
...__________________♡♡♡_________________...
...__________________//&//__________________...
Hampir setiap pagi Mahen dengan teman se-perbestiennya akan menongkrong sembari menikmati berbagai macam jajan favorit mereka di trotoar depan SD.
Terdeteksi Lukas, Yanuar, Dirga dan Mahen yang duduk berderet sembari meratapi nasib mereka. Bagaimana kah masa depan keempatnya, bagaimana mereka menjalani kehidupan yang penuh dengan lika-liku, bagaimana mereka menghadapi kedewasaan yang terus saja menghalangi jalan mereka menuju kebahagiaan? Tidak ada yang tau, jika bukan mereka sendiri yang mencarinya.
Seperti sedang menikmati masa-masa dahulu rasanya memang tengah bernostalgia, Mahen dengan telor gulungnya lalu Lukas dengan kue cubitnya. Dirga dengan cilornya dan Yanuar dengan susu indomilknya.
Terkadang mereka juga akan ber-overthiking pada setiap orang yang berjalan melewati mereka dengan tatapan aneh dan gumaman yang masih bisa didengar jelas oleh telinga ke 4 pemuda ini.
"Cakep sih, tapi kok makan dipinggir jalan"
"Anak muda jaman sekarang mah gak punya modal sama sekali!"
"Apa mereka pengangguran?"
"Padahal udah pada gede, masih aja jajan kayak gitu"
"Minimal kuliah lah kalo gak kerja!!"
Mereka berempat memang sudah tidak asing lagi dengan suara itu, mereka lebih memilih masa bodo dengan segala pemikiran mereka yang memang ada benarnya juga. Mereka juga mengakuinya, bahwa mereka berempat memang tidak memiliki kontribusi untuk dunia. Boro-boro dunia, pada diri mereka sendiri saja tidak ada.
Menanggapinya pun sekarang adalah salah satu hal yang tidak perlu, mereka lebih memilih untuk duduk manis di trotoar yang entah mengapa membuat mereka menjadi diri mereka sendiri. Mengabaikan untuk sementara waktu saja tidak masalah bukan? Yang terpenting mereka tidak merugikan manusia itu kan.
Padahal mereka adalah pemuda yang terlahir dari keluarga yang berada dan tidak miskin-miskin amat. Bisa saja mereka menyewa satu kantin untuk makan dengan layak seperti pemuda normal lainnya hanya untuk membungkam mulut manusia yang menganggap mereka parasit, tapi mereka sudah terlanjur menyukai tempat ini.
Lukas menghela nafasnya lelah,"Kok Keshwari kagak keluar-keluar yah?". Agaknya Lukas sudah mulai jenuh karena menunggu pujaan hatinya yang tidak kunjung keluar dari fakultas.
"Ya masa dia gak laper sih, gak pengen jajan gitu? Padahal kan seblak di sebelah TK itu enak." Lanjut pria jangkung itu matanya tertuju pada kedai seblak yang berada di sebelah TK.
"Jadi dari tadi gue ajak balik gak mau karena nunggu Keshwari?" Tanya Dirga menoleh ke arah Lukas yang berada di sampingnya. Lukas hanya mengangguk lemah sebagai respon.
Karena nyatanya mereka sudah duduk hampir selama 2 jam dan melewatkan kelas pagi hanya untuk menemani Lukas menunggu sang pujaan hati. Dan Yanuar kembali memilih untuk membolos sekolah hanya karena untuk nongkrong bersama ketiga Abangnya itu
"Ya udah sih bang tinggal samperin aja!" Ujar Yanuar yang masih memakai seragam SMA lengkap sebagai anak paling muda di antara ke tiga pria itu. Ia memang sudah sering nongkrong bersama ketiga pemuda yang ia anggap sebagai Abangnya sendiri.
"Udah pernah gue samperin, udah pernah juga gue minta nomer WA nya tapi dia malah minta nomernya Mahen" Gerundel Lukas matanya menatap Mahen di sebelahnya. Pria yang ditatap itu hanya terkekeh sembari menikmati telor gulungnya.
"Hen, padahal kan gantengan gue daripada elu!" Keluh Lukas, dirinya tidak terima karena memang nyatanya Lukas yang lebih tampan dari Mahen dan itu adalah fakta. "Kagak terima gue, berasa gak berhasil gue punya muka Ganteng"
Perlu di catat, Lukas mendapat predikat pria tertampan kedua setelah Nathan.
Mahen tergelak menghendikan bahunya acuh, "Ya mana gue tau"
Pria itu kembali menyantap telor gulungnya yang hanya tinggal satu tusuk. Harusnya Lukas menanyakan hal ini kepada Keshwari alasan mengapa Keshwari lebih memilih Mahen daripada dirinya, jadi dia tau dimana letak tidak kesempurnaan Lukas saat ini.
"Lagian napa ngebet banget buat macarin Keshwari sih? Lo kan bisa macarin cewek yang emang udah kasih effort baik buat lo" tungkas Dirga seraya menusukan cimol bumbu ekstra pedas kedalam mulutnya.
"Kalo misal yang ditaksir itu Nathan mah gue oke oke aja, ya secara gue kalah segalanya. Lah ini manusia bentukannya kayak Mahen ya gue gak terima lah. Ya masa iya gue kagak ganteng di mata Keshwari?" tanggap Lukas lalu melirik ke arah Mahen.
"Lo ganteng kok bang!" Sahut Yanuar dari ujung, lalu menyedot susu indomilknya,
"cuma kurang waras aja". Lanjutnya.
"Kayak lo pada waras aja" sembur Lukas yang tidak terima dengan perkataan yang di lontarkan Yanuar, pasalnya bukan hanya dia saja yang gila. Ketiga temannya termasuk Mahen juga gila.
"Lo kurang kaya" celetuk Dirga, Lukas lantas langsung menoleh.
Iya, Lukas sangat mengakui kekayaan seorang Mahendra tetapi apa mungkin Keshwari menyukai Mahen hanya kerena dia kaya.
"Cewek sekarang sukanya sama yang tajir, mata keranjang" imbuh Dirga.
"Itu mah cewek lo!" Tungkas Lukas, ini memang benar pasalnya wanita yang tengah berpacaran dengan Dirga memang terkesan mata keranjang hanya saja cinta membutakan mata Dirga. Pria ini tau dan sadar tetapi jawabannya tetap sama, Dirga sangat mencintai wanita itu. Ya namanya juga Cinta yakan?. Belum aja diselingkuhi baru tau rasa. Tapi katanya sih pacar Dirga ini setia, semoga saja memang benar seperti itu. Ya seblangsak apapun Lukas tidak akan tega jika melihat teman seperbangsatannya ini menjadi sakit hati dan akan berakhir dengan stress.
__ADS_1
Sebenarnya memang benar apa yang dibilang Dirga, menurut pengalaman percintaan yang dialami oleh Lukas rata-rata mantannya hanya untuk morotin harta yang dimiliki pria ini. Tapi bisakah ia berharap jika Keshwari adalah wanita yang berbeda? Karena menurutnya gadis itu memiliki kepribadian yang sangat lembut dan memiliki latarbelakang yang bagus.
"Eh, tapi emang bener sih. Apalagi kan kak Keshwari cantik, kembang Fakultas Kedokteran yakali kagak mandang duwit. Apalagi dia nanti bakalan lulus jadi dokter, jelas seleranya yang berseragam sih" cerocos Yanuar lalu menyeruput susu kemasan itu hingga tetes terakhir.
"Kalo kata gue sebelum lo ngedeketin Keshwari, lo kudu jadi tentara dulu sih Kas" ujar Mahen melanjutkan, lalu memutar tubuhnya memesan telor gulung kembali "Mang, 10.000 lagi yah".
Apa Lukas harus menjadi tentara atau pilot dulu hanya untuk mendapatkan hati Keshwari?. Lukas juga bukan merupakan manusia yang bodoh, nyatanya ia berada diurutan ke 2 di jurusannya setelah Mahendra . Tapi dirinya harus menjadi lulusan pebisnis agar bisa melanjutkan bisnis Ayahnya. Bukankah menjadi pebisnis juga jalan untuk menjadi sukses,? tidak ada bedanya dengan pria pria berseragam di luar sana. Memakai setelan Jas juga keren menurutnya.
.
..._________________//_________________...
..._________________//_________________...
"Laporannya udah gue kasih ke pak Samsul" ujar Gantari seraya menyerahkan flashdisk kepada pria berkacamata yang tengah sibuk mengatur lembar dokumen observasi untuk kunjungan kerja di salah satu Sekolah minggu kemarin.
"Datanya udah bener kan?" Tanya Tiyan sembari membenarkan kacamatanya yang menurun.
"Udah" Gantari berlalu keluar dari ruangan pria itu tetapi langkahnya terhenti ketika dirinya teringat sesuatu, "Eh kak, tapi itu di cek lagi soalnya bukan cuma gue doang yang ngerjain".
Setelah mendapat anggukan dari Tiyan, Gantari benar-benar berlalu dari ruangan dan berjalan menuju taman yang terletak di belakang kampusnya.
Niatnya hanya ingin bersantai saja hari ini sembari menikmati lingsiran angin sore dan langit yang mulai mengeluarkan semburat jingganya. Taman belakang kampus adalah tempat yang paling tepat untuk menyaksikan indahnya semesta mengakhiri harinya.
Meskipun hanya ada beberapa orang saja yang masih terlihat berlalu lalang di area kampus, ada juga beberapa mahasiswa yang masih duduk dengan membaca buku ataupun mengerjakan sesuatu di laptopnya, entahlah Gantari tidak tau.
Gantari menghela nafasnya samar sedikit mengulum bibirnya, "ngebosenin banget anjir hidup gue".
Yah, hidup gadis ini sangatlah membosankan seperti saat ini ia hanya duduk tepat di bawah pohon Asem Jawa yang letaknya berjejer dengan pohon ketapang. Hidupnya terkadang hanya penasaran dengan juru tanam pada kampus ini dengan teori macam apa yang membuat mereka menanam pohon ketapang dan pohon asam jawa berselahan seperti ini.
Memikirkan hal itu saja membuat kepala Gantari tiba tiba pening, yah dia memikirkan hal yang tidak berguna. Padahal kan masih ada hal yang lebih berguna untuk ia fikirkan seperti bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan kuliahnya dan bisa bekerja secepat mungkin, ia sudah sangat bosan dengan kehidupan yang kosong ini.
Pandangannya beralih menatap kembali langit yang sepenuhnya berawan, di rasa mendung tetapi sinar matahari masih setia memberikan cahayanya pada langitnya.
Pemandangan kali ini sangat indah bukan? Menikmati alunan musik yang terdengar dari sambungan kabel yang terhubung langsung ke telinga.
"Hai"
Gantari sedikit terhenyak karena merasakan tepukan pelan dan menemukan Nathan yang duduk di sampingnya.
Sontak gadis itu melepaskan headset di telinganya. "Oh, Hai".
"Suka nongkrong disini juga?" Tanya Nathan terlihat tengah menjepret beberapa pemandangan dari sudut berbeda dengan kameranya.
"Sesekali" Gantari terkekeh.
"Oiya, aku Nathan" katanya seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Udah tau" ujar Gantari seraya meraih uluran tangan Nathan.
"Kok bisa?"
"Ya mana ada sih yang kagak kenal sama Nathanael Abdi Putra, anak Fakultas Fotografi yang prestasinya udah gak di ragukan lagi."
Nathan terlihat mengangguk dan tersenyum setelah nya. Sumpah mimpi apa Gantari semalam? Nathan, kamu gak bawa jambu kristal kan? Takutnya ini cuma mimpi.
"Kamu, Gantari kan?" Tanyanya tiba-tiba.
"Kok tau?"
"Tau lah."
Gantari mengerutkan keningnya, bagaimana bisa seorang Nathan mengenal Gantari? gadis ini bahkan tidak punya jejak apa apa di kampus ini. Jangankan jadi pusat perhatian, Gantari saja merasa tidak ada hal yang bagus untuk di banggakan, dirinya terlalu asing untuk semua orang.
Sangat mencurigakan, jika yang bertanya seperti itu adalah ibu Tinah penjual nasi Goreng di kantin yang gerobaknya berada paling ujung, Gantari akan sangat percaya. Tapi ini seorang Nathan yang memang memiliki posisi terpandang di kampus ini dan sesuatu hal yang tidak mungkin untuk mengenal Gantari yang kecil tak terlihat ini.
Jelas ia sangat terkejut dengan Nathan yang tiba-tiba mengenalnya. Apa mungkin Gantari yang lupa dia pernah mengerjakan projek bersama? Tapi tidak mungkin juga, gadis ini baru perdana bicara dengan Nathan. Dan jika memang iya dia pernah dapat projek bersama Nathan pasti Nathan hanya akan mengingat orang orang yang memang memiliki posisi yang sama dengannya.
__ADS_1
"Eh, btw kamu ngapain ke Fakultas Psikologi? Ada perlu kah" Tanya Gantari, karena aneh saja jika Nathan dari Fakultas Photography mengunjungi Fakultasnya ditambah lagi dengan jarak antar fakultas mereka yang terhitung cukup jauh.
"Oh, tadi ada perlu sama pak Samsul. Liat kamu ada disini jadi sekalian gabung, soalnya aku gak kenal siapapun di Fakultas ini."
Oh, ayolah. Bolehkah Gantari memiliki perasaan percaya diri kali ini? Kapan lagi gadis ini bisa berbincang secara inten seperti ini duduk berdua berdampingan tepat diantara pohon asem jawa dan Ketapang.
Gantari mengangguk-anggukan kepalanya paham, mana mungkin Nathan hanya bermain-main disini. "Pasti sibuk banget yah?"
"Enggak juga, ini malah lagi nyante." Jawab pria ini benar-benar santai, lalu menoleh pada Gantari "Kenapa?"
Gantari menggeleng lalu mengulum bibirnya, "gak papa, cuma ya aneh aja seorang Nathan cuma main-main doang disini"
"Aku juga manusia kali" Nathan sedikit terkekeh melihat raut wajah Gantari dari samping seperti ini, lalu ia bangkit tak lupa mengalungkan kameranya sedikit menepuk bagian belakang celananya yang dirasa kotor karena duduk di rerumputan.
Mata Gantari mengikuti arah pergerakan Nathan yang mulai merapikan Kaos hitamnya yang sedikit kusut.
"Nanti ketemu lagi yah" Serunya kembali berjalan memundur ditambah dengan semburat senyum di ujung bibirnya. Lalu sampai pada akhirnya ia berbalik dan mulai berjalan dengan langkah yang benar.
Gantari terpaku untuk beberapa saat, dia baru pertama kali mengobrol bersama Nathan. Dan yah sama seperti desas-desus penghuni kampus yang membicarakan Nathan merupakan pria teramah seantero kampus itu adalah fakta.
Setelah pergi dari hadapan Gantari pun Nathan masih tetap ramah dengan menyapa setiap orang yang dilewatinya. Sontak beberapa gadis yang dilewati Nathan terlihat Salting karena merasa ternotice oleh Nathan.
Apakah Gantari merupakan salah satu gadis yang beruntung juga? Maksudnya, dia baru saja bercakap dengan Nathan bukan hanya bertegur sapa saja seperti gadis-gadis yang di lewati pria itu.
"Wahhh" ujar Gantari yang ikut salting setelah mengingat senyuman manis Nathan tepat di hadapannya. "Nat, keknya kita harus makan rujak jambu kristal bareng deh".
●・○・●・○・●
..._________________♡♡♡________________...
.
Mahendra Mahawira Hareshananda,-
.
Nama Lukas Sahaja,-
.
Dirgantara Mandala,-
.
Yanuarta Putra Bekti,-
.
Ini circle masih bisa kalian tembus kok, tapi kalo mau pdkt sama Lukas ya harus bentukan kayak Keshwari. Wkwkw.
.
Nathanael Abdi Putra.
__ADS_1
Pantesan gula dirumahku habis, ㅠㅠ