JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
34. Will You Merry Me?.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Pada pagi itu disaat Mahendra tersadar dan terbangun dari tidurnya, Gantari merasa bahagia melebihi apapun.  Dia dapat melihat Mahendra yang persis seperti dulu, ia sudah kembali bersama warna-warna yang sempat ia lupakan.


Warnanya sudah tidak kelabu, mendung bahkan sampai hujan untuk waktu yang lama.


Mahendra sudah seperti dulu lagi, kini ia bisa tertawa bahkan bercanda. Tawanya kini murni keluar secara sukarela, tidak ada lagi luka yang ia tutupi.


Hari kelulusan dan acara wisudaan sudah berakhir satu jam yang lalu. Gantari sudah lulus menjadi sarjana Psikologi. Ia mengakhiri pendidikan ini dengan memuaskan. Bahkan lebih senangnya lagi sebelum dirinya lulus, Gantari sudah bekerja di rumah sakit Paman Sam, dengan mengambil bagian Psikologi klinis karena kebetulan pada saat itu tengah kekurangan orang yang ahli di bidang ini. Alih-alih iseng berhadiah, Gantari malah langsung di perbolehkan untuk bekerja di sana. Sangat beruntung bukan?.


Denish dan Neneknya sudah pulang sekitar 30 menit yang lalu setelah mereka melakukan foto terlebih dahulu.


Dan kini Gantari tengah berdiri di depan aula. Kemudian dirinya di kagetkan oleh keberadaan seseorang yang datang entah dari mana.


"Hai Gan?" Sapa pria dengan rambut hitam pekat bersetelan Jas sangat rapih dan juga terlihat semakin tampan setelah lama dirinya tidak bertemu.


Gantari terdiam sejenak terlihat tengah mengemati pria di depannya, sepertinya ia mengenalnya.


"Oh, kak Tiyan?" Gantari menebak, pria itu sangat berbeda jika tidak memakai kacamata.


Tiyan tersenyum karena dikenali sangat baik oleh Gantari. "Pangling ya?"


"Hampir ke gak ngenalin sih"


"Aneh ya?"


"Enggak kok kak, tambah cakep malahan" aku Gantari seraya mengacungkan jempolnya.


Tiyan hanya tersenyum kikuk.


"Eh, lo ngapain ke kampus kak?" Tanya Gantari, Gadis itu sedikit mengedarkan pandangannya.


"Iya, biasa lah nemuin pak Samsul."


Gantari menganggukan kepalanya mengerti, "gue kira mau nemuin pacarnya, soalnya lo tumbenan bawa bunga"


Mendengar penuturan Gantari, Tiyan menatap sekilas pada bucket bunga yang berada di genggamannya.


Setelah itu Tiyan menyodorkan bunga itu kepada Gantari sontak membuat gadis itu merasa kebingungan. "Hah?"


"Buat lo" ucap Tiyan masih dengan menyodorkan bunga di genggamannya.


"Niatnya tadi mau gue kasih ke pak Samsul, kan lumayan tuh bisa buat ganti bunga yang ada di ruangannya pak Samsul tapi kebetulan ketemu lo disini mending gue kasihin ke lo, anggep aja hadiah dari gue karena lo udah lulus. Dan maaf juga udah sering ngerepotin lo waktu kita masih satu angkatan dulu". Terang pria ber jas itu.


Dengan ragu Gantari menerima bucket bunga itu.


"Selamat wisuda yah Gan" ucap Tiyan setelahnya.


Gantari mengangguk seraya tersenyum, "Makasih kak,padahal dulu gue gak ngasih apa-apa ke lo"


"Santai aja Gan, toh itu cuma bunga" gelaknya.


"Eh btw, lo belum pulang? Kan acaranya udah selesai" tanya Tiyan, "apa mau gue anterin dulu?"


"Eh gak usah kak, ini gue lagi nungguin Mahendra"


"Ouuh, gitu. Ya udah deh kalo gitu gue nemuin pak Samsul dulu. Lo hati-hati,"


Gantari mengangguk, kemudian arah pandangnya ikut menyaksikan Tiyan masuk kedalam gedung Aula.


Seraya menggenggam bucket bunga sebagai hadiah kelulusan dari Tiyan, Gantari kembali menunggu Mahendra yang tak juga kunjung datang.


Terlihat sudah suntuk menunggu, Gantari terus menerus mengecek ponselnya. Menghitung sudah berapa menit ia menunggu Mahendra. Iya pria itu yang satu jam lalu mengatakan bahwa ia mau mampir ke kampus dulu setelah selesai bekerja.


Kalian tau? Mahendra sudah mewarisi segala harta dan aset milik Ayahnya yang masih berada di penjara. Sudah terhitung satu tahun terakhir Mahendra mengambil alih perusahaan yang di kelola oleh Ayahnya. Mahendra juga sama beruntungnya. Semoga saja, pria itu selalu dipenuhi dengan keberuntungan.


Pernah sekali dia mengatakan bahwa boleh saja jika hidupnya tidak bahagia asalkan orang - orang yang didekatnya mendapatkan kebahagiaan. Itu adalah harapannya setelah ia terbangun dari tidurnya sekitar satu tahun yang lalu.


Gantari mengecek ponselnya sesekali mendecak karena Mahendra sama sekali belum memunculkan batang hidungnya.


Sampai pada akhirnya mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di depannya. Kemudian memunculkan seorang pria yang masih lengkap memakai Jas keluar dari mobil berjalan menghampiri Gantari.


"Bilangnya 15 menit, ini udah hampir 1 jam!" Gerutu Gantari sesaat setelah Mahendra berjalan memutari mobil dan berdiri di hadapannya.


"Sorry, Tadi macet Gan" kata Mahendra saat menemukan wajah gadisnya yang sudah muram.


"Ini siang bolong Mahendra, gak mungkin macet. Tau gitu gue ikut Ayah pulang, daripada nungguin lo lama banget sampai lumutan!" Gantari merajuk.


"Ya maap, udah dong jangan ngambek gitu. Masa baru wisudaan mukanya kusut"


"Gue begini gara gara siapa?"


"Iya iya gara gara gue" sesal Mahendra, pria itu juga tidak berekspektasi bahwa siang hari seperti ini akan macet.


Gantari hanya mendengus, merasa hari ini sangat mengesalkan.


"Udah ya, jangan di tekuk gitu mukanya. Gak enak di liatin sama fans gue dikira guenya ngapa ngapain lo" ledek Mahendra seraya melihat sekitar aula kampus yang memang tidak sedikit pasang mata yang mengamati mereka berdua.


"Dih, kayak punya fans aja lo!"


"Loh, lo gak tau Gan? Lo gak inget gue alumni orang terfamous ketiga se antero kampus?"


"Gak, Gue amnesia moon maap!" Ujar Gantari melengos.


"Gak papa dah kalo lo lupa bagian itu, yang penting lo gak lupa kalo gue ini pacar lo" papar pria berambut cepak dan masih memakai kemeja berbalut jas hitam, dasinya sudah terlepas entah kemana.


"Aduhh, gue juga lupa bagian itu"


"Gan?!"


"Apa!"


"Ya masa lo ngelupain manusia ganteng ini sihh!!" Gerutu Mahendra merasa tersakiti karena telah dilupakan meskipun ia tau jika semua itu adalah candaan.


"Lagian PD banget lo jadi manusia" tutur Gantari, "dah lah pulang aja, panas pegel gue nungguin lo lama banget!!!"


Kemudian Gantari meninggalkan Mahendra yang masih memasang muka rajuknya namun sama sekali tidak di tanggapi oleh Gantari, memang dasar gadis itu tidak peka sama sekali.


"Ayokkk!! Malah bengong disitu ngapain?!" Tegur Gantari yang sudah berada di dalam mobil.


Mahendra mengerucutkan bibirnya, merasa moment seperti ini tidak akan pernah berhasil untuk mengungkap perasannya. Terlebih lagi Gantari sedang berada di suasana hati buruk dan Mahendra lah penyebabnya. Gadis itu memang ajaib, Mahendra saja sampai kehabisan akal untuk menciptakan suasana romantis.


Mahendra memasuki mobilnya dan menemukan Gantari yang masih memegangi bucket bunga yang entah dari siapa.


"Bunga dari siapa?" Tanya Mahendra seraya menyungut.


"Dari kak Tiyan" singkat Gantari.


"Curiga gue dia suka sama lo" mata Mahendra memincing seakan memang tengah curiga.


"Loh? Masa sih? Kok gue baru nyadar ya. Aduhh, kak Tiyan tadi juga tambah ganteng lagi" ungkap Gantari seraya mengakui bahwa Tiyan memang bertaambah tampan.


"Apa sih Gan!!!?" Mahendra kesal, pria itu melengos karena lagi lagi dirinya kalah dengan Gantari. Gadis itu menjawabnya tidak sesuai dengan apa yang berada di fikirannya. "Inget yah, lo tuh udah punya pacar! Lo udah punya gue!"


Gantari sedikit tergelak, "Oohh, lo cemburu?" Tanya Gantari seraya menggoda Mahendra yang tengah suntuk melebihinya tadi.


"Pikir aja sendiri" tutur Mahendra merasa dongkol, pria itu lebih memilih untuk melengos kemudian mulai melajukan mobilnya.


Di sisi lain, Gantari hanya bisa menahan tawanya dengan sesekali melirik ke arah Mahendra yang memasang wajah cemburunya. Pria itu sangat menggemaskan.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Mahendra masih saja diam. Pria itu tak mengeluarkan sepatah katapun di sepanjang perjalanan.


Hal itu jelas membuat Gantari terheran, karena tidak biasanya Mahendra cemburu dan mendiaminya sampai segininya.


Mahendra keluar mobil saat setelah mobil itu terparkir tepat di halaman rumahnya yang megah.


Pria itu berjalan memasuki rumah dengan mengabaikan Gantari yang masih berada di dalam mobil. Ini serius Mahendra kesal padanya hanya karena bunga dari Tiyan?.


Gantari keluar dari mobil kemudian mengikuti Mahendra dari belakang.


"Mahendra!" Panggil Gantari saat melihat Mahendra yang hendak memasuki kamar.


Pria itu hanya menoleh tanpa mengeluarkan suara. Ia terdiam menunggu gadisnya mulai bicara.


"Kalo lo diemin gue kayak gitu, gue mending pulang aja!"


Mahendra masih diam. Memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh gadisnya.


"Serius loh ini, gue pergi" dengan ragu-ragu ia meyakinkan Mahendra bahwa ia akan pergi pulang sendiri. Namun tanpa di sangka Mahendra tetap saja diam di tempat, dia tidak ada niatan untuk mencegahnya? Sangat mengesalkan.


"Iiihh, sebel gue sama lo!!!" Geram Gantari dengan nada jengkelnya karena telah di abaikan oleh Mahendra, Gantari berjalan keluar dari rumah megah itu dengan perasaan kesalnya.


Mahendra yang sedari tadi memperhatikan Gantari kini tersenyum simpul di sertai dengan kekehannya. Pria itu kemudian berlari keluar rumah mengejar gadisnya.


Mahendra mencegat Gantari dengan menggenggam tangannya membuat tubuh gadis itu berbalik berhadapan dengan Mahendra.


Dengan gerakan cepat, pria itu meraih tekuk Gantari lalu mengecup singkat bibir ranum gadisnya yang sudah mengerut sedari tadi.


Hal itu sontak membuat Gantari tercekat, jantungnya serasa terjatuh saat bibir Mahendra mengecupnya begitu manis.


Mata Gantari mengerjap kemudian dengan sangat singkat terkunci oleh pandangan Mahendra yang lekat menatapnya.


"Harusnya lo giniin gue dari tadi, Gan." Ucap Mahendra dengan usapan lembut pada bibir yang telah di kecupnya.


"Kapan sih lo berhenti pura-pura bersikap gak perduli sama gue?" Tanyanya, Mata Mahendra masih terlekat pada satu titik yaitu manik mata indah Gantari.


"Gue cuma pengen lo gak gengsi lagi sama perasaan lo"


Gantari lantas tersenyum, "Gue cuma pengen jadi diri gue sendiri, Mahendra. Dan meskipun gue gak mengakuinya setiap saat tapi lo tetep bakal tau kalo gue cuma punya lo".


"Karena memang begitu kan adanya? Gue kan pengen juga bercanda kayak lo"


Mahendra sedikit mengerutkan keningnya, "jangan gitu lagi deh Gan, serius gue nyangkanya lo bakalan ninggalin gue juga"


"Oleng dikit boleh kali, lagian tadi kak Tiyan beneran cakep banget Mahendraa! Heran deh gue kenapa sih dia gak masuk top 3 dulu"


Mahendra mendecak, "Dia oplas kali"


"Gak mungkin lah, cuma kacamata nya aja yang ngeganggu.. sumpah gue aja baru nyadar kalo kak Tiyan lebih cakep kalo gak pake kacamata "


Mahendra menonyorkan dahi Gantari membuat gadis itu sedikit tergerak kepalanya ke belakang.


"Lo tuh ya kebiasaan" Mahendra menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan meninggalkan Gantari menuju ke dalam mobil.


Gantari mendengus, "lo mau kemana sih???!"


"Cari cewek baru!" Teriak Mahendra, tangannya hampir membuka pintu mobil.


"Iiihhh, lo kok gituu"


Gantari kemudian berlari menghampiri Mahendra, membalik dengan kuat tubuh pria itu untuk menghadapnya. Gantari menjinjit lalu mengecup pipi kiri Mahendra.


Sang empu tersekat untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya ia mengulas senyum dengan salah tingkah. Yah, Mahendra sudah terbang seakan jiwanya memang tengah menari nari di atas sana bersamaan dengan kupu-kupu yang entah sejak kapan sudah meledak.


"Gak usah nyari yang lain!" Perintah Gantari, gadis itu sekarang juga tengah merona.


"Gan?" Panggil Mahendra.


"Hm" Gantari mengangkat kepalanya mendongak menatap Mahendra.


Gantari tergelak, "kan tadi udah"


"Lagi" pintanya dengan di sertai nada imutnya. "Tadi cuma pipi doang"


Gantari bergidig, "gak mau!". Gadis itu mencoba menghindar saat Mahendra mendekatkan tubuhnya.


"Sekali doangg"


"Gak mauuu, bilang sekali tapi lamaa"


"Alaghh, bilang aja lo suka kann? Iya kannn? Pasti kann??? Pasti dongg." Mahendra mulai menggoda gadisnya dengan lebih merapat lagi.


"Mesuumm banget sih lo Mahendraaa!!!!" Kilah Gantari, gadis itu sedang berusaha melepaskan diri.


"Awass gakk?!"


Mahendra menggeleng seraya tersenyum menyeringai sebagai jawaban. Sungguh kali ini Mahendra sudah terlihat seperti ingin memakan Gantari.


Lalu di detik selanjutnya saat Gantari mencoba untuk menjauh, Mahendra mengecup pipinya yang entah mengapa tambah memerah.


"Tomatnya sudah meraahhhh" kata Mahendra di sertai senyum gemasnya, ia kembali mengecup pipi gadisnya beberapa kali.


Gantari hanya bisa pasrah, emang dasar prianya ini tidak pernah berubah dan selalu saja mengesalkan karena kupu kupu di dalam perut Gantari sudah meledak.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Di keesokan harinya, Mahendra mengajak Gantari pergi ke jogja. Mahendra juga tidak mengatakan apapun mengapa dirinya secara mendadak mengunjungi kota itu.


Mungkin Mahendra merindukan yang disana, wajar saja dia sudah tidak menemui mereka satu tahun terakhir.


"Ke makam Bunda sama Nathan dulu yah Gan, habis itu gue ngajak lo jalan" ucap Mahendra, pria itu mengemudikan mobilnya dengan sangat baik.


Gantari hanya mengangguk, sampai pada akhirnya Mobil yg di kendarainya berhenti di salah satu toko bunga yang sama seperti dulu ketika Mahendra pertama kali membawanya.


Mahendra membeli 2 bucket bunga yang berbeda, krisan dan lily.


"Kenapa beda bunganya?" Tanya Gantari, ia hanya penasaran saja mengapa Mahendra membeli bunga dengan jenis yang berbeda.


"Lily tuh cantik kayak bunda, kalo krisan emang Nathan dari dulu suka bunga krisan" jelas Mahendra.


Gantari hanya manggut-manggut, kemudian dirinya mengulum bibirnya. Gadis itu tiba-tiba saja murung, ia fikir Mahendra juga akan memberikannya bunga atau hadiah apapun untuk kelulusannya. Namun sejak kemarin pria itu tidak memberikan apapun.


Mahendra yang menyadari sikap Gantari berubah murung, ia sedikit melirik Gantari yang berada di sampingnya.


"Kenapa Gan?" Tanya Mahendra.


Gantari menoleh, "Gak papa"


"Lo laper?"


"Enggak"


"Terus?"


"Ya gak terus"


"Gak apa-apa Mahendra" tegasnya dengan sedikit penekanan, bahwa memang benar gadis ini sedang tidak apa-apa.


"Tapi muka lo di tekuk mulu".


Gantari terdiam, memilih untuk tidak menanggapi Mahendra.


"Tuhh kann! Kenapa? Lo sakit, hm?" Tanya Mahendra, tangannya terulur menangkup dahi gadisnya. Namun tidak panas sama sekali. "Gak panas".

__ADS_1


Gantari mendengus, "ya kan gue gak sakit"


"Terus kenapa dong??? Lo bilang gak papa pasti ada apa apanya. Coba deh bilang kali aja tadi gue ada salah".


Gantari terdiam sejenak, ia merasa ragu untuk mengungkapkan keresahan sedari kemarin.


"Mahendra, lo gak ada niatan buat ngasih gue apa gitu? Tadi gue kira lo bakalan beliin gue bunga juga". Tutur Gantari dengan suara lirih, pandangannya masih menatap Mahendra yang tengah mengemudi.


Mahendra tergelak mendengar penuturan gadisnya, "Lahh, lo bete gegara itu?"


"Ya, kan gue juga pengen di kasih bunga juga. Lagian lo jadi cowok gak ada romantis romantisnya!!! Gak peka banget."


Namun tanpa di sangka, Mahendra semakin tertawa. Apa ada yang lucu?.


"Nanti Gan, habis dari makamnya Bunda sama Nathan gue kasih lo hadiah" ujar Mahendra sesaat setelah dia berhenti dari tawanya. Sembari meyakinkan, tangannya terulur menggenggam tangan Gantari di usapnya begitu lembut. Pria itu mengulas senyum.


Tidak lama setelah itu, mereka sampai di makam. Mahendra dan Gantari mulai membersihkan rumput dan dedaunan kering yang berada di atas pusara bunda dan juga Nathan.


Sudah lama sekali, dan tidak dirasa waktu berjakan sangat cepat. Meskipun begitu, hati Gantari tetap saja masih mrncelos saat menatap pusara Nathan yang sudah bersih setelah di singkirkannya daun kering itu oleh Mahendra. Ia menyaksikan bagaimana Mahendra sangat serius merapalkan doa untuk dua orang yang sudah tiada. Gantari ikut mendoakannya, dan tanpa sepengetahuannya Gantari berdoa bukan hanya untuk kedua orang itu. Tetapi ia juga mengirimkan doa untuk seseorang yang berada di depannya. Semoga Sehat dan Bahagia.


Kemudian, pria itu menaburkan berbagai macam bunga tak lupa Gantari menambahkan Bucket bunga yang ia letakan diatas pusara keduanya.


"Nat, lo beneran jagain bunda kan disana? Awas aja yah sampe bunda gak bahagia. Gue datangin lo!" Mahendra bersuara, dia menatap pusara adiknya seraya mengelus batu nisan seakan tengah mengapalkan nama dan membayangkan segala tentang Nathan.


Gantari hanya dapat mengamatinya, kemudian netranya beralih menatap pusara bundanya Mahendra.


"Bunda, Mahendra aman sama aku jadi gak usah khawatir. Tenang kalo dia nakal bakal Gantari injek lagi kakinya" gadis itu tersenyum, lalu ia kembali menatap Mahendra yang juga menatapnya dengan tersenyum.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Hari semakin sore, kini Gantari tidak tau kemana Mahendra membawanya.


Ia merasa tempat ini tidak asing. Apa Mahendra mau membawanya untuk camping lagi?. Tetapi tempat ini sangat berbeda dengan tempat camping yang berada di atas bukit dulu.


Jalanannya memang menanjak, rutenya juga seperti ia seperti diajak untuk ke atas bukit lagi. Dan kemudian di depan sana Gantari menemukan garis laut, dan benar saja saat mobil semakin melaju titik pantai mulai terlihat Gantari menahan nafasnya.


Mahendra yang mengerti itupun langsung menggenggam tangan Gantari, "gue gak bawa lo ke pantai lagi kok".


"Tapi kenapa lo kesini?" Tanya Gantari masih dengan nafasnya uang tertahan.


Mahendra tidak menjawab, pria itu kembali terfokus pada jalannya yang semakin menanjak. Dan setelah beberapa menit, Mobil Mahendra berheti tepat di depan bangunan Villa yang tidak terlalu besar namun masih terlihat mewah.


"Karena gue mau bawa lo ke Villa baru gue" riang Mahendra, pria itu kemudian turun dan mulai membawa Gantari untuk memasuki Villa yang memiliki arsitektur bangunan kayu. Hampir semua interior yang ada disini terbuat dari kayu.


"Ini tuh Villa yang baru selesai di bangun sekitar 2 bulan yang lalu, Gan. Niatnya gue mau buka staycation disini dan kalo gak ada halangan bakal gue resmikan taun depan". Terang Mahendra pada Gantari yang masih melihat lihat isi villa ini.


"Ini gak ada orang yang nungguin disini?"


"Ada, sementara gue liburin dulu."


"Kenapa diliburin?"


"Ya kan gue mau pakai ini Villa, Gan. Kalo ada orang lain ya gak asik lah"


Mata Gantari memicing seperti ada hal yang mencurigakan. Pria ini tidak akan aneh-aneh kan? Takutnya Mahendra bertingkah di luar nalar.


"Lo gak aneh-aneh kan?" Tanya Gantari.


"Aneh-aneh gimana?" Pria itu malah balih bertanya. Mahendra berjalan mendekati Gantari.


"Ya kan lo kadang suka aneh-aneh. "


Mahendra mengerti kemana arah bicara Gantari, ia hanya terkekeh. "Ini pikiran lo yang aneh-aneh!" Kata Mahendra.


Lalu pria itu berjalan menaiki tangga, Gantari yang merasa di tinggalkan kemudian buru buru mengikuti Mahendra. Entahlah, Villa ini cukup menyeramkan di tambah lagi dengan cahaya lampu yang hanya remang remang. Gadis itu sedikit merinding jika sampai dirinya di tinggal sendiri oleh Mahendra.


Sesampainya di atas, tepatnya di atap bagian lantai 3 yang memang khusus untuk tempat bersantai. Ada satu soffa panjang di atas rumput jepang sintetis.


Disudut atap juga terdapat kursi ayunan di sertai kursi soffa dan meja bundar lengkap dengan minumn di atasnya.


Dan di sisinya ada beberapa pot bunga yang menghiasi atap ini.


"Wah" Gantari terkesan pada design atap Villa milik Mahendra.


"Gimana? Suka?"


Gantari mengangguk, "bagus banget"


"Liat kesana deh Gan!" Mahendra mengarahkan Gantari untuk memandang pantai yang jauh di depan sana. Dari atas sini semuanya seakan terlihat.


Di atas garis laut ada Matahari senja yang kian menurun ingin segera bersembunyi ketempat bersemayamnya.


Sangat indah, Gantari tidak tahu jika ia dapat merasakan keindahan dari keduanya.


Gantari sangat menikmatinya, sampai netranya terfokus pada sesuatu yang tiba-tiba muncul tepat di depannya.


Sebuah kotak kecil berada di tangan Mahendra yang terulur.


"Gan."


Gantari berbalik menghadap Mahendra yang tengah membuka kotak kecil itu. Gadis itu sedikit tercekat.


"Will You Merry Me?" Tanya Mahendra dengan sangat lamat memandang Gantari.


Gantari terdiam merasa terharu sampai tangannya menutupi mulutnya sendiri tanda tak percaya. Gadis itu mengangguk pelan.


Dengan penuh Ingin, Mahendra meraih tangan Gantari kemudian menyematkan cincin itu ke jari manis Gantari. Sangat indah terpasang, Mahendra tersenyum setelahnya.


Mahendra memang mengesalkan untuk hal-hal yang tak terduga, pria itu meraih tekuk Gantari kemudian langsung mencium bibir merah ranum gadisnya.


Kupu-kupunya sudah berterbangan saat Mahendra mulai menyesap dan meraup benda kenyal itu begitu lembut. Membasahi setiap permukaannya membiarkan semuanya lembab. Semilir angin sore menjadi pengiring kedua insan yang tengah kasmaran.


Keduanya semakin merapatkan tubuhnya, Mahendra juga sepertinya tidak ingin usai. Pria itu kembali melumanya, mengusap dengan mesra punggung sempit gadisnya. Mencurahkan segala perasaan gundah bercampur bahagia.


Cahaya senja mulai meredup, tapi harapan-harapan mereka semoga tetap pada warnanya.


Selamat datang dan selamat berbahagia.


END.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________



Setidaknya kamu percaya bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi dengan sia-sia.


Sedihmu, Lukamu, hari-hari tersulitmu akan terbayarkan dengan Bahagia. Moment itu pasti akan selalu ada di setiap hidup manusia.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


.


Terimakasih banyak yang sudah mengikuti Mahendra dari awal sampai cerita ini berakhir. Terimakasih juga untuk dukungannya.


Januari Dan Mahendra akan saya tutup, dan cerita ini sudah berakhir sampai di sini saja.


Mohon maaf jika ada kata-kata atau kalimat yang kurang sopan.


Saya tidak berharap banyak, dan tetapi terimakasih untuk Mahendra karena sudah mau bertahan sampai sejauh ini.


Karena memang niat awal menciptakanmu adalah sebagai teman untuk diri saya sendiri.


©Daynosawrush 🦕

__ADS_1


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


__ADS_2