
..._________________♡♡♡________________...
Sebuah perasaan memang tidak selamanya bersama pemiliknya, terkadang pengakuan menjadi hal yang mungkin saja tersenggal dan sulit untuk diungkapkan. Hal yang menjadi salah satu akhir untuk jawaban dari segala pertanyaannya selama ini.
Mahen menjadi sangat berani sekarang, setelah pengakuannya di lorong kampus yang sepi tadi, kini ia juga rela menunggu gadis ini rampung kelas dan membuntutinya hingga mengikuti rapat.
Karena sungguh pria ini sangat menyebalkan, Gantari saja sampai mikir Mahendra ini memang tidak ada kegiatan lainnya selain mengganggu dan membuntuti Gantari seperti ini.
Risih? Tentu saja iya. Karena Gantari baru pertama kali merasakan dan melihat Mahen bertindak seolah mereka benar-benar sudah memiliki hubungan spesial. Di sepanjang jalan menuju gedung rapat saja Mahendra masih mengoceh seolah protektif mengenai Nathan tadi.
Padahal kejadian di koridor tadi tidak dapat dikatakan bahwa Mahendra tengah menembaknya. Yang tadi itu lebih kepada mengungkapkan unek-unek Mahendra selama ini karena Mahendra tidak menyukai Nathan.
Sampai pada akhirnya pak Samsul selaku penyelenggara rapat juga terheran akan kedatangan Mahendra.
"Kamu Mahendra anak Ekonomi Bisnis ngapain ada di sini?" Tanya pak Samsul seraya menaikan kacamatanya yang menurun.
Dan paling hebatnya Mahen hanya menjawab, "Nemenin Gantari pak, hehehe" katanya sambil cengar-cengir lalu menatap Gantari yang berada di sampingnya.
Seperti biasa Mahen selalu bertindak konyol untuk hal apapun. Dia merasa biasa saja dengan suasana yang di rasa Gantari begitu membuatnya sangat ingin menguburkan diri.
"Dia kan udah gede gak perlu kamu temenin, dia juga rapatnya kagak sendiri"
"Nah justru itu pak, soalnya dia gak punya temen. Cuma saya temen satu satunya, nanti takutnya di culik buaya darat kan bahaya, apalagi dia kan cewek sendiri"
Dengan rasa sabar yang sangat luar biasa Gantari hanya menggelengkan kepalanya terlihat sangat pasrah karena sungguh alasan Mahen tidak berbobot sekali, ia dengan konyolnya mengutarakan alasan itu di hadapan peserta rapat yang beruntungnya hanya kak Tiyan dan Nathan. Dan Gantari menjadi satu satunya peserta perempuan di ruangan itu.
"Maaf yah pak sebelumnnya, emang rada-rada kurang waras ini anak. Tadi udah saya suruh pulang ke habitatnya tapi dari tadi ngebuntutin saya terus" ujar Gantari dengan raut wajah canggung.
"Ya sudah, kita lanjutkan saja rapatnya. Jadi tujuan rapat hari ini adalah untuk melakukan eksperimen di SMA. Membahas dan meriset apa saja yang menjadi strugle anak-anak SMA ini. Tugasnya saya serahkan pada Tiyan dan Gantari selaku jurusan psikologi, bisa nanti kalian bawa 1 atau 2 mahasiswa lain untuk membantu projek ini. Dan untuk Nathan saya tugaskan untuk membuat dokumentasi selama projek ini berlangsung. Projek ini saya kasih waktu satu bulan, datanya nanti bisa langsung di kumpulkan ke saya dalam bentuk softfile saja. Soalnya kalo dijilid suka ilang-ilangan. Oke mungkin ada yang ingin di tanyakan?" jelas pak Samsul dan diakhiri dengan satu pertanyaan.
"Pak!!!" Mahen mengangkat tangannya membuat peserta yang berada didalam ruangan sontak menatap Mahen.
"Saya ikut projeknya ya pak, bagian jagain Gantari aja" lanjut Mahen membuat pak Samsul tidak habis pikir.
Tidak hanya pak Samsul, Tiyan, Nathan dan Gantari juga sama tatapannya masih terheran dengan Mahen yang tengah menaik turunkan alisnya. Bukan apa, hanya saja dia ini Mahen!!! Mahendra Mahawira Hareshananda mahasiswa Ekonomi Bisnis yang jarang sekali melakukan kegiatan seperti ini. Biasanya pria ini daripada mengikuti projek kegiatan sosial ia mending duduk di trotoar dan menghabiskan berpuluh puluh tusuk Telor Gulung atau ikut latihan ngeband bersama Yudha.
Gantari merasa saat ini sudah berada di ambang bahaya. Mahendra sudah sangat mengganggunya hari ini, sampai-sampai pria ini menawarkan diri mengikuti project dari jurusannya.
"Tiyan kamu yang ngehandle yah, saya sudah pusing. Mendadak vertigo saya kambuh" Ujar pak Samsul seraya memijat keningnya berlalu keluar ruangan setelah mendapat respon anggukan dari Tiyan.
Tidak hanya pak Samsul, setahu Gantari semua dosen pasti akan seperti itu jika sudah berhubungan dengan Mahen. Apalagi yang mempunyai penyakit darah tinggi dan vertigo seperti pak Samsul pasti sudah akan angkat tangan tidak kuat jika terus berhadapan denga Mahendra.
"Gantari nanti kamu bagian konsultasi aja yah, kalau survei nanti gue bawa Damar biar cepet" ujar Tiyan membagi tugas.
"Gue ngajakin Ningsih yah, buat bantu ngedata" usul Gantari dan langsung direspon oke oleh Tiyan. Berbeda dengan Mahen kini mukanya sudah sangat asem dan penuh kesewotan.
"Dan buat Nathan, lo pasti udah tau tugas lo ngapain kagak usah gue jelasin lagi karena itu udah keahlian lo. Jadi No need to be in doubt"
Nathan hanya mengangguk mengerti tak lupa dengan iringan senyum manisnya.
"Gue ngapain?" Tanya Mahen tiba-tiba.
"Lo? Lo ngapain yah" kak Tiyan nampak berfikir.
"Bagian konsumsi aja kali yah." Lanjutnya setelah seperkian menit berfikir.
Mahen menjentikan jarinya, "oke".
Dengan pikiran suudzon Gantari menatap tajam kearah Mahen laki-laki yang kini tengah tersenyum kegirangan.
Bukan apa hanya saja rasa takutnya kepada Mahen yang malah menggunakan kesempatan ini untuk memborong telor gulung langganan nya. Atau bisa jadi Mahen sekalian membawa gerobaknya masuk ke SMA.
__ADS_1
Jika hal itu sampai terjadi, sungguh ia akan berpura pura tidak mengenal pria ini.
..._________________♡♡♡________________...
...
"Mau bareng gak?" Tawar Nathan saat berjalan mensejajari Gantari.
"Gak!!! Dia pulang sama gue!!!" Belum juga sempat di jawab oleh Gantari, Mahen terlebih dahulu memotongnya. Pria yang kini tengah berjalan menghampiri mereka seraya membawa satu keresek hitam entah apa isinya.
"Nih!!!" Mahen lalu menyodorkan keresek yang ada di genggamannya pada Gantari.
"Apa nih?" Tanya gadis itu dengan tatapan bingung.
"Yakult"
"Aaaa Mahen" Gantari terkagum setelah menilik keresek hitam itu berisikan Yakult 2 pack.
"Lo pinter banget dah kalo nyogok gue" lanjutnya masih dengan kegirangan.
Akhirnya Setelah libur selama dua bulan tidak mengkonsumsi minuman berfermentasi seperti Yakult karena masalah lambung. Hari ini dengan izin Mahendra, Gantari dibebaskan, dibebaskan dari semua pantangan yang ada.
"Ini gue beneran udah boleh minum beginian?" Tanya Gantari.
"Iya tapi satu aja, kagak usah banyak-banyak"
"Terus yang satunya?"
"Buat gue"
"Buat Nathan aja" pinta Gantari dengan nada imutnya.
"Gak ada, lagian dia kagak suka susu begituan" decak Mahen seraya meraih kembali kreseknya mengambil satu pack lalu mengembalikannya pada genggaman Gantari.
Nathan yang sedari tadi hanya menjadi penyimak akhirnya buka suara. "Gak usah buat kamu aja" katanya canggung.
"Yaudah, aku duluan ya" pamit Nathan setelah mendapat tatapan tajam dari Mahen.
Gantari hanya melambaikan tangannya ramah pada Nathan dengan senyum terpaksa, lalu menoleh pada Mahendra kembali.
"Nih mata liatinnya biasa aja!!!" Tekan Gantari seraya meraupkan tangannya pada muka Mahen yang masih menatap Nathan tidak suka.
"Gila, lo habis pegang apaan dah." Dengus Mahen seraya mengibas-ngibaskan tangannya mengusap wajahnya.
"Oohh Tadi habis ngobok ikan cupangnya kak Tiyan sama megang pelet" respon Gantari santai.
Seketika Mahen mual, "pantesan amis".
"Iih masa sih, padahal gue tadi bercanda loh" kata Gantari langsung mengendus tangannya mengecek. "Kok iya iyah amis" kini Gantari malah bingung sendiri.
"Plastiknya Gan, tadi bekas pindang, hehehe"
Gantari sontak mengendus keresek hitam yang masih pada genggamannya.
"MAHEENNN!!!" Teriak gadis itu setelah mengetahui keresek hitam inilah sumber bau amis. Seketika perutnya merasa mual.
"Sumpah ya kalo gue muntah gimana?"
"Ya tinggal pake plastiknya buat ngadangin muntahannya"
"Lo jail banget sih, tau itu cuma akal akalan lu aja kan biar gue kagak minum Yakult nya"
"Lo baru bisa minum itu satu bulan lagi, inget lambung lo" ucap Mahen menonyor dahi Gantari pelan, mengambil keresek yang berada di tangan Gantari kemudian membuka satu botol lalu meneguknya tepat di depan Gantari.
__ADS_1
"Satu aja Mahen, gue kangen minum Yakult"
"Nih" Mahen menyodorkan Yakult yang tinggal setengah.
"Dih bau jigong"
"Ih, jigong gue enak tau"
"Mana ada"
"Mau nyoba?"
Entah perasaan nya saja atau mungkin memang iya tatapan Mahen menjadi sangat serius dengan pertanyaannya barusan.
Gantari mulai panik saat Mahen tiba-tiba mendekatinya. "Mau nyoba gak?" Tanyanya sekali lagi.
"Gak!!!" Dengan jelas gadis itu menolaknya dan dengan cepat Gantari menonyorkan kepala Mahen yang perlahan mendekat alhasil membuatnya jauh terhuyung ke belakang, gadis itu berlalu menghindari Mahen.
"Beneran nih? Enak padahal loh Gan, masih ada rasa Yakultnya, manis asem gimana gitu" goda Mahen seraya mengejar Gantari yang sudah berlalu meninggalkan Gedung Kuliah Umum.
"MAHENDRA JOROKK BANGET!!!" teriak Gantari dengan tangan yang sigap menutup kedua telinganya.
Perkara Yakult doang, Gantari jadi ngeri dekat-dekat dengan Mahen.
.
.
..._________________♡♡♡________________...
.
..
Mahendra Mahawira Hareshananda.
Manis tapi ada asem-asem nya gitu
.
..
Nathanael Abdi Putra
Fotografer andalan satu universitas. Silahkan bagi yang mau booking buat tugas dokumentasi bisa langsung hubungi pak Wisnu selaku Managernya Nathan.
..
.
Tiyan Aryasetya
"Sama ikan aja sayang, apa lagi sama kamyuuu"
Kak Tiyan, ketua komting Fakultas Psikologi. Dia memang sibuk tapi ikan ****** tetap nomor satu.
__ADS_1