
...
...
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Gantari menghela nafasnya lega karena kelasnya baru saja berakhir, ia keluar dengan penuh senyum. Tidak tau mengapa, rasanya ia memang hanya ingin tersenyum saja.
Jangan bertanya alasannya, jika kalian sudah tau jawabannya.
Gadis itu berjalan keluar area kampus, dari kejauhan ia sudah melihat bulu hidung Mahendra. Pria itu sudah menunggu Gantari tepat di halaman kampus.
Tapi tunggu dulu, apa itu Mahendra tetangganya? Nampaknya sangat berbeda dengan yang terakhir kali Gantari lihat. Mengapa gaya rambutnya seperti itu? Rambutnya sudah tidak lagi gondrong.
Pria itu lantas tersenyum sangat cerah saat matanya bertemu dengan Gantari, sangat jelas membuat gadis itu tegang salah paham. Gantari kemudian menoleh ke belakang, siapa tahu kan ada Keshwari di belakangnya yang membuat Mahendra tersenyum sangat cerah seperti itu.
Tidak ada, tidak ada seorangpun di belakangnya. Dan memang benar bahwa Mahendra tengah tersenyum ke arahnya, sungguh pemandangan yang sangat langka.
"Hai..." Sapa Mahendra masih dengan senyum yang merekah.
Gantari semakin terpaku, apa ada yang salah dengan Mahendra?. Tidak biasanya pria ini menyapanya seperti itu.
"Lo, potong rambut?" Tanya Gantari sesaat setelah ia sampai tepat di depan Mahendra yang sedang duduk di motornya.
Mahendra tersenyum kembali, "iya, gimana? Lo suka?"
Oh ****, we are in love?
Gantari kali ini tidak dapat menjawabnya, ia semakin terpaku pada penampilan Mahendra. Sungguh dalam jarak sedekat ini ia dapat merasakan hati dan jantungnya semakin berdegup. Sejak kapan Mahendra cocok dengan model rambut pendek seperti ini?.
"Enggaklah buat apa gue suka sama lo"
Mahendra mencibir, "bilang aja iya, gue gak bakalan nolak juga"
Gantari berdecih, padahal di dalam hati kecilnya ia tengah menahan gejolak rasa yang ia saja tidak tau perasaan apa itu. "Lagian ngapain lo potong rambut gini, gak cocok tau gak?!".
"Kan biar lo jatuh cinta"
"Dihh, najis"
"Serius loh Gan. Masa lo gak jatuh cinta sih sama rambut pendek gue???. Padahal tadi nenek lo hampir serangan jantung gegara liat gue yang ganteng ini"
Gantari mendelik, "emang udah gila lo!". Apa apaan Mahendra ini sampai membuat Neneknya hampir terkena serangan Jantung lagi.
"Bukannya sekarang lo yang gila ya?" Tanya Mahendra membuat Gantari sedikit menautkan alisnya.
"Hah?"
"Tuh, pipi lo udah merah" ledek Mahendra semakin tersenyum saat melihat pipi Gantari yang sudah merona. Sungguh sedari tadi Mahendra tengah menahan agar dirinya tidak tertawa melihat Gantari yang terlihat begitu menggemaskan.
Gadis itu kemudian menangkup kedua pipinya, masa iya sampai merah. Ah, mungkin Mahendra ini hanya ingin mengerjainya.
"Apa perlu gue ngelakuin ini juga biar bisa ngeliat lo kayak gini terus?" Tangan Mahendra terulur ikut menangkup kedua pipi Gantari sampai bibirnya mengerucut.
Melakukan apa? Apa yang akan Mahendra lakukan? Mata Gantari mengerjap saat melihat Mahendra dalam jarak yang sedekat ini, ia sama sekali tidak dapat membalas tatapan Mahendra yang entah mengapa menjadi sangat inten.
"Padahal gue berharap banget tadi lo bisa Jatuh cinta sama gue" tiba-tiba Mahendra memasang wajah cemberutnya, kedua tangannya terlepas lalu beralih meraih helm kemudian di pakaikan dengan cantik di kepala Gantari.
Gantari membeku melihat pergerakan Mahendra yang kini tengah mengaitkan kancing helm, tatapan Gantari terpaku untuk beberapa detik. "Mahendra, gue udah jatuh cinta sama lo"
"Jangan gemes-gemes Gan, entar malah gue yang jadi makin Jatuh Cinta sama Lo" ujar Mahendra, seraya menepuk pelan Helm yang sudah terpasang di kepala Gantari. Pria itu tersenyum setelahnya.
"Yukk naik, kita pulang" wajah cemberut Mahendra kini sudah tergantikan dengan wajah penuh semangat, hal itu mampu membuat Gantari mengulum senyumnya untuk kesekian kalinya.
Jika boleh jujur, Gantari sungguh merindukan Mahendra. Lelaki itu sungguh manusia yang sangat berwarna.
Ia kini sudah Jatuh, tenggelam dalam segala palung hati miliknya.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Sudah sejak sore tadi Mahendra berada di kamar Gantari, terhitung sudah ada sekitar 4 jam Mahendra duduk dengan Laptop milik Gantari yang sedari tadi berada di hadapannya.
Jari besar Mahendra pun tidak ada hentinya mengetik berharap agar project milik Gantari dapat terselesaikan hari ini juga.
Dia sudah terlanjur berjanji pada Gantari untuk membantu gadis itu menyelesaikan tugasnya, tenang Gantari juga sudah cukup berusaha keras untuk tugasnya kali ini.
"Eh, gue lupa minta file dokumentasi sama kak Tiyan" Ujar Gantari setelah dirinya duduk tepat di samping Mahendra yang masih terfokus pada layar laptop nya.
Gadis itu meletakan beberapa potong bolu pisang dan segelas jus buah Naga di atas meja belajarnya sebagai tambahan cemilan.
"Dokumentasi apaan?" Tanya Mahendra sedikit menoleh pada Gantari lalu kembali terfokus pada ketikannya.
"Itu file dokumentasi yang ada di Nathan"
"Terus kenapa lo mintanya ke Tiyan?"
"Nathan udah gak kuliah lagi, jadi tadi katanya kak Tiyan yang mau mintain filenya ke Nathan" jelas Gantari, Mahendra hanya ber-oh sambil mengangguk.
"Gue jadi galau gegara Nathan pindahan, puyeng gak ada yang buat cuci mata"
Gantari sedikit menghela nafasnya seakan sebagian dari hidupnya hilang. Lalu matanya bergulir mengarah pada layar laptop dimana Mahendra tengah mengerjakan sesuatu disana, mengunggah foto dan video dokumentasinya. Tunggu dulu dari mana pria ini mendapatkan file yang bahkan Tiyan saja belum mengirimkannya.
"Lo kok bisa dapet file dokumentasi nya sih?" Tanya Gantari merasa penasaran bagaimana bisa Mahendra mendapatkan file dokumentasi milik Nathan.
"Dari Tiyan"
"Kok ngirimnya ke lo? Kenapa gak ngirim ke gue?"
"Ya, mana gue tau. Suka kali"
"Lo penganut bendera pelangi?" Gantari sedikit merinding pada Mahendra.
__ADS_1
Mahendra lantas menoleh pada Gantari dengan santai, "harusnya lo tanya begitu sama Tiyan, udah jelas-jelas gue sukanya sama lo"
Mata Gantari mengerjap mendengar penuturan Mahendra yang mungkin bukan pertama kalinya, bibirnya mengatup kemudian memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sungguh semakin tidak kuat saja jika bertatapan dengan Mahendra. Rasanya gila, apalagi dengan gaya rambutnya yang pendek dirasa sangat rapi dan cocok dengan Mahendra.
Mahendra tergelak, "gak papa kalo lo masih anggap ini bercanda Gan, tapi lo perlu tau gue gak pernah ngebohongin perasaan gue sendiri"
"Mahen" panggil Gantari setelah dirinya menyeruput sedikit jus buah naganya. Ia kemudian beralih menatap Mahendra yang sedari tadi sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
"Eum" pria itu berdehm.
"Lo - sama Keshwari pacaran?"
"Hah?" Mahendra sedikit ngeblank pada pertanyaan Gantari, namun detik kemudian ia tergelak. Bisa bisanya gadis di depannya ini menganggap bahwa Mahendra berpacaran dengan Keshwari, bisa di gebug masal sama Lukas.
"Kata siapa?" Lanjut Mahen masih dengan keadaan tergelak, kini ia merasa lucu saja.
"Ya, lo kemaren pegangan tangan sama dia terus pergi naik mobil berdua, udah gitu gue di tinggalin lagi" Tutur gadis itu suaranya terdengar jengkel.
"Lo cemburu?"
"Enggak"
"Lah terus kenapa kesel gitu?"
"Enggak, gue gak kesel. Kan gue nanya"
"Itu tadi bukan pertanyaan Gantari!" Singkap Mahendra.
"Gue nanya tadi, lo pacaran apa enggak sama Keshwari.? Lo nya malah ngah ngoh!"
"Kalo gue bilang iya, lo bakal percaya?"
Gantari menggeleng, "enggak"
"Yaudah"
"Iihhh, Mahendra. Iya apa enggakk??" Gantari agaknya mulai kesal.
"Tadi katanya lo gak percaya"
"Ya, masa lo bisa pacaran sama Keshwari sihh"
"Lah emang napa, gue ganteng ini."
"Aneh aja, masa iya lo pacaran sama Keshwari"
"Terus, lo maunya gue sama siapa? Sama lo? Ayok!" Ungkap Mahendra, kemudian berbalik kembali menghadap layar laptop.
"Serius Mahendra, sebenernya lo punya hubungan apa sama Keshwari???"
Mahendra menghela nafasnya menoleh kembali pada Gantari menatap begitu dalam gadis di depannya.
"Lo juga gak bakalan percaya kalo gue bilang Keshwari tuh sepupu gue"
"Hah?"
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Mahen benar-benar memenuhi janjinya, setelah projek satu minggu lebih 3 hari membuat makalah terselesaikan ia akan membawa Gantari berlibur ke Jogja.
Nenek Gantari pun sudah ada di Rumah sejak 2 hari yang lalu, syukurlah rumahnya menjadi tidak benar-benar kosong setidaknya ada orang yang menjaga rumah ketika Gantari pergi ke Jogja. Tenang, Gantari tidak sedurhaka itu meninggalkan neneknya sendirian mengurus rumah. Ia sudah siaga menghubungi sepupunya untuk menemani nenek untuk beberapa hari kedepan.
Raut wajah sumringah Gantari sangat terlihat hari ini. Mahendra ternyata sudah memesan tiket keretanya kemarin sepulang dari kampus. Lalu paginya ia datang kerumah Gantari alih alih bersilahturahmi dengan Nenek padahal tujuannya adalah meminta izin untuk membawa Gantari pergi ke Jogja. Entah sejak kapan Mahendra dan Neneknya menjadi sangat akur, padahal dulu mereka sangatlah tidak bersahabat.
"Kamu tau kan resikonya kalo cucu saya sampai kenapa napa" kata Nenek seraya menyiapkan sarapan.
"Tau nek, resikonya dilarang pake listrik di kontrakan."
"Bayar dulu bulan kemaren" Ujar beliau, tangannya terulur siap untuk menagih uang bulanan Mahen.
"Saya udah bayar Nek kemarin sama Gantari, segepok bayar buat 2 bulan ke depan juga" Tanggap Mahen dengan wajah terkejutnya, jangan-jangan uang yang sudah dibayarnya tidak Gantari sampaikan. Wahh bahaya, sekarang gadis itu sudah pintar menyelipkan uang Neneknya sendiri.
"Udah Gantari Tf ke rekening nya Nenek" Suara Gantari terdengar ketika ia keluar dari kamarnya seraya membawa satu koper kecil dan satu tas ransel coklat kecil dengan gantungan kunci molang favoritnya.
Mahen tersenyum melihat penampilan sederhana seorang Gantari yang berpakaian dengan nyaman menurut dia sendiri. Riasan di wajahnya pun hampir tidak kelihatan, seperti biasanya ia hanya memakai bedak dan liptint saja untuk mengisi warna di wajahnya yang mungkin akan terlihat pucat.
"Nanti kalo Gantari ngasih Cash, Nenek bisa kalap belanja"
"Pinter ya kamu, mentang mentang nenek gak bisa ngambil uang di ATM semua kamu Tf"
"Pake ATM LINK nek" bisik Mahen tangannya menyomot satu potong buah Naga.
"Apaan itu?" Tanya sang Nenek dengan memajukan kepalanya agar lebih mendengar apa yang Mahen katakan.
"Itu buat ambil uangnya biar Nenek gak ribet ambil di ATM. Di warungnya pak Haji Somad udah ada ATM LINK nya Nek" ucap Mahendra seraya tersenyum jahil, agaknya dia tau bahwa selama ini Neneknya Gantari tengah mengincar duda cucu satu.
Neneknya Gantari lantas ikut tersenyum penuh arti pada Mahendra, "Aduh, harus dandan dulu ini" setelahnya beliau pergi ke kamarnya bersiap-siap untuk mengambil uang di warungnya pak Haji padahal ada niat yang lain.
"Mahendra, inget Aturan tadi!" Lanjut Nenek kembali wanti-wanti pada Mahendra sebelum beliau benar-benar memasuki kamarnya.
Gantari hanya menghela nafasnya pasrah, setelah ini pasti neneknya akan langsung pergi ke warungnya pak Haji untuk mengambil uangnya.
Mahen benar-benar tidak ada akhlak.
"Yok" kata Mahendra mengambil alih membawa koper pada gengaman Gantari.
"Bentar, pake motor?" Tanya Gantari saat melihat Mahen menaruh kopernya di motor legend nya.
"Kenapa?"
"Emang gak susah? Lo gak bawa apa apa?"
"Enggak. Cepetan, keburu ketinggalan kereta"
__ADS_1
Gantari mendengus menaiki motor Mahen dengan penuh kesal. Mengapa mereka tidak memesan grabcar saja?. Mahendra sungguh sangat menyebalkan.
Di sepanjang jalan menuju stasiun Mahendra tidak ada habisnya menciptakan lelucon, mau tidak mau Gantari yang tadinya hanya terdiam dan masih merasa kesal jadi terbawa suasana.
Ini akan menjadi cerita baru untuk Mahendra, ia yang biasanya ke Jogja seorang diri kini ia membawa teman untuk sekedar diajak tertawa.
Sesampainya di stasiun keduanya menunggu kedatangan kereta sampai akhirnya mereka memulai perjalanan menuju kota Jogja.
Setelah beberapa jam perjalanan Gantari kegirangan memotret dan memvideo setiap tempat yang mereka lewati sebagai kenang-kenangan bahwa ia pernah naik kereta. Tidak apa setidaknya Gantari bisa menikmati perjalanannya, walaupun kali ini gadis itu tidur karena kelelahan
Mahendra sesekali tergelak melihat Gantari saat ini yang tengah terlelap tidak tenang di sampingnya mencari posisi ternyaman untuk tidur. Sampai akhirnya Gantari menjatuhkan kepalanya tepat pada bahu Mahendra. Hanya hal sederhana seperti ini saja jantung Mahen rasanya ingin copot saat itu juga. Namun detik selanjutnya pria itu tersenyum tangannya terulur mengusap surai milik Gantari.
Mahendra membuka ponselnya mencoba mengetik sesuatu.
"Bi, nanti semua barang nya Nathan yang ada di luar tolong nasukin semua keruangan nya Nathan, termasuk foto keluarga. Aku pulang hari ini. Siapin juga satu kamar tamu. Aku nginep buat beberapa hari"
"Siap mas,"
Mahen tersenyum setelahnya. Masih dengan memandang wajah terlelap Gantari, tangan Mahen terulur kembali kini menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis ini.
Entah sejak kapan dirinya terlalu tenang jika bersama Gantari, gadis berambut cepak hitam dengan warna sedikit kecoklatan. Memandangnya kini menjadi candu. Ia menikmati setiap hal yang ia lakukan bersama gadis ini untuk pertama kalinya. Jika boleh meminta, ia ingin lebih lama bersama gadis ini.
Tidak lama setelahnya, Mahen ikut memejamkan matanya terlelap menyusuri mimpi dalam perjalanan yang tidak singkat ini.
____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________
Pemberhentian kereta telah sampai pada tujuannya, stasiun Lempuyangan menjadi tujuan dua manusia yang tengah bersiap untuk turun.
Untuk pertama kalinya Mahen menapakan kakinya di peron stasiun. Semburat warna jingga dari sinar matahari yang akan tenggelam mengiringi setiap langkah dua manusia yang tengah berjalan menyebrangi peron.
Gantari tersenyum kagum melihat betapa cantiknya matahari tenggelam di stasiun Lempuyangan ini.
Berbeda dengan Mahen yang lebih tekagum dengan gadis di depannya yang masih terfokus dengan pemandangan di depan sana. Dari sekian banyaknya manusia yang turun dan naik dari kereta sampai akhirnya kereta itu pergi meninggalkan nya, matanya masih terfokus pada Gantari.
"Wah, lo pasti udah sering liat beginian kan?" Tanya Gantari memutar tubuhnya untuk melihat Mahen yang berada di belakangnya.
Mahendra tersadar kemudian terkekeh setelahnya, lalu menggeleng pelan "enggak, ini pertamanya buat gue"
Gantari lantas memicingkan matanya tidak percaya, mana mungkin Mahen tidak pernah melihat sunset di Lempuyangan seperti ini?.
"Masa sih? Lo bilang sering naik kereta!"
"Gue gak bilang"
"Lo bilang ih"
"Enggak Gantari, lo ngimpi kali"
Mahen menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berjalan meninggalkan Gantari yang tengah ngebug. Masa iya sih Gantari bermimpi, tapi sepertinya Mahendra pernah mengatakan hal itu.
"Heh!! Tungguin!!!" teriak Gantari mengejar Mahen yang sudah jauh didepan.
Setelah lumayan lama menunggu, GrabCar yang Mahen pesan sudah sampai tepat setelah mereka merampungkan makan makanan ringan yang mereka bawa dari rumah.
"Sesuai aplikasi yah mas!!!" Ujar Mahen yang langsung di respon 'oke' oleh sang driver.
"Mas nya, kalau boleh tau ke Jogja liburan?" Seperkian menit setelah mobil melaju, sang driver mulai membuka pembicaraan.
"Iya ini," jawab Mahen.
"Maaf sebelumnya, mas sama mbaknya suami istri kah?" Tanya mas Driver yang sontak membuat Gantari dan Mahen tersentak keduanya lalu saling pandang.
"Eh enggak mas, kita temenan" sergah Gantari langsung dengan mata yang terbelalak.
Kukira hubungan ini spesiall .....
"Lagi otw mas, doain aja lancar" gumam Mahen disertai kekehan kecil.
"Pasti mas!!! Saya kira suami istri soalnya hari ini kita ada promo untuk penumpang suami istri dapat diskon 25%" jelas mas Driver.
Setelah mendengarkan beberapa promo dari mas-mas grabnya, Mahendra kemudian menolh pada Gantari.
"Harusnya tadi lo bilang aja kalo kita tuh suami istri biar bisa dapet diskon, lumayan Gan 25%" gumam Mahen pada Gantari yang sudah memasang wajah kesalnya.
"Dih, Itu mah maunya lo, ogah gue jadi istri manusia aneh kayak lo!" Gidig Gantari sedidit menjauhkan wajahnya.
"Masa lo gak mau dapet diskon, jarang loh grabcar promo sampe segitu"
"Gue juga mampu kali bayar full" Gantari memalingkan wajahnya ke kaca mobil.
"Ya udah, berarti Grab nya lo yang bayar!! Fix! Gue gak mau bayar pokoknya" Kata Mahen yang ikut ikutan memalingkan wajahnya.
"Oke!!!" Tegas Gantari yang tidak mau kalah.
Mahen lantas terkekeh.
Mas Driver yang sedari tadi mencuri pandang lewat spion mobil ikutan terkekeh, "sudah cocok jadi suami istri" gumamnya.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
...
...
Kata mas drivernya sudah cocok jadi suami saya🙏🙌
...
...
__ADS_1
Nathan mode ngambekeu. Maaf Nat, abangmu terlalu menggoda.😭🖐️