
Lohhaaaaa...
Sebelum baca, bismilah dulu ya guys. Kali aja nanti kalian salting.๐
.
...
...
...____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________...
Kota Jogja jauh lebih indah dari perkiraan Gantari, sepanjang perjalanan menuju rumah Mahendra ia lebih sering memandang jendela kaca mobil yang terbuka lebar sesekali mendengarkan Mahen bercerita tentang mengapa ia lebih senang berada di kota ini.
Katanya, di umur Mahen yang menginjak 12 tahun ia berpindah sekolah di jogja sampai kelulusan SMP nya. Kemudian ia kembali ke kota ini lagi untuk berkuliah. Gantari juga baru mengetahui hal ini, ternyata Mahendra sebelumnya pernah berkuliah di Jogja tapi katanya ia hanya berkuliah satu tahun saja sebelum pada akhirnya ia kembali alih-alih untuk melanjutkan kuliahnya Mahendra memilih untuk mengontrak dan tinggal sendiri. Ia tidak bercerita alasan mengapa dirinya memilih untuk pindah kuliah, mau menanyakannya tapi hal itu terlalu privasi untuk di ketahui oleh Gantari.
Dan terkadang Mahendra sesekali mengeluh bahwa ia selalu rindu dengan Bundanya, walaupun mungkin pria itu tidak sadar bahwa Gantari sangat sering sekali mendapati Mahendra yang tengah merindu. Sama seperti saat dulu waktu pertama kali Gantari melihat Mahendra demam, orang yang pertama kali Mahendra cari adalah Bundanya. Gantari dapat merasakannyqdari pelukan erat Mahendra saat itu, saat dimana pria ini menggeram ketakutan penuh rindu.
Gantari jelas bingung harus mencari Bundanya Mahendra dimana, pria ini hampir sama sekali tidak pernah memberitahunya tempat dimana Bundanya ini tinggal. Yah seprivasi itu hidupnya.
Sesampainya dirumah bibinya Mahen yang menurut Gantari cukup besar bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan rumah Gantari.
Meskipun rumah ini terlihat sedikit kuno tapi terlihat bagus dari rumah-rumah tetangganya.
Di sekitar sisi rumah terdapat beberapa tanaman yang terlihat tengah bermekaran, di bawah sinar bulan dan pencahayaan di teras yang lumayan terang membuat Gantari dengan mudah melihat sesuatu yang berada di latar rumah bibinya Mahendra.
Di samping rumah ini terlihat ada satu buah mobil yang tertutup dengan tenda berwarna abu abu. Di depan teras sudah berdiri wanita yang kira-kira telah berumur 50 tahunan dan pria paruh baya menyambut dengan ramah kedatangan keduanya.
"Sini Mas, biar saya saja yang bawa" tawar pria paruh baya itu mencoba meraih koper yang tengah di bawa Mahendra. Sangat sopan sekali.
Lantas sikap paman Mahen tersebut membuat Mahendra sedikit panik dengan perlakuan pakle Tejo yang masih menuan rumahkan Mahen.
Alih-alih agar Gantari tidak curiga, Mahendra dengan cepat menolaknya. "Eh Pakle Tejo, wahh gak usah pak!! Aku bisa bawa sendiri, hehehe" Mahen menyengir menatap Gantari.
"Gimana kabarnya pak, bi?" Tanya Mahen sesaat di persilahkan masuk oleh Sang bibi. "Sehat kan ya??? Tambah seger aja nih pakle" ujar Mahendra menambahkan sedikit menepuk pelan bahu pakle Tejo.
"Ya gini gini aja, Mas Mahen gimana kabarnya?" respon Bi Mina yang masih menggunakan embel embel 'mas' saat berbicara dengan Mahen.
Sangat sopan untuk di kategorikan sebagai keluarga dekat, Kecurigaan Gantari mulai muncul. Padahal wanita itu masih bisa memanggil nama Mahendra saja.
"Kok lo dipanggilnya mas sih?" Bisik Gantari.
"K-kan kalo orang Jogja emang udah biasa manggilnya kaya gitu." tanggap Mahen masih dengan menyengir sesaat ia merasa buntu untuk menjawab dari pertanyaan Gantari. "Mas Mahendra, keren kann?"
Gantari hanya memutar bola matanya lelah, "itu mah maunya elu biar di panggil Mas!!", Masalahnya pendengaran Gantari kali ini sudah terkonek dengan suara Keshwari yang memanggil Mahendra dengan Mas. Jadi rada aneh saja, suara lembut gadis itu sungguh terngiang-ngiang di kepala Gantari.
"Napa sih? Curigaan amat lo sama gue. Terserah bibi gue lah mau manggil apaan"
"Tapi panggilannya terlalu alus buat lo Mahendra!!!"
"Orang Jogja mah emang kayak gitu Gantari, kalo manggil gak pake Mas tuh rasanya kurang, iya gak bi?" Ujar Mahendra kemudian menoleh pada Bi Mina menuntut jawaban.
Bi Mina lalu mengangguk sambil tersenyum, "iya bener mbak. Orang Jogja biasanya manggil kaya gitu" katanya dengan nada yang medok.
"Oiya, dari tadi belum kenalan. Ini Gantari Bi, temen kuliah Mahen" ucap Mahen mulai memperkenalkan Gantari yang berada di sampingnya.
"Loh? Pakle kira Pacarnya mas Mahen" ujar pria paruh baya seraya menatap Mahen dan Gantari bergantian.
"Otewe lah, yuk lah Gan, masa gak mau jadi pacarnya gue. Dari tadi banyak yang ngira kita tuh pacaran. Sampe ada yang ngira suami istri" kata Mahen seraya menyenggol siku Gantari.
Sesuai dugaan apabila Mahen menggoda Gantari pasti akan berakhir tidak baik baik saja. Gantari lalu meneot pinggang Mahen mampu membuat sang empu meringkih kesakitan.
"Kebiasaan lo kalo kagak ngegeplak ya neot!!!" Ringis Mahen masih mengusap usap pinggangnya.
"Lagian lo nya gitu, becanda gak tau tempat" kata Gantari melengos, lalu beralih tersenyum canggung pada bi Mina dan pakle Tejo.
"Gue serius Gan" ucap pria itu masih meringis kesakitan.
"Ya sudah, mari Mbak saya antar ke kamar dulu barang kali mau istirahat" relai bi Mina lalu mengajak Gantari menuju kamar tamu.
Rumah yang sangat rapi, terlihat dengan barang barang koleksi kartun Trolls yang tersusun dan terawat di dalam lemari kaca. Sama seperti dengan koleksi Mahen di kontrakannya, bedanya yang ada di kontrakannya itu lebih sedikit.
__ADS_1
Gantari curiga, jangan-jangan ini adalah rumah Mahendra dan ia adalah anak orang kaya. Tapi Gantari tidak menemukan sama sekali foto Mahendra dan keluarganya, yang paling aneh lagi gadis ini juga tidak melihat foto Bibi dan pamannya Mahendra.
Mahendra terlihat berjalan memasuki kamar yang terletak di sudut ruangan. Ada satu kamar lagi di seberang kamar Mahen, ini sangat rapi dari kelihatannya. Pintu kamar dengan cat warna coklat ada plat dengan inisial 'N' yang menurut Gantari kamar itu sudah berpemilik kemungkinan kamar anak dari bi Mina dan pakle Tejo?.
Gantari memasuki kamar Tamu lalu meletakan kopernya di samping lemari. Gadis ini mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut ruangan kamar. Sesekali ia akan memegang barang yang berada di atas nakas lalu meletakkannya kembali. Yah gadis ini hanya penasaran.
Setelah sekian menit tidak melakukan apa apa Gantari keluar kamar berniat untuk berjalan jalan sekedar melihat rumah bibi nya Mahen ini.
Gadis itu mendatangi dapur terlihat ada bi Mina yang tengah berkutik sibuk dengan adonan pisang goreng.
"Buat apa bi?" Tanya Gantari basa basi, padahal gadis itu tau apa yang tengah dikerjakan bi Mina.
"Oh mbak Gantari, ini bikin pisang goreng" jawab bi Mina setelah tubuhnya sedikit tersentak karena kedatangan Gantari yang mengagetkan.
"Gantari bantuin yah bi" tawar Gantari kemudian tangannya beralih mengupas buah pisang.
Bi Mina sedikit canggung merasa tidak enak pada teman majikannya itu. "Eh, gak usah Mbak. Nanti tangannya kotor. Biar bibi aja, mbak Gantari duduk aja istirahat pasti capek kan habis perjalanan jauh."
Gantari lantas tergelak melihat bi Mina yang sedikit menolak tawarannya, "gak papa bi, santai aja. Lagian aku gabut gak ngapa-ngapain."
Bi Mina hanya tersenyum canggung, mau tidak mau ia harus berlaku seperti apa yang tadi sempat Mahendra katakan padanya.
"Mbak Gantari bisa panggilin Mas Mahen di kamarnya gak? Bibi nanggung lagi goreng pisang takut gosong" perintah Bi Mina yang langsung di respon angguk oleh Gantari yang tengah memotong pisang.
Gantari saat ini sudah berada di sudut ruangan tepat di depan kamar Mahendra yang masih tertutup. Matanya menyipit mengintip lewat lubang kunci pintu. Tangannya terulur meraih knop pintu lalu membukanya. Gantari tergelak ternyata pintunya tidak Mahen kunci.
Ini tidak apa kan kalau Gantari main nyelonong saja? Kan Mahendra juga sering nyelonong keluar masuk ke ruangannya.
Tidak ada Mahen sama sekali, kemana dia pergi? Gantari menelisik seraya mencari keberadaan pria berambut legam itu.
"Wah" Mulut Gantari hampir menganga betapa terkejutnya ia melihat ruangan Mahen yang luas jauh dari perkiraan nya. Ada drum di sudut ruangannya yang sudah tertempel dinding kedap suara di setiap sisinya. Ada Gitar juga yang tergeletak rapi di samping rak buku. Gantari di buat menganga lagi saat melihat koleksi buku Mahendra yang lumayan banyak, mulai dari komik, novel dan buku buku pelajaran semasa bersekolah masih tersusun rapi di rak.
"Hmm, coba kita liat apa saja koleksi buku pria anah bernama Mahendra ini" dehmnya seraya memilah milah buku yang berada di rak itu.
"Romance, wah Mahendra lo laki pa bukan sih. Koleksi bukunya kebanyakan percintaan." gumam Gantari terkekeh saat membuka satu koleksi buku novel romantis nya. Padahal ekspetasi gadis ini adalah Mahendra menyukai genre thriller atau petualangan.
Masih dalam acara melihat lihat koleksi buku Mahendra sampai Pandangan gadis ini berhenti pada salah satu album foto yang hampir tidak terlihat keberadaannya karena di apit dua kamus tebal.
Baru saja Gantari akan membuka album tersebut dirinya melihat Mahen yang keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana boxer. Tidak ada ekspresi apa apa di wajah Gantari seolah dirinya sudah terlalu sering melihat aurat Mahendra. Kini ia lebih tertarik pada album foto yang kini berada di tangannya.
Gantari membuka sampul foto itu dan langsung menampilkan foto Mahendra yang tengah menangis, gadis itu tergelak.
Tanpa memperdulikan kedatangan Mahendra yang mulai mendekati Gantari dengan rasa penasaran pada apa yang saat ini gadis ini baca sampai sampai membuat gadis itu tergelak.
Tatapannya mulai panik saat melihat Album foto nya lah yang berada di genggaman gadis itu yang tengah menampilkan foto Mahendra yang tengah menangis..
Mahen lalu meraih Albumnya dengan cepat sebelum Gantari membuka kembali halaman selanjutnya dan melihat isi dari album itu lebih dalam.
Gadis ini terlonjak saat Mahen tiba-tiba merebutnya.
"Iih Mahen!!! Gue belum selesai liatnya" Rengek Gantari mencoba merebuk kembali albumnya.
"Enggak!!!"
"Kenapa? Kecil lo jelek pasti!!"
"Wahh,, gedenya cakep gini jelas kecilnya imut lucu lah"
"Mana liat?"
"Ini liat yang gedenya aja"
"Ogah, sini ihh gue mau lihat foto masa kecil lo!!!"
"Enggak Gantari, tadi udah liat kan kecilnya gue ingusan banyak beleknya" masih dengan menghindari Gantari yang tengah tergelak, tetapi gadis ini masih bersikeras ingin meraih Album yang berada di genggaman Mahen.
"Mahendra" lirih Gantari seraya memohon agar pria itu mau meminjamkan album fotonya itu.
"Gue bilang enggak ya enggak, udah lah ini sama yang gedenya aja!" Mahen berjalan memundur seraya menyembunyikan album di belakang punggungnya sampai Gantari sebisa mungkin tidak bisa meraih Albumnya kembali.
"Gak mau, gue mau liat kecil lo. Kalo yang gede gue udah bosen liatnya" Gantari semakin merapatkan tubuhnya mencoba merebut album foto itu dengan sedikit berjinjit.
Kaki Mahen terpentok sisi ranjang yang membuat keduanya langsung terjatuh. Tubuh Gantari jatuh tepat diatas Mahen yang membuat posisinya sangat intim.
__ADS_1
Tangan Gantari sigap bertumpu pada bahu Mahendra yang bertelanjang dada. Keduanya sama-sama gugup saat ini, pandangan mereka serasa terkunci satu sama lain. Nafas yang mendadak memburu, detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ada yang membuat keduanya tersekat, tersemat kalimat yang sangat sulit untuk sekedar mereka keluarkan. Ini terlalu sukar, sama seperti memikirkan bagaimana caranya bernafas sekarang. Wajah keduanya sangat dekat, matanya sama sama terbelalak bergulir menatap satu sama lain.
"Eh, maaf mas Mahen. Bibi ganggu. Hehe"
Keduanya tersadar lalu menatap pintu yang sudah ada bi Mina yang menyengir seraya membawa nampan berisikan buah dan teh hangat tetapi urung saat melihat Mahen dan Gantari yang berada di posisi ambigu.
Gantari langsung bangkit dengan panik, "eh enggak bi. Ini bukan seperti apa yang bibi liat kok" Gantari jelas sangat malu, bisa jadi bi Mina menganggap Gantari sebagai wanita yang iya iya.
Di sisi lain Mahendra hanya terkekeh sambil merebah. Kurang ajar sekali pria itu.
"Masuk aja bi!" Perintah Mahen dengan santai kemudian bi Mina masuk dan meletakan nampannya di atas nakas.
"Ya sudah, bibi tinggal dulu ya mau nyiapin makan malam." pamitnya lalu kembali menutup pintu kamar Mahendra.
"S-saya ikut bi!!" Baru saja Gantari ingin mengambil langkah, suara Mahendra terdengar membuat Gantari kembali tercekat.
"Mau kemana?"
"Bantuin bi Mina"
"Entar, ini bantu bangunin gue dulu!!!"
"Lo bisa bangun sendiri Mahen, gak usah lebay deh. Gue tau cuma modus lo nanti kalo gue bantu lo bangun nanti tangan gue di tarik terus jatoh lagi kaya tadi kan.? Dih basii banget!!!"
"Lo mah suudzon mulu, ini beneran kaki gue kepentok tadi kagak bisa bangun!!!"
"Ogah!!!"
"Aduh aduh" Mahen meringis menahan sakit saat mencoba bangun. Entah beneran atau hanya akal akalan pria ini saja tapi entah mengapa Gantari ikutan meringis, takut-takut seperti kejadian dirinya menginjak kaki Mahendra dan berakhir membengkak. Bisa bisa Gantari juga yang akan repot.ย
"Tuh kan, gak bisa Gan!". Kata Mahendra kembali saat dirinya mencoba terbangun.
Akhirnya Gantari mengulurkan tangannya dengan malas lalu menarik tangan Mahen, bukannya tubuh Mahen terangkat tapi malah tubuh Gantari yang kembali menubruk tubuh Mahen.
Mahen tersenyum simpul, entah perasaan apa yang tiba-tiba datang ia hanya ingin menjahili gadis yang berada di atasnya, dengan tatapan yang terkunci keduanya memandang lamat satu sama lain. Lumayan lama seakan mencoba memahami maksud dari tatapan itu.
Mahendra memejamkan matanya seiring dengan kepalanya yang mulai sedikit terangkat mendekati wajah Gantari yang sudah memanas dengan ragu.
Tubuh Gantari seakan kelu, ingin mengangkat kepalanya untuk menghindari pergerakan Mahen saja ia tidak bisa seakan ada sesuatu yang menahannya untuk tetap pada posisi itu.
Sampai pada akhirnya Gantari membulatkan matanya saat bibir Mahen benar-benar sudah menempel pada bibir Gantari yang sedikit terbuka. Tidak ada pergerakan apapun dari Mahendra, namun mampu membuat tubuh Gantari menegang.
Ia masih tercekat entah apa yang dilakukan Mahen kali ini saat tangannya yang besar mulai merambat memeluk erat pinggang Gantari yang membuat aliran panas itu semakin datang. Tubuhnya seakan diajak merapat pada tubuh hangat Mahendra. Gantari merasa dejavu.
Mata Gantari sesekali berkedip saat Mahen mulai meraupnya. Genggaman tangan Gantari yang bertumpu pada bahu Mahendra semakin menguat saat merasakan bibir Mahen semakin bergerak.
Gila! Mahendra sudah gila, Gantari sangat ingin berteriak.
Di satu sisi Mahendra juga merasakan hal yang sama untuk pertama kalinya. Ia kini hanya mengikuti nalurinya, walaupun kali ini dirinya sudah sangat merasakan malu untuk dirinya sendiri. Ini bagaimana caranya untuk mengakhirinya? Mahendra sangat tidak tau apakah dia harus melepaskannya atau tidak?. Bibir Gantari sangatlah manis, ini sangat berbeda dengan rasa yang hanya ia kecup tempo lalu.
Mahen perlahan melepas tautannya, membuka matanya menatap Gantari yang berada diatasnya sama-sama dengan nafas yang terpenggal dan memburu. Ia pun mulai melonggarkan rengkuhannya. Mahendra merasa was-was, apa dirinya akan mendapatkan tendangan atau teotan karena sudah lancang seperti ini?. Aaaa, Mahendra juga sangat ingin berteriak!.
Dirasa sudah di akhiri Gantari bangkit lalu diikuti oleh Mahendra yang duduk tepat di sampingnya dengan canggung.
"A- i-itu gu-gue em" ucap Mahenndra terbata dan langsung di bungkam oleh tangan Gantari.
"Diemmm!!! Mahendra lo diem gak usah ngomong apa-apa!!!" Sergah Gantari dengan semburat merah di pipinya karena panas.
Sungguh malam ini sangatlah panas, Gantari ingin sekali cepat-cepat keluar dari ruangan ini.
"Gu-gue mau bantu bi Mina!!!" Mendadak menjadi gagap Gantari berlalu meninggalkan Mahendra yang masih terpaku dengan pikirannya sendiri.
Mahen seketika linglung mencoba mencerna kembali pada apa yang telah terjadi tadi. Apa yang sebenarnya Mahendra lakukan?.
____________โโโ..หหห ยดหห..โโโ__________
.......
Maafin akuuuuuuuuu๐๐๐๐
__ADS_1