
..._________________♡♡♡_______________...
Sungguh pagi ini rasanya ingin mengubur diri saja, atau kalau tidak sekedar meminjam pintu ajaib Doraemon, Gantari ingin menghilang dari dunia ini Tuhan!!!.
Mahen, masih saja berisik bersama Lukas satu manusia yang sudah menjadi bestienya sejak lama. Ini baru satu temannya yang menginap disini, akan lebih parah lagi jika Mahen membawa Dirga si tukang teler dan Yanuar si tukang usil. Hanya dengan membayangkannya saja Gantari ingin merobohkan rumah neneknya itu.
Hanya sekedar mengingatkaan bahwa di dalam circle ini sama sekali tidak ada yang waras.
Apa sebenarnya yang mereka lakukan lagi? Acara kerokan tengah malam tadi memang belum terselesaikan?.
Gantari geram, padahal tadi Nathan sempat mampir ke mimpinya walaupun hanya sekedar mengantarkan rujak jambu kristal yang entah mengapa menjadi sangat enak sambil menatap wajah tampan dan manis pria ini.
Iya jambu kristal yang sengaja ia potong-potong lalu di tambah dengan taburan bumbu cabe bubuk yang ia campurkan pada wadah plastik Tupperware berwarna biru. Pedas? Tentu saja, tetapi Gantari seolah lupa dengan asam lambungnya, senyuman manis Nathan seakan mengalihkan rasa pedas itu.
Tiba-tiba saja suara musik metal menjadi sangat keras dan jelas menusuk sampai ke gendang telinga Gantari, ditambah dengan teriakan lukas yang ngebas dan berat. Seberat dosa-dosanya.
Harusnya Gantari memberitahukan tentang hal ini, ruangan Mahen berada tepat di sebelah ruangannya hanya saja terhalang lorong pembatas antara rumahnya dengan rumah neneknya. Itulah mengapa apa saja yang pria ini lakukan akan terekam jelas dipendengarannya.
Siap-siap saja kena suudzon oleh tetangga. Padahal yang berisik itu ruangan Mahen tapi yang kena omel malah Rumah Gantari. Ah, mungkin karena Mahen mengontrak di tempat Gantari jadi apa saja yang pria itu lakukan masih menjadi tanggung jawab Gantari.
Baru saja otaknya berasumsi, gadis ini sudah mendengar ada suara ketukan pintu. Dan ternyata benar saja, itu adalah ibu-ibu yang sering mangkal membeli sayur kelilingnya mas Paijo.
"Mbak, itu kenapa ruangannya mas Mahen berisik banget, ada konser kah?" Tanya bu Rondo pandangannya masih menelisik rumah Mahen yang berisik penuh dengan suara musik.
"Eh, maaf ya bu, Mahen itu emang suka aneh-aneh" kata gadis ini tidak enak seraya menggaruk tekuknya yang tidak gatal. "Nanti saya bilangin ke Mahennya biar gak berisik ganggu tetangga".
"Iya deh mbak" Ibu dengan rambut dikonde itu hanya mengangguk angguk kan kepalanya mengerti lantas berlalu dari hadapan Gantari, tetapi baru saja ia mengambil satu langkah beliau berbalik kembali membuat Gantari mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumahnya. "Eh, iya mbak nanti bilangin juga ada salam dari bu Rondo buat temennya mas Mahen"
"Em?" Tanya Gantari kebingungan. Sedikit mencondongkan kepalanya pada bu Rondo.
"Iya semalem mas Mahen bawa temennya mbak terus minjem sound sistem suami saya. Ganteng mbak, mbak Gantari tau namanya?"
"Boleh dong mbak minta nomor WhatsApp nya, mau saya jodohin sama anak saya, hihihi" ujar ibu yang tidak Gantari tahu namanya yang sedari tadi berada tepat di sebelah bu Rondo dengan beberapa sayuran yang berada di dalam tas anyaman.
"Opo seh mbak Lasmi, kan tadi udah sepakat kalo aku sek sing pan njaluk nomer batire mas Mahen" sewot bu Rondo dengan logat jawanya menepuk pelan lengan temannya itu karena tidak terima jika bu Lasmi yang lebih dulu meminta nomornya Lukas.
Seketika kepala Gantari terasa pening mendengar ocehan beberapa emak-emak didepannya yang seakan merebutkan Mahen dengan Lukas. Tau akan begini, Gantari tadi lebih memilih untuk melanjutkan acara makan rujak jambu kristal di mimpinya sambil menikmati wajah paripurna dari Nathan. Dan mengabaikan ketukan pintu tadi.
Tak lama setelah itu Mahen dan Lukas keluar dari ruangannya, membuat para ibu sontak berlarian ke arah mereka.
"Masya Allah, masnya cakep banget." Kata salah satu ibu kepada Lukas yang sudah dengan kepercayaan dirinya lalu mulai tebar pesona.
Kata orang harus pakai Masya Allah biar gak kena penyakit 'ain.
Lukas dengan sengaja menyugar rambutnya ke belakang sontak membuat para ibu ibu yang berada di depannya menggila karena ulahnya. Mahen, yang berada di sampingnya hanya memasang wajah dongkolnya dengan alis yang bertaut, demi tuhan Lukas bukanlah sahabatnya.
Ibu-ibu yang berada di tepi jalan yang tengah memilih sayuran di mobil bak mas Paijo pun juga teralihkan atensinya menatap kedua bujang yang baru saja keluar dari surga, mereka sudah tidak memperdulikan lagi tentang masak apa hari ini? sayur Kangkung atau sayur buncis? Sekarang hanya akan ada Mahen atau Lukas.
"Gak papa dah kagak dapet Keshwari, gue ganteng di mata ibu-ibu. Iya gak bu?" Kata Lukas bersorak di akhir kalimatnya dengan penuh kepedeannya menaik turunkan alisnya hingga membuat para ibu-ibu teriak histeris menjawabnya. Lukas sudah merasa seperti menjadi pria paling tampan di muka bumi ini.
Memang tidak ada akhlaknya sama sekali teman Mahen satu ini, selain suka menggoda gadis di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Akuntansi ternyata Lukas menemukan hobi barunya, yaitu menggoda ibu-ibu. Bukan apa hanya saja tadi bu Rondo sempat bilang akan mengenalkan putrinya kepada Lukas. Jelas Lukas akan senang hati jika harus setiap hari berada di komplek Mahen seperti ini.
__ADS_1
"Lo gak ngampus?" Teriak Mahen kepada Gantari yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Lo ngomong sama gue?" Tanya Gantari seraya melihat sekitar lalu menunjuk dirinya sendiri, kali aja nih anak cuma ngeprank.
Karena biasanya Mahen akan begitu, tidak ada angin tidak ada hujan bertanya pada Gantari dan berakhir dengan mengerjainya.
"Iyalah bego!"
Lah di bego-begoin? Emang yah keturunan Fir'aun kagak pernah alus kalo ngomong. Ngalusnya kalo ada maunya doang.
.
.
.
..._________________//&//__________________...
..._________________//&//__________________...
Selain nama Nathanael Abdi Putra yang selalu menjadi tranding topik di setiap Fakultas, nama Mahendra Mahawira Hareshananda juga akan selalu saja terdengar setiap kali memasuki area kampus. Jika Nathan terkenal karena paras dan prestasinya, berbeda dengan Mahen yang terkenal dengan keberisikan dan kehumorisannya.
Mahen juga pintar hanya saja tertutupi dengan kelakuannya yang kelewat aneh. Dan membuat orang-orang berfikiran, 'lah kok?' karena sesuatu yang sangat langka saja orang seperti Mahen memiliki otak yang cerdas.
Saking anehnya sampai ibu-ibu kantin penjual nasi goreng yang gerobaknya berada di ujung sendiri pernah menjadi sasaran Mahen. Ia menggambar karakter Anime dengan sedikit sentuhan gravity pada gerobak ibu kantin. Bukannya marah, bu Tinah selaku pemilik gerobak malah berterimakasih pada Mahen karena gerobaknya bisa tampil baru dan keren. Alhasil Nasi goreng bu Tinah menjadi sangat ramai karena keunikan gerobaknya. Sebagai tanda terimakasih bu Tinah mentlaktir Mahen nasi goreng selama 2 minggu penuh.
Selain itu, pria posisi ke tiga ini menjadi sangat populer sejak Mahen bergabung dengan group band kampus yang diketuai oleh Yudha si manusia paling Anime. Kalian pasti tau alasannya mengapa Mahen bergabung dengan group band kampus.
Gantari juga heran mengapa banyak sekali teman di kampusnya yang sangat menyukai Mahendra. Mereka tidak tau saja keanehan Mahen yang belum terpublikasi, kemarin saja Mahen hampir membakar rumah Gantari. Ini salah Gantari juga sih, ia salah telah menitipkan kompor yang masih menyala pada Mahen untuk menjaga agar tempe gorengnya tidak gosong padahal Gantari sudah mengingatkan Mahen untuk tidak meninggalkan dapur barang sedetikpun dan mematikan nya apabila tempe itu sudah kecoklatan. Tapi nyatanya pria ini malah meninggalkan dapur dengan alasan kebelet berak. Alhasil jadilah menu makan malam saat itu adalah tempe gosong dengan toping sambel terasi di atasnya.
Kata mereka, cool banget langka aja gitu ada cowok ganteng yang makan di trotoar. Jadi berasa bisa di gapai.
Berbeda dari yang lain adalah slogan seorang Mahendra Aneh emang.
Suasana kantin terlihat ramai pada pagi hari seperti ini, karena di jam segini banyak mahasiswa yang belum sarapan dan memilih lari ke kantin kampus yang memang memiliki harga makanan lebih terjangkau dan sangat pas di kantong para pelajar.
Mahen dan Gantari duduk berhadapan dengan aktivitas nya masing-masing, jika Mahen tengah menikmati nasi goreng bu Tinah sedangkan Gantari hanya menatap heran pada pria di depannya seraya menyeruput jus buah naganya
"Lo gak mau konsultasi gitu sama gue, tentang kenapa lo bisa jadi kaya gini?" Tanya Gantari yang tengah menikmati jus buah naganya.
"Em?" Mahen terlihat menautkan kedua alisnya menatap Gantari bingung dengan mulut yang masih mengunyah lembut nasi goreng miliknya.
"Gue bentar lagi lulusan psikiater loh ini" kata Gantari dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya menikmati jus buah naga yang tinggal setengah itu.
"Terus urusannya sama gue apa?" Tanya Mahendra dengan nada sewotnya, hampir saja menyemburkan isi makanan yang berada di mulutnya.
"Lo kan gila, kali aja gue bisa bantu lo buat waras lagi"
"Yakin lo mau bantu gue?" Mahen mengalihkan atensinya menatap gadis di depannya.
"Ya, itu juga kalo lo niat mau dibantu"
Mahen masih menatap Gantari dengan mulut mengunyah pelan lalu menelannya. Ia mengambil air mineralnya kemudian meneguknya.
__ADS_1
"Ah, nanti aja deh bantunya kalo gue udah capek jadi gila"
Gantari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "kalo nanti, gue gak yakin masih bisa bantu lo apa enggak"
"Yaudah Gak papa gila juga yang penting ganteng" kata Mahen enteng lalu melanjutkan acara makannya.
"Kebanyakan main sama lukas sih lo jadi otaknya rada mengslo" kata Gantari seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kepalanya melihat Mahen yang tengah menyantap nasi goreng dengan semangat.
Nih anak udah kayak gak di kasih makan satu tahun.
Sebenarnya sudah tidak aneh lagi sih, setelah tadi pagi Gantari di katain bego sama Mahen, Gantari akan berakhir lelah seperti ini. Mahendra memang terlahir Aneh!.
"Pelan-pelan Mahen, nanti keselek" saran Gantari pada Mahen yang makan dengan tergesa-gesa.
"Ciee perhatian!!!" Sorak Lukas yang tiba-tiba saja datang dengan membawa kue cubit warna-warninya.
"Hallooww bestie!!" Sapa Dirga pada Mahen dan Gantari lalu menjatuhkan bokongnya tepat di samping kanan Mahen lalu menepuk punggung pria itu pelan.
"Widiihh masih pagi udah pada berduaan aja nih" goda Dirga menatap Gantari dan Mahen secara bergantian.
"Dah lah pacaran aja kalian. Sumpah kalian cocok banget!!!" Celoteh Lukas dengan tangan yang membentuk frame tepat dari samping Gantari seakan Gantari dan Mahen berada di dalam satu Frame itu yang membuatnya sangat cocok.
"Jangan lupa pajaknya Ma, kalo udah pecah telor" ujar Dirga seraya menaik turunkan alisnya menepuk pundak Mahen pelan.
"Bacot banget lo pada!" Gantari lekas bangkit berniat untuk kembali ke kelasnya. Sudahlah, Gantari sedang tidak ingin menanggapi teman Mahen. Yang ada kepala Gantari meledak di tempat karena pening mendengar bacotan teman Mahen yang tidak bermanfaat. Jujur saja Ia lebih memilih untuk mendengarkan celotehan pak Samsul.
"Kas, bayarin NasGornya Mahen" Gadis itu mencelos dagunya menunjuk Mahen yang tengah menikmati sarapannya.
"Loh, kenapa malah jadi gue? Kan dia yang makan." Pekik Lukas, melihat punggung Gantari yang kian menjauh tak memperdulikan protesan dari Lukas. Untuk kesekian kalinya, Lukas menjadi korban lagi.
"Duit gue habis buat beli bensin tadi" lirih Mahen.
"Tau gini, gue kagak mau nyamperin lo pada!!!" Lukas terlihat pasrah.
"Sabar yah bestii" kata Dirga dengan kekehan sambil menepuk-nepuk bahu Lukas pelan. Lalu setelah nya Dirga tertawa terbahak melihat betapa mengenasnya Lukas dengan raut wajah kesalnya.
Tidak tau saja, Lukas tengah menahan kemurkaannya jika saja ini bukan di kampus ia akan mengerok muka Dirga saat ini juga.
Lihat saja, ia akan menagih semua hutang Mahendra suatu hari nanti. Kini tugasnya hanya perlu mencatatnya saja, iya Lukas harus mencatatnya, kali saja bisa ia tukarkan dengan mobil pajero, wahh sangat lumayan bukan?.
Dua hari yang lalu ia mengeluarkan uang 20.000 untuk membayarkan 20 tusuk telor gulung Mahen. Kemarin sore ia meminjamkan 10.000 untuk membeli minyak urut, lalu hari ini ia harus mengeluarkan 15.000 untuk membayarkan NasGor dan air bening hangat. Terhitung 2 hari ini sudah terkumpul 45.000. Batin Lukas sumringah saat jarinya selesai menjumlah.
"Hitung aja, nanti gue ganti" Suara Mahen memberat di sela-sela suapannya.
"Nah! Gitu kan enak." Ujar Lukas seraya memasukan kue cubit ke dalam mulutnya..
...____________________//__________________...
.
.
.
__ADS_1