
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Mahendra terbangun, seperti biasa ia tidur hanya dengan menggunakan kaos lekton tipis dan celana kolor Spongebob.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuknya mengumpulkan nyawa setelah tertidur, meraup wajahnya dan mulai membersihkan kotoran di matanya. Sesekali ia akan menyipit ketika cahaya matahari yang masuk lewat celah jendelanya.
Ia mulai beranjak dari ranjang minimalisnya, walaupun ruangan kamar Mahen termasuk luas ia lebih memilih untuk mengisinya dengan ranjang yang hanya muat untuk dirinya sendiri. Di sudut ruangan banyak tersusun barang barang koleksi Animasi 3D pria berumur yang baru akan menginjak 23 tahun.
Tepat setelah keluar dari ruangannya, Mahen tercekat melihat keberadaan Gantari yang baru saja mengambil air minum dari dapur. Sama sama terhenti langkahnya, Gantari terbatuk tersedak salivanya sendiri saat menyadari bahwa Mahen berdiri hanya memakai celana kolor dan kaos lekton di campur dengan rambutnya yang berantakan dan mata yang masih sipit.
Gantari memang sudah sering melihat aurat seorang Mahendra, tapi semenjak kejadian kemarin malam yang membuat seluruh tubuh Gantari panas, entah mengapa melihat Mahen sekarang menjadi merinding.
Mahen yang tadinya hanya berdiri di depan ruangannya mulai tergerak, tapi baru saja ia akan mengambil langkah pertamanya Gadis itu sudah berlari memasuki kamar.
"Kenapa sih tuh bocah?" Gumam Mahen dengan suara seraknya, tangannya terulur menggaruk tekuknya yang gatal.
Ternyata Mahen melupakan hal yang terjadi kemaren malam. Memang yah, semua cowok sama saja.
Berjalan santai masih dengan menggaruk kepala dan tekuknya yang entah mengapa selalu gatal sewaktu bangun tidur.
Menyomot gorengan bakwan jagung hangat yang baru saja tersaji di atas meja makan.
Bi Mina pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat kebiasaan Mahen yang tidak berubah. Jika ada Nathan di sini sudah di pastikan dia akan melilitkan tubuh Mahen dengan sarung berharap untuk menutup aurat abangnya itu.
"Mas Mahen di pake itu sarungnya" perintah bi Mina dengan menunjuk sarung yang berada di sofa.
"Memang kenapa bi?"
Memang sudah tidak ada akhlak nya sama sekali pria ini. Sempat sempat nya pria ini bertanya 'memang kenapa?'
"Aduh mas, malu dong itu sama mba Gantari" bi Mina panik saat melihat Gantari keluar dari kamarnya.
Mahen tergelak, "Gak papa bi, lagian Gantari udah sering liat aku begini"
Gantari melotot terkejut dengan penuturan Mahen yang frontal dengan nada sesantai itu.
Bi Mina memandang Mahen dan Gantari bergantian dengan canggung.
"Eh, enggak kok bi. Enggak gitu."
Gantari menggeplak bahu Mahen dan berhasil membuat sang empu meringis.
"Sakit" adu Mahen seraya mengusap usap bahu nya yang memerah. Teplakan seorang Gantari tidaklah kaleng kaleng, bahu Mahen yang semakin melebar saja sampai tidak bisa menahan tekanan cepat dari tangan gadis ini.
Perlu diingat, Gantari memanglah memiliki postur mungil dan cungkring tapi jangan sekali kali meremehkan teplakan dan teotannya.
"Lagian lo ngomongnya aneh-aneh aja"
Kan dari kemaren memang sudah aneh-aneh.
"Lah, emang iya kan lo sering liat gue begini. Kemaren juga lo nyuciin celana kolor gue yang gambar Naruto"
"Itu kalo lo gak sakit juga gue ogah kali nyuci kolor lo!!!" Jawab Gantari tak mau kalah.
"Lagian kolor sablonan udah pada ngelupas aja masih di pake" lanjut gadis ini dengan kesal.
"Mas Mahen, jangan keseringan pake lekton begitu mbok ya inget Mas Mahen sering masuk angin" ucap bi Mina menyarankan Mahen.
"Tenang bi, kalo masuk angin tinggal minta kerokan Gantari."
"Dih, ogah!!!" Tolak gadis ini seraya bergidik ngeri, melihat Mahen memakai lekton begini saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
"Wes wes ojo podo gelut, saiki madang!" Seru pakle Tejo yang masuk dari pintu belakang.
Seraya menyengir pakle Tejo Menghampiri meja makan lalu menuangkan air bening dari teko tanah liat sederhana pada gelas partai.
"Motor sama mobil nya udah saya steam mas, monggo mau pakai yang mana." ujar pakle setelah meneguk minumannya sampai tandas.
Dilihat dari kaos dan celana pakle yang sebagian basah dan keringat yang bercucuran sudah terlihat jelas bahwa beliau mencuci sendiri 2 kendaraan itu.
Mahen hanya mengangguk, "pake motor aja"
"Kenapa gak pake mobil aja biar gak kehujanan, soalnya lagi musim ujan. Kasian kan nanti mbak Gantari kehujanan malah sakit." Saran Pakle Tejo.
"Gak usah pakle, lagian Gantari suka mabok kalo pake mobil gak sangu antimo soalnya" ledek Mahen.
"Hih Bukannya elo yah yang mabokan?"
"Iihh kapan?"
"Itu waktu naik mobilnya Nathan, lo kan diem mulu" timpal Gantari dengan tatapan mata menyipit, "iya kan?"
"Ada stelanya" elak Mahen dengan nada merendah.
__ADS_1
"Halah, mobil mahal gak pake stela! Lo nya aja yang norak" Gantari melengos. Banyak sekali alasan, padahal sama saja dia juga sering sekali masuk angin gegara keseringan naik motor.
"Biasa aja dong gak usah pake ngegas!. Gue muntahin sekalian tuh mobil." Tukas Mahen tak kalah nyolot.
"Sono mandi, terus dandan!!" Perintah Mahen setelah menghabiskan 5 bakwan jagung, niat hati bi Mina menggoreng bakwan jagung itu untuk menu sarapan malah sudah tandas terlebih dahulu oleh Mahen dan suaminya.
"Mau kemana sih?"
"Lah, pake nanya lagi nih bocah. Lo pikir ke Jogja cuma numpang tidur doang? Sia sia dong Gantari gue bawa lo ke Jogja.
Gantari lalu menyengir, beranjak dari meja makan menuju kamarnya.
Setelah melakukan ritual mandi yang lumayan lama menghabiskan sekitar 30 menit. Gantari tidak pernah merasakan ketenangan sekalipun ia tengah mandi, Mahen masih saja mengganggunya dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi, entah apa tujuan pria ini, tapi jujur saja pria ini sungguh menyebalkan.
Tidak di situ saja, saat Gantari dandan saja Mahen masih mengganggunya.
"Gan,?" Panggil Mahen yang tengah mengobrak-abrik barang bawaan gadis ini.
"Eum" Gantari berdehm dan masih fokus dengan riasannya.
"Cowok pake ini boleh gak?"
Gantari menengok mencoba melihat apa yang pria ini lakukan.
Mahen memegang lipbalm milik Gantari, lipbalm merk wardah beraroma strawberry yang menjadi favorit gadis ini. Pria itu membuka lalu ia hirup dalam dalam dengan seksama.
"Oh Ini yang lo pakai semalem kan?" Celetuk Mahen seraya mengecap ngecap bibirnya sendiri sesaat setelah mengoleskan lipbalm itu pada area bibir.
Gantari kepayang hampir tersedak salivanya sendiri untuk kesekian kalinya. Mahen sungguh sadar dan tidak melupakan kejadian kemarin malam. Ingin sekali Gantari menimpuk wajah Mahendra. Mengapa pria itu sangat santai sekali mengucapkan hal ambigu seperti itu?.
"Strawberry, Manis, Gue suka" ujar Mahen setelah benar benar merasakan manisnya lipbalm strawberry itu. "Lo jangan lupa pake ini lagi ya"
Dengan senyum yang entah mengapa sulit diartikan, Mahen berlalu begitu saja tanpa mengemasi kembali barang barang Gantari.
"Kemaren bibir gue yang udah gak prawan, sekarang lipbalm gue. Mahendra, Bangsat!". Lirihnya seraya menatap naas keadaan lipbalm miliknya yang tergeletak di atas kasur. Sungguh ciuman pertamanya sudah direnggut oleh Mahendra.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Kota Jogja memang penuh dengan kehangatannya, saking hangatnya terik matahari hari ini begitu menyengat membuat Gantari dipenuhi dengan peluh di dahinya. Menunggu Mahen yang tidak juga keluar dari bilik ATM, entah mengambil uang atau hanya mengecek saldo saja.
Gantari mengibas-ngibaskan tangannya berharap ada sedikit angin yang mengurangi peluh nya. Sesekali ia akan menilik Mahen di dalam bilik, sampai akhirnya ia geram memilih untuk masuk ke bilik ATM.
"Lo lagi ngapain sih?" Tanya Gantari yang sudah berdiri di belakang Mahen.
"Lagi kencing!" Kata Mahen dengan nada ngegasnya, lagian gadis ini aneh aneh saja jika bertanya. "Ya ambil duwit lah!" terus Mahen.
"Mau liat saldo gue?" Tawar Mahen seraya mengeluarkan kartu ATM nya dari dalam dompet.
"Halah palingan gak ada 500 ribu"
Tanpa menanggapi omongan Gantari itu, Mahen mengisi pin tanpa ia tutupi dengan tangan. Pria ini membiarkan pin nya diketahui Oleh gadis yang dengan lamat menatap pergerakannya.
Pin milik Mahen teringat jelas oleh Gantari yang saat itu tengah memperhatikan Mahendra. Betapa tercengangnya Gantari setelah mengetahui berapa isi saldo pria ini, 498.500.000. gadis ini reflek menutup mulutnya yang mendadak terbuka.
"Itu nol nya kagak lo tambah sendiri kan?"
"Ya masa gue nulis sendiri! Lo aneh deh"
"Itu bukan ATM lo kali, lo nemu dimana gitu. Kali aja ketuker sama punya orang"
"Gak sepercaya itu kah lo sama gue?"
Gantari menggeleng, "lo itu selalu nunggak bayar kontrakan Mahen, selalu ngutang nasi goreng ke bu Tinah, selalu minjem uang ke Lukas buat beli telor gulung. Gue juga kagak pernah liat lo kerja"
"Tapi selalu gue bayar kan?." Mahen hanya menghendikan bahunya seraya menyunggingkan bibirnya, memasukan kembali kartunya ke dalam dompet lalu berlalu meninggalkan Gantari.
"Wah" Jelas hal tersebut membuat gadis ini dengan pertanyaan, 'dia dapat uang sebanyak itu darimana?'. Atau mungkin Mahen memang terlahir dari keluarga yang berada?. Jika iya, mengapa pria ini terus mengutang padanya? Mengapa pria ini tidak pernah mentraktir Gantari? Wah, ini harus di pertanyakan dari mana Mahendra mendapatkan uang sebanyak itu.
"Cepetan, mau ikut gak?" Teriak Mahen yang sudah nangkring di atas motor palangnya membuat Gantari terbuyar dari lamunannya.
Gantari lekas keluar dari bilik ATM dan langsung menghampiri Mahendra. Pria it langsung memakaikan helm pada kepala Gantari. "Ketemu bunda gue dulu ya Gan, habis itu gue ajak lo jalan" Ujar Mahendra seraya tersenyum kecil.
Keduanya langsung meninggalkan area ATM. Mahendra melajukan motornya dengan santai, agaknya pria ini ingin Gantari lebih menikmati perjalanannya. Sampai akhinya motor Mahendra berhenti di salah satu toko bunga.
Gantari jelas langsung merona, kali saja Mahendra memang lagi bercosplay menjadi pria romantis.
"Nih" kata Mahendra seraya menyodorkan satu bucket bunga Lily putih pada Gantari, gadis itu hanya bisa mengerutkan keningnya bingung karena bunga yang di kasih oleh Mahendra tidak sesuai dengan perkiraan nya. Mengapa Mahendra memberinya bunga Lily putih? Gantari kan belum meninggal.
"Nitip bentar" lanjut Mahendra seakan mengerti dengan raut bingung yang sudah tepancar di wajah Gantari.
Tak lama setelah itu, kemudian Mahendra melanjutkan perjalanannya. Keduanya memilih untuk terdiam, Mahendra pun tidak memulai percakapan apapun tidak seperti biasanya.
Mahendra menghentikan motornya tepat di depan pintu masuk Makam, kemudian meminggirkan motornya agar tidak terlalu menghalangi orang keluar masuk area makam.
Gantari semakin bingung, mengapa Mahendra membawanya ke Makam? Lalu bunga ini?.
__ADS_1
"Ayok" Ajak Mahendra seraya menggenggam tangan Gantari.
Gadis itu hanya mengikuti arah jalan pria di sampinya, pikiran Gantari sudah berfikiran begitu jauh menerka. Apakah bunda Mahen sudah tidak ada?.
"Mahen..." Lirih Gantari saat keduanya sudah sampai tepat di samping pusara yang Gantari kira adalah makam Bundanya Mahendra. Pria itu menoleh kemudian tersenyum penuh arti.
Mahendra melepas genggamannya pada Gantari kemudian beralih merendahkan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya membiarkan celana hitam miliknya kotor terkena tanah. Gantari masih terpaku, kedua tangannya mengenggam erat bunga Lily yang tadi di titipkan oleh Mahendra tadi.
Tangan pria itu terulur membersihkan rerumputan yang sudah mengering di sekitar makam. "Bun, Mahendra nepatin janji. Tapi sayangnya bunda gak bisa liat ini langsung"
Gantari terenyuh melihat Mahendra yang hampir bersimpuh, dirinya ikut merendahkan tubuhnya. Kemudian meletakan bunga Lily itu tepat di atas makam.
"Ini Gantari bun, temen Mahendra." Ujar Mahendra mengenalkan Gantari pada bundanya, melirik sedikit ke arah gadis di sampingnya.
"Lagi otw bun, doain Mahendra" ungkap Mahendra pada pusara bundanya sangat lirih sampai Gantari saja tidak mendengarkan.
"Hai bunda, gimana kabarnya?" Tanya Gantari tangannya ikutan mencabuti rumput kering.
"Semoga selalu baik yah bunda, Mahendra emang nyebelin dan rame banget. Gantari sampe pusing." Gumam Gadis itu membuat Mahendra yang sedari tadi di sampingnya tergelak mendengar Gantari bercerita seakan ia berbicara langsung dengan bundanya.
"Aku sebenarnya juga pengin banget ngepunahin Mahendra bund, tapi sayang juga kalo manusia kayak Mahendra di punahin. Nanti semesta jadi gak punya alasan buat tertawa. Terus gak ada alasan buat berwarna. Tenang bun, aku jamin kalo Mahendra nakal bakalan aku ceburin ke sumur belakang rumah"
Mahendra yang mendengar penuturan itu lantas tergelak, "emang di belakang rumah ada sumur?"
"Ada" singkat Gantari.
"Kok gue gak pernah tau"
"Sumurnya udah di tutup sama Ayah"
Ohalah, pantesan Mahendra tidak pernah tau jika di belakang rumah Gantari terdapat sumur.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Setelah beberapa jam mereka berada di makam bundanya Mahendra, keduanya memilih untuk menyudahi kunjungannya karena hari juga sudah mulai sore.
Keduanya bangkit, Mahendra sedikit membersihkan noda pada celana Gantari.
"Gan, lo udah capek belum?" Tanya Mahendra.
Gantari menggeleng, "kenapa emang?"
"Mau ngajakin lo camping, hehe" ujar Mahendra
Gadis itu mengangguk mengiyakan ajakan pria di sampingnya.
Gantari kembali terpukau pada Mahendra yang tidak kehabisan topik pembicaraan, agaknya pria ini lega karena dapat mengunjungi bundanya lagi. Gantari juga sangat senang melihat Mahendra sudah menjadi dirinya sendiri, kembali pada tabiatnya. Di langkahnya menuju pintu keluar Makam entah mengapa menjadi terasa lama karena memang keduanya melangkah dengan begitu santai.
"Mas Mahendra?" Sapa seorang perempuan cantik membawa rantang saat berpapasan dengan mereka berdua.
Gantari tercekat saat melihat seorang pria yang dikenalnya sedang bersama perempuan cantik itu.
Pria yang sudah satu bulan terakhir ini menghilang, pria itu memakai topi hitam guna menutupi rambutnya yang sudah sedikit gondrong, pria itu tersenyum canggung.
"Nathan?" Gumam Gantari masih menatap Pria yang menggenggam bunga krisan putih di genggamannya berada di samping perempuan itu.
Gantari beralih menatap perempuan yang memakai dress putih tanggung itu, sangat cantik dan terlihat kalem.
"Mas Mahen apa kabar mas?" Perempuan itu kembali bersuara. "Lama banget gak ketemu"
Mahendra mengangguk seraya tersenyum sangat sopan, "Mahira gimana kabarnya? Bapak ibu sehat?.
"Sehat kok mas" perempuan di samping Nathan itu tersenyum.
Mahendra mengenalkan Mahira pada Gantari.
"Mas Mahen ikut pindah disini juga?" Tanya Mahira, Gantari jelas kebingungan, mendengar pertanyaan Mahira. Mengapa Mahendra tidak ikut pindah? Memangnya ada apa?
"Enggak, ke Jogja buat liburaan"
Mahira kemudian tersenyum sangat ramah. Kemudian melirik Nathan yang sedari tadi diam saja. Agakny gadis ini baru menyadari sesuatu.
"Bang, gue duluan" suara Nathan lantas terdengar masih dengan senyum canggungnya.
Mahendra mengangguk.
Tangan Nathan terulur menggengam tangan Mahira membawa gadis itu untuk meninggalkan Mahendra dan Gantari.
"Sebenarnya ada apa sih antara lo sama Nathan?" Tanya Gantari, gadis itu sudah kadung penasaran pada tingkah aneh Nathan dan Mahendra.
"Nanti gue jelasin."
Mahendra kembali menggenggam tangan Gantari membawanya keluar dari area Makam. Genggamannya seakan tidak luruh, ia menggenggam nya begitu erat seakan tidak ingin melepaskan Gantari begitu saja.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
__ADS_1
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...