
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Setelah saat itu Nathan di larikan ke rumah sakit. Mahendra tanpa memikirkan apapun pria itu langsung membawa Nathan sama seperti saat itu, saat dimana Nathan menerima kekerasan fisik oleh Ayahnya sendiri.
Namun kali ini berbeda, meskipun sama menegangkannya. Tapi sungguh ini lebih menyesakan. Ia tidak tau apa jadinya jika dirinya tidak dengan cepat membawa Nathan. Dengan begitu banyak rentetan doa yang sangat jarang sekali Mahendra utarakan, kini pria itu lebih banyak meminta. Tapi bukankah seperti itu manusia?.
Mahendra masih berada di depan ruangan ICU sejak 3 jam yang lalu. Duduk termenung memandangi jari jarinya yang hampir saja terluka oleh kuku yang ia mainkan sendiri.
Kepala pria itu kini ramai, pikiran - pikiran itupun kembali bersuara. Ia kini merasa dejavu.
Kondisi Nathan masih kritis, kondisi jantungnya juga kian memburuk. Ia menjadi sangat khawatir akan hal itu, sejak tadi Mahendra sama sekali belum di beri izin untuk menemui Nathan.
"Mahen, Lo belum makan dari tadi" kata Gantari pada Mahendra yang sedari tadi masih terdiam menunduk menatap jari jarinya. Mahendra kemudian menggeleng lemah.
Gadis itu menghela nafasnya karena sudah sekian kalinya membujuk Mahendra untuk makan, namun nihil pria ini kembali menolak.
"Tadi Ayah gue bawain nasi goreng, Gue suapin ya?" Tawar gadis itu seraya membuka kotak makannya, namun hal itu di tahan oleh Mahendra. Dia memang sedang tidak nafsu makan.
Gantari menghela nafasnya, "kalo lo gak makan yang ada malah lo yang sakit, sekarang makan dulu ya. Gue suapin"
Mendengar hal itu Mahendra mengangkat kepalanya menatap Gantari dengan tatapan sendu, lelaki itu saat ini tengah menahan air matanya dengan mata yang sudah memerah. "Gua salah apa sih, Gan?" Tanyanya.
Gantari dengan lantang menggeleng karena memang benar Mahendra tidak memiliki kesalahan apapun, "lo gak salah apapun, Mahendra".
"Tapi kenapa Tuhan segini bencinya sama gue?" Tutur Mahendra dengan emosi yang semakin menbuncah.
Gantari menggenggam tangan Mahendra seraya mengusap dengan lembut punggung tangannya. Ia mencoba menenangkan pria itu, "Tuhan gak pernah ngebenci orang kayak lo, Mahendra."
"Gue tau gue bukanlah kakak yang baik, gue juga bukan anak yang berbakti juga. Tapi apa gue salah kalo minta mereka semua hidup bahagia?. Padahal gue gak papa kalo gue yang sakit, asal gue bisa ngeliat mereka hidup dengan baik" luruh Mahendra.
Kali ini pria itu hanya merasakan takut. Terlihat dengan jelas dari air mata yang mulai mrembes. Tangannya pun terasa mengerat saat berada di genggaman Gantari.
Ia merengkuh tubuh pria itu, pria yang memiliki tubuh lebih besar darinya. "Nathan gak bakal kenapa-kenapa, Mahendra. Gue yakin dia bakal pulih."
Tangannya terulur mengusap punggung lebar Mahendra, sesekali menepuknya pelan berharap pria yang tengah ia rengkuh merasa tenang.
Gantari juga baru pertamakali menemukan Mahendra se luruh ini, energinya serasa sudah habis termakan emosinya sendiri. Karena yang Gantari tau, Mahen adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut. Namun kali ini terjawab, segala tawanya adalah luka. Segala yang membuatnya berwarna adalah bahagianya yang tertunda.
Mahendra memang sangat menyebalkan untuk beberapa hal, namun Gantari tidak dapat mempungkiri bahwa Mahendra juga manusia yang memiliki luka. Sama halnya dengan Gantari yang terlalu sering menyalahkan dirinya sendiri tapi jauh dari itu, Mahendra justru melebihinya, pria ini bisa saja ikutan sakit jika terus menyakiti dirinya sendiri.
Seperkian detik Gantari mengusap punggung lebar itu, ruang ICU terbuka menampakan seorang dokter yang keluar dari ruangan itu membuat pelukan keduanya berakhir. Mahendra dengan segera beranjak menghampiri sang Dokter.
"Gimana Om?" Tanya Mahendra pada dokter itu yang memang Pamannya sendiri.
Paman Sam, selaku pemilik rumah sakit dan Dokter spesialis jantung.
"Kalian masih disini?" Kata Sam. Pria berseragam jas putih khas.
Mahendra tidak menjawab pertanyaan basa-basi dari Omnya itu, dirinya hanya menginginkan jawaban tentang kondisi Nathan saat ini.
Merasa tidak diindahkan oleh Mahendra maupun Gantari, Sam menatap keduanya bergantian.lq
Dan nampaknya Sam pun ragu untuk mengatakan hal ini, "Kondisinya masih sama, belum ada perubahan sama sekali. Saat ini kita hanya perlu pendonor untuk membantu kinerja jantung Nathan, seperti yang kalian tau mencari pendonor itu tidaklah mudah. Tapi semaksimal mungkin rumah sakit ini akan mencarinya. Jadi kamu tidak usah khawatir Mahendra."
"Ambil jantungku Om" Mahendra mendongak dengan penuh yakin saat setelah mendengarkan penjelasan dari Sam. Yah, mungkin inilah satu-satunya usaha Mahendra.
Sam jelas sedikit terkejut, terlebih dengan Gantari yang menatap Mahendra dengan khawatir.
Sam menggeleng, "Gak, kita bisa pakai orang lain Mahendra"
"Kalo aku saja masih bisa, kenapa harus orang lain Om!"
"Terlalu bahaya Mahendra! Penyakit jantung itu bukanlah penyakit yang sepele! Kamu bisa saja kehilangan nyawa!" Sam menggeleng untuk kesekian kalinya, pria itu hanya tidak ingin mengambil banyak resiko.
Sam berjalan meninggalkan Mahendra yang masih saja mengikutinya, "Om! Kali ini aja Om, aku cuma pengen Nathan sembuh!"
Pria itu masih mengabaikan Mahendra sampai pada akhirnya Mahendra bersimpuh menahan kaki Sam, dan mau tidak mau Sam harus menghentikan langkahnya, Sam hanya menghela nafasnya melihat betapa kacaunya keponakannya itu.
"Aku mohon Om!"
"Kita perlu periksa kondisi jantungmu dulu, jika cocok maka kamu bisa langsung mendonorkan"
Mendengar hal itu, Mahendra sedikit tersenyum lega. Pria itu kemudian bangkit lalu menoleh pada Gantari yang berada di belakangnya dengan bahagia. Namun di sisi lain, Gantari lebih khawatir. Khawatir jika senyuman bahagia itu adalah luka untuk dirinya sendiri.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Gantari berada di kantin rumah sakit bersama dengan Mahira dan Keshwari. Kedua gadis itu kembali lagi setelah semalam pulang meninggalkan rumah sakit.
Mahira sebenarnya masih berat hati untuk meninggalkan Nathan yang masih dalam kondisi terkurai lemas di ruangan operasi. Jika bukan karena perintah dari Mahendra, pasti gadis itu masih kekeuh menjaga Nathan.
Lalu Keshwari mengajak Mahira ke rumah Nathan untuk mengambil beberapa pakaian pria itu, alih-alih sedikit menenangkan Mahira yang sudah hampir kacau. Gadis itu ternyata menyalahkan dirinya sendiri.
"Mbak, aku gak mau makan" keluh Mahira dengan suara yang jauh lebih lembut, entah karena dia masih merasa bersalah atau memang suaranya begitu.
Gantari melirik Keshwari sejenak dan sempat keduanya bertatapan, Gadis berambut sebahu itu lqntas mengalihkan atensinya pada Mahira.
"Ra, lo harus makan." Bujuk Gantari, dia melihat makanan yang berada di depan Mahira masih utuh belum terjamah sedikitpun.
Lantas Keshwari mengangguk setuju, "jangan sampai kamu ikutan sakit, Ra"
__ADS_1
"Ini salah aku mbak, harusnya aku langsung bawa mas Nathan ke rumah sakit. Tapi aku bahkan gak tau mau melakukan apa"
"Lo udah melakukan yang terbaik Ra, lo langsung menghubungi Mahendra itu sudah yang terbaik" utas Gantari saat mendengar Mahira dengan penuh sesal itu.
Keshwari dan Gantari mendekat pada Mahira yang terlihat mulai menangis, gadis berstelan dress tanggung itu menangis dalam diam namun masih bisa di dengar oleh Gantari maupun Keshwari. Keduanya memeluk tubuh Mahira dengan penuh sayang.
Di samping itu, terlihat Lukas dan Dirga berjalan menghampiri ketiga gadis itu.
"Ada apa?" Tanya Gantari menatap Lukas dan Dirga bergantian.
"Nathan udah di pindahin ke ruang inap VIP." Dirga membuka suara.
Ketiga gadis itu menghela nafasnya, karena sebelumnya Nathan masih berada di ruangan operasi hingga dirinya tersadar.
Kata paman Sam, kondisinya sudah mulai membaik. Namun Nathan masih memerlukan donor Jantung agar kondisinya cepat pulih.
"Mahendra gimana? Dia udah mau makan? Soalnya dari semalem dia gak mau makan". Tanya Gantari selang setelah kedua pria itu mengambil duduk di depannya.
Lukas menggeleng, "Belum. Keras kepala banget tuh bocah. Padahal tadi gue bawain nasi padang tapi gak mau ya udah gue kasih ke Yanuar"
"Mas Mahen emang gitu Mas. Dulu waktu Bundanya sakit aja susah banget di suruh makan." Keshwari menimbrung, kemudian membiarkan Lukas meminum kopi cappucino miliknya.
"Dia masih trauma setelah kehilangan bundanya, Nathan itu satu-satunya orang berharganya. Mungkin, mas Mahen masih punya rasa sesal dan takut".
Dirga dan Lukas hanya manggut-manggut menyetujui pernyataan dari Keshwari, karena tidak dapat di pungkiri selama hampir 4 tahun mereka bersahabat dengan Mahendra , hal yang paling pria itu takuti adalah kehilangan sesuatu berharganya.
Lukas seketika terkekeh membayangkan bagaimana lucu dan konyolnya dulu saat dirinya bertarung hebat dengan Mahendra hanya karena Keshwari. Yah mereka sempat bertengkar saat itu, saat dimana Lukas mengetahui bahwa sahabatnya pergi bersama sang pujaan hati dan berakhir terpergok di tempat Dirga.
Dengan panas, Lukas jelas langsung menghantam wajah rupawan Mahendra sampai pada akhirnya Dirga datang sebagai penengah. Kesalahpahaman itu yang membuat lucu. Lukas sempat menuduh Mahendra karena telah mempermainkannya dengan berhubungan dengan Keshwari.
Dan ternyata tanpa sepengetahuan Lukas, Mahendra dan Keshwari adalaah sepupuan. Dan alasan keduanya terhubung kembali adalah Nathan.
Lukas lagi-lagi mengagumi Mahendra sebagai seorang sahabat, logis sekali alasan Mahendra yang menyembunyikan hubungannya dengan Keshwari dan Nathan.
Lukas tersenyum menatap Keshwari membuat gadis itu mengerutkan keningnya, "kenapa mas?"
"Aku laper, kamu gak nawarin makan?" Keluh Lukas, Dirga yang berada di sampingnya memutar bola matanya lelah melihat bagaimana Lukas yang tengah bersikap manja pada Keshwari.
"Lah, bukannya tadi udah makan Nasi padang?"
"Iya kan tadi, sekarang aku laper lagi".
"Yaudah, aku pesenin dulu"
"Kesh, gue ke Mahendra dulu ya" sebelum Keshwari benar benar beranjak, suara Gantari terdengar. Keshwari menganggukkan kepalanya.
"Aku ikut mbak" Mahira menimbrung.
Lukas menukik saat melihat Dirga yang juga ikut beranjak, "lah lo mau kemana Ngab?"
"Mau balik gue, yakali disini nungguin kalian pacaran ogah gue jadi nyamuk. Sekalian nganterin Yanuar pulang, gue ngeri sama bapaknya"
"Lah iya yak, tadi ngajakin Yanuar yang baru balik sekolah" aku Lukas, "Ya udah, aman aman ya lo."
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Di ruangan yang terang dan bau obat yang begitu menyeruak, Mahendra duduk tepat di samping adiknya yang tengah membaca buku. Mahendra juga heran mengapa Nathan langsung bisa membaca buku padahal dia baru saja sadar sekitar 4 jam yang lalu.
Tapi bukankah itu melegakan? Nathan bisa cepat pulih dari perkiraan Mahendra.
Mahendra memainkan ponselnya sesekali melirik Nathan untuk sekedar mengecek pria itu baik-baik saja atau tidak. Padahal sudah sangat jelas bahwa Nathan sadar dan tadi sempat bergurau dengan ketiga sahabatnya.
Mahendra dengan gabut membuka situs Google mengenai donor jantung, efek apa saja yang akan di dapat pendonor. Paman Sam mengatakan bahwa operasi baru bisa dilaksanakan besok pagi setelah mengetahui bahwa kondisi jantung Mahendra sangatlah bagus sekaligus cocok dengan Nathan. Sebenernya prosedur nya tidak seperti itu, persiapan pendonoran jantung memerlukan waktu sekitar satu minggu. Namun Mahendra tetaplah Mahendra, ia tidak ingin melewatkan waktu sebanyak itu untuk kesembuhan adiknya.
Dirinya menggulirkan layar ponselnya membaca dengan cermat isi blog yang tertera di dalamnya. Tidak ada yang membahayakan dari pendonoran ini jika Mahendra mendapatkan jantung penggantinya juga. Kalaupun dia tidak mendapat jantung pengganti pun tidak apa, ia rela mati untuk Nathan.
Di sela sela keheningan kedua saudara yang tengah terfokus pada aktivitas masing-masing akhirnya teralihkan oleh pintu ruangan yang terbuka menampakan Gantari, Dirga dan Mahira. Kedua pria itu tersenyum pada gadisnya masing-masing.
"Yanuar kemana?" Tanya Dirga.
"Ada di kamar mandi" tanggap Mahendra
"Ngapain? Tuh bocah Mandi?"
"Kebelet".
Lalu Dirga ber-ooh, seraya meletakan bingkisan buah pada Nakas meja.
Mahendra beranjak dan kemudian beralih duduk di sofa.
Gantari ikut duduk tepat di samping Mahendra membuat pria itu tertegun.
"Makan dulu!" Perintah Gantari seraya membuka foam berisikan nasi goreng, tanpa menunggu persetujuan dari Mahendra gadis itu langsung menyuapkannya kedalam mulut Mahendra.
"Nat, lo juga bilangin Mahira buat makan. Tuh udah gue beliin nasi goreng juga" kata Dirga di sela-sela pria itu duduk di sofa seraya menunggu Yanuar yang tidak juga keluar dari kamar mandi.
Mendengar hal itu, Nathan langsung menatap Mahira yang sudah duduk di depannya dengan melas, "kamu belum makan?"
Mahira menggeleng lemah dengan pandangan menatap tangan Nathan yang terinfus.
"Kenapa belum makan?" Tanyanya kembali.
__ADS_1
"Belum laper" gadis itu mendongak menatap Nathan, "Mas Nathan udah makan?"
"Aku puasa, besok operasi. Sekarang kamu makan dulu ya. Apa mau aku suapin?" Tawar Nathan.
"Gak usah, nanti aku makan sendiri aja" tolak Mahira kikuk.
"Tapi harus makan ya, Aku gak mau kalo sampe kamu sakit" anjur Nathan mengatakan dengan begitu lembut, tangannya terulur mengusap surai Mahira dengan sangat lembut. Nathan meraih tangan Mahira kemudian di kecupnya sangat lama. Lalu sesaat setelah kecupan itu terlepas keduanya sama - sama tertegun dengan tatapan satu sama lain sampai melupakan orang yang berada di ruangan itu bukan hanya mereka berdua.
"Mahendra, Kayaknya kita lanjutin makan di luar aja deh" ucap Gantari dengan kikuk saat melihat kedua insan di depan sana.
Hal itupun langsung di tanggapi anggukan cepat oleh Mahendra yang terpelongo melihat Nathan bersikap sangat manis dan sama sekali mengabaikan keberadaannya.
"Aa, gue juga mau pamit pulang sekaliqn nganterin Yanuar" Dirgapun sama ia juga canggung lantas pria itu beranjak meraih jaketnya.
"Yan, lama banget sih lo" seru Dirga saat melihat Yanuar baru menampakan diri dari kamar mandi yang berada di ruangan itu. Pria itu menggeret Yanuar lekas keluar dari ruangan.
Yanuar yang tidak tau apapun menjadi bingung saat di tarik oleh Dirga hingga ia kelabakan meraih tas sekolahnya.
"Mahira, Gue keluar bentar. Nitip Nathan" pesan Mahendra dan langsung di tanggapi anggukan oleh Mahira.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Saat ini Mahendra dan Gantari berada di taman rumah sakit, mereka memilih untuk keluar mencari udara segar alih-alih membiarkan Nathan dan Mahira untuk menikmati waktu berdua. Sebenernya ini sama seperti apa yang di lakukan oleh Mahendra dan Gantari, mereka juga membutuhkan waktu untuk berdua, kan?.
Keduanya duduk berdampingan seraya menikmati angin malam yang entah mengapa menjadi sangat mengasikan ketika hening seperti ini. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam dan rumah sakit terlihat lebih sepi hanya beberapa orang saja yang masih berlalu lalang.
Pergantian tahun harusnya lebih ramai bukan? Tapi malam ini Mahendra maupun Gantari sama sekali belum melihat meriahnya kembang api diatas langit. Apa mungkin mereka yang telat atau memang belum di mulai?.
"Mahendra" panggil Gantari mencairkan suasana.
Merasa terpanggil lantas menolehkan kepalanya menatap Gantari seraya menunggu gadis itu melanjutkan bicaranya.
"Dulu gue pernah pengen hidup kayak lo" ucap Gantari. "Karena gue liat lo gak pernah punya rasa khawatir, dan lo gak pernah punya rasa takut. Tapi sekarang setelah liat lo khawatir tentang hidup seseorang sampai segitunya, gue jadi nyerah dan ngubur rasa keinginan gue buat jadi lo"
Mendengar hal itu Mahendra malah tergelak dan mengalihkan atensinya membuat Gantari sedikit menautkan keningnya merasa heran.
"Lo gak perlu jadi gue, rasa khawatir pada setiap manusia itu bakalan tetep ada bahkan pada manusia paling tegar sekalipun. Titik lemah semua manusia adalah rasa cinta, ia akan melakukan segala hal untuk menunjukan perasaan itu".
"Mahendra, Apa gue boleh khawatir juga?" Tanya Gantari seraya menatap pria di sampingnya dengan tatapan yang langka. Ada rasa takut dalam hati gadis ini.
Mahendra ikut menatap Gantari dengan tersenyum namun tidak dengan matanya yang terlihat lebih mendung. "Lo khawatir tentang apa?"
"Gue khawatir gak pernah bisa liat lo ketawa dan bikin gue ketawa lagi". Tanggap Gantari masih dengan tatapan yang jauh lebih sendu.
"Lo tau Gan? Gue lebih khawatir gak bisa liat lo ketawa lagi." Potong Mahendra.
Gantari kembali tertegun, dia terdiam sejenak sebelum memulai bicaranya. "Mahen, apa gak bisa kalo orang lain yang ngedonorin jantungnya?"
Mahendra menggeleng, namun setelahnya ia tersenyum. "Gue gak akan mati kalo cuma donorin jantung doang Gan. Lagian Om Sam udah dapet pengganti buat jantung gue"
"Tapi lo gak bisa hidup seutuhnya dengan jantung pengganti, Mahendra"
Malihat Gantari yang mengkhawatirkan dirinya membuat Mahenra semakin terenyuh, setidaknya ada satu manusia yang tidak menginginkannya mati.
"Janji sama gue, lo bakalan baik-baik aja!" Tutur Gantari, Mahendra mengangguk dengan senyum yang lebih menegangkan.
Disisi lain, Gantari ingin sekali melakukan sesuatu namun masih berat hati dan gengsi. "Mahendra?"
"Eum?" Dehm Mahendra.
"Gue boleh meluk lo gak?" Dengan malu-malu gadis itu sampai tidak berani menatap mata Mahendra.
Pria itu tergelak, "Gue pacar lo Gan, lo mau meluk, nyium, atau bersandar aja silahkan gak perlu pake izin gitu".
Setelah mendapatkan izin, Gantari mendekatkan tubuhnya pada Mahendra. Memeluk pria itu dan direngkuh balik oleh Mahendra memberikan kehangatan di malam yang dingin ini. Biarlah seperti ini untuk sementara waktu, dan biarlah bintang dan bulan di atas sana merutukinya.
Mahendra melepas rengkuhan itu dan membuat Gantari bingung. Pria itu menatap lekat ke arahnya, menatap tepat pada bibir yang terlihat pucat sedari tadi. Mahendra sedikit mengulas senyum. Meraih sebelah pipinya yang dirasa dingin di tangan Mahendra, mengelusnya begitu lembut.
"Gue gak perlu ikutan minta izin kalo buat ini kan Gan"
Dengan suara yang lebih berat, Mahendra memiringkan kepalanya meraih bibir pucat nan kering itu membuatnya menjadi lembab dan basah.
Mata Gantari terpejam seraya membiarkan pria itu meraup bibir miliknya dengan sangat lembut. Sesekali Gantari akan meremat jaket denim yang terpakai Mahendra saat dirasa pria itu ********** dan menciptakan debaran dan desiran pada darahnya. Kupu-kupu di perutnya kembali terbangun dan terbang kesegala arah. Tanpa di pungkiri Gantari merindukan ini juga, merindukan Bibir tebal Mahendra yang menari di atas permukaan bibirnya.
Dengan ritme dan nafas yang teratur keduanya sama-sama membasahi permukaan lembut itu. Permukaan yang kini sudah menjadi favorit saat pertama kali mereka mencobanya. Mereka membiarkan suara gesekan daun dengan tanah oleh angin yang menjatuhkan menjadi pengiring malam yang dingin ini.
Sampai mereka menyudahinya pun suara nyaring itu masih terdengar. Mahendra kembali tersenyum melihat Gantari yang perlahan membuka matanya, bibirnya sudah lebih baik dan sudah tidak terlihat pucat.
Mahendra merengkuh tubuh Gantari kembali membawanya kepada kehangatan yang sempat tertunda tadi, pria itu menghela nafasnya begitu dalam bercampur dengan usapan nyaman pada punggung sempit gadis itu.
"Tetep khawatir tentang gue yah, Gan. Karena gue cuma butuh satu orang yang mau menyisihkan sebagian waktunya buat memikirkan segala hal tentang gue"
____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________
Jika hidupmu penuh dengan luka, lalu bagaimana caranya kamu menutupinya.?
Aneh saja, kamu membuat semua orang tertawa dengan kelakuanmu sampai-sampai Aku mikir, "Keknya enak ya jadi kamu."
____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________
__ADS_1