
...__________________♡♡♡_________________...
...__________________♡♡♡_________________...
Beberapa orang mungkin menganggap Nathan sebagai manusia paling sempurna dan bisa apa saja, memiliki paras yang mengagumkan tentu saja merupakan aset yang sangat diinginkan oleh banyak pria. Selain ia memiliki manner yang sangat baik, ia juga terlahir dari keluarga yang kaya raya.
Dia tidak angkuh sekalipun hidupnya dipenuhi dengan pujian, dia tetap Nathan, sama seperti dulu jauh sebelum ia ditinggal pergi oleh sang Bunda. Karena kalau kata Bunda, menjadi yang pertama itu tidak dapat menjamin hidup seseorang bahagia terkadang kita harus berbagi tempat juga untuk mereka yang sangat ingin seperti kita. Ini juga sama persis seperti apa yang dikatakan Abangnya sebelum meninggalkan nya juga. Ya walaupun bahasanya berbeda jauh, tapi Nathan mengerti akan maksud yang diucapkannya.
Sama seperti hari ini, hari dimana Bundanya pergi meninggalkannya. Walaupun ia sudah telat selama 3 hari tapi tidak apa, yang terpenting Nathan bisa menemui bundanya lagi. Sudah terhitung 2 tahun sejak hari itu, hari yang akan terus tertayang didalam fikiran Nathan.
Nathan sudah tidak menangis seperti kunjungannya tahun lalu. Ia terlihat lebih tegar, walaupun rasa bersalahnya tidak dapat ia hindari. Ia masih saja belum tahu bagaimana caranya menyampaikan maaf pada dia yang telah mati. Kalimatnya selalu tertahan hingga tak pernah tersampaikan. Nathan sudah terlebih dahulu kalut saat menyaksikan waktu dimana Bundanya melawan sumber kematian. Menyelamatkan Nathan yang hanya bisa meringkuk ketakutan di sudut rumahnya.
Kota Jogja memang selalu seperti ini setiap kali Nathan berkunjung ke tempat ini, sangat cerah. Sama seperti suasana hatinya, dengan pakaian formal dan satu bucket bunga krisan tepat di samping kemudinya.
Sesekali ia akan menatap foto frame bundanya yang sengaja ia tempel pada dasbor mobil. Senyumnya masih saja terukir, karena tidak mungkin jika ia datang dengan perasaan sedih padahal langit sedang cerah cerahnya.
Sesampai di depan pintu makam, Nathan mengatur nafasnya sejenak mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya untuk memasuki area makam. Dengan penampilan begitu rapi tak lupa dengan bucket bunga di genggamannya.
Ia kemudian tersenyum kembali ketika makam milik bundanya sudah dalam pandangannya. Berjalan semakin mendekat, lalu berjongkok tepat disamping bundanya.
"Sore Bund" ucap Nathan seraya memunguti dedaunan kering yang tersebar diatas makam hijau milik bunda. "Maaf Nathan datengnya telat banget."
Nathan sedikit mengerutkan keningnya saat melihat bucket bunga yang sudah layu namun masih tetap terlihat cantik tergeletak manis diatas makam. Mungkin pembantu lamanya yang sudah terlebih dahulu mengunjungi makam ini. Nathan mengulum senyum.
"Bund, hari ini Nathan dateng sendiri. Maaf banget gak bisa nepatin janji tahun lalu. Gak papa kan? Bunda gak kecewa kan?"
Nathan terlihat menunduk, perasaan itu kembali datang. Perasaan bersalah yang membuat pria ini kembali merasakan rasa sakit. Seharusnya sebagai seorang laki-laki dewasa ia bisa menjaga bundanya, melawan apa saja yang seharusnya dilawan. Jika saja ia memiliki keberanian seperti Mahendra yang pasti akan langsung bertindak ketika melihat sang bunda di sakiti secara fisik oleh sang Ayah.
Dia bahkan tidak tau harus berbuat apa agar Ayahnya berhenti menyiksa sang bunda, jika ia bisa memutar waktu Nathan sangat ingin memberikan perlindungan lebih pada bundanya. Dan tidak akan membiarkan kejadian mengerikan itu terjadi, ia akan dengan sepenuh hati menggantikan sang bunda. Saat itu ia hanya merasa takut, terlanjur kepayang karena tubuhnya juga mendadak bergetar saat mengetahui bahwa bundanya sudah tidak bernyawa lagi.
"Bunda gak usah khawatir, Abang walaupun udah jauh sama Nathan tapi dia menjalani hidupnya dengan baik kok. Kalo Ayah, Ayah masih sama kayak dulu bund. Nathan juga sebenarnya capek, rasanya pengen pergi aja kayak bunda. Tapi kalo Nathan pergi, nanti kasihan Abang gak ada yang merhatiin, hehe." Kekehan pilu sangat terdengar jelas dicampur dengan bibirnya yang bergetar, ia sangat tidak ingin menangis, ia sudah berjanji pada bundanya agar tidak sakit lagi. Namun nyatanya semakin ia berusaha menahan rasa sakit itu malah pada akhirnya Nathan juga yang kalah.
Tangan Nathan bergerak mencabuti rumput yang sudah mengering alih-alih menghilangkan rasa ingin menangisnya. "Nathan sekarang udah bisa tidur lebih awal bund, hebat kan?"
" Nathan juga udah gak sakit lagi bund. Jadi Bunda disana gak usah khawatir, kan sekarang Nathan udah dewasa. Nathan juga udah bisa kayak Abang, buktinya Nathan bisa sampe disini walaupun tadinya gak diizinin sama Ayah."
Nathan kemudian menghela nafas samar, "kapan yah bund, Abang bisa maafin Nathan. Tapi kayaknya gak bakalan di maafin deh, soalnya Nathan udah jahat banget sama bunda".
Pria bersetelan jas itu duduk bersila di samping makam bundanya seraya memainkan rumput yang tumbuh di atas makam. Terhitung sudah sekitar satu jam Nathan tidak beranjak dari sana, rasanya ia enggan untuk meninggalkan bundanya. Ia hampir saja tertidur dengan posisi tertunduk jika saja tidak di sadarkan oleh penjaga makam.
Ternyata langit sudah hampir menggelap dan Nathan masih betah berada di sana, tetapi ia harus melanjutkan hidupnya lagi. Hidup yang memang sepenuhnya telah menjadi hak paten ayahnya.
Pria itu kemudian beranjak lalu sedikit membersihkan celananya yang kotor, "Nathan pulang dulu yah bund, nanti Nathan kesini lagi".
Nathan berjalan keluar makam dengan jas hitam yang ia selempangkan pada lengan kirinya dan menyisakan kemeja putihnya saja. Belum sempat dirinya sampai di gerbang pemakaman langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyapanya.
"Mas Nathan?" Tanya gadis itu menebak, Nathanpun tersekat untuk sementara waktu kemudian senyumnya kembali merekah hanya dengan melihat gadis yang memang sudah sangat lama sekali tidak ia temui.
Gadis yang disenyumi seperti itupun ikut tersenyum tak kalah manis, dengan rambut yang tergelung dan dress tanggung berwarna broken white ikut mendukung kemanisannya. Mahira namanya, gadis pembawa rantang itu terlihat sangat cantik sama seperti saat terakhir kali Nathan melihatnya.
"Mahira?" Tanya Nathan yang langsung dapat anggukan dari gadis di depannya.
"Kamu ngapain sore-sore disini?" Nathan kembali bertanya karena ia memang merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh gadis ini sore-sore begini berada dimakam.
__ADS_1
"Nganterin makanan buat bapak" kata Mahira seraya mengangkat rantang yang di bawanya. "Mas Nathan habis ketemu tante Wira?"
Nathan mengangguk, kemudian ia merasa canggung karena masih tidak percaya akan bertemu Mahira lagi. "Mau di temenin?"
Dengan sedikit malu Mahira mengangguk seraya tersenyum. Kemudian keduanya berjalan kembali masuk kedalam makam. Nathanpun menjadi mengurungkan niatnya untuk pulang malam ini.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Nathan pun terlihat terkejut saat mengetahui bahwa penjaga makam yang tadi membangunkannya ternyata adalah bapaknya Mahira. Nathan merasa sangat bersalah karena tidak langsung mengenalinya. Iapun langsung meminta maaf karena hal itu, bagaimana bisa ia menjadi selupa itu dengan orang yang dulu pernah mengajarinya menaiki sepeda.
Nathan sedari tadi terdiam lebih memilih fokus pada kemudinya alih-alih menyembunyikan rasa malunya itu.
Mahira yang berada disampingnya pun ikut merasa canggung karena merasa telah merepotkan Nathan, seharusnya tadi ia menolak saja tawaran Nathan yang mengantarkannya pulang dan memilih untuk naik angkot saja lagipula jarak rumahnya dengan makam tidak terlalu jauh.
"Mas Nathan, maaf ya Mahira jadi ngerepotin." Kata Mahira merasa tidak enak.
"Eh, enggak ngerepotin kok. Lagian aku juga mau mampir kerumah bik Mina dulu jadi sekalian aja sama nganterin kamu, lagian tadi bapak kamu nitipin kamu ke aku".
Seperti biasa, Nathan selalu sukses membuat Mahira tersipu malu. Pada akhir kalimatnya memang benar bahwa tadi bapaknya menitipkan dirinya pada Nathan. Padahal di hari biasanya Mahira akan menunggu bapaknya sampai beliau menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi tetap saja Mahira merasa tidak enak, terlebih lagi menumpang di mobil milik Nathan yang terlihat sangat mahal di matanya.
"Eh, kenapa belok mas?" Tanya Mahira saat melihat Nathan berbelok padahal jalur kerumahnya masih lurus. Yang ditanya justru hanya tersenyum tanpa sepatah jawabanpun membuat Mahira bingung sendiri sampai mobil Nathan berhenti di salah satu pusat perbelanjaan.
Nathan lalu memarkirkan mobilnya kemudian keluar diikuti oleh Mahira yang sedari tadi masih bingung, oh mungkin Nathan ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga nya yang berada di Jakarta, pikir Mahira.
"Akutuh kangen banget sama bakpia, udah lama banget gak makan itu" kata Nathan dengan sumringah.
Mahira kemudian tergelak , "Ohalah,".
"Mochi juga enak loh mas. Apalagi disini terkenal banget jadi pusat oleh-oleh terlengkap" balas Mahira, kemudian dirinya terlihat mengedarkan pandangannya sedikit berkeliling mencari sesuatu diikuti oleh Nathan. "Wingko disini juga gak kalah enaknya sih mas".
Tanpa menanggapi apa-apa Nathan langsung mengambil 10 tas kecil wingko kemudian membawanya ke kasir, "sama mochinya 5 box ya mbak"
"Yang ini nanti pisah aja ya mbak" ujar Nathan seraya memisahkan 5 tas kecil wingo, 3 box mochi dan 3 box bakpia.
Setelah melakukan pembayaran, Nathan menyangking 3 keresek kemudian meletakkannya ke jok belakang.
"Kita makan dulu ya, laper soalnya dari tadi belum makan" ajak Nathan dan langsung di tanggapi anggukan oleh Mahira.
Dengan penuh senyum, Nathan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah makan terdekat.
Mahira tercekat karena dirinya mengira Nathan akan membawanya ke warung pinggir jalan namun nyatanya Nathan membawanya ke restoran yang terkenal sangat mahal di kotanya. Namun tidak mungkin juga seorang Nathan makan di warteg. Apakah dia harus melepas alas kaki nya untuk memasuki restoran ini?.
"Mas Nathan makannya di warung depan Indomaret aja, Mahira malu kalo masuk ke retoran mewah kayak gini" langkah Mahira tertahan saat dirinya dan Nathan akan memasuki restoran itu.
"Buat apa malu sih? Toh ini tempat umum" ujar Nathan seraya menggandeng tangan Mahira menuntun gadis itu memasuki restoran.
Nathan tergelak saat Mahira akan melepaskan sendal miliknya, "dipake aja sendalnya Mahira, ini itu bukan tempat ibadah".
Mahira hanya tersenyum kikuk menahan malu.
Gadis itu duduk tepat di depan Nathan yang tengah sibuk memesan makanannya, padahal Mahira saja masih bingung memilih makanan yang terlihat sangat mahal.
"Kamu pesen apa?" Tanya Nathan pada Mahira yang terlihat masih bingun dengan buku menunya itu.
__ADS_1
"Mahal semua mas, nasi goreng aja ada gak?"
Nathan tergelak merasa gemas dengan gadis di depannya, "ada, minumnya?"
"Es teh aja deh"
Pria itu kemudian mengangguk seraya tersenyum kemudian memanggil pelayan itu kembali untuk menambah pesanannya.
"Eh, Mahira, kamu udah selesai sekolahnya kan?" Tanya Nathan pada Mahira.
Mahira kemudian menjawab, "iya"
"Mau kuliah dimana?"
"Mahira gak ngelanjutin kuliah mas, mau langsung kerja aja"
"Kenapa?"
"Pengennya sih kuliah mas, cuma Gak mau ngerepotin bapak sama ibu" Mahira menjawabnya dengan tersenyum, ia memang ingin sekali berkuliah namun niatnya menjadi urung karena ia sangat tahu bahwa dirinya adalah satu - satunya anak dari bapak dan ibu yang harus menjadi tulang punggung mereka.
Nathan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, "udah ada rencana mau kerja dimana?"
Mahira menggeleng, "belum" kemudian ia menundukan kepalanya.
"Mahira mau kerja sama aku?"
"Mas Nathan kan kuliah, emang udah kerja?"
"Aku gak setiap hari kerja kok, cuma kalo lagi ada job aja biasanya aku ambil"
"Kerja apa mas?"
"Fotografi, nanti kamu bantuin om Wisnu. Lumayan nanti hasilnya bisa buat biaya kuliah."
"Aku diskusi sama bapak ibu dulu deh mas"
Nathan mengangguk kemudian tersenyum setelahnya.
Tak lama setelah itu makanan mereka pun tersaji kemudian mereka menikmati hidangannya dengan sangat tenang.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Mahira Laraswati.
.
Yang Jadi Mahira tentu saja manusia kalem. Bukan manusia blangsak seperti saya. 🙌
.
Aku juga sebenarnya mleyot liat Nathan begini, rasa ingin menjadi Mahira biar bisa di ajakin makan di restoran sama di ajak jajan bakpia pathok.😭
__ADS_1
Jangan iri ygy✌️