisa. Jelas saja Khalisa semakin kesal dengan sikap Lya.


"Apa Lya, katakan kenapa diam," tanya Khalisa dengan menggoyang goyangkan tubuh Lya


"Haha, penasaran ya," ucap Lya


"Kata mas Refan. .mbak Kia itu cantik banget, baik, sholehah," ucap kembali Lya


Deg. .


Jantung Khalisa tiba tiba seperti disambar petir, berdegub begitu kencang bahakan sudah tidak beraturan lagi. Dia mencekram boneka yang dipegangnya, rasanya dia ingin berdiri dan loncat loncat tapi malu dengan Lya


"Ciee pipinya merah,hehe," sahut Lya meledek Khalisa


"Iih. .apaan sih Lya," ucap Khalisa lirih malu malu dengan menatap Lya


"Lya senang kalau mbak Kia beneran bisa menjadi alasan mas Refan untuk lebih baik," ucap Lya


"Apa maksud kamu Lya?" tanya Khalisa,


"Iyaa, seperti aku bilang itu tadi mbak.heheh, Mbak Kia tahu kan sisi buruknya mas Refan seperti apa ?" tanya balik Lya


"Maksudnya Lya ? sisi buruk mas Refan yang sering berganti ganti pasangan?" tanya Khalisa

__ADS_1


"Iya, apa mbak tahu hal buruknya lagi selain itu ?" tanya balik lagi Lya


"Tidak, tapi aku sering mendengar dari teman teman kalau mas Refan sering pergi ke club malam dan minum minuman keras," ucap Khalisa


"Iyah benar, mbak tahu apa penyebab itu semua ?" tanya kebali Lya


"Tidak, aku tidak tahu sejauh itu tentang mas Refan. Sebab selama ini aku tidak sedekat orang lain lihat, bahkan aku selalu mengabaikannya," sahut Khalisa


"Aku tahu itu, aku tidak menyalahkan mbak Kia kalau mbak Kia memang menjahuinya, kalaupun aku diposisi mbak Kia, aku akan melakukan hal yang sama," ucap Lya


"mmm, maaf Lya bisa kamu jelaskan aku sedikit bingung dengan semua ucapan kamu," pinta Khalisa


apa yang sebenarnya terjadi, dan apa maksud Lya?-Tanya Khalisa didalam hati


Lya memang cukup dekat dengan Refan, walaupun mereka jarang berkumpul tapi Refan sesekali mendatangi Lya hanya sekedar menanyakan keadaan, ataupun bercerita. Entah itu Lya tidak menanggapi ceritanya, atau malah mencacinya, Refan tetap akan melakukan itu sebab Lya lah satu satunya orang yang Refan percaya dan punya selain mamanya.


"Dulu itu mas Refan sangat penurut dengan orang tua, tidak suka keluar rumah, temanpun hanya beberapa saja, dan bahkan dulu mas Refan sangat rajin ibadah," ucap Lya sembari menatap layar ponselnya yang bergambar foto seorang anak laki laki dan anak perempuan, yang bisa ditebak oleh Khalisa itu adalah foto Refan dan Lya sewaktu kecil.


"Lalu apa yang membuat mas Refan berubah Lya?" tanya Khalisa


"Keadaan keluarga kita," ucap Lya, yang kini matanya sudah berkaca kaca lagi, hampir saja buliran bening itu terjatuh kembali.


Khalisa tidak tahu apa yang harus dia katakan, dia ingin tahu semuanya tapi juga takut menyakiti perasaan Lya.


"Aku berharap mas Refan segera mendapatkan pasangan yang setia dan membantunya menjadi lebih baik," ucap kembali Lya


"Aamiin," sahut Khalisa sambil mengelus pundak Lya


"mmm, jelas boleh Lya silahkan," jawab Khalisa gugup


"Mas Refan pernah bercerita dia menyukai seorang perempuan, bahkan sampai sekarang, tapi sangat sulit dia dapatkan tidak seperti perempuan perempuan lainnya. Bahkan dia mati matian mencoba mendekat tapi hanya penolakan yang dia dapatkan, mas Refan juga berjanji akan menjadi seperti dulu kalau bisa mendapatkan perempuan itu, sayangnya cerita itu sudah dua tahun kemarin," ucap Lya


"Bukankah berusaha menjadi lebih baik sebainya jangan karena oran lain, tapi karena Allah dan diri sendiri ? Lalu apakah mas Refan menyerah ?" tanya Khalisa


"Aku sebenarnya juga sempat kesal dengan perempuan itu mbak, aku sudah berharap mas Refan kembali seperti dulu tapi ternyata tidak," ucap Lya


"Lya, jangan terlalu berharap pada sesama hamba Allah, jodoh itu sudah diatur olehNya. Kalau perempuan itu baik untuk mas Refan pasti mereka akan berjodoh, kamu doakan saja," sahut Khalisa


"Tentu saja, Lya akan selalu mendoakannya," sahut Lya


"Dan andaikan mama selalu ada untuk kami, pasti semua akan baik baik saja. Kalau boleh memilih aku lebih memilih hidup sederhana, tapi mendapat kasih saya orang tua, dibandingkan seperti ini." ucap Lya


"Lya, jangan bicara seperti itu. Mbak Kia paham kok perasaan Lya bagaimana, tapi mungkin mama Lya punya alasan kenapa jarang ada waktu untuk Lya dan mas Refan. Mama Lya pasti ingin kehidupan anak anaknya tidak sampai kekurangan. Bagaimanapun mama Lya itu sayang dengan anak anaknya." tutur Khalisa


"Iya mbak," ucap Lya,


"Lya ingin mas Refan kembali seperti dulu mbak, hikkks hikks," sahut Lya


"Lya berdoa ya, dan jangan capek capek buat mengingatkan mas Refan untuk hal hal baik," ucap Khalisa

__ADS_1


"Lya selalu berdoa mbak, tapi mungkin keadaan keluarga kami membuatnya terlalu hancur. Dia juga sangat pandai menutupi keadaan dirinya didepan orang lain," sahut Lya


"Aku benar benar kasihan pada mas Refan mbak, hiiks hiks. Dia sering merasa kesepian, dan rindu papa tapi hanya bisa dia lampiaskan diluar rumah." sahut kembali Lya


"Apa kalian tidak mencoba mendtangi dan melepas rindu kalian dengan menemui papa kalian dirumahnya ?" tanya Khalisa


"Sudah, tapi istrinya papa menolak dan sangat tidak menyukai mas Refan. Itulah mengapa aku sudah tidak pernah mendatangi papa, aku masih kecewa dengan papa dan istrinya," ucap Lya


"Lya sabar ya, kamu kuat kok," sahut Khalisa sembari memeluk Lya


"Iya mbak," ucap Lya


"Mbak jangan benci mas Refan ya ," pinta Lya


"Iya Lya," sahut Khalisa


"Mbak, selain keadaan keluarga kami, ada hal lain yang membuat mas Refan berubah," ucap Lya


"Ha. .memang kenapa Lya?" tanya Khalisa


"Perempuan," ucap Lya "Iya perempuan, mas Refan pernah dikhianati oleh cinta pertamanya sampai setiap harinya hanya murung, menangis, bahkan sampai terjatuh sakit, butuh waktu lama untuk bisa melupakan sema hal indah bersama, disisi lain karena dia benar benar menyanyangi cinta pertamanya itu. Dan ditambah lagi saat kelas tiga SMA harus berebut perempuan dengan mas Devan sapai persahabatan mereka terputus. Sebab itulah mas Refan selalu menganggap perempuan itu hanya perusak dari semua hal, sampai sampai dia berani merusak perempuan karena ingi melampiaskan kekesalannya dan rasa kesepiannya," ucap kembali Lya


Khalisa menutup mulutnya dengan kedua tanganya, dia benar benar kaget dengan semua cerita Lya.


Dia sendiri bingung harus berkata apa, dan bagaimana.


Siapa perempuan yang dia sukai sejak dulu ?-tanya Khalisa dalam hati.


.


.


.


Ini dia foto Cecilya



Hai Teman Teman :)


Bagiamana sudah membaca novelku ?


Bagaimana apa ada masukkan untuk novelku ? Kalau ada jangan lupa tulis dikolom komentar ya, karena masukkan kalian sangat berarti untukku :)


.


.


Jangan lupa tinggalin 👍❤ dinovelku ya

__ADS_1


sehat sehat semua, semangat terus


terima kasih


__ADS_2