JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
21. Pertama Dan Sepi.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...


Seperti hari-hari biasanya tidak ada yang spesial, Gantari menikmati hari liburnya dengan berdiam diri di rumahnya.


Jika biasanya hari liburnya ini akan di ramaikan oleh Mahendra dan teman seperbinatangannya yang pasti akan membuat Gantari ingin merobohkan rumahnya sendiri, kali ini berbeda, ia merasa seperti kembali lagi pada suasana yang jauh sebelum Mahendra datang ke kehidupannya. Anggap saja ini adalah simulasi agar Gantari tidak terlalu terkejut pada hilangnya keberadaan Mahendra. Sama halnya dengan waktu itu, waktu dimana Mahen menghilang setelah sembuh dari sakitnya.


Sejak 3 hari yang lalu Gantari sepulang dari kampus, rumah sepi. Mahen tidak pulang sejak event kampus, Mahendra meninggalkan Gantari dengan penuh rasa penasarannya. Ia hanya penasaran sebenarnya ada hubungan apa Mahendra dengan Keshwari? Tentunya itu membuat pertanyaan besar di benak Gantari, karena sepengetahuan gadis itu ia tidak pernah melihat Mahendra dekat dengan gadis lain selain dirinya, atau mungkin Gantari nya saja yang tidak tau. Atau mungkin bisa saja mereka memang sudah kenal lama jauh sebelum Gantari mengenal Mahendra, yah hal seperti itu bisa saja terjadi.


Tapi seharusnya bagus dong dia bisa menikmati hari tanpa suara Mahen yang berisik. Ia juga bisa menikmati hari liburnya dengan tenang.


Ia pernah menginginkan sepi tapi tidak sepi yang seperti ini. Bahkan pagi ini Gantari baru mendengar satu suara yaitu suara mas Paijo yang berteriak teriak menawarkan sayurannya. Oiya bukan hanya suara mas Paijo, Gantari melupakan suara berisik Ibu-ibu komplek ini juga menyertai hari sepinya, tapi suara mereka malqh membuat kepala Gantari menjadi pening.


Ibu-ibu komplek ini masih saja membicarakan soal ketampanan teman Mahen yaitu Lukas dan rencana mereka untuk menjodohkan Lukas dan Mahendra dengan anak mereka. Bukan hanya itu saja, Dirga dan Yanuar juga masuk kedalam pembahasan mereka. Sepertinya memang sudah menjadi hal yang wajib untuk di bahas, Gantari saja sudah sangat bosan dengan topik pembicaraan seperti ini.


"Mas Mahen buat anak saya saja"


"Kalo gitu temenya Mas Mahen buat saya, itu yang suaranya ngebas"


"Temennya mas Mahen kan ada 3 nih, kan jadi pas buat saya satu itu yang kemarin juga besuk mas Mahen sakit"


"Ih namina saha sih?"


"Iya, namanya siapa yah"


"Mba Gantari tau mba?" Tanya salah satu ibu yang berada di samping Gantari yang tengah memilih sayuran.


"Pasti tau dong, orang mbak Gantari satu kampus sama mas Mahen, iya kan mbak?" Ujar bu Rondo menambahkan


"Hah?," Gantari yang tengah membayar sayuran belanjaanya seketika menjadi planga-plongo.


Setelahnya Gantari menanggapinya, "Oh itu bu, mending kenalan langsung aja bu biar lebih mantep kan jadi bisa pdkt, kalo lewat saya mah percuma mereka gak bakalan percaya juga sama saya"


"Iyaa yah bener juga, yuk bu ibu kita ke rumahnya mas Mahen" mendadak salah satu ibu mengompori yang lain agar langsung ke rumah Mahen.


Gantari menghela nafasnya, kini malah yang berisik ibu-ibu rempong yang menginginkan keempat pria tampan itu berharap bisa menjadi menantu mereka.


Iya hari ini dirinya memang terbebas dari suara brisik Mahen, tetapi kali ini ia harus menghadapi rempongnya ibu ibu itu.


Gadis ini hanya bisa memijat keningnya lelah, "Bu, Mahennya lagi gak di rumah". Teriak Gantari pada rombongan ibu ibu yang hendak pergi ke rumah Mahen.


Seketika hal itu menghentikan langkah ibu ibu yang rombongan menuju ke halaman rumah Mahen. "Loh, emangnya kemana mba?"


Gantari menghedikan bahunya tidak tau. Gadis ini memilih untuk masuk kerumahnya, melihat ramainya ibu-ibu itu membuat Gantari mendadak pusing.


"Gan! Woy Gantari!!!" Teriak seseorang seraya ikut masuk kerumahnya kemudian menutup pintunya rapat dengan keadaan nafas ngos ngosan.


"Eh ngapain lo,?" Gantari panik melihat Lukas yang tiba-tiba saja masuk ke rumahnya. Gadis ini lalu meraih sapu untuk berjaga jaga.


"Woitss,, santay Gan!!!" Kata Lukas dengan waspada melihat Gantari yang sudah sigap dengan sapu di genggamannya.


"Bentar, gue haus!!" Sergah Lukas langsung menuju dapur dan menegak minuman mineral dari kulkas Gantari.


Sontak hal itu membuat Gantari geleng geleng kepala, mau heran juga percuma temen keturunannya Fir'aun gitu semua bentukannya kagak. Ganteng, tapi main nylonong ke rumah orang.


"Gila, di rumah Mahen rame banget. Tuh anak bagi-bagi sembako apa gimana sih" celoteh Lukas seraya menyomot roti bolu yang ada di meja makan.


"Eh, btw gue telpon gak di angkat sama dia. Dia juga kagak masuk kelas hari ini. Lu tau kenapa gak?"


"Lah kan lo bestinya, kok malah tanya gue" dumel Gantari.


"Ya kali aja tau Gan, biasa aja kali kagak usah pake ngegas."


"Udah 3 hari tuh anak belum pulang, Padahal kan gue mau nagih uang bulanan." Ujar Gantari seraya mencuci sayur bayam yang baru saja di belinya lalu memasukan kedalam kulkas.


Lukas terdiam seakan memikirkan sesuatu. Tapi pada akhirnya ia tidak menemukan apapun di kepalanya, dia hanya mencoba memikirkan mengapa Mahendra menghilang selama 2 hari tanpa sepengetahuan Lukas?. "Di rumah Dirga kali ya, soalnya gue juga belum liat Dirga dari kemaren".


Gantari hanya menyetujui perkiraan Lukas, paling pria itu memang sedang di rumah Dirga seperti tempo lalu saat baru saja sembuh dari sakitnya.


"Eh, Kas. Lo kenal sama Keshwari kan? Itu tuh anak dari Fakultas Kedokteran." Tanya Gantari seraya mengupas dan memotong buah naga yang baru saja ia beli.


"Kenal lah, kenal banget malahan. Kan gue nongkrongnya di depan gedung Fakultas Kedokteran, kenapa emang?"  kata Lukas dan di akhiri oleh pertanyaan, tangannya meraih garpu lalu menusuk potongan buah naga hasil karya Gantari. Jelas membuat Gantari membulatkan mata kemudian meneplak tangan Lukas yang sudah menyolong potongan buah naganya.


"Satu doang elah Gan pelit amat lo jadi cewek!" Gerudel Lukas lebih memilih menegak minuman mineralnya kembali. Wajahnya menjadi asem.


"Lo tau Mahendra sama Keshwari punya hubungan apa?" Tanya Gantari membuat Lukas yang tengah meneguk minumannya sedikit terbatuk kemudian menatap Gantari dengan pertanyaan seperti itu, setelahnya pria itu menggeleng.


"Kemaren sehabis event kampus Keshwari mendadak dateng ke Mahendra sama gue. Gue gak tau hubungan mereka apaan sampai-sampai gue di tinggalin sendirian terus Mahendra pergi sama Keshwari gak tau kemana." Jelas Gantari, dirinya lantas berhenti sejenak dari aktivitas memotongnya.

__ADS_1


Lukas kembali bermonolog, pasalnya hari itu ia sudah memiliki janji dengan Keshwari untuk bertemu. Ia juga sempat beberapa kali menghubungi gadis itu karena tak kunjung sampai di tempat yang sudah mereka janjikan. Lukas padahal sudah hampir 3 jam menunggu gadis itu tapi tetap saja tidak ada tanda bahwa gadis itu akan datang. Ia menyerah sampai pada akhirnya ia memilih untuk pulang walaupun pergi dengan rasa kecewadan hampa.


Mengetahui hal ini, apakah Lukas bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia kini juga kecewa bada sahabatnya yang sudah hampir 4 tahun mereka kenal?.


"Anjing!" Desis Lukas seraya mengeratkan tanganya yang masih mengenggam botol minuman yang masih berisi setengah.


"Iya, emang Anjing" lirih Gantari seraya manggut manggut menyetujui umpatan dari Lukas.


____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________


Mahendra akhirnya membawa Nathan ke rumah sakit, karena kondisi anak itu yang sudah mengenaskan dan Mahendra juga hampir gila karena baru mengetahui bahwa Nathan sudah sangat sering di pukul oleh Ayahnya sendiri. Karena Mahendra sendiri mengira bahwa Nathan hidup dengan bahagia karena dia punya segalanya. Iya itulah yang selama ini Mahendra rasakan, ia bahkan tanpa kesepengetahuannya selalu merasa iri pada Nathan.


Ia hanya bisa menatap Nathan dengan kesal, Nathan hanya menundukan kepalanya memainkan jari-jarinya alih-alih menghindari tatapan Mahendra yang penuh dengan pertanyaan.


Mahendra menghela nafasnya sebelum dirinya berbicara, "sejak kapan lo di pukulin kayak gitu?"


Nathan masih terdiam, ia sedikit menggigit bibirnya berniat untuk mengurangi rasa takutnya pada Mahendra. Jangan lupakan Nathan yang berada di tempat yang sama saat Mahendra menghajar Ayahnya sendiri habis-habisan.


"Jawab Nat!" Nada Mahendra meninggi tanda bahwa dirinya memang benar-benar kesal. Bukan, ia bukan kesal dengan Nathan tapi ia kesal dengan dirinya sendiri.


"Sejak lo kuliah di Jogja" Nathan bersuara, namun dirinya masih belum berani menatap Mahendra. "Ayah jadi tambah parah sepeninggal bunda, itu cara Ayah ngehukum gue".


Mahendra mengusap wajahnya gusar, ini gila sudah hampir 3 tahun Nathan hidup dengan seperti itu, "Dan lo masih aja betah tinggal sama dia?!"


"Gue gak tau harus kemana bang, setiap kali gue datengin bang Mahen gue selalu ditolak".


Benar, Nathan saja sampai buntu harus datang kepada siapa lagi. Nathan juga tahu saat itu Mahendra memang masih kesal dengan kehadirannya.


Nathan memberanikan diri untuk menatap Mahendra yang terlihat semakin gusar. "Bang, gue minta Maaf" lirihnya penuh dengan mohon. Untuk kesekian kalinya Nathan kembali meminta maaf walaupun ia juga tau dengan maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka Mahendra atas segala kekecewaan dan kekesalannya.


Mahendra membalas tatapan mohon Nathan dengan sangat tajam, anak itu kembali tertunduk "Gue tau, dengan maaf aja gak bakalan bisa ngembaliin bunda" lirihnya, mata Nathan menjadi memanas rasanya air matanya akan kembali tumpah jika mengingat bundanya, rasa bersalah yang tidak akan pernah hilang sekalipun termakan oleh waktu.


"Nat..." Suara Mahendra entah mengapa menjadi halus namun masih dengan menatap tajam ke arah Nathan seakan ada rasa yang mengganjal hatinya sedari tadi, tepat saat ia keluar dari ruangan dokter.


"Sejak kapan lo punya kelainan Jantung?"


Nathan jelas langsung mendongak mendengar pertanyaan Mahendra, inilah alasan kenapa Nathan tidak mau Mahendra membawanya kerumah sakit. Ia dengan ragu menjawabnya, "6 tahun lalu"


Mahendra lantas berdiri merasa sudah sangat gusar, Nathan sungguh membuat Mahendra semakin menjadi manusia yang tidak berguna. Nathan bahkan menyembunyikan penyakit nya itu, padahal saat itu mereka masih berada di dalam hubungan yang baik.


"Gue tau, lo pasti bakalan nanya kenapa gue gak pernah cerita tentang hal ini bang. Gue udah beberapa kali mencoba buat cerita semuanya ke lo, tapi gue gak mau lo semakin khawatir setelah lo tau."  Nathan kembali bersuara, ia terlebih dahulu menjelaskannya sebelum Mahendra bertanya.


"Besok kalo udah mendingan, lo pindah aja dulu ke Jogja. Nanti gue bilangin paman Sam sama Om Wisnu" final Mahen, ia kini merasa sesak melihat Nathan dalam keadaan lemah seperti ini.


Mahendra memilih untuk keluar dari ruangan Nathan, semakin lama dirinya di dalam lingkup yang sama dengan Nathan hanya akan membuat hatinya semakin sakit.


"Mas," panggil perempuan yang berada di belakang Mahendra ketika ia berhasil menutup pintu, kemudian ia berbalik dan menemukan Keshwari yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Kenapa gak masuk?" Tanya Mahendra.


"Mas, aku minta maaf karena belum bisa jagain Nathan. Aku juga baru tau kalo ternyata Nathan di pukulin sama om Abdi" sesal Keshwari, ia berani bersumpah selama mengawasi Nathan dirinya baru tau kalau diperlakukan seperti itu oleh ayahnya sendiri.


Mahen lantas tersenyum, "gue juga minta maaf karena sering ngabain lo, terimakasih ya lo udah mau bantuin gue". Katanya dengan lembut, ia juga tidak tau mengapa dirinya seringkali mengabaikan gadis di depannya ini.


Tangannya kemudian terulur mengelus kepala Keshwari dengan penuh sayang, setidaknya gadis ini tidak lagi merasakan rasa sesalnya. Ini sudah lebih baik.


"Mahendra?" Seru seseorang dari arah samping, orang itu kemudian berjalan menghampirinya. Menatap bergantian kearah Mahendra dan Keshwari dengan penuh pertanyaan, atau mungkin sekarang orang itu tengah kebingungan dan merasa tidak percaya dengan hal yang sekarang di lihatnya.


Mahendra tercekat untuk beberapa waktu, sampai pada akhirnya ia bergumam. "Dirga"


____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________


Terhitung sudah hampir 8 hari Mahen tidak pulang ke rumahnya. Jelas Gantari mendadak merasakan hal yang aneh. Pria itu sungguh sangat meresahkan karena baru kali ini Mahen pergi selama itu tanpa mengatakan hal apapun dengannya.


Dia tidak kabur kan? Takutnya dia kabur karena tidak kunjung membayar uang bulanannya.


Jika ia pergi untuk waktu yang lama dan mungkin tidak akan kembali lagi ke rumahnya, setidaknya Mahendra mengucapkan selamat tinggal dan membayar uang bulanan terakhirnya. Itu akan membuat hati Gantari jauh lebih tenang karena tidak lagi di teror oleh neneknya.


Gantari mendengus seakan tidak ada semangat untuk memasuki kelas hari ini. Kalau biasanya setiap pagi ia mendengar celotehan Mahendra yang tidak jelas itu, pagi ini ia sungguh tidak bersemangat, tidak ada ocehan dan cerita cerita random dari pria itu.


Gadis itu sesekali akan mengedarkan pandangannya berharap seseorang yang sering kali mengganggunya muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Gantari menghela nafasnya, sebenarnya Mahendra ini kemana?. Katakanlah bahwa Gantari tengah mengkhawatirkan Mahendra, ia hanya merasa gengsi saja untuk mengakuinya.


Gantari juga melupakan sarapannya pagi ini, ia terlalu malas untuk memasak. Ia berniat untuk sarapan saja di kantin.


Ia memesan satu porsi nasi goreng dan satu jus buah naga kesukaannya, untung saja dirinya tidak sendirian karena ada Ningsih yang menemaninya kali ini.


"Gan?" Panggil Tiyan yang baru saja datang bersama Damar kemudian duduk tepat di depan Gantari dan Ningsih.


"Gimana tugas laporan penelitiannya udah selesai?" Tanya Tiyan setelah meneguk minuman kaleng yang dibawanya.

__ADS_1


"Harusnya sih udah, cuma tinggal foto dokumentasinya aja yang belum. Soalnya Nathan belum kasih file nya ke gue" kata Gantari.


"Lah, kan Nathan udah gak kuliah di sini lagi." Celetuk Damar yang langsung mendapatkan tatapan penuh tatapan dari teman-temannya.


Nathan sudah tidak berkuliah disini lagi? Yang benar saja.


"Ohalah, pantesan dari kemaren tuh aku gak ngeliat mas Nathan sliweran di sini" ujar Ningsih membuat Gantari baru menyadari sesuatu memang benar Nathan tidak terlihat lagi satu minggu belakangan ini.


"Maksud lo kak? Nathan keluar gitu?" Tanya Gantari menatap Damar yang sedang menikmati kopi hitamnya. "Kok mendadak gini sih"


"Kata anak-anak yang lain sih mengundurkan diri, satu minggu yang lalu ada yang ngeliat Ayahnya Nathan ke kampus katanya sih mau ngurusin kepindahan Nathan. Dan itu udah di acc saat itu juga sama rektor kampus." Jelas Damar.


Kemudian pria itu berkata kembali sesaat setelah es kopinya datang, "sebenarnya kampus sangat menyayangkan Nathan, ya kalian pasti tau lah Nathan berpengaruh banget buat kemajuan kampus ini. Tapi ya mau gimana lagi, yang minta bapaknya langsung, ngeri juga kalo gak di acc"


"Terus file dokumentasi nya gimana dong?" Tanya Gantari pada Tiyan yang ternyata masih saja sibuk dengan laptopnya.


"Nanti gue coba mintain file fotonya ke Nathan biar tugas ini cepet kelar. Lo ngerjainnya bareng Mahendra kan?" Tanya Tiyan.


Gantari hanya mengangguk, Mahendra hanya membantunya sekali saja itupun baru mereview materi materi dan data yang di berikan oleh Tiyan. Sebelum menghilangnya Mahendra, pria itu sempat mengatakan bahwa ia akan membantunya sampai tugas makalah itu selesai.


"Iya udah deh, gue tunggu kak"


Gantari kini sudah merasa buntu sekali, dirinya tidak bisa melakukan pekerjaan ini sendiri karena bisa di pastikan akan banyak memakan waktu untuk mengerjakannya itupun belum tentu sempurna dan di terima.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...


Gadis ini merogoh ponselnya pada saku kardigan. Ia mencoba menghubungi Mahen untuk kesekian kalinya.


Entahlah, walaupun Gantari tidak tau pasti apakah pria itu akan mengangkat panggilannya atau tidak. Tapi setidaknya gadis ini sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghubungi pria ini. Karena Mahendra orang satu-satunya yang saat ini Gantari butuhkan.


2 kali percobaannya tidak terangkat sampai percobaannya yang ke 3 layar ponsel yang sedari tadi menyambungkan berubah menjadi berdering.


"Lo kemana sih hah?" Ucap Gantari dengan spontan setelah mengetahui suara Mahen terdengar masuk ke telinganya.


"Kenapa? Kangen?" Suara kekehan Mahendra terdengar di seberang sana. Memang ada yang lucu? Sampai-sampai Mahendra terkekeh begitu renyah.


"Dih"


"Bilang aja sih, gak bakal gue tolak juga hahaha"


Seketika perut Gantari terasa mual mendengar penuturan Mahendra yang terdengar menggelikan.


"Lo di mana sih? Gue puyeng tau gak sih lo ngilang!"


"Gue gak kemana kemana Gan, gue lagi di rumah Dirga. Kenapa emang? Kalo kangen mah bilang aja"


"Gue Mau nagih utang!!!"


"Ya Allah Gan, inget aja lo kalo masalah utang"


"Iya lah, buat ngeringanin siksa kubur lo"


"Jangan gitu Gan, tadi katanya lo puyeng kalo kagak ada gue"


"Iya puyeng, lo ninggalin banyak utang sama ninggalin tugas projek!!! Capek banget tau gak gue suruh ngerjain sendiri" keluh Gantari dengan sedikit bergerutu, biarkan saja sekarang gadis ini benar benar sudah lelah.


Namun setelahnya Gantari kembali bertanya, "lo- ada niatan buat balik lagi gak?"


Mahendra di seberang lagi lagi terkekeh, "kalo gue gak balik gimana?"


"Kalo gak balik seenggaknya lo bilang ke gue, terus pamitan yang bener, bayar uang bulanan lo. Jangan bikin gue khawatir kayak orang gila karena nyariin orang gila! Jangan tiba-tiba ngilang terus ngelimpahin semua tanggung jawab yang udah lo janjiin". Protes Gantari, agaknya gadis ini sudah terlanjur emosi pada Mahendra yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya begitu saja.


Nyatanya pria itu berbohong, ia pernah berkata bahwa ia tidak akan pergi kemana mana. Jika memang ia pergi paling sedang jajan telor gulung dan nongkrong di angkringan nya bu Ummi. Namun nyatanya ia tidak ada di sana setelah Gantari mencari ke kedua tempat itu.


Gantari menghela nafasnya, ia ingin sekali bertanya tentang hubungan Mahendra dan Keshwari. Namun baru saja ia ingin menanyakannya, Suara Mahendra sudah terlebih dahulu terdengar membuat Gantari urung untuk menanyakan hal yang mungkin akan menjadi sensitif.


"lo rampung kelas jam berapa? Entar gue jemput". Tanya Mahendra dengan suara yang terdengar lembut.


"jam 3 sore"


"Oke"


Sambungan telepon Mahendra berakhir. Terlihat senyum singkat Gantari jelas tergambar di wajah gadis berambut tanggung sebahu. Gantari merasa kini ia mulai lega, Mahendra akhirnya pulang setelah hampir 1 minggu lebih ia menghilang.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...



"Pertama dan Sepi, Jangan bertanya jika kau sudah tau jawabannya"

__ADS_1


.


__ADS_2