JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
16. Jangan ChatTime.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Setelah membagikan foam berisikan Ayam bakar yang sudah sepaket dengan nasi yang kini menjadi menu makan siang, para pemuda itu lantas memilih untuk beristirahat sejenak di taman sekolah.


Niat hati tadi ingin beristirahat di caffe saja sekalian makan siang namun Tiyan mengatakan bahwa ia sudah menyisakan foam ayam bakar itu untuk 7 orang dan meminta Mahendra untuk menyimpan nya dahulu di dalam bagasi mobil.


Ternyata Mahendra dapat menjalankan tugasnya sebagai seksi konsunsi dengan sangat baik dia benar-benar menggunakan uang konsumsi untuk membeli makanan yang layak. Gantari sempat tidak mempercayai Mahendra, karena ya gimana yah gadis itu sudah terlanjur Neting pada pria itu.


Setidaknya walaupun hanya ayam bakar dan tempe tahu timun sebagai lalaban ini sudah lebih dari cukup, mereka memakannya dengan lahap dan hanya menyisakan tulangnya saja. Ya walaupun kata pamungkas yang kalo lagi bucin bisa makan sampe ketulang tulangnya tapi nyatanya mereka bukan kucing yang rela menggerogoti tulang ayam yang sudah tidak ada dagingnya.


Jam menunjukan tepat pukul 2 siang, di tengah semilir angin dan awan yang terlihat lebih teduh walaupun terkadang panas matahari datang menyengat. Di bawah pohon ketapang yang cukup untuk meneduhkan 7 mahasiswa yang tengah menikmati makan siangnya.


"Nih" kata Mahen seraya memindahkan semua dagingnya yang sudah ia sortir pada Gantari.


"Ihh, terus lo makan apaan?" Tanya Gantari pada Mahendra yang tengah memindahkan dagingnya.


"Ada nih sama kulit tempe tahu" kemudian Mahen menunjukan satu tempe lalu memakannya. Pria itu juga berqlih mengambil sambal milik Gantari.


Gantari yang merasa tidak enak lalu menukar kulit ikan dan tulang yang masih terdapat sedikit dagingnya pada foam milik Mahen.


"Lah?" Gotak Mahendra saat Gantari memindahkan makanannya.


"Tukeran, kasihan lo cuma makan tahu tempe doang"


Mahendra mengangguk, ia mendekatkan foamnya agar memudahkan Gantari memindahkan dagingnya. Lalu dirinya memindahkan lalaban tahu dan tempe pada foam Gantari.


Sebenarnya Gantari juga tidak menyukai olahan daging, kecuali geprek itupun hanya bagian dada yang banyak dagingnya, akhir-akhir ini Gantari memang sudah jarang sekali makan geprek karena lambungnya yang sering kambuh jadi Mahendra melarangnya untuk memakannya. Tapi kalau lagi tidak mood untuk makan, ia bisa saja sama sekali tidak tertarik dengan olahan makanan yang menjadi favorit semua orang.


"Gantari, nanti lo yang bikin makalahnya ya. Nathan yang ngumpulin dokumentasinya. Kalo materi biar gue sama Damar aja yang bikin, kalo udah kelar nanti gue kirim ke email lo" di sela sela memindahkan daging pada foam Mahen, Tiyan membuka suara setelah ayam bakarnya habis dan hanya menyisakan sambalnya saja yang ia sisihkan.


"Oh, oke" tanggap Gantari.


"Nathan, nanti lo juga bisa bantuin Gantari waktu bikin makalah. Itu kalo lo punya waktu senggang" lanjut Tiyan.


"Eh, gak ada!!!" Sergah Mahen cepat.


Sontak semua orang yang tengah menikmati makan siangnya itu menatap Mahen.


"Gantari biar gue aja nanti yang bantuin" lanjut Mahen dengan tatapannya yang tak terlepas dari gadis di depannya.


"Lo kan jurusan ekonomi bisnis, gak ada sangkut pautnya sama projek ini" Ujar Damar setelah meneguk minuman mineral nya.


"Dia juga bukan dari jurusan kalian kan?" Seketika suara Mahen terdengar nyolot. Ia bertanya pada Damar dengan mata seriusnya. "Jadi gak ada salahnya kalo gue yang bantuin Gantari bikin makalahnya"


"Nathan kan bagian bikin dokumentasi Mahen, jadi biar lebih cepet dikerjain bareng" relai Tiyan saat melihat Mahendra yang entah mengapa langsung menjadi sensitif.


"Kenapa sih, keukeuh banget ngebantuin Gantari. Ngintilin dia mulu dari kemaren, bapaknya lo?" Tanya Damar dengan julid tak mau kalah dengan tatapan Mahen yang terkesan nyalang.

__ADS_1


"Gua pacarnya!!!" Tekan Mahen yang entah mengapa dia sangat lantang sekali mengatakannya. "Puas lo pada!"


Mendengar dengan jelas Mahen mengatakan hal itu di depan teman-temannya membuat Gantari berhasil membulatkan matanya dengan mulutyang penuh.


Gantari jelas terkejut, dari kemarin Mahen memang sangat aneh. Menggoda Gantari memang sudah menjadi makanan sehari-hari nya sampai membuat gadis ini kesal dan pasti akan diakhiri dengan tonyoran di keningnya. Gadis ini sudah ingin sekali menonyorkan kepala Mahendra sekarang juga, namun entah mengapa dirinya menjadi menegang hampir saja ia tersedak makanannya sendiri.


Mahen memang sudah gila!!!.


Gadis itu gelisah melihat atensi semua temannya yang kini menatap Gantari, "Dia bercanda kok, hehe dia stres emang. Iya stress" tanggap Gantari menyengir seakan menjawab tatapan yang penuh pertanyaan dari teman-temannya gelagapan saat semua mata tertuju pada Gantari dan Mahen yang menatap Gadis di depannya ini dengan lamat.


Mahendra terdiam menatap lamat gadis di depannya yang tengah gelisah dan menjulidi Mahendra agar pria itu berhenti untuk membuat candaan yang bikin salah paham.


Padahal Mahendra kini sedang serius, ucapan nya dan tatapannya sungguh sangat langka.


Gantari menyengir canggung kepada semua temannya. Sungguh Mahen memang tidak mempunyai timing yang tepat untuk bercanda.


Namun di balik itu semua, Nathan memandang mereka berdua dengan berbeda. Sunggingan pada bibir Mahen terlihat jelas bahwa ia sangat membenci Nathan berdekatan dengan Gantari. Nathan juga merasakan bahwa ungkapan Mahendra yang dianggap bercanda oleh semua orang, tapi ia sendiri menganggap bahwa itu adalah ungkapan Mahendra yang paling serius.


Nathan tidak pernah melihat ini sebelumnya, terakhir kali ia terlihat serius adalah saat ia mengakui Nathan sebagai adiknya. Itu sudah lama sekali, mungkin saat Nathan menginjakan kakinya di bangku sekolah dasar saat Nathan di palak oleh kakak kelasnya.


Mahendra, Orang yang pertama kali akan mengulurkan tangannya saat Nathan terjatuh dari sepeda, orang yang pertama kali membuatkannya susu diam-diam saat Nathan sibuk dengan tugas sekolahnya. Orang yang siap di marahi oleh Ayah walaupun itu bukan sepenuhnya kesalahannya.


Sekali lagi, Mahendra adalah orang yang serius dalam segala hal. Bercandanya yang ia lakukan setiap saat adalah caranya untuk menutup lukanya dalam dalam sampai semua orang menganggap bahwa sangat menyenangkan hidup sebagai Mahendra.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


"Mahen, pengen Boba" kata Gantari tiba-tiba saat Mahen memakaikan helm di kepala Gantari. Dengan mata yang mengerjap beberapa kali dan bibir yang ia kantupkan rapat-rapat mencoba merayu Mahen.


"ChatTime?" Tawarnya.


"Jangan ChatTime, Khamshia aja" cengir Gantari.


"Kenapa gak ChatTime aja?"


"Mahal, lagian judulnya sama-sama boba. Duwit 30 ribu dapet satu ChatTime. Kalo di Khamsia kan bisa dapet dua itupun masih ada kembalian" ujar Gantari.


Mahen tersenyum simpul, gadis ini memang sangat berbeda dengan yang lain. Jika gadis lain akan lebih memilih nongkrong dan menikmati minuman seperti ChatTime di Caffe tapi Gantari milih untuk membeli Khamsia Boba yang kedainya sering ia lihat dipinggir jalan, membelinya lalu ia menikmatinya di tempat lain.


Seperti saat ini, setelah mereka pergi membeli Boba original yang harganya hanya 10 ribu, Gantari benar membeli dua dan memberikannya satu untuk Mahen. Katanya sebagai ucapan terimakasih karena sudah mau menemaninya membeli Boba.


Sembari Menikmati semilir angin di belakang kampus, duduk di bawah pohon asem jawa yang kalau sedang berbuah akan mudah jatuh hanya dengan goyangan angin.


Untung saja ini bukan musimnya, hanya daun keringnya saja yang kini berjatuhan memenuhi rumput hijau.


Gantari mengela nafasnya seraya dengan mata yang tertutup. Ia perelahan membuka matanya lalu menyeruput minuman bobanya.


"Lo, kenapa tahun ini kagak pulang kampung?" Tanya Gantari berhasil membuat Mahen menengok ke arahnya.


"Tadinya gue gak mau pulang, tapi waktu lo bilang kepengen ke jogja, gue berubah fikiran"

__ADS_1


"Gue jadi ada temennya" Mahendra terkekeh.


"Di jogja, lo tinggal sama siapa sih?" Mendadak Gantari menjadi kepo, rasa ingin tahunya tentang kehidupan Mahen yang menurutnya jarang sekali bercerita tentang kehidupannya dan keluarganya. Sudah hampir 2 tahun ia mengenal Mahen tapi ia tidak pernah tahu tentang Mahendra.


"Sama bibi gue"


"Mamah Papah lo? Lo punya saudara gak sih?" Tanya Gantari kembali.


"Kenapa sih? Kepo banget dah lo jadi cewek. Tumbenan amat pengen tau tentang gue. Jangan jangan lo naksir yah sama gue?"


"Apaan sih lo, ya udah si kalo kagak mau cerita. Gak penting juga buat gue"


Sebenarnya Gantari juga tidak mempermasalahkan dari mana pria ini berasal, karena yang dia tau Mahendra terlalu buntu untuk sekedar ditanya tentang kehidupannya. Walaupun kadang Gantari juga ingin tahu bagaimana cara pria ini hidup ketika jauh dengan kedua orang tuanya.


Dan hanya satu yang ingin Gantari tersemogakan adalah Mahendra yang saat ini ia lihat adalah Mahen yang apa adanya. Tidak ada hal yang lain tentang Mahendra yang tidak di ketahui oleh Gantari selain mengesalkan.


Yah keberisikan dan keisengan yang setiap hari dirasakan Gantari ternyata menciptakan warna tersendiri untuk gadis ini. Gantari terlalu gengsi untuk sekedar mengucapkan terimakasih atas keramaian Mahendra, ia hanya egois pada dirinya sendiri.


Detik selanjutnya Mahen terkekeh.


"Terus lo kenapa, ngebet banget pengen ke jogja?" Lanjut Mahen.


"Gue pengen naik kereta Mahen, bukan karena tujuan kita mau kemana tapi perjalanan ke tujuan itu yang bikin semuanya menyenangkan. Menikmati setiap hal yang di lewati, merasakan suasana baru yang mungkin gak akan pernah kita temuin di perjalanan-perjalanan sebelumnya."


"Emang lo belum pernah naik kereta?" Tanya Mahen.


"Udah, dulu waktu sama Ayah. Waktu SD mungkin. Mangkanya gue pengen naik kereta lagi"


"Gue malahan yang belum pernah naik kereta. Gue naik motor terus kalo ke Jogja"


"Capek pasti?" Tanya Gantari menatap lamat Mahen disampingnya.


"Enggak juga, kan gue naik motor, gak jalan kaki"


"Terserah lu dah"


Mereka hening sejenak mencoba menikmati terpaan angin sore yang entah mengapa menjadi semakin dingin. Hampir senja, dan es batu pada minuman bobanya pun sudah mencair sempurna.


Namun Mahendra tetap saja tidak mau mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Gantari yang berada di sampingnya. Ia sangat menikmati bagaimana gadis itu menutup matanya, mengamati dengan lamat anak rambut yang bergerak terkena belaian angin.


Pria itu sangat serius dengan perkataannya tadi, dia sangat menyukai gadis disampingnya ini. Ibarat hujan badai kini Mahendra menemukan pelanginya. Segala warna yang membuatnya sangat ingin memiliki. Lukanya perlahan menjadi terobati dan mengempis, ia kini tidak perlu lagi mencari tempat untuk bersembunyi, dia sudah terlalu lama mencari tempat untuk penyembuhannya.


Apakah harus Mahendra keluar setelah ini?


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...



.

__ADS_1


"Dia serius, tapi bercandanya terlalu menutupi keseriusan itu."


__ADS_2