
...__________________//_//__________________...
Tepat pukul setengah empat pagi Gantari terbangun dari tidurnya, ini bukan karena Gantari orang yang rajin ataupun terbiasa bangun pagi. Alasannya adalah pria pemilik ruangan yang berada tepat di balik tembok kamar gantari.
Oh jika saja rumah ini bisa Gantari pindahkan, maka ia akan memindahkannya sampai ke ujung dunia hingga ia tidak perlu lagi merasakan keberisikan dari manusia bernama Mahen.
Ruangan Mahen kembali berisik setelah jam dua dini hari tadi sempat senyap, mungkin jika Gantari tidak menggedor ruangan Mahen, pria itu akan tetap berisik sampai subuh. Dan yah ini baru berjalan satu jam setengah suara-suara keributan itu kembali masuk kedalam telinga Gantari.
"Ini langsung dimasukin aja apa di kocok dulu?"
"Apanya yang di kocok?"
'ininya"
"Di kocok lah!!! Itu kan biar keluar busanya"
"Gini bang?" Tanya Yanuar sembari menunjukan adonan telor dengan tangan yang ia tenggelamkan.
Seisi dapur mengalihkan pandangannya tertuju pada Yanuar, cicak yang menempel di sebelah Dirga saja sampai tercengang dengan kelakuan manusia satu ini. Tidak apa mungkin saja Yanuar tengah memperlihatkan cara mengocok telor menggunakan teknik lain, jadi harap wajar saja.
"Lo, ngocok pake tangan?" Tanya Mahen.
Yanuar hanya mengangguk dengan polosnya lalu menatap para abangnya secara bergantian.
Nyatanya sendok yang berada di atas meja itu sudah tidak ada harga dirinya lagi di depan Yanuar. Ia sangat tidak berguna sekali di mata Yanuar, sendok ini merasa sangat sakit hati karena Yanuar lebih memilih mengocok menggunakan tangan daripada memakainya.
"Salah ya?" Tanya Yanuar murung setelah mendengar helaan nafas pasrah dari Mahen.
"Gak salah sih, lagian enakan pake tangan" celetuk Lukas.
Seisi dapur kembali senyap semua penjuru terdiam mencoba mencerna kalimat Lukas . Bukan apa, hanya saja Lukas ini sudah lama menjomblo jadi kurang belaian perempuan. Terakhir kali dia pacaran adalah waktu kelulusan SMA, alasan mereka berakhir sih mau fokus sama kuliah masing masing. Tapi nyatanya ia di selingkuhi oleh mantan pacarnya itu dan lebih memilih bersama pria yang lebih kaya darinya.
"Salah server nyet!!!" Tungkas Dirga dengan meneplak pelan kepala Lukas.
"Gue udah beli mixer, lo ngocoknya malah pake tangan" kata Mahen seraya mengambil mixer dari lemari dapurnya yang masih dibungkus rapi oleh kemasan box kardus. Salah Mahen sendiri tidak memberitahukan Yannuar sejak awal.
Inilah saatnya mesin mixernya beraksi, mesin mixer yang ia beli minggu lalu.
Yanuar hanya mengulum bibirnya, bukan salah Yanuar yang berakhir mengocok pakai tangan tapi Mahennya saja yang baru mengeluarkan mesin mixer itu.
Pria paling muda itu berlalu mencuci tangan yang tadi sempat ia pakai untuk mengocok adonan telur, lalu membuka kemasan mixer dan siap untuk memakainya.
Ia sempat kebingungan tentang bagaimana cara menyalakan mixernya karena ini adalah pertama kalinya ia menggunakan alat-alat seperti ini.
Dengan di bantu oleh video tutorial yang ia tonton dari Youtube akhirnya ia bisa menyalakan lalu menggunakannya untuk mengocok telur itu hingga adonan tersebut mengeluarkan banyak busa.
Yanuar menyengir penuh dengan kebanggaan akan dirinya sendiri, boleh juga ini kalau Yanuar membuka kedai telor gulung, pikirnya dengan berkhayal membayakan dirinya yang sukses dengan jalur pertelor gulungan.
Gantari geram karena mendengar suara mixer yang berasal dari ruangan Mahen, ia lalu beranjak dari posisi meringkuknya menjadi terduduk, ia meraup wajahnya frustasi lalu menggerang kecil menahan kesal. Gadis ini terpaksa harus terbangun di jam yang tidak tepat. Harapan untuk tidur dihari liburnya lenyaplah sudah.
"ASTAGA!!!" Teriak Gantari terdengar frustasi, suaranya menggelegar sampai telinga kewmpat pemuda itu. Gantari geram memijat keningnya merasa pening.
Keempat pemuda itupun tercekat memandang satu sama lain setelah mendengar teriakan seorang gadis yang berada tepat di samping ruangan Mahen. Sangat menakutkan, pikir para pemuda itu.
Yanuar yang tengah memixer itupun sampai terlonjak, suara Gantari mengalahkan suara mixernya. Ia langsung mematikan mixernya, takut jika ia adalah sumber keberisikan itu.
"Gue tadi udah bilang kan, bikin telor gulungnya tuh rada siangan. Kalo kayak gini kan jadi ngebangunin singa betina lagi tidur" bisik Lukas dengan suara ngebasnya, ia mendadak merinding mendengar teriakan Seorang Gantari.
Mahen hanya menyengir panik lalu mengambil mixer yang masih berada di tangan Yanuar berharap mixer baru miliknya bisa terselamatkan, "Yan, gue ambil lagi yah mixernya".
Ia memasukan kembali mixer tersebut pada kotak box tanpa membersihkannya. Perasaan Mahen sudah tidak enak dari teriakan Gantari yang sudah dirasa kesal sampai ubun-ubun.
Tak lama setelah Mahen berhasil menyimpan kembali mixernya, keempat pemuda itu kembali tersentak saat mendengar pintu utama yang di gedor dengan sangat kuat.
"MAHENDRA!" Teriak gadis itu dari balik pintu.
__ADS_1
"Lo bisa gak sih gak berisik!?"
"Mahen!! Buka!!"
Gadis itu menggedor kembali pintu utama Mahen membuat pria itu bringsut mundur mendekati Yanuar. "Yan, tolongin gue"
Yanuar yang sudah mengerti apa yang dimaksud Mahen ia ikut mundur lalu menggeleng cepat, ia kali ini tidak mau menjadi korban untuk singa betina itu. Bisa saja saat Yanuar nanti membuka pintu, dirinya di siram air seperti terakhir kali ia membantu Mahen.
Semburat sinar kaca pun terpancar jelas di mata ketiga abangnya itu seakan dia adalah satu satunya penyelamat kali ini. "G-gue takut disiram lagi"
"Bentar, gue cek dulu Gantari bawa ember apa enggak" sergah Lukas lalu berjalan mengendap menuju jendela depan membuka horden dengan hati hati.
"Aman" ucap Lukas tanpa suara.
"Nanti gue beliin indomilk deh satu dus" rayu Mahen
"Nanti gue beliin bola basket baru" bisik Dirga, sontak membuat Yanuar menoleh kepada pemuda yang berada di belakangnya.
Agaknya Dirga mempunyai jurus jitu untuk meningkatkan semangat adiknya ini.
Otaknya mulai berputar memikirkan sogokan dari kedua abangnya itu, ini sepadan bukan? Walaupun Bisa saja nyawanya kali ini sedang menjadi taruhan.
Jika seperti ini Yanuar tidak bisa menolaknya, ia tidak bisa hidup tanpa indomilk dan sampai sekarang ia juga masih belum mempunyai bola basket untuk ia simpan sendiri. Bukankah impian jangka pendek nya ini akan mudah ia dapatkan? Ia hanya perlu menghadapi Gantari saja bukan? Tidak apa jika hanya terkena siraman air, ia hanya perlu membasuhnya setelah itu.
Oke baiklah Yanuar mulai mengumpulkan keberaniannya.
"MAHENDRA!! KELUAR LO!!"
Keempatnya tersentak, nyali Yanuar yang tadinya melambung tinggi penuh semangat kini kembali menciut setelah mendengar bagaimana Gantari berteriak dicampur dengan gedoran pintu yang cukup kuat sehingga membuat engsel pintu Mahen sudah hampir copot saja. Ia menatap abangnya untuk sekian kalinya seakan mengatakan bahwa ia sudah kalah sebelum berperang.
Mahen, Dirga dan Lukas memilih untuk bersembunyi di balik tembok dengan menyembulkan kepalanya mengawasi Yanuar yang tengah berjuang sendirian. "Semangat!" Mulut mereka bersamaan bergerak seraya tangan yang ia kepal menyemangati Yanuar.
Yanuar mengatur nafasnya dengan ragu meraih gagang knop pintu lalu menarik pintu itu sampai terbuka.
Pria itu menemukan sosok gadis dengan rambut yang tengah ia ikat mengapit rapat-rapat bibirnya menahan kesal saat memandang Yanuar.
"A-ada apa kak?" Tanya Yanuar basa-basi padahal ia sangat tahu bahwa Gantari sedang dalam mood yang buruk. Lalu ia nyengir terpaksa.
Yanuar menelan salivanya sendiri saat Gantari tiba-tiba merangkul dirinya, "Yan, hari minggu gini terus bangun pagi enaknya kan olahraga ya? Lo mau gak nemenin gue olahraga? Lari aja muterin kompleks"
Ingin sekali Yanuar bilang 'TIDAKK'. Karena bisa jadi dirinya tidak akan selamat setelah ini, muterin komplek ini? Ini rasanya sudah seperti dirinya tengah dihukum pak Cipto kelliling lapangan bola 10x.
Tapi setelah melihat Gantari dengan raut wajah santai namun sangar membuat bibir Yanuar menjadi kelu. Menatap mata gadis ini saja Yanuar tidak berani. Hebat sekali Mahendra bisa hidup berdampingan dengan Gantari, pikir Yanuar.
"Daripada lo berisik mainan mixer mending lari pagi sama gue" lanjut gadis itu tersenyum, tapi menurut Yanuar itu adalah senyum yang paling menyeramkan yang pernah ia lihat.
Yanuar tercekat akibat rangkulan Gantari yang kian mengerat, ah ini bukan lagi dikatakan rangkulan tapi lebih menuju ke mencekik.
"Wait kak, aku tanya bang Mahen dulu" ujar Yanuar terbatuk seraya mencoba melepaskan rangkulan Gantari.
"Buat apa?"
"A- itu siapa tau bang Mahen mau ikutan"
"Ide bagus!!! Gue tunggu 10 menit lagi!"
Mahen yang bersembunyi di balik tembok itupun langsung terbelalak setelah mendengar samar penuturan Yanuar. Dirinya terlihat mendumel sendiri, tak lama setelah Yanuar dan Gantari bernegosiasi tentang lari paginya Yanuar berbalik setelah melihat Gantari yang sudah masuk kedalam rumahnya lalu ia beralih menutup pintu utama Mahen. Ia bernafas lega.
Tatapan Mahendra langsung nyalang, "Gak jadi gue beliin lo indomilk se kardus!!!" Mahen mendengus merasa terkhiananti oleh adiknya itu.
"Lah kok?" Tanya Yanuar bingung melihat abangnya yang tiba-tiba saja berlalu dari hadapannya. Mahen baru saja membatalkan hadiah atas perjuangannya melawan badai. Yang benar saja!!!.
...____________________//_________________...
...____________________//_________________...
Benar saja alasan mengapa Mahen tiba-tiba batal membelikan Yanuar Indomilk adalah ini, am dirinya di tinggal sendirian di pinggir jalan tepat di bawah pohon beringin setelah mengiyakan ajakan Gantari joging, dengan keadaan ngos-ngosan dan peluh yang sudah memenuhi hampir seluruh kaosnya.
__ADS_1
Baru jam setengah 8 tapi pagi ini terasa sangat panas terlihat dari langit yang biru sepenuhnya. Ia mengibas ngibaskan kaosnya berharap ada sedikit angin yang masuk meredakan panasnya pagi ini.
Yanuar kabur sejak satu jam yang lalu karena mendapat telepon yang entah Mahen tidak tau dari siapa, Dirga pun entah mengapa pulang lebih awal karena harus mengunjungi caffe nya yang sudah ia tinggal selama satu minggu. Lalu Lukas? Ia tiba-tiba saja mengalami sakit perut dan berakhir mendekam di kamar mandi.
Tersisa hanya tinggal Mahen, mau tidak mau ia harus menemani Gantari lari pagi. Walaupun tadinya Yanuar yang ia ajak, tapi pria ini sudah mendapatkan perasaan tidak enak bahwa nanti pastinya ia akan berakhir seperti ini. Teman-temannya sepertinya sengaja menyibukkan diri dan kabur hanya untuk menghindari ajakan dari Gantari.
Bagaimana tidak? Mahen juga jika ada hal yang bisa ia jadikan alasan sudah sejak tadi ia lakukan. Setidaknya untuk keluar dari zona bahaya, karena terakhir kali Mahen ikut Gantari Jogging tubuh dan kakinya akan terasa kebas dan berakhir dengan pijitan Umi Kulsum yang sakitnya luar biasa. Dipijit bukanya sembuh tapi malah membuat tubuhnya semakin pegal dan remuk.
"Nih!" Ujar perempuan yang berdiri menjulang tepat di depan Mahen, seraya menyodorkan minuman fruit tea rasa blackcurrant x mint.
Mahen meraihnya lalu langsung menegak minumannya. Selanjutnya ia bernafas lega, kemudian mendumel "Gila lo!!! Bodo amat badan gue encok lo yang kudu pijitin!"
"Dih ogah, alay banget baru juga dua puteran udah lemes"
"Baru?" Tanya Mahen mencelos, "ini komplek Gantari bukan lapangan Tenis! Gila yah lo"
Gantari dengan santai menegak minumannya kembali, "Bodo amat, siapa suruh lo gangguin minggu gue!"
"Gue gak gangguin lo Gantari, gue cuma lagi praktek bikin telor gulung sama nyoba pake mixer baru. Itu juga Yanuar yang pake mixernya bukan gue!"
"Tapi lo yang nyuruh kan?"
"Iya sih" lirih Mahen tak mengelak.
Gantari beralih duduk tepat di samping Mahen yang masih menetralkan nafasnya, kaki ia selonjorkan lalu memandang langit yang sudah mulai berawan.
"Ah, iya masalah gue minjem duwit lo sama bayaran kontrakan rumah udah gue transfer ke rekening lo" ujar Mahen.
Gantari mengangguk. "Ada lebihan nya gak?"
"Dih, emang gue suami lo minta lebihan" sewot Mahen.
"Ya, biasa aja kali mukanya gak usah sewot gitu!" Ujar Gantari mengusap muka Mahendra yang terlihat masih sewot.
"Tapi kalo lo mau jadi istri gue mah hayok, gue siap nafkahin" celetuk Mahen seraya melirik Gantari.
"Terjamin gak nih kalo gue jadi istri lo, takutnya lo malah nelantarin gue"
"Tenang, gue kasih lo telor gulung tiap hari" Mahen menaik turunkan alisnya seraya menyengir.
"Gue tau lo cinta banget sama telor gulung, tapi gak semua masalah lo bisa selesaiin pakai telor gulung!!!"
Mahen tertawa, entah apa yang membuat pria ini tertawa. "Ya kan daripada gue kasih lo makan batu kan gak lucu."
"Bintitan baru mampuss!"
Gantari mendengus, ah sudahlah memang tidak pernah benar jika membicarakan tentang masa depan dengan pria ini. Lalu ia memilih untuk beranjak meninggalkan Mahen yang masih tertawa geli itu. Tidak habis fikir saja, dia tidak bisa membayangkan jika dia memiliki suami seperti Mahen. Aah, semoga saja tidak.
Hidupnya sudah dipastikan akan suram jika hidup bersama Mahendra, baru 2 tahun saja rasanya Gantari ingin sekali pindah planet dan menetap sendirian. Hidup dengan Mahendra hanya akan membuatnya gila.
..._________________🦋🦋______________...
..._______________//____//_____________...
Suami masa depannya Gantari, ✨
.
Suami masa depan saya, 🤸💢
*Suami masa depan siapa yahh? 🤔
__ADS_1
"Gak pp Yan, gak dapet Indomilk yang penting kan dibeliin bola basket"🙌