
..._________________♡♡♡________________...
Entah sejak kapan Mahen menjadi sangat berani menyelonong masuk kedalam rumah Gantari, dengan keadaan dirinya bersimpuh tepat di depan kamar Gantari.
Saat gadis itu keluar dari kamarnya berniat untuk mengambil minum, Gantari menemukan Mahen sedang menyengir di bawahnya. Jelas hal itu membuat Gantari terkejut bukan main. Pasalnya gadis itu baru saja merampungkan film horor yang sempat ia tunda menontonnya.
Tengah malam ini membuat Gantari cukup parno karena tingkah aneh Maheh yang menyengir seperti itu masih tercetak jelas di fikiran Gantari. Sangat menakutkan, mengalahkan setan yang tadi di tontonnya
Tidak mungkin juga jika ini efek setelah ia sakit selama satu minggu, Gantari juga heran maengapa Mahendra demam saja bisa memakan waktu yang lama seperti itu. Tapi dibalik itu semua, hidup gadis ini menjadi sangat tentram walupun hanya satu minggu, waktu yang cukup singkat. Gantari sangat sulit untuk mengakuinya bahwa hidupnya menjadi sangat sepi.
Terlepas dari kerepotan Gantari yang menjadi bolak balik keluar masuk rumah Mahendra hanya untuk mengantarkan pria itu sarapan. Setelah itu, Gantari menjadi sangat tenang berangkat ke kampus tanpa gangguan dari Mahendra.
Mahendra sudah sembuh sejak 2 hari yang lalu, namun dia langsung pergi meninghilang meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada Gantari. Jelas gadis itu menjadi sangat ketar ketir karena tidak menemukan Mahendra di dalam kandangnya. Setelah ia menelpon dan menanyakannya ternyata ia pergi menginap dirumah Dirga.
"Lo ngapain sih?" Tanya Gantari seraya menegak air beningnya yang ia ambil dari dalam kulkas.
"Gue lupa gak bawa kunci"
"Terus kenapa lo bisa masuk ke rumah gue?" Gantari bingung, Mahen lupa membawa kuncinya tetapi bagaimana bisa ia masuk kerumahnya padahal kunci rumah ini cuma ada satu dan Mahen juga tidak mempunyai kunci rumahnya.
"Rumah lo kagak di kunci bego, lo lupa gak ngunci rumah? Gak takut ada maling?" Ujar Mahen beranjak sedikit sempoyongan menghampiri Gantari lalu duduk di sebelahnya ikut menuangkan air kedalam gelas, agaknya Mahen ikut kehausan.
"Paling lo malingnya"
"Lo mau rumahnya gue maling?" Tanya Mahen menatap Gantari.
"Ya itu kalo lo mau jadi buronan nenek gue"
"Makasih aja deh gue gak jadi" mulutnya memutar tanda Mahen memang salah satunya orang yang takut dengan nenek Gantari.
Mahendra memijat keningnya, rasa pening itu kembali terasa. Lalu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan memperlihatkan wajah Mahen yang kusut dan merah.
"lo beneran udah sembuh?" Setelahnya Gantari bertanya Karena melihat keadaan Mahendra yang terlihat seperti orang teler. Gadis itu berjalan mendekati Mahendra dan benar saja dari jarak satu meter saja tubuh Mahendra sangat ketara bau alkohol. "Lo mabok?".
Mahendra hanya menyengir tanpa dosa, "Dikit doang".
"Wahh parah banget sih lo seneng banget nyari penyakit!" Kesal Gantari, dirinya kembali membuka kulkas lalu mengambil satu kaleng susu beruang memberikan pada Mahen yang tengah duduk dengan lesu. "Nih! Minum!"
Mahendra menyengir kembali seraya membuka kaleng susu itu lalu menegaknya sampe habis.
"Kebiasaan lo kalo habis dari rumah Dirga pasti kobam!"
"Lo khawatir?" Tanya Mahendra menatap Gantari kini dengan serius membuat gadis itu menjadi tersekat.
"Dih, ngapain juga gue ngekhawatirin orang kayak lo!" Ngeles Gantari ia menghindari tatapan maut Mahendra kemudian menegak kembali air beningnya.
"Bilang aja iya, Gan. Seenggaknya gue punya satu orang yang khawatir sama gue."
..._________________♡♡♡________________...
Gantari harusnya tidak mengeluh kepada Tuhan kalau rumahnya sepi selama satu minggu, ia harusnya bersyukur telah di jauhkan dari suara berisik Mahen. Tapi seperti itulah, namanya juga manusia kebanyakan mengeluh sampai pada akhirnya menyalahkan Tuhan lagi.
Jika saja kemarin malam Gantari tidak mengizinkan Mahendra untuk tidur di rumahnya pasti tidak akan ada tragedi Mahen menggedor gedor kamar Gantari karena kelaparan.
Mahendra tidak pulang kerumahnya padahal Gantari sudah memberikan kunci serepnya, tapi pria ini meminta untuk tidur di sini saja karena terlalu malas berjalan kerumahnya yang jaraknya tidak ada 10 langkah.
"Sebenernya gue bosen sih Gan makan Nasi Goreng mulu" protes Mahen, dia tidak sadar diri sekali jika mau protes seharusnya sejak tadi sebelum ia memakannya.
Jika sudah tandas begini apakah masih pantas untuk di sebut protes?.
"Bosen tapi di makan juga" Gantari hanya mendengus.
"Ya karena laper" cengir Mahendra, melihat Gantari yang tegah mencuci piring bekas makannya.
__ADS_1
"Lo nyadar gak sih Gan, kita tuh udah kayak suami istri?"
"Gue? Sama lo? Dih!!"
Mahendra mengangguk memasang wajah berbinarnya menatap Gantari.
"Itu karena lo tadi maksa gue bikin sarapan, coba kalo lo kagak gedor gedor pintu kaya tadi. Pasti gue masih sibuk mimpiin Nathan" lanjut Gantari ngedumel.
"Yaelah, ngehalu mulu lo!!" Mahen menanggapi dengan sewot.
"Biarin aja sih, cuma di mimpi gue bisa pacaran sama Nathan"
"Sama yang ada di depan mata aja napa sih" gumam Mahen lirih hampir tak terdengar oleh Gantari.
Mahendra sudah siap menangkring di motor antiknya dengan style kaos putih polos dan dibalut dengan kemeja flanel kotak kotak. Rambut yang sudah sedikit gondrong namun masih sangat terlihat rapi dan cocok dengannya.
Entah mengapa hari ini Mahendra rela menunggu Gantari yang tengah bersiap. Bukan karena rempong masalah makeup atau rutinitas pakai skincare setiap pagi, tapi karena ia harus menjemur bajunya terlebih dahulu dan menunggu sanyo air penuh.
Mahen memang ribut. Di perjalanan saja dia masih berceloteh. Ya benar ini memang Mahendra seperti biasa, pria ini sudah sangat sehat.
Kini malah gantian Gantari yang menjadi pusing mendengarkan celotehan random dari seorang Mahendra.
"Mahen?" Panggil Gantari seraya memajukan kepalanya.
"Hm" dia hanya berdhm, sejenak menghentikan celotehannya.
"Gue selama seminggu kemaren tentram banget loh kagak ada lo"
Mahen hanya terkekeh, "nanti kalo gue gak pulang entar lo nyariin kayak kemaren."
"Lo kagak ada niatan buat pergi lagi gitu?"
"Nanti lo kangen" ujar Mahen disertai dengan tawanya.
"Enggak"
"Sok tau!!!" Tungkas Gantari seraya menarik kepalanya menjauh dari Mahen.
..._________________♡♡♡__________________...
Katanya, sebagian orang perlu waktu untuk sekedar berdamai dengan diri sendiri. Sekedar mencari apapun yang menyenangkan hati. Seperti sekarang baru saja Gantari memasuki area kampus, dirinya sudah disuguhkan dengan senyum menawan dari seorang Nathan.
Pria yang terlihat berjalan dari ujung koridor di Fakultas Psikologi dengan kamera yang masih menggantung di lehernya. Sangat ramah menyapa siapa saja yang di lewatinya.
Jadi ini alasan mengapa Nathan menjadi pria nomor satu di kampus. Dia tidak hanya tampan, tapi keramah tamahannya juga sangat patut untuk dipuji.
Dia juga akan sedikit membungkukan tubuhnya ketika ia berpapasan dengan dosen yang juga langsung terpesona dengan kelakuan yang sederhana itu.
"Wah" Gantari terkagum saat melihat Nathan yang sudah berada di lobi tengah berbicara dengan salah satu dosen.
"Nathan jomblo gak yah?" Gumam Gantari, tatapannya masih setia dengan Nathan.
"Kenapa emang?" Tanya Mahen yang sudah kembali dari parkiran motor.
"Mau daftar jadi pacarnya" jawab Gantari sambil cengar cengir.
"Emangnya dia mau sama lo?" Seketika suara Mahen memberat seakan mengejek Gantari yang tengah menghalu terlalu tinggi.
"Kan kita gak tau kalo belum di coba, lu diem" sergah Gantari seraya merapikan tatanan rambutnya ketika melihat Nathan yang berjalan menghampirinya.
Mahen memutar bola matanya malas. Ia ingin sekali beranjak dari tempat itu tapi sesuatu seakan menahannya. Pria ini ingin tau ada keperluan apa Nathan menghampiri Gantari.
"Kebetulan ketemu disini, tadi ada pesen dari pak Samsul katanya ada project eksperimen ke Sekolah Menengah Akhir buat nge riset anak-anak yang Ansos gitu." Ujar Nathan saat sampai di hadapan Gantari dan Mahen, jangan lupa dengan senyum menawan Nathan.
"Kamu bagian psikologi klinis kan? Biasa bareng kak Tiyan juga gak?" tanya Nathan
__ADS_1
"Dih baru kenal, udah aku kamu" gumam Mahen dengan sewot. Padahal Mahen sudah sering mendengar Nathan dan Gantari bercakapan dengan panggilan itu tapi mengapa dirinya saat ini merasa sangat kesal.
Gantari meneot pinggang Mahen agar diam tidak menggangu obrolan Nathan dan Gantari alhasil sang empu meringis lalu mengusap pinggangnya yang perih. "Iya, masih sering ketemu kak Tiyan sih. Kenapa emang?"
"Nanti disuruh kumpul sama pak Samsul di ruangan diskusi Gedung Kuliah Umum, soalnya di Gedung Fakultas Ilmu Psikologi ruangannya kepake semua" jelas Nathan yang terlihat sangat lugas saat berkomunikasi.
"Oh iya nanti aku kabarin ke kak Tiyan" kata Gantari seraya tersenyum.
"Sama kamu juga soalnya tadi pak Samsul nyuruh kamu ikutan, oiya nanti aku kabarin lagi. Eum boleh minta no Wa nya biar nanti gampang aja buat komunikasinya" ujar Nathan seraya memberikan ponselnya pada Gantari namun sebelum gadis ini meraih ponsel Nathan, Mahen terlebih dahulu meraih ponsel itu lalu mengetik sesuatu.
Hal itu sontak membuat Gantari geram bukan main, muka Mahen terlihat kesal dan sewot. Seakan mempertanyakan Ini Mahen sebenarnya kenapa sih?. Apa dia sakit lagi atau kerasukan setan kampus?.
"Nih!!!" Mahen menyerahkan ponsel milik Nathan dengan nada yang masih sewot, "Nomor Wa gue!" Lanjutnya penuh penekanan.
Mau tidak mau Nathan harus menerimanya, bibirnya terlihat tersenyum simpul. Lalu menatap kembali pada dua insan yang tengah ribut.
"Lo kenapa sih?" Lirih Gantari kepada Mahen yang tiba-tiba menarik tangannya berlalu meninggalkan Nathan yang masih terlihat syok dengan perilaku Mahen tadi.
"Sorry Nat!!!, Nanti kabarin ke kak Tiyan aja!!!" Teriak Gantari.
"Buru Gan!!!"
"Mahen gue bisa jalan sendiri!" Sergahnya berusaha melepaskan cengkraman tangan Mahendra.
"Lagian lo kenapa sih narik-narik gue kaya gini?" Tanya Gantari saat Mahen menghentikan langkahnya tepat di lorong yang jarang sekali terlihat mahasiswa melewatinya.
Mahen menarik nafasnya.
"Gue gak suka lo deket-deket sama Nathan!!!"
"Gue gak suka lo tukeran nomor Wa sama Nathan!!!"
"Gue gak suka lo disenyumin Nathan kaya tadi!!!"
"Gue gak suka kalo lo ngehaluin Nathan!!!"
"Gue juga gak suka kalian ngobrol pake aku kamu!!!"
"Gue-"
"GUE CEMBURU GANTARIII!!!"
Pada kalimat terakhir Mahen sangat jelas ada sebuah penekanan disertai dengan nafas Mahen yang tersenggal dan gengaman pria ini melonggar bersamaan dengan hembusan nafasnya. Ini terlihat seperti dia sudah berhasil mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini walaupun terkesan sangat tak indah dan ngegas, namun pada akhirnya Mahendra berhasil mengeluarkannya.
Hal itu jelas mengejutkan Gantari. Mata gadis itu mengerjap beberapa kali mencoba mencerna rentetan kalimat yang keluar secara beruntun dari bibir Mahendra. Otaknya seketika menjadi lamban untuk mengerti dan memahami walaupun di akhir kalimat Mahendra tadi sudah sangat jelas.
Mahen cemburu?
Cemburu dengan Nathan?.
Padahal mereka saja belum ada hubungan yang spesial sama sekali.
...___________________//_________________...
.
.
Vibenya mewakili sekali yah Mas. Bolehlah sekali kali main ke rumah, siapa tau direstui Mamah... ㅠㅠ
.
__ADS_1
Mas Nathan juga, kali aja mau ketemu Mama mertua...
ಠ ͜ʖ ಠ