
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Niat hati Nathan ingin berada di Jogja sekitar 2 hari, namun ia tidak ingin terlalu mengambil resiko. Mengingat bahwa Ayahnya tidak mengizinkannya mengunjungi makam bunda. Ia sangat tahu bahwa dirinya pasti tidak akan selamat jika Ayahnya mengetahui bahwa Nathan kabur dari rumahnya.
Setelah dirinya mengantar pulang Mahira sampai depan rumahnya, Nathan lekas pulang dan tidak sempat mampir kerumah Mahira. Ia hanya mampir sebentar ke rumah bik Mina untuk sekedar memberitahukan bahwa ia sudah mengunjungi bundanya, di jam 11 malam ia berpamitan untuk pulang kembali lagi ke Jakarta. Nathan sengaja menonaktifkan ponselnya agar dirinya bisa fokus dengan kemudinya tanpa gangguan.
Tapi jika ia terlalu lama disana bisa jadi Ayahnya akan kembali mengamuk dan bisa saja sang Ayah menghampiri nya kemudian menyeret paksa tubuhnya untuk pulang. Beruntungnya Nathan pulang di saat rumah masih sepi, ini sudah jam 8 pagi harusnya sang Ayah sudah berada dirumahnya. Tapi setelah Nathan mengecek kamar utama tidak ada tanda-tanda bahwa Ayahnya itu sudah pulang. Ruangannya masih rapih sama seperti terakhir kali Nathan meninggalkannya.
Pria itu menghela nafas lega setelah tadi saat ia memasuki rumah besar ini perasaan nya selalu saja was-was dan resah. Ia dapat berjalan dengan normal lagi tanpa mengendap.
"Ayah udah ngelarang kamu, tapi kamu tetep aja pergi?" Suara berat mulai terdengar masuk kedalam telinga Nathan membuat langkahnya menjadi tersekat.
Nathan mulai memberanikan diri memutar tubuhnya dan menemukan sang Ayah yang baru saja keluar dari ruangan penyimpan minuman mahalnya, pria paruh baya itu berjalan mendekati Nathan seraya meneguk minuman diva vodca yang merupakan minuman beralkohol favoritnya.
"Kamu udah mulai jadi anak pembangkang? Hm?" Tanya sang Ayah dengan nada lirih namun terkesan menakutkan, apalagi saat ini sang Ayah tengah menikmati minuman haram itu. Dilihat dari sorot mata sang Ayah yang sudah mulai sayu, Nathan harus lebih waspada jika sang Ayah sudah dalam keadaan seperti itu.
"Guru privat kamu laporan ke Ayah kalo kamu sudah bolos satu hari". Katanya masih santai. "Kamu ke Jogja kan?"
"Tapi kan Nathan udah bilang waktu itu kalo Nathan mau ketemu bunda! Kalau pun Ayah gak izinin, Nathan juga bakalan tetep pergi."
"Harusnya kamu jadi anak yang penurut"
"Kurang nurut apa lgi sih Nathan, Yah?" Nathan memberanikan diri untuk menatap mata sang Ayah. "Padahal Nathan udah nurut banget loh selama ini, selama 22 tahun Nathan hidup, selama itu juga di atur sama Ayah. Nathan sama sekali gak pernah di beri kebebasan. Ayah gak pernah kan tanya pengennya Nathan apa? Semua yang Nathan lakuin itu semua keinginan Ayah".
"Mahendra pasti udah ngajarin kamu hal yang gak bener kan?. Udah Ayah bilang Mahendra itu penghasut dia tuh bisanya cuma ngerusakin otak kamu." Ayah masih berbicara dengan nada yang sangat santai, namun mengapa rasanya sangat menyakitkan saat masuk kedalam telinga Nathan.
"Harusnya dulu Ayah gak ngizinin Mahendra tinggal disini" katanya lagi sesaat setelah menuangkan botol vodca kedalam gelas yang berada di meja kecil tepat di depan kamar pria paruh baya itu.
Pria dewasa berpawakan lebih besar dari Nathan itu kembali meneguk minumannya, "mulai besok kamu harus pindah kampus."
Nathan tercengang seketika membulatkan matanya memandang punggung lebar milik Ayahnya. "Tapi kenapa? Nathan pengen lulus di kampus itu"
"Biar kamu lebih fokus sama masa depanmu, Ayah gak mau kamu jadi anak pembangkang kayak Mahendra! Kamu seharusnya memang tidak pernah dibiarkan untuk hidup berdampingan dengan anak itu."
Nathan semakin melebarkan matanya saat memandang tubuh besar itu memutar tubuhnya, "Ayah bilang kayak gitu karena Ayah gak pernah mengenal bang Mahen. Justru Nathan lebih baik kalo hidup sama bang Mahen, Nathan pengen hidup bebas kayak bang Mahen.!"
Plakk...
Pria paruh baya itu lantas menampar pipi sebelah kiri Nathan. Pria itu hanya memasang wajah datarnya, "Jangan bikin Ayah kesal, Nathan".
Mata Nathan bergetar setelah melihat perubahan dari raut wajah sang Ayah, anak itu terlihat melangkah mundur saat melihat Ayahnya berjalan mendekat kearahnya.
"Ayah harap kamu bisa berfikir lebih baik lagi" sang Ayah mencengkram erat rahang putranya. Matanya berubah menyalang, kini pria dewasa itu lupa bahwa Nathan adalah aset satu-satunya. "Hari ini kamu diam di rumah saja. Ayah akan mengurus kepindahan mu"
Sang Ayah menepuk pelan pipi putranya kemudian tersenyum setelah melepaskan cengkramannya. Nathan menggeleng disertai dengan mata yang mulai berair meraih tangan besar sang Ayah.
"Jangan pancing Ayah, Nathan!"
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Pagi ini Mahendra menilik kedalam kamar Gantari kembali, setelah tadi malam ia sempat memasuki kamar Gantari untuk mengambil laptop yang lupa tidak ia ambil kemarin malam. Karena seingat Mahen, laptopnya itu masih berada di kasur gadis itu. Jadi daripada mengganggu tidur Gantari lebih baik Mahendra mengambilnya lalu ia bawa pulang. Takut-takut jika nantinya benda itu kena tendang oleh Gantari sewaktu gadis itu menggeliat kan Mahendra tidak tau. Yang ada malah laptop satu-satunya itu terjatuh dan rusak kan Mahendra juga yang rugi.
Gantari masih terlelap padahal ini sudah menunjukan pukul setengah 7 pagi. Niat Mahen mendatangi rumah Gantari adalah untuk mendapatkan sarapannya tapi sepertinya pria itu menjadi urung karena melihat Gantari tidur dengan tenang itu. Karena seingat Mahendra gadis itu ada kelas pagi hari ini, tapi daripada Mahendra mendapatkan semburan tak mengenakan dari gadis itu ketika membangunkannya lebih baik ia tidak mengganggu tidur Gantari.
Merasa tidak mendapatkan apa-apa, pria itu memilih untuk langsung berangkat ke kampus alih-alih untuk sarapan terlebih dahulu.
"Lah? Cepet amat lu pada sampenya." Seru Mahen yang sudah tiba di kantin dan menemukan kedua temannya yang sudah duduk menunggu seraya memakan kue pukis yang tadi sempat mereka beli.
"Lo nya aja yang lelet, Lagian ngapain coba motor butut gitu masih lo pertahanin, mendingan di ganti sama motor Aerok udah jalannya cepet bahenol lagi" cela Lukas di sela-sela kunyahannya.
Mahendra kemudian mengambil duduk di sebelah Dirga, "kok malah jadi body shaming motor gue."
"Bukannya body shaming, itu motor udah tua kasihan kalo lo tunggangin terus" sela Dirga.
"Di museumin aja napa Hend, tuh kayaknya kalo di lelang pun kagak ada yang mau beli" gelak Lukas, ia tidak tahu saja berapa harga motor antiknya itu. Kalaupun murah ataupun tidak berharga di mata teman-temannya tapi benda itu akan tetap berharga di mata Mahendra.
"Motor motor gue kenapa lu pada yang rempong nyuruh museumin" sewot Mahendra, agaknya dia kali ini sudah mulai sensi mengapa semua orang menyuhnya untuk memusiumkan motornya.
"Eh, Hen. Btw tengkyu yah akhirnya gue bisa jalan sama Keshwari" kata Lukas pada Mahen yang tengah memakan nasi gorengnya.
Dirga mendekik, "kapan?"
"Sore ini, doain yah bestie semoga lancar jaya"
Mahendra hanya menyunggingkan senyumnya. "Cepet amat lo mainnya, tau-tau udah ngegebet aja"
"Coba aja dari dulu lo ngasih nomernya Keshwari ke gue, pasti sekarang udah sat set sat set macarin dia"
Dirga tergelak, ia menyomot kue pukis milik Lukas,"Tapi gue rada gak ikhlas sih kalo lo sampe jadian sama Keshwari " pikir Dirga setelahnya yang membuat Lukas seketika nyolot.
"Lah ngapa ngabb?"
"Ya masa Keshwari dapetnya manusia bentukan kaya lo, kan kasihan nanti masa depanya yang tadinya cerah jadi suram gegara lo" cerca Dirga lantas membuat Lukas tersinggung kemudian meneplak belakang kepalanya.
__ADS_1
"ANJIR!!!"
Mahendra hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua sohab nya yang tengah berkerah kecil itu. Ia terkekeh melihat Dirga yang terus terusan menggoda Lukas kalau nantinya pria itu tidak akan berhasil mendapatkan cintanya Keshwari. Bukan hanya itu, Dirga juga terus terusan mencomoti kue pukis milik Lukas. Tidak apa anggap saja perkerahan kecil mereka adalah sumber pengalihan pikiran Mahendra.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Jika saat ini kenyataan sangat jauh dari keinginan-keinginanmu yang sudah kamu rangkai semalaman. Mungkin Tuhan sedang menundanya, agar hal-hal yang lebih baik bisa datang terlebih dahulu.
Semua manusia berhak menikmatinya, hanya saja cara mereka berbeda. Akan sangat keren jika kamu menerimanya dengan lapang dada, menikmati apa saja yang telah Tuhan berikan.
Gantari sampai di kampusnya sekitar 15 menit yang lalu, ia menjadi ketinggalan kelas paginya akibat dirinya bangun kesiangan. Tidak biasanya ia tidur selelap itu, padahal gadis itu sangat jarang sekali tertidur dengan tenang karena dengan sangat pasti ia akan terbangun antara jam 3 sampai subuh dan berakhir tidak tertidur kembali.
Mungkin efek kecapekan karena banyaknya tugas yang harus ia selesaikan kemarin, sangat beruntung juga Gantari mempunyai Mahendra yang membantunya untuk mengumpulkan bahan dan data kemudian mereview kembali materi yang di berikan oleh Tiyan. Sampai dirinya ketiduran dan membiarkan Mahendra menyelesaikan semuanya sendiri.
Hal yang membuat Gantari merasa aneh, mengapa Mahendra tidak membangunkan dirinya padahal hampir setiap pagi pria itu akan menggedor gedor kamar milik Gantari sekalipun di hari liburnya.
Gantari kini berjalan menuju gedung seminar seraya mengecek kembali isi tas nya. Di salah satu lorong ketika ia hendak berbelok ia di kejutkan oleh manusia menyebalkan yang pernah hidup di muka bumi.
"Woyy!!"
Gantari terlonjak saat menemukan Mahen yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Gadis itu terkejut, ia hampir saja terkena serangan jantung.
"Kampret!!!"
"Ih, cantik-cantik sukanya ngomong kasar"
"Ya elu juga ngapain ngagetin, anak dakjal!!!"
Seperti nya Gantari harus cepat-cepat menarik lagi kata katanya kemarin ketika berada di pantai bahwa ia mulai menyukai Mahendra, sungguh Mahen lebih menyebalkan dan mengesalkan dari pantai. Dan ia juga harus membatalkan satu kata pujian bahwa ia beruntung memiliki Mahendra jika akhirnya pria ini kembali bertingkah menyebalkan.
Gantari kembali melangkah seraya menetralkan nafasnya karena terkejut tadi. Merasa bodo amat melihat Mahendra yang mengikutinya dari belakang.
"Nih!" Seru Mahen seraya menyodorkan satu botol fruitea rasa blackcurrant dari dalam tasnya.
Gantari menghentikan langkahnya sejenak, "Lo lagi gak nipu gue kan?" Tanya Gantari ragu untuk meraih minuman itu. Ia tengah belajar dari kejadian yang sudah sudah.
"Ya elah, suudzon mulu lo jadi cewek"
"Ada racun nya gak nih? Nanti yang ada gue pingsan, nanti gue di apa-apain lagi"
Gue udah ngapa-ngapain lu kemaren juga Gantari. -batin Mahendra seraya menahan senyumnya.
"Ini masih segelan Gantari, ngapain juga gue ngeracunin cewek kaya lo. Kalo udah di buka emang kenapa sih, palingan bekas bibir gue."
"Justru karena bekas bibir lo itu yang bisa ngeracunin gue!"
"Mencurigakan banget muka lo" perlahan Gantari meraih botol yang berada di genggaman Mahen, namun matanya masih menelisik pada wajah mencurigakan Mahendra.
"Kalo gak mau ya udah sih," ujarnya seraya menarik kembali botol fruitea di genggamnya.
"Lo ikhlas gak sih ngasihnya!?"
"Enggak" Mahen menggelengkan kepalanya.
"Bangsat! Anak Anjing emang!!!"
Gantari geram lalu menonyorkan kepala Mahen cukup keras dan membuat sang empu berhasil terhuyung ke belakang. Gadis itu berlalu dengan raut wajah kesalnya.
Untung saja pria ini tidak jatuh kedalam semak-semak yang berada di tepi koridor. Walaupun area ini sepi, tapi akan jadi fitnah jika ada orang yang melihatnya keluar dari semak-semak. Dikira Mahendra melakukan hal yang iya-iya. Padahal kan- iya.
Mahen tergelak, suasana hatinya setidaknya kembali cerah saat menjahili Gantari.
Gantari kesal, ternyata Mahen mengikuti nya sampai di depan ruang event Seminarnya.
"Lo, mau ngapain sih?" Gantari geram menghentikan langkahnya berbalik dan menatap Mahen yang masih berjalan sampai melewatinya.
"Gue mau masuk, wle" tangkas Mahen seraya menjulurkan lidahnya sedikit kemudian memasuki ruangan.
Jika saja tempat ini adalah tempat sepi, Gantari ingin sekali menonjok dan mencakar wajah Mahendra yang sungguh mengesalkan itu. Saat ini ia hanya bisa menahan gejolak rasa ingin membunuhnya.
Telah banyak Mahasiswa yang sudah hadir, ekor mata Gantari terus menatap Mahen yang sudah duduk di kursi paling belakang dengan snack dan softdrink yang sudah tersedia di depannya.
Agaknya semua kursi sudah berpenghuni, hanya menyisakan satu kursi tepat di samping Mahen. Gantari menghela nafas berat dan melangkah malas.
"Kagak usah di tekuk gitu mukanya!!" Ledek Mahen.
"Bisa diem gak?" Sungut Gantari dengan nada berbisik.
Mahen hanya tergelak lalu tersenyum.
Biarkan saja mungkin Mahen mengikuti event ini agar bisa makan snack dan softdrink gratis terbukti dengan Mahen yang tengah menikmati risol solo di tangan satu dan yang satu lagi memegang lontong.
Event kampus yang dihadiri banyak mahasiswa dari berbagai jurusan. Sebenarnya ini lebih ke pertemuan untuk lebih bersosialisasi antar fakultas. Tidak semua hanya perwakilan dari setiap fakultas saja. Gantari termasuk salah satu Mahasiswi yang ditunjuk untuk menghadiri Event ini sebagai wakil dari kelasnya menggantikan Tiyan yang tidak bisa menghadiri dikarenakan ikan ****** di rumahnya mati.
Lalu apa urusannya dengan Gantari? Hanya gegara ikan cupangnya Tiyan mati, ia harus bertemu dengan orang banyak. Terlebih dengan manusia satu ini, Mahen memang berisik dimana saja.
__ADS_1
"Tau gak sih, tadi Lukas nyungsruk ke got depan fakultas kedokteran. Hahaha" celoteh Mahen sambil berbisik seraya terkekeh kecil.
Gantari menjadi tidak fokus dengan apa yang di sampaikan pembicara, suaranya sungguh bersahut-sahutan dengan suara Mahen di sampingnya.
"Terus kan,-"
"MAHEN LU BISA DIEM GAK SIH!!!" Teriak Gantari menatap Mahen yang tersentak, lalu seperkian detik kemudian dia bungkam dirinya sudah menjadi pusat perhatian seisi ruangan.
"Ada apa?" Tanya satu pembicara di depan.
Gantari gelagapan merasa malu karena teriakannya tadi membuat seisi ruangan menatapnya.
"Eh, enggak kak.. maaf" jawab Gantari nyengir kuda seraya menutup mukanya dengan soft drink di depannya.
Mahen yang di sampingnya terkekeh seperti tidak ada rasa bersalah telah mengganggu Gantari.
"Kalo lu brisik lagi, gue geplak sumpah!!! Gue lakban mulut lo biar gak nyerocos mulu!" Geram Gantari sedikit berbisik masih penuh penekanan.
Dan Mahen hanya menaik turunkan alisnya dengan senyum yang menurut Gantari sangat menggelikan.
Satu pesan masuk membuat Mahen yang tadi tersenyum manisnya mendadak memudar menjadi senyum kecut disertai dengan decakan kecil.
From: no name (12 pesan belum di baca)
Dia tidak ada niat sama sekali untuk membalasnya. Dia hanya membacanya saat notifikasi itu muncul pada ponsel yang di genggamnya.
Pesan-pesan yang ia biarkan menumpuk seakan pesan dari orang ini adalah sampah baginya.
Ponselnya bergetar kembali menampangkan satu notifikasi pesan lagi pada layarnya.
Mahen, pria ini hanya menarik sudut bibirnya seakan semua hal itu percuma saja dilakukan.
Nyatanya semenjak kepergiannya dua tahun lalu, membuat ponselnya tidak pernah sepi. Spam dari pria ini tidak pernah ia balas sekalipun, telepon juga tidak pernah ia angkat.
Ingin sekali dia memblok nomor ini, tapi beberapa kalipun Mahen mencoba memblok, pria ini selalu menghubunginya dengan nomor yang berbeda.
Kenapa Mahen tidak mengganti nomor nya saja? Itu lebih mudah bukan?. Bisa saja, hanya Mahen yang terlalu malas untuk berganti-ganti nomor jika hanya untuk menghindari spam dari anak ini.
Notifikasi kembali muncul di layar, kini sudah tertera 20 pesan belum terbaca namun dari nomor yang berbeda. Ia sudah tau siapa pemilik nomor baru itu.
Mahendra membuka pesan dari nomor yang tidak ia kenal, kemudian dengan sekelebat matanya menjadi tegas saat membaca beberapa pesan itu.
Mahen menghela nafas berat, matanya seakan mencari seseorang karena satu hal yang tidak mungkin jika orang yang di carinya tidak hadir dalam acara seperti ini. Sampai akhirnya pandangan mata Mahendra mengarah pada sosok perempuan yang duduk di bangku yang tidak jauh di depannya. Mata mereka sama sama bertemu dengan tatapan yang penuh ke khawatiran.
Event kampus ternyata sudah selesai sejak 10 menit yang lalu.
Mahen bangkit tak lupa meraih snack dan softdrink yang masih bersisa sampai akhirnya ia meninggalkan Gantari tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gantari yang melihat perubahan sikap Mahendra merasa aneh, ia lantas bergegas kemudian bangkit sedikit berlari mengejar Mahendra.
Dengan santai Mahen berjalan meninggalkan area kampus lalu membuang bungkus snack dan softdrink nya ke tempat sampah. Langkahnya terhenti saat seseorang menahan tangannya.
"Lo kenapa?" Tanya Gantari setelah ia berhasil meraih tangan Mahendra.
Pria itu jelas bingung dengan pertanyaan Gantari, "gak papa, kenapa emangnya?"
"Lo, tiba-tiba ngibrit keluar ruangan event gak ngomong apa-apa sama gue." Ucap Gantari masih menggenggam lengan pria di depannya.
"Lah?" Mahendra tiba-tiba tergelak melihat wajah Gantari yang khawatir. "Tadi katanya gue gak boleh ngomong"
Gantari mengulum bibirnya, kemudian keduanya di kejutkan oleh sosok perempuan cantik yang berjalan dengan terburu-buru menghampiri mereka.
"Mas Mahen!" Panggil perempuan itu setelah dirinya sampai, Keshwari sedikit terkejut saat mengetahui keberadaan Gantari yang berada di samping Mahendra.
Mata Keshwari bergulir menatap tangan Gantari yang masih menggenggam tangan Mahendra, sontak membuat Gantari salah tingkah lalu dengan cepat ia melepaskan genggamannya.
"Eh, maaf ada mbak Gantari juga" ucap Keshwari membuat Gantari membulatkan matanya seakan tidak percaya bahwa Keshwari si kembang desa fakultak kedokteran mengenalnya.
"Mas, bisa bicara bentar gak?" Tanya Keshwari beralih menatap kearah Mahendra.
"Plis jangan ngehindar lagi, Mas" lirih Keshwari, nafasnya kini memberat seakan ia juga tengah membawa beban. Ia tidak akan pernah bisa berbuat apapun tanpa Mahendra.
Mahendra mencelos merasa sudah lelah saja, kemudian pria itu berbalik seraya meraih tangan Gantari, ia berjalan meninggalkan Keshwari. Gantari yang mendapat perlakuan seperti itu jelas merasa bingung sebenarnya ini ada apa?.
"Mas Mahen, aku yakin Mas Mahen gak bakalan diem aja!" Teriak Keshwari seraya memperhatikan Mahendra yang berjalan menjauh.
Di detik kemudian Mahendra mendengus kasar setelah mendengar teriakkan Keshwari lalu ia melepas genggamannya pada Gantari kemudian berbalik berjalan menghampiri Keshwari yang sedang terengah.
"Ikut gue!" Perintah Mahendra seraya menarik tangan Keshwari, keduanya berjalan menuju parkiran mobil tempat dimana mobil gadis itu berada.
Gantari hanya bisa menyaksikan Mahendra yang duduk di kemudi setelah menerima kunci dari Keshwari. Matanya mengikuti arah mobil itu keluar meninggalkan kampus, Gantari memandang laelat mobil berwarna biru laut itu dengan rasa penasaran hingga mobil itu tidak terjangkau lagi dari sepasang matanya.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
__ADS_1