JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
09. Mahendra Sakit.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Mahendra sedikit menggeliat, kakinya dirasa semakin dingin dan lembab. Matanya entah mengapa menjadi sangat berat, ia membuka matanya perlahan dengan susah payah lalu pandangan pertama yang dilihat adalah punggung perempuan yang tengah terfokus pada luka di kakinya.


Ternyata benar dia sedang tidak bermimpi, Mahendra merasakan sentuhan itu dengan nyata. Ia kemudian mengangkat ujung bibirnya mengukir senyum, rasanya sangat nyaman sekali. Rasa yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Ia membiarkan beberapa saat menikmati punggung sempit perempuan di depannya.


"Bund..." Lirih Mahen pada perempuan yang berada di depannya. Punggung itu kemudian berbalik menampilkan sosok yang berbeda, sosok yang sangat jauh berbeda dengan apa yang kini tengah pria itu bayangkan, hal itu jelas membuat Mahen sedikit mengerutkan keningnya walaupun kini dahinya tengah tertutupi handuk kecil.


"Gantari?" Mahendra sedikit bingung, mengapa bisa gadis itu berada dikamarnya, padahal jelas tadi sebelum ia tertidur, dirinya melihat Gantari keluar dengan raut wajah kesal dan dongkolnya.


"Apa!?" Ketus Gadis itu, Mahendra hanya tergelak getir merasa telah salah sangka. Lalu merutuki dirinya sendiri, tidak mungkin jika orang yang sangat dirindukan itu hadir disini. Raganya sudah lama mati.


Mahendra sedikit menaikan tubuhnya berniat mengambil posisi duduk lalu bersandar pada kepala ranjang dibantu oleh Gantari yang sigap.


"Makan dulu!" Perintah Gantari dengan nada yang masih ketus, kemudian dia meraih bubur buatannya yang berada diatas nakas tepat disamping ranjangnya, lalu sedikit mengaduk kembali buburnya.


Jelas Mahendra yang tengah diperlakukan seperti itu menjadi terkekeh samar merasa seperti ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu, sejak kapan Gantari menjadi seperhatian ini?. Tapi tidak apa, tidak baik juga mengatai orang yang tengah mencoba bersikap baik pada dirinya.


"Gak usah salah paham lo, tadi gak sengaja aja gue nemuin lo lagi sekarat waktu mau ngambil HP gue yang ketinggalan di meja" disela-sela ia mengaduk, Gantari seakan mengerti apa yang tengah di fikirkan oleh Mahen.


Dan yang dikatakannya itu memang benar adanya, Gantari baru menyadari bahwa Ponselnya tertinggal di meja belajar Mahen. Mau tidak mau Gantari harus kembali lagi kerumah Mahen setelah ia mengangkat jemurannya lalu memasukannya terlebih dahulu kerumahnya sebelum ia memasuki rumah Mahen.


Namun saat ia sudah berhasil mengambil ponselnya, ia merasa ada yang aneh dengan Mahen, awalnya ia masa bodo dengannya karena tertidur dengan satu sepatu yang masih terpakai di kakinya.


Tetapi disaat dirinya ingin keluar dari kamar itu, Gantari mendengar suara ******* Mahen yang terdengar bergetar, ia menjadi urung untuk keluar saat melihat Mahen tidur dengan menggeliat tak nyaman. Dan ketika ia mendekatinya pria itu sudah di penuhi dengan peluh hingga membasahi kemeja dan kaos yang dia kenakan.


Pria itu demam, Gantaripun sangat terkejut saat menempelkan punggung tangannya pada kening Mahendra. Sangat panas.


Ia baru pertama kali melihat Mahendra dalam keadaan sakit seperti itu, mengigau dan bergerak tak nyaman.


Ingat, Gantari juga punya hati nurani dan ia tidak akan tega ketika melihat pria yang selalu mengganggu dan membuatnya kesal setiap hari terkapar tak berdaya, apalagi dia kini tengah sendirian.


"A!" Perintah Gantari pada Mahen memberi isyarat agar pria itu membuka mulutnya.


Gantari menyuapi Mahendra dengan telaten, keduanya menjadi hening hanya ada suara sendok dan piring yang tengah beradu. Mahendra pun sama sekali tidak ada mengeluarkan kalimat apa-apa, ia hanya mengunyah pelan buburnya dan memandang lekat Gantari yang tengah merawatnya.


Gantari yang sadar tengah di perhatikan itu merasa tidak nyaman, "gak usah di liatin gitu, iya gue tau lo pasti heran liat gue kayak gini". Tangan gadis itu beralih menyuapi Mahen kembali. "Lo tuh kampret, lo emang juaranya bikin gue kesel. Tapi gue juga manusia, gak tega kalo liat ada orang sakit hidup sendirian kayak lo"


Pria itu masih terdiam tatapannya teruh masih menatap Gantari, membuat gadis itu geram ia seakan sedang berbicara sendiri karena Mahen tak menanggapinya sama sekali, "Lagian lo batu pake acara gak mau kerumah sakit, kan gue juga yang repot!"


Mahendra hanya terkekeh menahan senyum mendengarkan omelan Gantari,


Gadis itu mengulurkan punggung tangannya kembali pada kening Mahen membuat pria itu sontak memejamkan matanya. Gantari mengecek suhu tubuh Mahen, memeriksa apakah panasnya sudah turun ataukah belum.


"Hhhh, padahal gue udah pake air Es tapi kok masih panas gini ya" Desis Gantari seraya menarik kembali tangannya.


"Masih pusing gak?" Tanya gadis itu, entah mengapa Gantari menjadi sangat cerewet membuat Mahendra terkekeh untuk kesekian kalinya. Lalu pria itu menggeleng lemah sebagai tanggapan.


Gantari mengulum bibirnya, "padahal masih panas loh ini,".

__ADS_1


Ini benar, Mahendra merasa pusingnya sudah menghilang sejak ia membuka matanya tadi.


Gantari kemudian melanjutkan menyuapi Mahen sampai buburnya benar-benar habis. "Diminum dulu obatnya habis itu tidur lagi"


Gantari beranjak membawa piring kotor dan baskom berisikan air, "Gue pulang dulu, kalo ada apa-apa telpon gue aja"


Setelah memberikan beberapa pesan kepada Mahendra, gadis itu berjalan keluar namun langkahnya menjadi terhenti ketika mendengar suara serak Mahen yang memanggilnya, lantas gadis itu membalikan tubuhnya lagi.


"Gan..."


"Hm?"


"Lo yang ngegantiin baju gue juga tadi?"


..._________________//&//__________________...


..._________________//&//__________________...


Kepala Mahendra menjadi semakin pening saja, bukan karena efek demamnya semalam. Tapi ini gegara banyaknya orang yang tengah menjenguknya, kamarnya di penuhi oleh ibu-ibu yang sering mangkal membeli sayur di mobil baknya pak Paijo sampai pak Paijo nya saja ikut menjenguknya.


Ia juga masih belum paham dari mana para tetangganya itu mengetahui jika Mahendra sedang sakit. Apa mungkin Gantari yang memberi tahu para ibu-ibu ini ketika ia sedang berbelanja sayur tadi pagi?.


Selain itu, kini juga semakin lengkap ditambah kehadiran ketiga temannya yang entah sejak kapan mereka mengetahui bahwa dirinya tengah sakit.


"Mas Mahen, mau saya kupasin apel gak?" Tawar bu Rondo dengan rambut yang telah tekonde menghiasi kepalanya.


Mahendra jelas menolaknya, karena tidak ingin merepotkan tetangganya itu. "Gak usah bu, terimakasih. Nanti biar saya sendiri aja" kikuk Mahen sedikit tersenyum, lalu membenarkan duduknya mencari posisi ternyaman.


Ketiga temannya yang berada di atas kasur tepat di samping Mahen hanya bisa menahan tawanya. Awas saja nanti jika Mahendra sudah sehat kembali akan dipastikan bahwa mereka tidak bisa menertawakannya lagi.


Setelah lama berada di dalam kamar Mahen akhirnya semua tamu tak diundang itu pergi juga, hanya tersisa ketiga temannya saja.


"Baru juga ditinggal satu hari sama gue udah sakit aja lo, Hen." Ujar Lukas di sertai dengan kekehan lalu berjalan menghampiri Mahendra setelah ia menutup pintu dengan rapat.


Mahendra merinding, "Najis banget!".


"Bilang aja lo kangen kan sama kita" timpal Dirga seraya memakan Apel hasil kupasannya Bu Rondo tadi.


"Males banget gue kangen sama lo pada!" Gerundel Mahendra.


"Lo pada kagak pada ngampus?" Tanya Mahen, "Lo juga Yan, bolos lagi?"


Yanuar yang tengah duduk di kursi belajar milik Mahen hanya menyengir tanpa dosa seraya menyeruput susu Indomilk nya.


"Enggak Mahen, kita harus banget jagain lo karena Gantari lagi ada kelas jadi gak bisa ngejaga lo 1 x 24 jam" terang Lukas yang langsung mendapat anggukan dari Dirga dan Yanuar.


"Gue bukan anak kecil btw"


"Tapi lo baby buat kita, utututu sayanggg" lanjut Lukas seraya mengunyel-ngunyel pipi Mahen yang sontak membuat Mahendra bergerak gelisah.


Ini Lukas sebenarnya kenapa sih, apa dia tengah kerasukan setan Solo? Ngeri sekali melihat Lukas yang mendadak memeluk dan mendusel Mahendra seperti ini.

__ADS_1


Hey!!! Mahendra ini hanya demam biasa, bukan sedang sekarat. Kini Mahendra hanya bisa pasrah, tubuhnya semakin panas saja karena Lukas.


"Bang-" panggil Yanuar yang entah sejak kapan sudah berpindah duduk di tepi ranjangnya. Karena merasa terpanggil Mahendra lalu menatap Yanuar menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan Yanuar.


Yanuar terlihat gugup, "i-itu...."


"Apa sih Yan?"


Pemuda itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal mencoba memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. "I-itu..."


Dirga yang sedari tadi diam menjadi geram melihat Yanuar terus terusan menggantungkan kalimatnya. "Apa sihhh? Ngomong tuh jangan di gantung mulu"


"I-tu bang... Gue boleh gak minta roti bolu pisangnya" ujar Yanuar seraya melirik sekotak bolu pisang di atas nakas yang sama sekali belum tersentuh oleh siapa pun.


Mendengar hal itu, sontak membuat ketiga abangnya tergelak melihat betapa konyalnya Yanuar.


"Ya kalo mau, ya tinggal makan aja Yan. Kek lagi di tempatnya siapa" kata Mahendra masih dalam keadaan tergelak. "Kalo perlu habisin"


"Abang gak mau?" Tanya Yanuar.


Mahendra menggeleng, "gak suka pisang"


"Sukanya apa dong?" Tanya Lukas melirik Mahendra penuh arti.


"Tempe..." Tungkas Dirga lalu tergelak setelahnya.


Jujur saja sejak tadi Yanuar sedang kelaparan karena tidak sempat sarapan di rumahnya. Niatnya tadi ingin sarapan di kantin sekolah, tetapi setelah mendapat kabar dari Lukas bahwa Mahendra sedang sakit dia langsung saja bergegas menuju rumah Mahendra dan melupakan sarapan paginya.


"Lo belum sarapan Yan?" Tanya Lukas pada Yanuar yang kini tengah menikmati sepotong roti bolunya.


Yanuar itu hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Harusnya tadi sarapan dulu!" Ujar Dirga.


"Gak sempet, tadi waktu bang Lukas telpon itu gue emang mau sarapan di Kantin"


Padahal ditelepon tadi niat Lukas hanya ingin memberitahukan kabar itu saja dan tidak ada niatan menyuruh Yanuar untuk kerumah Mahen. Jika ingin menjenguk kan setelah sekolah juga bisa, para Abangnya juga pasti akan memahami hal itu.


"Sarapan dulu gih, tadi Gantari sebelum berangkat ke Kampus udah nyiapin lauknya di meja makan" Suruh Mahendra pada Yanuar yang sudah menghabiskan sekitar 3 potong bolunya.


Yanuar lalu tersenyum lalu bergegas beranjak menuju dapur milik Mahendra.


Ketiga manusia yang tersisa di kamarnya hanya memandang lamat pada punggung Yanuar yang kian menjauh.


"Gue khawatir nanti dia diomelin lagi sama bapaknya." Lirih Mahendra.


..._________________//&//__________________...


..._________________//&//__________________...


__ADS_1


__ADS_2