
..._________________♡♡♡________________...
Mahendra, pria dengan rambut yang mulai memanjang itu terlihat menyugar. Keningnya di penuhi dengan peluh keringat, nampak begitu tampan. Ditambah dengan kaos oblong berwarna putih yang sudah basah kuyup.
Pria itu mendrible bola basket lalu melemparnya sampai masuk kedalam ring, disertai dengan selebrasi sebagai bentuk keberhasilan kecil.
Mahendra memang setiap sore rutin bermain basket. Sebenarnya hanya untuk berolahraga saja, alih-alih untuk menemani Yanuar berlatih basket.
Yanuar yang masih duduk di bangku 3 SMA akan mengikuti kompetisi kejuaraan basket minggu depan. Jadi harus banyak berlatih dengan giat, Mahendra pun menjadi sedikit khawatir karena melihat raut wajah Yanuar yang hari ini kurang bersemangat. Karena setaunya Yanuar akan menjadi paling aktif jika sudah disatukan dengan basket.
Dilihat-lihat dari cara bermain Yanuar sedari tadi Mahendra sudah bisa menebak jika anak itu sedang tidak baik-baik saja. Puncaknya Yanuar terlihat bernafas gusar karena tidak juga berhasil memasukan bola kedalam ring, dia kini merasa payah saja padahal jaraknya kini sangat dekat dengan ring.
"Lo kenapa Yan?" Tanya Mahendra setelah berhasil mendapatkan kembali bolanya setelah dilempar gagal oleh Yanuar.
Lukas dan Dirga yang baru saja sampai juga merasakan hal yang sama saat melihat Yanuar gusar seperti itu.
Yauar ini memang sangat ketara jika sedang ada masalah. Seperti halnya dulu waktu pertama kali dirinya di pertemukan dengan Mahendra, Lukas dan Dirga.
Pertemuan tak disengaja membuat Yanuar sangat berterimakasih kepada mereka bertiga yang datang di saat yang tepat. Saat dimana jika tidak ada satu orangpun yang melewati gang itu, Yanuar mungkin sudah mati dihabisi oleh teman sekolahnya yang memang lebih senior darinya.
Tau hal apa yang paling diingat dan paling lucu yang di lakukan oleh Mahendra dan teman temannya? Yanuar mengira mereka bertiga akan menolongnya dengan cara melawan ikut memukul dan menghajar anak anak yang mengganggunya sama seperti film film superhero yang pernah ia tonton.
Tapi mereka malah menipunya dengan berpura pura bahwa ia datang membawa polisi, tanpa di sangka anak-anak itu tidak ada rasa takutnya sama sekali sampai pada akhirnya Mahendra dan kawannya menggunakan jurus langkah seribu yang membuat Yanuar kewalahan karena ia tidak bisa berlari sekencang itu karena kakinya yang sempat di tendang.
Selain itu, Yanuar akan terlihat lebih murung saat sedang ada masalah dengan bapaknya. Seperti tempo lalu disaat Yanuar mengunjungi Mahendra yang tengah sakit. Ternyata pemuda itu di marahi habis habisan karena ketauan membolos sekolah dan lebih memilih untuk berkumpul dengan Mahendra dan kawannya.
"Yan, minum dulu nih!" Perintah Dirga melemparkan minuman bersoda yang sontak langsung di tangkap oleh Yanuar.
"Kayaknya gue berhenti sampe disini aja deh, Bang" ujar Yanuar setelah duduk di tepian lapangan dibawah pohon beringin. Diikuti oleh ketiga abangnya yang sudah berdiri tepat didepannya.
"Kenapa?" Tanya Lukas, "katanya lo mau jadi atlet basket, itu lo udah susah payah ikut penyisihan buat masuk ke tim kejuaraan sekolah ya walaupun baru tingkat antar sekolah sih, tapi ya masa lo mau nyerah gitu aja!" lanjutnya.
Yanuar menggeleng, "Bapak udah ngelarang keras gue main basket. Gue harus fokus sama belajar gue biar bisa masuk ke universitas pilihan bapak."
Dengan nafas yang masih tersenggal Yanuar kembali menegak minuman bersoda itu.
"Lo fokus belajar bukan berarti lo harus berhenti, Yan". Kata Mahendra kemudian ikut duduk di samping Yanuar. "Lo udah berjalan sejauh ini, lo cuma perlu nunjukin ke Bapak lo kalo dengan basket lo juga bisa dapet prestasi" imbuh pria itu menatap Yanuar.
__ADS_1
"Gak papa ding nyerah Yan, yang penting lo kagak nyesel" simpul Dirga seraya mengambil kembali bola basket yang berada di depan Yanuar. "Bola basketnya gue minta lagi"
Dirga kemudian mendrible bola basketnya lalu dengan mudahnya pria itu memasukan bola itu kedalam ring dengan sangat mulus. Lalu di susul Lukas yang mengambil bola yang baru saja terjatuh dari ring kemudian mengopernya kembali pada Dirga.
"Gue bingung bang, gue sama sekali gak bisa ngambil keputusan buat diri gue sendiri"
"Kadang lo harus berani sama diri lo sendiri, Yan. Ini hidup lo. Sama kayak yang dibilang Dirga tadi yang penting jangan sampe nyesel." Ujar Mahendra beralih menatap Dirga dan Lukas yang tengah asik bermain basket, kakinya ia selonjorkan dengan kedua tangan yang ia gunakan sebgai tumpuan di belakang tubuhnya.
"Belajar itu penting, karena lo gak bakalan bisa tau kapan ilmu itu akan berguna nantinya. Lo cuma perlu ngimbangin aja sama hal-hal yang menjadi kesukaan lo. Berhenti kalo memang itu perlu. Kita semua gak pernah nyuruh lo buat jadi anak yang pembangkang sama orang tua-."
"Gue ngomong kayak gini juga buat kebaikan lo, lo gak perlu niru hal buruk yang ada pada kita semua. Dan kita gak pengen lo ikut terjerumus sama kelakuan kita."
Yanuar hanya terdiam mendengarkan seluruh penjelasan yang amat sangat panjang dari Mahendra. Mehendra memang selalu begitu, dia orang yang paling bisa untuk memberi nasihat-nasihat dengan caranya sendiri. Mereka memang tidak memiliki hubungan darah sama sekali tapi jika boleh jujur Yanuar sudah menganggap Mahendra sebagai kakaknya sendiri. Lukas dan Dirga sudah ia anggap sebagai keluarga sekaligus teman, walaupun umur mereka terpaut 5 tahun tapi Yanuar merasa sedang bermain dengan teman seumurannya.
Jauh dari kata itu, Yanuar memang tidak mempunyai teman sama sekali yang bisa ia ajak main. Hanya mereka bertiga yang akan selalu ada dan pasti datang di setiap kali ia butuhkan.
...__________________♡♡♡________________...
Setelah bermain basket hingga senja tadi Mahendra memutuskan untuk pulang setelah memastikan bahwa Yanuar sudah baik-baik saja sampai rumah. Ia kini hanya merasa bersalah sekali terhadap Yanuar yang hampir setiap hari kena marah oleh bapaknya karena kebanyakan bergaul dengan Mahendra. Tadi saja Yanuar hampir saja kena marah jika saja Mahendra tidak menyergahnya, berbohong bahwa ia tidak sengaja bertemu dengan Yanuar. Tapi tetap saja Mahendra merasa khawatir karena kemungkinan besar Yanuar akan kembali dimarahi saat dia meninggalkan rumah Yanuar.
Memang benar, Mahendra memang manusia yang penuh dengan masalah, jauh dari kata baik. Mahendra juga sempat memberitahu Yanuar agar dia fokus saja pada belajarnya.
Kemudian ia mencantolkan handuk putih bergambar hello Kitty itu pada belakang pintu kamar miliknya.
Pemuda itu langsung merebahkan diri pada ranjang berukuran standar sekilas mengecek ponselnya yang memang sedari tadi sama sekali belum terjamah.
"Mahen, lo bisa benerin ini gak?" Suara seorang gadis yang baru saja memasuki kamarnya terdengar.
Gantari membawa laptop miliknya yang entah mengapa tiba-tiba saja mati ketika ia tengah mengerjakan tugas tadi. "Laptop gue tiba-tiba matiii, gimana dong??? Gue udah capek-capek ngetik, tugasnya juga belum ke save"
Gadis itu terlihat terkejut melihat Mahendra yang merebah dengan keadaan mengumbar aurat seperti itu. Matanya seketika mengerjap merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri, tidak seperti biasanya Gantari berdebar hanya dengan melihat aurat Mahen padahal dahulu ia sangat sering dihadapkan dengan pemandangan seperti ini.
Ia kemudian mengalihkan pandangan matanya mengedarkan keseluruh penjuru kamar memutus kontak dengan Mahen yang sedari tadi fokus dengan ponselnya, "kayaknya lo lagi istirahat, besok aja deh".
"Sini."
Baru saja Gantari memutar tubuhnya untuk mengambil satu langkah keluar, suara Mahen terdengar bersamaan dengan dirinya yang mengubah posisi menjadi duduk lalu meletakan ponselnya pada nakas.
Mau tidak mau Gantari harus kembali menatap Mahen, tenggorokannya seketika terasa kering saat ia berhadapan lagi dengan tubuh polos nan sempurna Mahendra. Persetan, tubuh Gantari menjadi sangat panas hanya dengan melihat aurat Mahen yang bahkan sudah tidak asing lagi dimata Gantari.
__ADS_1
"Lah? Malah bengong, sinii!" Mahen kembali bersuara membuat Gantari tersadar, lah iya tujuan Gantari ke ruangan Mahen kan untuk memperbaiki laptopnya lagian dia sudah terbiasa melihat Mahen dengan keadaan seperti itu kan?.
Gantari dengan ragu mulai mendekati Mahen lalu duduk di tepi ranjang. Sumpah perasaan Gantari menjadi tidak tenang seluruh tubuhnya memanas hanya karena berdekatan dengan Mahen seperti ini. Ini mungkin efek pengakuan dan tindakan Mahen yang diluar nalar tempo lalu yang membuat Gantari merasa ngeri saja.
"Mahen, lo kalo gak ikhlas gue gak papa kok. Lo bisa lanjut lagi" ujar Gantari saat melihat Mahendra yang tengah mengotak-atik laptop miliknya, wajah Mahen kini terlihat lebih serius namun terkesan jor-joran. Seperti tengah kehilangan sebagian mood baiknya, raut wajah yang hampir sama seperti orang yang baru saja bertengkar dengan kekasihnya. Entahlah Gantari juga tidak tau.
Mahen masih terdiam, agaknya masih fokus pada permasalahan laptop Gantari.
"Nih, ini nanti kalo kayak gini lagi berarti laptop lo harus di restart. Dia gak kuat karena kebanyakan file"
Setelah beberapa menit terdiam Mahen akhirnya bersuara, lalu Gantari bergerak mengecek datanya yang tadi belum ia simpan. Dari raut wajahnya terekam jelas bahwa kini ia tengah panik dan gelisah karena tidak juga menemukan tugasnya, ia hanya bisa bernafas samar bahunya terlihat melorot.
"Data lo lagi di pulihin, jadi jangan di matiin dulu. Nanti kesimpen otomatis di folder dokumen." Ujar Mahendra.
Gantari lalu melihat pada taxbar yang memang sedang menjalakan pemulihan data. Sumpah hampir saja dirinya pingsan karena tugasnya itu yang memang harus dikumpulkan besok pagi. "Wahh, lega banget gue"
"Tengkyuu Mahendraaa" ucap Gantari spontan dengan nada imit dan senyum yang merekah, namun setelah ia menyadarinya Gantari langsung terdiam sembari mengulum bibirnya.
Mahendra yang sedari tadi memang sedang berada di mood buruknya kini menjadi terkekeh. Jika boleh jujur, kali ini Gantari sangatlah menggemaskan dengan setelan piyama kuromi ungu ditambah dengan wajah paniknya tadi sungguh Mahendra sangat ingin menerkamnya saat ini juga.
"Apa? Hah,, gue kagak denger?" Tanya Mahen dengan suara lirihnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada Gantari.
Gadis itu mendadak tersekat, ia perlahan menjauhkan diri kemudian berlalu keluar dari kamar Mahendra yang memang memiliki pencahayaan remang.
"Apaan Gan!!! Lo bilang apa tadi???" Teriak Mahen disertai dengan kekehan.
Gantari yang sudah berada di luar rumah Mahen hanya dapat termenung dengan pipi yang entah sejak kapan sudah merona, ini tidak bisa di biarkan jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Kini berdekatan dengan Mahendra sudah sangat membahayakan dirinya sendiri.
Gantari juga tidak mengetahui perasaan apa itu, perasaan yang tiba-tiba saja datang mengambil alih begitu saja. Tidak mungkin sekali jika kini Gantari sudah mulai menyukai Mahendra.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Lucu gk pake bajuu😭🖐️
Harus banyak banyak istighfar lo pada. ㅠㅠ
__ADS_1