
Sebelumnya saya ingin minta Maaf, Bab tentang Mahendra ini akan menjadi bab panjang. Sudah melebihi 5.000 word untuk menulis bab ini. Jadi mohon untuk tidak bosan..
Dan sekali lagi, selamat ulangtahun Mahendra. 28 September 1998. Sebenarnya sudah sangat telat sekali. Tapi tidak apa, itu tidak akan mengurangi rasa kagum saya pada manusia satu ini. Ingat bahwa semesta pernah menerimamu dengan lapang dada hanya karena ingin melihatmu hidup dengan semestinya.
Kamu pasti ingat bagaimana syahdunya dentingan hujan di atap rumah sakit di hari saat dirimu terlahir. Jadi jangan lupakan orang-orang yang selalu menerimamu dengan apa adanya.
Dan jangan lupakan, bahwa masih ada orang yang perlu dimaafkan dan masih ada orang yang perlu di bahagiakan.
.
Selamat Membaca, terimakasih juga untuk dukungannya.๐ค
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
Dua tahun hampir berlalu, Mahendra akan bertemu kembali dengan lagi dengan bulan September. Bulan di mana dia di lahirkan, di tengah hujan deras disertai dengan dentingan merdu di atas atap rumah sakit dengan begitu syahdu. Harusnya begitu. Harusnya Mahendra menyadari bahwa kelahirannya sangat di akui oleh semesta.
Bahkan jika tidak di akui oleh semesta pun, Mahendra akan selalu berterimakasih pada bundanya. Tidak ada alasan untuk menolak terlahir dari rahim Bundanya, bahkan jika nantinya ada kehidupan yang baru Mahendra sangat ingin terlahir kembali sebagai anak Bunda.
Ada yang bilang jika kelahiran Mahendra adalah malapetaka, Malapetaka bagi Ayahnya sendiri. Segalanya menjadi sial karena kedatangan Mahendra yang terlahir di dunia.
Mahendra tidak keberatan jika tidak di anggap anak olehnya. Mahendra sama sekali tidak menginginkan pengakuan secara biologis oleh Ayahnya.
Mahendra lebih memilih terlahir tak memilik Ayah sama sekali daripada harus terlahir di samping Ayah yang sama sekali tak mengakuinya.
Atau perlu Ayahnya ini tidak perlu menjalin hubungan dengan bundanya, jika pada akhirnya dia sendirilah yang melukai manusia lembut seperti bundanya.
Iya Mahen terlahir sebelum kedua orang tuanya benar-benar menikah. Alasan yang sungguh tidak masuk akal untuk di terima bundanya adalah saat pria itu dengan terang-terangan menghina bundanya, menuduh bundanya berselingkuh padahal dengan jelas Ayahnya adalah pria satu-satunya dalam kehidupan sang bunda.
Jelas kalimat dari pria itu sangatlah menyayat hatinya. Di usia Mahendra yang saat itu masih dua bulan, dan jelas keadaan bunda belum pulih. Ayahnya memaksa bundanya itu untuk memberikannya keturunan yang benar-benar darah dagingnya.
Di bulan Agustus tepat tanggal 13 Agustus tahun 1999 Nathan hadir dengan prematur, tidak bisa di pungkiri dengan keadaan bunda yang belum sepenuhnya pulih ia harus di paksa untuk mengandung lagi. Nathanael Abdi Putra, terlahir belum genap 9 bulan membuatnya harus dirawat intensif di ICU dengan di jaga ketat oleh beberapa perawat yang menanganinya.
Mahen kecil yang belum genap satu tahun saja sudah bertingkah dengan lucu seakan memberikan semangat untuk bundanya.
"Padahal Mas Mahen dari kemarin nangis terus loh bu" kata bi Mina, baby sitter yang merawat Mahendra saat itu.
"Setelah ketemu ibu langsung ceria gitu" lanjutnya dengan sopan.
Bunda yang tengah menggendong Mahen pun terkekeh, "kangen kayaknya sama bunda yah".
Baby sisternya pun menjadi salut dengan majikannya ini, sungguh kuat sekali menghadapi suaminya yang sama sekali sudah kehilangan akhlak.
Tak lama kemudian datang seorang perawat wanita keruangan Bunda, seperti biasa untuk mengambil ASI dari Bunda.
Sebenarnya jika saja suaminya itu mengizinkan dirinya untuk memberikan ASI secara langsung pasti tidak membuatnya seribet ini. Ia harus setiap jam memompa ***********. Padahal Mahen dan Nathan bisa sama-sama berbagi untuk sekedar menyusu bersama.
Suaminya pasti tau Mahendra ada di ruangan ini. Bunda hanya bisa menghela nafasnya berat, mau memprotes saja dia tidak sanggup. Kondisinya masih lemas setelah melahirkan Nathan.
"Sudah bu, biar mas Mahen saya saja yang gendong" ujar baby sister itu lalu mengambil alih menggendong Mahen kecil.
Mahen berubah wajahnya menjadi muram, dia sungguh rindu Bundanya itu, dia masih mau menikmati ASI Bundanya tapi dia harus mengalah bahwa dia juga harus berbagi dengan adiknya itu.
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
Sungguh jika saja bukan karena Bundanya, Mahendra sangat tidak sudi untuk menapakan kaki di rumah ini.
Mahendra memang inisiatif meninggalkan rumah ini selepas dirinya lulus SMA. Pria ini memilih untuk berkuliah di Jogja alih-alih menghindarkan diri dari semua permasalahannya. Namun kali ini Mahendra tidak dapat lari dari kewajibannya sebagai anak, ia masih memiliki bunda yang harus ia jaga.
Prannkkk....
Suara pecahan gelas terdengar sangat jelas masuk di telinga Mahendra. Kepulangannya malah membuatnya merasakan kembali keramaian ini.
"DASAARR PEREMPUAN ****** GAK TAU DIUNTUNG!!!"
"SAYA TAU, KAMU MASIH BERHUBUNGAN DENGAN PRIA ITU!!! KAMU SUDAH SELINGKUH DI BELAKANG SAYA? HAH!"
Sontak hal itu membuat Mahen bergegas menuju sumber suara dan benar saja bundanya tengah di bentak habis-habisan oleh sang Ayah.
Sumpah serapah dan bantingan semua benda menjadi iringan kemarahan sang Ayah. Sebelum akhirnya tangan sang Ayah terangkat seakan sudah siap untuk memukul bundanya tapi terlebih dahulu di tahan oleh Mahendra.
Mata Mahen berubah memerah berair yang tertahan di pelupuk matanya yang melebar. Rahangnya seketika mengeras, genggaman di tangan Ayahnya pun semakin menguat.
"BERANI KAMU SAMA SAYA!!!" geram sang Ayah menatap Mahen yang sama sama melotot. Tatapan matanya menyalang, namun kemudian pria itu terkekeh kecil seakan remeh.
"Hh, BANGSAT!!!" Tekan Mahen, lalu menghempaskan tangannya kuat membuat sang Ayah oleng sampai terhuyung.
Di sudut ruangan Nathan hanya bisa berdiri terdiam, sedari tadi yang dilakukan anak itu hanya bisa berdiam. Kakinya gemetar serasa kelu, ia sangat ingin melerai keduanya namun tubuhnya serasa tertahan. Ia bahkan hanya menyaksikan dengan mata yang berair juga saat melihat bundanya di bentak dan di pukul oleh Ayahnya. Tembok itu tidak dapat Nathan hancurkan, katakanlah bahwa Nathan sangat pengecut.
"DASAR ANAK HARAM!!! BISA-BISA KAMU LAHIR KE DUNIA INI"
Nathan berjalan mundur sampai mentok pada tembok, Ia lagi-lagi takut dengan suara sang Ayah yang hampir mendominasi ruangan.
Andai saja Nathan bisa seperti Mahendra, berani mengambil resiko. Bisa mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia sudah bukan anak kecil lagi, ia ingin terbebas juga.
Hari ini Nathan mengakui ternyata Mahendra itu sangat menyeramkan, Mahendra memang memiliki sisi gelap yang bahkan Nathan baru menyaksikan secara nyata. Ini bahkan lebih menyeramkan dari Ayahnya.
Dulu jika Nathan terkena masalah, Mahen lah yang siap berdiri di gerdu terdepan. Dia siap untuk kena marah atau pukul oleh sang Ayah dan berakhir dengan olesan salep oleh bunda. Tapi kali ini Nathan menyaksikan secara langsung bagaimana cara Mahendra memukul sang Ayah sampai tak berdaya.
Satu tahun sangatlah lama untuk di lewati Nathan, pria ini sama sekali tidak tau apa yang harus ia lakukan setiap kali melihat bundanya kena marah atau pukul. Seperti dulu-dulu dia masih suka bersembunyi di dalam kamarnya lalu menutup telingannya rapat-rapat. Bukan tampa alasan, hanya saja jika Nathan mengekang sang Ayah, itu akan menjadi hal yang tidak baik untuk bundanya.
Nathan hanya bisa menangis dan menahan amarahnya seorang diri saat itu. Kapan dirinya bisa benar-benar dewasa paling tidak untuk sekedar melindungi bundanya saja.
"ANAK TIDAK BERGUNA!!!" Gertak sang Ayah di sela-sela keolengannya.
Mahen sangat tau, Ayahnya tengah dikuasai sepenuhnya oleh alkohol. Dan anak itu tidak memperdulikan lagi, dia tidak perduli dengan siapa orang yang baru saja ia pukul, dia tidak perduli lagi jika di cap sebagai anak durhaka. Bukankah itu menjadi sempurna, kombinasi anak haram dan anak durhaka? Keduanya terdengar lebih bagus di telinga Mahendra.
"Kenapa hah? Mau minta duwit? Duwit kamu habis?"
"Mahendra, coba saja kamu seperti putraku Nathan. Hahaha,, Pasti saya tidak sehancur ini!!!" Lanjutnya di sertai tawa yang meledak, entah bagian mana yang lucu.
Pria itu masih berusaha untuk berdiri meskipun tubuhnya sudah mulai oleng dan kehilangan fokus.
Mahen ikut menyunggingkan bibirnya, suara decakan dan tawa menggelikan mendengar tuturan sang Ayah yang pada saat mabuk seperti ini saja dia masih suka membanding-bandingkan dirinya dengan Nathan.
"Kamu itu anak haram, tidak seperti Nathan darah daging saya!!! Kamu bukan anak saya!!!"
"Hh, Gue juga gak butuh pengakuan dari manusia bangsat kaya lo!!!" Hampir saja Mahen akan melayangkan satu pukulan lagi, sang bunda terlebih dahulu menahan tubuh Mahen hingga membuatnya urung. Sang bunda memeluk tubuh Mahendra yang sudah memanas dari belakang.
Nathan pun kocar-kacir ia memberanikan diri memisahkan sang Ayah dengan Mahendra.
"Udah Bang, bunda gak papa" bisik sang bunda yang masih memegangi tubuh anaknya. Ucapannya terdengar menenangkan, tapi bukan ucapan itu yang diinginkan oleh Mahendra. Ia sungguh sudah bosan mendengar penuturan sang bunda yang berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.
"Nathan, kamu bawa Ayah ke kamarnya" perintah bunda yang langsung mendapat anggukan dari Nathan.
Tanpa berpikir panjang, Mahen langsung merengkuh tubuh bundanya yang entah mengapa menjadi sangat kecil di pelukannya. Ia memeluk tubuh ringkih sang bunda dengan erat.ย Bundanya masih di beri makan kan?.
Mahen membawa tubuh bundanya ke dalam kamar lalu menidurkannya. Mahen bangkit mencari kotak p3k yang selalu tersedia di kamar ini.
"Abang, gimana kuliahnya?" Tanya sang bunda.
Bukannya menjawab, Mahen malah tertunduk dan menangis. Melihat tangan cantik bundanya banyak sekali luka, luka lama yang belum mengering dan luka baru yang darahnya masih mengalir.
Telapak tangan bundanya menjadi kasar, kulit nya kering dan mengelupas. Bagaimana bisa? Mahendra merasa sangat bersalah telah meninggalkan bundanya dan menghadapi semua ini sendiri.ย
Mahendra sangat menyesal, ternyata inisiatifnya menciptakan banyak luka bagi bundanya. Harusnya Mahendra tidak pernah meninggalkan sang bunda sendirian.
"Kok anak bunda nangis? Ih, dah gede masa nangis sih" bunda terkekeh lalu meraih pipi Mahen yang sudah di banjiri air mata. Ya bagaimana tidak, Mahendra sangat sakit hati melihat bundanya di siksa seperti ini.
"Sakit bun?" Tanya Mahendra tanpa menatap mata sang bunda.
Bundanya menggeleng lalu tersenyum, "Enggak, udah gak sakit lagi liat Abang ada disini. Abang kenapa gak bilang mau pulang ke sini? Kalo ngabarin kan bisa di jemput sama Nathan."
Air mata Mahendra kembali mengalir, yang benar saja bundanya masih bisa tersenyum seperti ini. Sudut bibir bunda saja lebam seperti itu bagaimana bisa beliau tidak merasakan sakit?. Mahen saja yang melihatnya sangat sakit, Sungguh hatinya sangat tersayat melihat orang yang paling dia sanyangi terluka seperti ini.
"Bun, maafin Mahen" gumam Mahen di sela-sela isakannya. Tangan Mahen masih sibuk mengobati tangan bunda yang mungkin terkena pecahan gelas tadi.
Bundanya hanya tersenyum dan mengusak surai putranya.
"Ganteng banget anak bunda, jangan nangis ih nanti gantengnya ilang" ujar bunda, tangannya beralih mengusap pipi putranya itu.
Sungguh senyum bundanya ini sangatlah menyakitkan untuk sekedar di lihat oleh Mahendra.
Bukan senyum seperti ini yang di harapkan Mahendra, ia pulang dari Jogja hanya ingin melihat wajah ceria dari bundanya. Tapi lagi lagi yang didapatkan Mahendra adalah rasa sakit, perih sekaligus marah.
Wajah beliau yang semakin banyak tertanam bekas luka, tubuhnya yang semakin kurus. Bagaimana tidak menyesakan?.
"Bunda ikut aku aja yah. Kita tinggal bareng yah. Kita balik ke Jogja" lirih mahen dengan air mata yang tidak mau mengering.
Bundanya hanya menggeleng, jelas itu adalah sebuah penolakan sama seperti terakhir kali ia berpamitan untuk berkuliah di Jogja. Mahen hanya bisa menghela nafas seraya menahan sesak di dadanya.
Beliau terlalu patuh, bukan takut hanya saja beliau punya tanggung jawab untuk menjaga suaminya. Tapi jika suaminya saja bangsat seperti dia, apakah bundanya masih punya kewajiban untuk menetap?.
Mahen melupakan sesuatu, Bundanya masih punya kewajiban menjaga Nathan. Mahen terheran, Nathan sudah dewasa jelas anak itu bisa menjaga dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Bundanya tertidur, sangat tenang tanpa beban. Di balik wajahnya yang penuh luka, bundanya masih saja terlihat sangat cantik. Mahendra menarik selimut lalu menutup tubuh bunda, ia berlalu keluar kamar dan menemukan Nathan yang tengah berdiri di depan pintu kamar bunda.
"Jagain bunda, gue mau pergi dulu" pamit Mahen tanpa sama sekali menatap Nathan. "Kalo sampai ada apa-apa sama bunda, lo orang pertama yang bakal gue salahin"
"Maafin gue bang, gue emang anak yang gak guna"
"Hh,, Lo kan berguna buat Ayah lo" dengus seorang Mahen berlalu membuat Nathan menjadi tertunduk.
Nathan kini bingung sendiri, ia ingin sekali menahan kakaknya itu. Tapi ia sangat tau, sekeras apapun seorang Nathan menahannya, Mahendra tetap berpegang pada pendiriannya. Dia tidak akan pernah sudi untuk tinggal di rumah ini lagi.
Kini Nathan hanya bisa menatap punggung Mahen yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Makasih bang" gumam Nathan dengan air mata yang sudah mengalir.
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ___________...
Benar kata Mahendra, harusnya bunda ikut pergi saja bersama Mahen waktu itu. Waktu dimana untuk pertama kalinya Mahen mengangkat kakinya dari rumah ini. Bukankan akan lebih mudah jika mereka bisa hidup berdampingan?. Bunda tidak lagi menanyakan keadaan Mahen pada Nathan. Dan pastinya bunda akan tetap aman bersama Mahendra.
Jika seperti ini, Nathan semakin tersiksa oleh pikiran-pikiran yang mengganggunya setiap malam. Memikirkan hal-hal mengapa dirinya terlahir di keluarga ini? Tuhan mungkin mengirimkannya agar bisa menjadi pelindung bunda, tapi nyatanya Nathan malah menambah beban sang bunda.
Sama seperti hari-hari biasanya, terjaga setiap malam. Nathan tidak bisa mengantuk karena efek kopi americano yang baru saja tandas.
Sesekali pria ini akan terkekeh ketika ia dengan tiba-tiba teringat akan sesuatu. Saat-saat dimana Nathan masih dapat mendengar ocehan Mahendra setiap malam.
"Nathan!! Jangan minum kopi terus!!"
"Nathan, kalo mandi jangan kemalaman!!! Nanti gedenya rematik!!!"
"Lo itu gampang pilek, jangan kebanyakan minum es teller!!! Ac juga dimatiin kalo mau tidur"
"Nathan, kenapa lo cakep banget sih? Ututut, lucu banget deh. Eh, tapi masih cakepan gue ding! Haha"
"Habisin makanannya dulu baru ngegame!"
__ADS_1
"Jangan pake motor antik gue!!"
"Nathan, bagi duwit dong. Tapi jangan bilang Ayah ya, hehe"
"Jangan sakit Nat! Entar gue yang kena omel Ayah."
"Itu celana kolor gue!"
"Nat, bikinin indomie dong"
"Pinjem gitar dong Nat, gitar gue di banting Ayah"
"Nat, kalo capek istirahat"
"Nat, kalo mau tidur baca doa dulu"
"Nih susu, jangan lupa di minum!"
"Nathan, I LOVE YOU. gue jijik sebenernya, tapi I LOVE YOUUU"
Sungguh saat ini Nathan sangat merindukan suara Mahendra itu, ia berkolase tentang masa lalunya. Benar Mahen memang menyebalkan untuk ukuran saudara, tapi pria ini masih sangat istimewa di hidupnya. Dari hal-hal sederhana yang mungkin tidak didapatkan oleh Nathan, ia dapat menemukan itu dalam diri Mahendra. Mereka tidak pernah bertengkar hebat, hanya saja Mahendra sedikit sensitif jika sudah berhubungan dengan bunda. Mahendra adalah manusia yang mungkin menjadi yang pertama sebagai pelindung bunda.
Ia membuka laci mejanya, mengambil botol berisikan obat tidur yang entah sejak kapan hanya tersisa 4 tablet padahal ia baru membelinya satu minggu yang lalu. Apakah Nathan terlalu boros mengkonsumsi obat ini? Bagaimana lagi, ia tidak bisa jika harus mengkonsumsi 1 tablet. 5 tablet saja dirinya masih belum bisa tertidur.
Jam di atas meja belajarnya sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Nathan menghela nafasnya lelah melihat tugas projeknya yang baru saja terselesaikan.
"Sekalian aja, besok tinggal istirahat" gumamnya seraya tersenyum. Nathan memang sering sekali tersenyum, tapi dirinya sangat membenci senyuman yang ini. Ia sangat beruntung Mahendra sedang tidak ada di sampingnya, jika Mahendra menyaksikan Nathan yang masih mementingkan tugasnya daripada kesehatan nya sudah di pastikan Nathan tidak diizinkan untuk mengendarai motor antik milik Mahen.
Motor antiknya seorang Mahendra tuh legend banget. Walaupun sekarang Nathan sudah bisa membeli mobil keluaran terbaru, tetapi dirinya masih belum bisa membeli motor seperti milik Mahendra itu. Mahendra sangat beruntung mendapatkan motor itu di hari ulang tahunnya sebagai hadiah dari bunda.
Bukan karena Nathan tidak mampu membelinya tapi Lagi-lagi karena larangan Ayahnya, "ngapain sih beli motor butut kaya gitu, kamu tuh pantesnya pake mobil, Nathan!"
"Kamu itu harus jadi fotografer terkenal! Biar bisa ngebanggain Ayah. Gak kaya Mahen yang bisanya cuma bikin susah."
"Nanti sore les privat, udah Ayah siapin guru privatnya."
"Inget yah Nathan, kamu anak satu satunya Ayah, jangan bawa bawa Mahen!!"
"Kamu jangan malu maluin Ayah!"
"Mahen bukan anak Ayah, kamu yang anak Ayah!"
Sebenci itukah Ayah kepada Mahendra? Tapi jauh dari semua itu, secara tidak langsung Ayahnya ini telah menjadikan Nathan sebagai bahan investasinya.
Jika boleh mengeluh, Nathan sudah melakukannya jauh-jauh hari. Dan jika diperbolehkan untuk beristirahat maka Nathan tidak akan pernah membuang waktu istirahat nya barang satu detikpun.
Tapi yang dilakukan anak ini hanya akan berakhir dengan kalimat, "iya Ayah" dengan nada pasrah dan senyum terpaksanya.
Nathan memegangi dadanya yang semakin berdebar, debaran yang dirasa sangat menyakitkan mulai menyeruak. Ia hanya dapat meringis dan sedikit meremat bajunya. Ia kemudian dengan cepat meraih obat yang berada di laci nakasnya kemudian meminumnya cepat. Tenang itu bukan obat tidur, hanya obat peredam nyeri saja.
"Nat," suara ketokan pintu terdengar dicampur dengan suara lembut bunda.
"Masuk aja bund" jawab Nathan seraya merapihkan buku-buku tugasnya, sesekali ia masih meringis merasakan debaran menyalitkan, menyembunyikan kembali botol obat yang baru saja ia minum.
Sang bunda menghela nafasnya berat melihat putranya yang selalu masih terjaga.
Nathan tersenyum sangat manis membuat sang bundapun ikut tersenyum.
"Kalau capek istirahat, Nat!" Kata Bunda seraya meletakan gelas berisikan susu putih pada meja belajar Nathan.
"Iya bunda, nih baru kelar" ucap Nathan disertai cengiran.
Sang bunda pun akhirnya gemas sendiri, lalu mengusak rambut hitam pekat milik putranya.
Nathan memang seperti itu, yang selalu membuat bundanya gemas hanya dengan melihat cengiran khasnya.
Kan bunda jadi gagal untuk mengomel. Bagaimana bisa bunda mengomeli Nathan, jika Nathan saja terus terusan memasang wajah yang menggemaskan seperti ini?.
"Kamu itu yah, gemes banget bunda!"
"Anak bunda kan gemesin" Ujar Nathan masih dengan menata meja belajarnya.
"Ini susu nya jangan lupa di minum yah Nat, terakhir bunda ngecek kamar kamu susu nya masih utuh" keluh bunda, pasalnya tadi pagi melihat gelas yang masih penuh dengan susu semalam.
"Iya bunda" respon Nathan lembut dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Sekali lagi bundanya gemas melihat anak bungsunya ini, tangannya terulur mengusap lembut pipi Nathan.
"Dah, istirahat! Itu terusin besok lagi" Bunda berlalu keluar dari kamar anaknya setelah pesannya di respon anggukan oleh Nathan.
Hatinya menghangat, setidaknya masih ada bunda yang setiap malam mengecek keadaanya.
Jika dulu Mahendra orang yang setiap malam mengantarkan susu untuknya, kali ini bundanya dengan sigap melakukan hal itu untuk sekedar mengisi kekosongan. Tapi bukankah ini terbalik? Harusnya Nathan yang sigap ada untuk bunda tapi mengapa malah Nathan yang merasa kosong?.
Anak ini lalu mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan kamarnya. Luas? Tentu saja. Tapi mengapa ini rasanya sepi sekali padahal Nathan sudah menambahkan piano dan komputer satu lagi di ruangannya tapi mengapa malah menjadikan ruangan ini tambah sepi. Gitar yang berada di pojok kamarnya pun sudah lama tak terjamah, tidak lagi terdengar suara petikannya. Seseorang yang biasanya akan berisik dan glusaran di ranjangnya pun sudah tak terlihat lagi bayangannya.
"Bang!!, Lu bisa diem gak sih? Gue lagi ngerjain tugas!!!" Keluh Nathan saat mendengar Mahen bernyanyi dengan diiringi suara gitar tanpa kunci, yah dia memainkan nya dengan suka hati.
"Hold me now, touch me now, i dont want live without you~~~"
"Bang!!" Terlihat wajah gusar terpancar di wajah Nathan.
"Jreenngg,,, Nothing gonna changes my love for you~~" Mahen melanjutkan acara bernyaninya itu tanpa menggubris panggilan sang adik.
"YoU OughtA knOw bye KnOw hOw much I LOVE YOUUHH~~"
Pelakunya hanya menyengir seraya tangannya terangkat melambangkan 2 jari.
"Suara lo fals sumpah!!" Tutur Nathan yang sudah frustasi mendengar suara Mahen dicampur ranjangnya yang berantakan.
"Mending, lo cancel acara pensinya deh bang! Gue gak yakin bakalan lancar kalo lo ikutan tampil"
"Jangan gitu Nat, kita kan gak tau hasilnya kalo kita belum nyoba" gumam Mahen dengan raut yakinnya.
"Ya lagian lo kalo latian yang serius kenapa sih bang? Kalo lo latiannya kayak gini terus kesannya jadi meragukan"
"Enak nya bawain lagu apaan Nat? Lo ada masukan gak?"
"Lagu apa aja yang penting lo hafal liriknya" ujar Nathan lalu berbalik melanjutkan mengerjakan tugas yang tertunda tadi.
Tidak lama setelahnya, terdengar suara petikan gitar yang mulai teratur dan bernada. Mahendra mulai bernyanyi.
"Yeah
You are my fire
The one desire
Believe when I say
I want it that way
But we are two worlds apart
Can't reach to your heart
When you say
That I want it that way
Tell me why
Ain't nothin' but a heartache
Tell me why
Ain't nothin' but a mistake
Tell me why
I never wanna hear you say
I want it that way"
Dan benar saja lagu i want it that way dari band favorit Mahendra entah sejak kapan Nathan mulai bernyanyi diiringi dengan petikan gitar yang saat ini ia mainkan. Ia hanya tengah merampungkan konser dalam ruangan yang dulu tak sempat terselesaikan oleh Mahendra.
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
"NATHAN!!!" Teriak pria paruh baya yang baru saja pulang dari Kantor, wanita yang berada di dapur saja sampai terjingkat mendengar suara berat yang mendominasi.
Masih dengan pakaian kantor lengkap pria itu kembali berteriak, "NAT!".
"Dimana Nathan?" Tanya pria itu pada wanita yang baru berjalan menghampirinya dari arah dapur.
"Dikamar" kata bunda, "kenapa sih Yah, tenangin dulu. Nathan lagi ganti baju"
Anak yang di cari sang Ayah akhirnya keluar dari kamar dengan penuh senyum. Anak itu mendekati kedua orangtuanya.
Plakkk!!!
Nathan terjingkat saat tiba-tiba sang Ayah menamparnya dengan sangat keras. Bundanya pun sangat terkejut dengan perlakuan suaminya.
"Kamu bolos?" Tanya pria paruh baya itu. Nathan terdiam. Bundanya pun hanya menatap suaminya dan anaknya secara bergantian.
"Kemana aja kamu hari ini, hah?"
Nathan menunduk masih memegangi pipi yang nampak memerah itu.
"Jawab Ayah Nathan!" Gertak Ayah, Nathan semakin bergetar.
Dengan ragu Nathan menjawab, "Nathan gak kemana-mana Yah, Nathan gak bolos".
"Jangan bohongi Ayah Nat"
Nathan menggeleng. "Enggak, Nathan gak bohong"
"Mahendra bawa kamu kemana hah?" Tanya sang Ayah, namun lagi-lagi Nathan terdiam.
Mengerti akan arti diam nya Nathan, sang Ayah lantas berdecak.
"Pinter yah sekarang sudah bohongin Ayah, udah mulai jadi anak durhaka kayak Mahendra?"
"Kamu tuh emang harusnya dikasih hukuman biar jadi nurut lagi sama Ayah."
Sang Ayah kemudian menarik paksa tangan Nathan, jelas anak laki laki itu berusaha menolak namun apadaya ternyata kekuatan sang Ayah jauh lebih kuat darinya. Nathan akan berakhir dipukuli oleh Ayahnya lagi.
Bunda yang sedari tadi sudah tak enak dengan sikap suaminya pun membantu Nathan untuk menahan suaminya agar tidak menghukum Nathan.
"Mas, tenang dulu. Ini bisa di bicarakan baik-baik" bunda mulai panik mencoba melepaskan cengkrman tangan suaminya yang menarik Nathan. Namun dengan mudahnya di hempas oleh suaminya hingga terlempar ke lantai.
__ADS_1
"Bund!" Teriak Nathan, dirinya sudah bergetar menatap nanar sang bunda yang mencoba bangkit lagi meraih Nathan.
"KAMU TIDAK USAH IKUT CAMPUR!!!" Tampik pria itu, suaranya sungguh sangat mendominasi. Ia berjalan meraih tongkat baseball yang terletak tidak jauh dari jangkauan annya.
Nathan mendelik saat melihat pergerakan sang Ayah, apakah Ayahnya akan memukul dirinya menggunakan tongkat besi itu?. Ia mulai membringsut mundur saat sang ayah mulai berjalan mendekat. Anak itu menutup matanya rapat-rapat seakan siap menerima hukuman dari sang Ayah.
Bukannya merasa sakit saat Nathan mengetahui dengan benar bahwa sang Ayah sudah memukul dengan sangat keras, Nathan malah mendapatkan rengkuhan yang hangat dari wanita yang ia panggil bunda.
Bundanya melindungi Nathan dari kerasnya pukulan tongkat besi itu. Nathan tidak berani untuk membuka matanya saat rengkuhan sang bunda mulai melemah, sang Ayah pun sudah tidak lagi memukulinya. Pria itu makah melempari gelas yang berada di meja sampai pecah.
Nathan memekik, suara bundanya sudah tidak lagi terdengar, anak itu memberanikan diri untuk membuka matanya walaupun kenyataannya dia sangat takut
"Bund?" Panggil Nathan dengan sangat lirih sesaat setelah ia membuka matanya, sang bunda sudah tak bergerak. Wajah bunda masih tersembunyi di balik pundak Nathan.
"Bunda!" Panggilnya sekali lagi, ia bahkan sudah tidak peduli lagi dengan Ayahnya yang sudah menggila melempar benda benda yang berada diruangan itu.
Nathan mengangkat kepala bunda yang tersembunyi itu, tangannya bergetar saat dirinya menangkup pipi yang sedikit lebam. "Bund"
Anak itu kalang kabut, sang bunda tak mau bergerak. Dirinya sudah memikirkan hal-hal menakutkan. Dirinya menegang melihat mata bunda yang tak kunjung terbuka.
"Bund, bangun bund! Bunda, jangan bikin Nathan takut bund"ย Nathan sedikit menggoyang goyangkan tubuh sang bunda berharap wanita itu tergerak, namun sepertinya nihil. Tubuh Nathan semakin bergetar, ia tidak tau harus melakukan apa, ia tidak tau.
Jantung Nathan kembali bergetar, saat menyadari kepala bagian belakang sang bunda mengeluarkan darah segar mengalir sampai mengenai tangan Nathan.
Anak itu mengedarkan seluruh ruangan berharap ia menemukan sosok sang Ayah, namun mata Nathan sama sekali tidak menangkap sosok itu. Ayahnya pergi entah kemana.
Dari arah pintu utama Nathan malah menemukan Mahendra yang berdiri dengan ransel yang perlahan merosot dari bahunya. Mahendra berlari kearahnya dengan panik. Matanya langsung memerah saat melihat keadaan di depannya sangat berantakan.
"B-bang" lirih Nathan bibirnya bergetar masih dengan merengkuh tubuh bundanya yang melemas.
"ANJING!"umpatnya tanpa sekalipun melirik Nathan yang sedari tadi menatapnya dengan rasa takut. Lalu Dengan gerakan cepat Mahendra mengambil alih tubuh bunda dari pelukan Nathan. Sungguh kali ini dia sudah sangat salah menitipkan bunda pada Nathan.
Tanpa berfikir panjang, Mahendra membawa tubuh wanita itu keluar rumah tanpa memperdulikan Nathan yang masih bersimpuh penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Harusnya Nathan seperti Mahendra, harusnya Nathan membawa bundanya sebagai bentuk penanganan dan pertolongan pertama, bukan malahan termenung memikirkan hal yang tidak perlu, bukan malahan duduk kebingungan seperti orang bodoh. Harusnya Nathan langsung membawa bundanya kerumah sakit sama seperti apa yang di lakukan Mahendra saat ini.
Nathan tidak boleh hanya berdiam diri seperti ini, menatap punggung Mahendra yang kian menjauh, anak itu langsung bangkit dan berlari mengejar Mahendra.
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
Sudah sekitar 3 jam Mahendra berjalan bolak balik di depan ruangan operasi dengan perasaan gelisah. Ia tidak bisa tenang, terlihat kukunya yang sudah hampir lepas akibat gigitannya sendiri.
Disisi lain, Nathan hanya bisa duduk tertunduk menatap ujung jari tangannya yang ia mainkan, ia juga tidak bisa tenang. Mana bisa Nathan tenang, jikaย bundanya kini tengah berjuang sendirian di ruangan itu.
"Mas Mahen, makan dulu mas" ujar seorang perempuan cantik yang baru saja sampai seraya membawa bekal makanan.
Mahendra menoleh, menemukan Keshwari yang sudah duduk di samping Nathan. "Lo duluan aja, gue titip bunda. Mau ke toilet dulu". Kata Mahendra pada Keshwari tanpa melirik sedikitpun pada Nathan.
"Nat, makan dulu. Kamu dari tadi belum makan loh" suruh Keshwari dengan lembut,
Nathan menggeleng lemah, ia sama sekali tidak nafsu makan. Ia saat ini hanya ingin mengetahui bahwa sang bunda baik baik saja.
"Nat, tante Wira gak bakal kenapa-kenapa. Dia beruntung punya anak-anak yang selalu sayang sama dia. Kamu juga jangan sampe sakit, biar nanti bisa ngejagain tante Wira lagi." Keshwari kemudian menghela nafasnya, ia juga sebenarnya merasa sangat prihatin pada sepupunya ini. Ia juga sangat tau betapa kuatnya Nathan menghadapi Ayahnya yang sangat keras itu.
Nathan menunduk kembali, matanya kembali memanas mendengar penuturan Keshwari. Ia kembali memainkan ujung jarinya yang sudah terluka.
Melihat hal itu, Keshwari kemudian menangkup tangan Nathan menghentikan gerakan Nathan yang ingin menyakiti dirinya sendiri.
"Nangis aja Nat, kamu juga berhak nangis kok".
Pada akhirnya runtuh juga pertahanan Nathan, ia menangis namun masih tertahan dengan rasa sesak yang mungkin akan sulit untuk di keluarkan. Rasa menyesal sudah bercampur dengan rasa bersalah, karena sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah menjadi anak yang berguna.
Keshwari merengkuh tubuh bergetar sepupunya, mengusap pelan punggung lebarnya. Irama tangisnya tak teratur karena sesenggukan, tangisannya pun tidak pernah lepas.
Di balik ruangan, tepat di sudut tikungan lorong Mahendra bersimpuh dengan tangis tertahannya juga. Rasa bersalahnya kian semakin bertumbuh didalam hatinya, jika saja ia tidak meninggalkan bunda barang satu detik saja mungkin bunda akan selalu aman dengannya. Mungkin sakit di hatinya tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan sakit fisik dan batin yang bundanya rasakan selama hidupnya.
Mahendra bangkit setelah ia menenangkan dirinya untuk tidak menangis lagi kemudian berjalan kembali menuju ruangan operasi. Tak lama setelah itu, dokter keluar dari ruangan yang membuat Nathan dan Keshwari ikut berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Gimana dok, keadaan bunda saya?" Tanya Mahendra langsung dengan raut wajah khawatir.
"Operasinya berhasil, hanya saja keadaanya masih terlalu lemah. Saya hanya perlu menunggu hasil pengecekan di tempurung kepalanya. Kemungkinan besar pasien mengalami kerusakan pada tengkorak kepala akibat pukulan yang begitu keras"
Jantung Nathan kembali berdebar mendengar penuturan dokter yang mengatakan bahwa bubdanya mengalami kerusakan di kepalanya. Ia ingat betul bahwa kepala bundanya mengeluarkan banyak darah saat itu.
Mahendra mengikuti dokter yang memang menyuruhnya untuk mengikuti ke ruangannya. Mahendra mendengarkan banyak sekali penjelasan dari dokter tentang hasil operasi bundanya. Alih-alih menunggu hasil pemeriksaan tempurung kepala yang sudah di jelaskan tadi.
"Seperti apa yang sudah saya bilang tadi, operasinya memang berhasil namun kembali lagi pada kondisi pasien. Saya harap hal yang sama tidak terjadi lagi, pasien harus istirahat dengan total. Tengkoraknya sudah pecah, syaraf di kepalanya pun mungkin tidak bisa berjalan normal lagi. Jika penyangkokan ini tidak berhasil maka harapan kita kemungkinan sangat kecil."
Harapan yang sangat kecil, Mahendra jadi semakin takut.
"Kapan bisa melakukan pencakokan itu dok?" Tanya Mahendra.
"Lusa,"
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
Bunda akhirnya bisa di pindahkan ke dalam ruangan VIP, ruangan khusus dipesan Mahendra. Anak ini hanya tidak ingin melihat bundanya tersiksa lagi.
Mahendra kemudian meraih buah jeruk yang berada di atas nakas. Buah jeruk bawaan Keshwari tadi pagi, perempuan itu lumayan sangat membantunya. Apalagi Keshwari merupakan anak dari adik bundanya yang memang tinggal di Jogja.
Dan Mahendra juga sangat merasa beruntung karena Keshwari masuk kedalam Fakultas kedokteran jadi ia bisa sedikit bertanya tentang masalah medis pada Keshwari.
"Bun?" Panggil Mahendra, tangannya masih sibuk mengupas buah Jeruk yang berada di genggamannya.
"Nanti kalo bunda udah sembuh, Mahen mau bawa bunda keluar dari rumah itu. Gak peduli nanti bunda gak mau, Mahen mau maksa" Mahendra kemudian menyuapi bundanya dengan jeruk yang sudah ia pastikan tidak ada biji di dalamnya.
Bundanya hanya terkekeh mendengar Mahendra begitu sangat protektif, "kamu udah harus punya pacar gak sih?"
Mahendra mengerutkan kening, merasa bundanya ini sangat tidak nyambung.
"Kamu kapan punya pacar?"
"Apa sih bund, gak nyambung banget deh"
"Bunda tuh pengen liat sesekali kamu perhatian sama pacar kamu, kenalin ke bunda. Bosen masa setiap hari liatnya kamu sendiri terus"
"Mahen mah gampang kalo nyari pacar bun, banyak yang suka sama Mahendra"
"Masa?" Goda sang bunda.
Merasa di remehkan oleh bundanya sendiri, Mahendra menyugar rambut gondrong nya. "Bunda gak inget punya anak se ganteng ini?"
Bundanya tergelak, lalu terulur merapihkan rambut panjang Mahendra. "Iya iya, anak bunda emang ganteng semua" tangannya turun beralih mengelus pipi anaknya.
"Bunda tuh beruntung punya anak yang perhatian kayak kalian. Sekarang bunda udah gak khawatir lagi"
Mahendra kemudian tersenyum melihat bundanya yang sudah dapat tersenyum kembali. Hatinya menghangat, walaupun nyatanya tidak dapat menghilangkan rasa sesaknya. Mahendra bersalah, karena memang sejak awal dialah yang meninggalkan bundanya sendirian di rumah itu. Ternyata menitipkan bunda pada Nathan adalah kesalahan terbesar. Anak itu sungguh sudah sangat mengecewakannya.
Pria gondrong itu memberikan obat untuk sang bunda, besok ia akan melakukan operasi. Tepat di hari kelahirannya. Mahendra harus menukar hari bahagianya itu untuk kesembuhan bunda. Ia hanya berharap besok adalah hari beruntungnya, bundanya bisa sehat lagi. Bisa melihatnya tersenyum bahagia tanpa perlu merasakan sakit lagi. Ia kini hanya akan hidup untuk bunda.
"Nathan kemana?" Tanya sang bunda di sela sela Mahendra menaikan selimut pada tubuh bundanya.
Mahendra jelas sangat tidak suka karena bundanya masih menanyakan Nathan yang jelas-jelas sudah mmbuatnya hampir mati.
"Ada diluar" ketus Mahendra.
Sang bunda cemberut melihat perubahan nada anaknya. "Abang, gak boleh gitu. Bisa panggilin Nathan buat bunda?"
Mahendra tak mengiyakan permintaan bundanya, ia kini hanya terdiam seraya berjalan malas menuju ke luar ruangan yang hanya terdapat Nathan duduk tertunduk memainkan jarinya sendirian. Anak itu sesekali terlihat menahan kantuknya dengan kepala yang berdengut.
Nathan tersadar dan langsung terjingkat saat mendengar suara pintu terbuka, ia langsung mendongak dan melihat Mahendra keluar berjalan ke arahnya.
"Di panggil bunda" kata Mahendra masih dengan nada ketus, ia sama sekali tak mau menatap Nathan. Tak apa Nathan juga tidak mempermasalahkan ataupun mempertanyakan mengapa Mahendra memperlakukannya seperti itu karena sudah sangat jelas bahwa pria itu sangatlah kecewa pada Nathan.
Tanpa mengatkan apapun, Nathan langsung beranjak dan kemudian berjalan masuk menuju ruangan bunda diikuti oleh Mahendra di belakangnya.
Mahendra memilih untuk duduk di soffa seraya memainkan ponselnya.
Nathan berjalan menghampiri bundanya yang memang sudah siap untuk tertidur. "Bund"
Bundanya tersenyum, namun Nathan sama sekali tidak bisa tersenyum saat melihat sang bunda terbaring lemah di rumah sakit seperti ini. Terlebih lagi dengan kepala sang bunda yang di penuhi dengan perban.
"Hari ini jagain bunda disini yah, Nat" pinta bundanya seraya meraih tangan anaknya. Nathan jelas mengangguk. Lalu kemudian menggeser kursi yang berada tak jauh dari jangkauan nya, Nathan duduk di samping ranjang masih dengan tangan bunda yang menggenggamnya.
"Bunda, Nathan minta maaf" ucap Nathan penuh penyesalan, ia mengelus tangan bunda kemudian ia cium sangat lama.
Bundanya hanya tersenyum hangat namun matanya sudah menutup. Tangan satunya terulur mengelus kepala Nathan, sangat nyaman Nathan rasakan.
"Nat, jangan sakit lagi" lirih bunda, Nathan mengangguk dengan cepat.
Setelahnya sekitar 5 menit sunyi, Nathan hanya memandang wajah bunda yang terlelap. Tangannya enggan untuk melepaskan.
Nathan meraih remot AC untuk menurunkan suhu ruangan saat merasa tangan bundanya di rasa dingin di genggamannya. Bundanya tertidur sangat tenang, Nathan tersenyum menghangat.
Namun di detik selanjutnya Nathan menyadari sesuatu. Tangannya dengan ragu terulur lalu ia letakan tepat di depan hidung bundanya. Jantung Nathan berdegup saat tidak merasakan sama sekali helaan nafas bundanya.
Tangannya bergerak menyentuh nadi yang berada di leher bundanya dengan bergetar. Tidak, bukan seperti ini. Tolong, Nathan sangat takut.
"B-bang" panggil Nathan dengan bibir bergetar dan matanya mulai memanas, aliran darahnya seakan ikut berhenti. Mahendra mendongak melihat wajah Nathan sudah sangat menjelaskan. Ia kemudian beralih menatap bunda.
Mahendra meletakan ponselnya kemudian berjalan cepat menghampiri keduanya.
"B-bunda, bang" lirih Nathan sekali lagi, ia semakin mengeratkan genggaman tangan bunda yang sudah tidak lagi menggenggamnya.
"Enggak, bunda cuma lagi tidur. Sekarang lo mending pulang" Mahendra kini menarik selimut itu kembali dengan tangan yang jauh lebih bergetar.
"B-bang!" Mata Nathan kini sudah berair, menatap Mahendra dengan sendu. Mahendra menggeleng cepat, ia membalas tatapan Nathan dengan tajam.
"Lo gak denger gue tadi bilang apa? Pulang!" Mata Mahendra memanas, hatinya sungguh sudah sangat sakit. Ia hanya mencelos kemudian menatap sang bunda yang masih saja tertidur dengan tenang padahal Mahendra tadi berteriak. Ia memandang lamat pada wajah tenang itu, tidak ada helaan nafas teraturnya lagi. Segalanya tenang, tapi tidak dengan jantung dan hati Mahendra yang kini sudah kalang kabut, berdebar karena rasa takut.
Padahal tinggal menunggu hari besok, Mahendra bisa melihat senyum bundanya lagi. "Pulang, Nat" lirih Mahendra, air matanya kini sudah keluar dengan sendirinya.
Nathan menggeleng, air matanya sudah tak terbendung lagi. Nathan menangis "Bunda udah pulang"
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
"September pernah indah, sebelum akhirnya aku datang disaat yang tidak tepat. Memang benar, bahwa segala tentangku adalah malapetaka."
Mahendra Mahawira Hareshananda-,
.
"Aku sudah terlalu lama bersembunyi, di saat keluar pun aku masih bingung dengan apa yang akan aku lakukan"
Nathanael Abdi Putra-,
__ADS_1