JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
14. Angkringannya Bu Ummi.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Tepat setelah matahari terbenam dan dirasa angin pantai sudah mulai kencang sangat dingin jika berlama-lama di area pantai seperti ini.


Mahen memutuskan untuk pulang karena melihat Gantari yang sudah mulai memucat, ia tidak tau kenapa entah karena kedinginan atau mungkin dirinya sudah mulai muak berada di tempat ini.


Pria ini sangat tidak paham mengapa Gantari sangat tidak menyukai pantai, padahal hampir seluruh wanita di muka bumi ini sangat menyukai dan menikmati saat ia berada di pantai.


Tapi Gantari berbeda, ia sama sekali tidak melepaskan cengkraman di baju Mahen saat tiba maupun meninggalkan area pantai. Muka yang memucat seakan memperlihatkan bahwa Gantari sangat takut dengan tempat ini.


Jika tidak salah menerka, Mahen sempat tidak sengaja menemukan Gantari memperhatikan pantai saat mereka sudah sangat jauh, pantai pun sudah hampir tidak terlihat oleh sepasang mata Mahen namun dengan berani gadis itu menatap pantai itu dengan lamat.


Gantari mengerutkan keningnya, seperti terkejut karena Mahen tiba-tiba menghentikan motornya lalu menoleh melihat Gantari.


"Kenapa?" Tanya gadis itu.


"Mogok, hehe" cengir Mahen.


Gantari mendengus kesal, kemudian turun dari motor Mahen.


Pria itupun kemudian turun dari motor lalu mengecek mesin motornya. "Gue cek dulu"


Gantari lalu duduk di tepian trotoar sambil menyaksikan Mahen yang tengah mengotak atik motornya. Gantari tidak tau apa yang tengah pria itu lakukan, tapi sepertinya Mahen juga terlihat bingung sendiri dengan apa yang tengah ia benarkan.


Terlihat dari garak-geriknya ia mungkin juga tidak tau letak masalah motornya, motornya sudah terlalu tua jika untuk dibawa perjalanan jauh seperti itu. Gantari tidak tau apa yang membuat Mahen mempertahankan motor yang ia sebut antik itu.


"Keknya kita yang harus jalan deh Gan." Mahen bangkit suaranya terdengar sedikit lelah ditandai dengan helaan pasrah pada nafasnya, Pria itu sedikit mengusap peluh dengan punggung tangannya yang terlihat kotor terkena noda oli ketika ia membenarkan mesin motornya tadi.


Melihat Gantari yang sudah mulai suntuk, Mahen kemudian langsung beranjak dari tempatnya. "Gak jauh lagi kok, depan pertigaan ada bengkel. Nanti sekalian mampir ke angkringan,"


Gadis itu tidak menjawabnya, gadis itu menghampiri Mahen lalu berjalan tepat di belakang Mahen ikut membantu pria itu mendorong motor antiknya.


"Lo tau gak sih kenapa barang antik selalu berakhir di museum? Lo gak ada niatan buat museumin motor lo?" Tanya Gantari sesaat setelah ia menghening.


Mahen menyunggingkan senyum mendengar pertanyaan dari Gantari, "Gak selalu barang antik itu berakhir di museum Gantari, ada beberapa darinya itu ingin memiliki tuan. Kerusakannya juga bukan jadi alasan kenapa gue harus museumin motor ini."


"Lagian rusaknya dia masih normal dan masih bisa gue benerin lagi, biarpun suatu saat nanti dia gak bisa gue pakai seenggaknya bisa gue jadiin koleksi buat diri gue sendiri."


"-Dia terlalu berharga buat gue museumin" imbuhnya dengan tawa getir.


"Karena mahal?"


Mahen menggeleng, "hadiah ulang tahun"

__ADS_1


"Dari pacar?"


Pria itu menghela nafasnya samar, "dari Bunda"


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Setelah berjalan selama satu jam akhirnya mereka sampai juga di bengkel dekat pertigaan. Benar apa yang dikatakan Mahen tadi bengkel berada tepat di depan pertigaan dan di sebelah bengkel tersebut ada angkringan yang lumayan ramai.


Gantari mengira ia hanya akan berjalan selama 15 menit saja, tapi nyatanya pertigaan yang di maksud Mahen adalah pertigaan Rumah Sakit Sanjaya yang memang letaknya lumayan jauh jika berjalan kaki seperti ini.


"Bang, biasa" ucap Mahen sesaat ia menstandarkan motornya.


"Loh Mas Mahen, mogok lagi?" Tanya petugas bengkel seraya berjalan menghampiri keduanya.


Mahen hanya menyengir sebagai responnya. "Iya ini, katanya kangen di belai sama bang Toyib"


"Kan udah dibilang jual aja ke saya Mas, di jamin gak bakal kurang belaian"


"Hahaha, nanti saya sama siapa dong bang?"


"Situ kan udah ada gandengannya Mas" ujar bang Toyib seraya menunjuk Gantari yang berada di samping Mahen dengan dagunya.


Mahen lalu menoleh pada Gantari, "OTW dah".


Gantari yang mendengar ucapan Mahen lalu menatap Mahen dan Bang Toyib secara bergantian, raut mukanya seperti akan menolak Mahen mentah-mentah.


Gantari duduk lesehan sambil menunggu Mahen yang tengah memesan makanannya, kata Mahen ia sering nongkrong disini di angkringannya bu Ummi yang katanya menu di sini paling lengkap dan lumayan murah jika di bandingkan dengan angkringan dekat alun-alun. Selain harga yang murah, tempat ini juga lebih ramai daripada perkiraan Gantari, padahal ini baru menunjukkan jam 8 malam.


"Tempat ini justru lebih rame lagi kalo hampir tengah malem" ujar Mahen seraya membawa 3 bungkus nasi kucing, sate kerang, sate telor puyuh, sate usus dan sosis bakar. Kemudian ia berbalik mengambil 2 minuman teh anget.


"Lo sering nongkrong disini?" Tanya Gantari setelah meminum teh angetnya.


Mahendra mengangguk, "hampir setiap hari lah. Selain murah disini juga nyaman banget tempatnya. Lesehan, atasnya ada terpalnya jadi gak khawatir lagi kalo hujan. "


Pria itu memakan sate ususnya kemudian berucap kembali, "dan lo juga gak perlu khawatir kalo nanti sakit perut gegara kebanyakan makan jajan di angkringan ini karena di depan lo langsung ada rumah sakit, waw".


Gantari tidak habis fikir, mengapa Mahen lebih sering menghabiskan waktunya untuk hal hal seperti ini.? Bertahan hidup dengan hal apa saja yang memang berada di depannya. Sejauh ini, Gantari hanya memikirkan bahwa hidupnya adalah yang paling membosankan daripada hidup manusia yang lain. Tapi setelah melihat Mahen dengan segala hal yang sederhana ini membuat Gantari paham jika hidup Mahen mungkin jauh lebih mebosankan.


Melihat Mahendra yang memakan makanannya dengan lahap saja sudah membuat perut Gantari terasa kenyang, ia hanya meminum teh angetnya saja.


"Lo gak makan?" Tanya Mahendra sesaat ia menghentikan makannya.


Gantari menggeleng, "udah kenyang"


"Perasaan lo belum makan apa-apa dari tadi. Lo sakit, hm?" Mahendra kembali bertanya dengan sedikit khawatir karena melihat Gantari yang terlihat semakin pucat.

__ADS_1


Gantari tidak menjawab, ia kembali meminum teh hangatnya.


Tangan Mahen terulur menyentuh dahi gadis di depannya menggunakan punggung tangannya. "Tapi lo gak panas"


"Ya, karena emang gue kagak sakit" lirih Gantari seraya menatap lekat pria di depannya.


"Muka lo pucet, gue kira sakit"


Gantari menggeleng, "Gue takut"


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Di perjalanan menuju pulang keduanya memilih untuk terdiam, Mahendra yang fokus dengan kemudinya dan Gantari yang tertidur di pundaknya. Pria itu sempat khawatir jika pada posisi seperti ini bisa saja membahayakan keduanya maka dari itu Mahendra memilih untuk memelankan laju motornya.


Tangan kiri Mahen dengan setia menahan tangan Gantari yang melingkar manis diperutnya takut-takut Gantari terjatuh karena dirasa tangan Gadis itu melemas, mungkin karena efek kecapekan Gantari sampai tertidur pulas di pundaknya. Mahendra sesekali menoleh melirik Gantari, menikmati bagaimana sisi tenang seorang Gantari di bawah lampu jalanan yang meremang, sesekali Mahendra tersenyum lalu melanjutkan kembali kemudinya.


Sekitar 1 jam, akhirnya Mahendra sampai dengan selamat di rumahnya bersama Gantari yang masih saja betah tertidur di pundaknya.


Mahendra membuka helmnya dengan hati-hati, ia ingin melepaskan helm yang masih berada di kepala Gantari namun sangat sulit jika posisinya seperti ini.


"Gan?" Lirih Mahendra memanggil Gantari yang terlihat masih nyaman tertidur. "Heh, bangun dulu. Gue susah kalo lo gak bangun"


Mahen mendesah, ia melupakan sesuatu bahwa Gantari adalah manusia yang memang sulit untuk di bangunkan. Pria itu memindahkan kedua tangan Gantari yang melingkar di perutnya menjadi mengalung di lehernya, kemudian menarik kedua kaki gadis itu untuk menempel pada punggungnya lalu mengangkat menggendong Gantari dengan mudah seolah gadis itu bukanlah beban.


Pria itu merogoh tas Gantari mencari kunci rumahnya kemudian ia memasuki rumah Gantari, dengan berbekal cahaya yang minim Mahen membawa Gantari kedalam kamar gadis itu, kemudian duduk di tepi ranjang lalu merebahkan Gantari dengan hati-hati. Tangannya beralih membuka pengait dan melepaskan helm yang masih menempel di kepala Gantari. Tak lupa, Mahendra juga melepaskan sepatu kets yang masih melekat di kaki jenjang gadis itu.


Mahendra mendesah pelan, matanya seolah terpaku dengan wajah pucat Gantari. Dia sudah salah membawa gadis itu ke pantai, dia tidak tau jika Gantari setakut itu dengan segala hal yang berada di pantai. Ternyata memang benar, seindah apapun pantai yang kamu lihat bukan berarti aku juga dapat melihat keindahan itu juga.


"Asal lo tau, Gan. Gue ini takut akan banyak hal. Cuma pantai yang masih mau menerima gue, masih mau menerima kegagalan gue, masih mau memberikan tempat untuk gue yang gak berguna ini." Lirih Mahendra, ia berbicara pada Gantari yang masih pulas tertidur.


"Gue takut ketinggian, mangkanya gue memilih untuk turun. Gue takut keramaian, mangkanya gue bersembunyi. Gue takut melukai, mangkanya gue kabur. Dan gue juga takut kehilangan apapun yang sudah selama ini gue jaga."


Disisi sudut kamar yang gelap dan hanya berbekal penerangan yang remang dari lampu tidur Gantari yang berada di nakas samping ranjang gadis itu, tangan Mahendra terulur merapikan rambut yang menutupi sedikit mata Gantari. Pria itu tersenyum melihat bagaimana tenang dan nyamannya Gantari tertidur di tambah dengan nafasnya yang teratur.


Mahendra mengusap pelan surai Gantari, "Gue harap, gue gak kehilangan lo juga".


Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Gantari sampai ia juga dapat merasakan nafas teratur dari gadis itu, di pandanginya wajah Gantari seakan ia ingin mengingat segala hal yang tersemat dalam wajah itu. Mahen kemudian menutup matanya perlahan lalu dengan ragu mengecup singkat bibir terbuka milik Gantari. Sangat singkat, membuat Gantari sedikit menggerang dalam lelapnya, kemudian bibirnya bergerak menutup rapat disertai dengan nafasnya yang kembali teratur. Sempat merasa terganggu, tubuh Gantari tergerak menyamping memeluk gulingnya yang berada di sampingnya.


Mahendra terkekeh melihat pergerakan Gantari yang entah mengapa menjadi sangat menggemaskan, "Dasar kebo banget." Mahendra mengusak surai Gantari dengan gemas.


Pria itu kemudian menarik selimut menutup sebagian tubuh Gantari. Mahendra lalu berjalan keluar, menutup kembali pintu kamar Gantari dengan pelan.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


__ADS_1


"Karena gue aja masih belum tau tentang apa itu artinya keberanian"


__ADS_2