JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
29. Kamu Tidak Lagi Sendirian.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...


Hari sudah berganti, pagi ini terlihat seisi rumah bi Mina dan pakle Tejo tengah sibuk berpacking. Mereka akan pulang ke kota hari ini.


Gantari yang sudah siap dengan koper yang ia letakan di sudut pintu lalu keluar kamar sebentar sembari menunggu Laras dan Keshwari yang entah dimana, izinnya tadi sih mau keliling dulu. Gantari juga baru menyadari bahwa Keshwari dan Laras ternyata sedisiplin dan serapih itu, mereka sudah berpacking terlebih dahulu tadi malam.


Matanya masih mengedarkan pandangannya mencari sesuatu, yaitu Mahendra. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar pria berambut cepak namun yang ia temukan hanya ketiga teman Mahendra yang juga tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Gadis itu menoleh sesaat setelah dirinya mengintip ke kamar Mahendra. Ia melihat ruangan yang berada tepat di kamar Mahendra sedikit terbuka. Gantari perlahan berjalan menuju kamar itu karena di rasa ada sedikit terdengar suara Mahendra.


Mahendra terlihat tengah membantu Nathan mengemas barangnya, disertai dengan ocehan kecil. Terkadang Mahendra akan menggerutu akibat Nathan yang selalu lupa menaruh barang-barang penting miliknya. Seperti saat ini, Nathan lupa meletakkan kamera miliknya padahal seingatnya ia sudah memasukannya kedalam tas Kamera namun saat ia kembali dari kamar mandi, kamera itu sudah tidak ada di dalam tasnya.


"Lo narohnya dimana tadi???" Tanya Mahendra dengan geget pada Nathan yang masih mondar mandir mencari kamera si setiap sudut kamarnya. Entah itu sudah pertanyaan yang keberapa.


*Bang, kalo gue inget, gue gak bakalan kebingungan gini!" Jawab Nathan tak kalah geget, agaknya pria ini juga mulai jengah dengan pertanyaan Mahendra yang tidak membantu apapun.


Lantas Mahendra beranjak dari ranjanga adiknya, dengan perasaan dongkol ia mulai membantu Nathan mencarinya. Karena jika ia tidak turun tangan, waktunya akan terbuang hanya untuk menunggu Nathan menemukan kameranya dan sudah dipastikan mereka akan terlambat pulang ke kota.


Nathan berhenti sejenak mencoba mengingat-ingat kembali dimana dirinya menaruh kamera miliknya. Sampai pada akhirnya atensi pria itu menangkap seseorang yang berada di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


"Gantari?" Tebak Nathan, Mahendra yang mendengar itupun langsung mengubah pandangannya pada pintu mengikuti arah pandang Nathan.


Gantari yang berada di depan pintu hanya terjingkat sebelum pada akhirnya ia menyengir, ia merasa bersalah karena sudah tidak sopan menguping pembicaraan kedua saudara itu.


"Eh, sorry-sorry. Gue gak sengaja lewat tadi" kilah nya padahal sudah sangat jelas dirinya mencari Mahendra.


Mahendra terkekeh paham saat mata cantik Gantari yang sedikit meliriknya. "Masuk lo!"


Gantari menggeleng, "enggak, gue balik ke kamar aja. Sorry yah Nat."


Namun sebelum ia melenggang pergi, pintu kamar terbuka lebar menampakan Mahendra yang membukanya. "Bantuin nyari kameranya Nathan"


"Hah?" Gantari jelas ngah ngoh menatap Mahendra dan Nathan bergantian.


Belum sempat Gantari mengiyakan, Mahendra sudah terlebih dahulu menatik tangannya untuk masuk kedalam kamar Nathan.


Kamar yang didominasi dengan warna hijau pastel, dan di sudut ruangan terdapat piano dan tiga buah komputer belum dengan laptop yang tergeletak di ranjang dan meja belajarnya. Sudah sangat mirip dengan toko elektronik.


Selain itu juga di dalam lemari kaca tergantung banyak sekali koleksi hoddie dari brand ternama, dam di sebelahnya masih terdapat beberapa koleksi sepatu yang mungkin juga dari brand terkenal. Gantari tidak tau karena memang dirinya tidak pernah membeli atupun memiliki barang-barang mahal seperti itu.


"Lah, nih anak disuruh bantuin malah bengong" tegur Mahendra kembali menyadarkan Gantari yang sejak tadi mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan Nathan. Gadis itu jelas kesal dengan Mahendra yang hanya bisa mengganggunya.


"Kamu terakhir naroh kameranya dimana Nat?" Tanya Gantari di sela-sela dirinya menggeledah isi ruangan pria berambut hitam pekat itu.


Lagi-lagi Nathan menghela nafasnya, "di dalem tas"


"Aku udah nyari disitu sampe 3 kali" sela Nathan saat melihat Gantari mulai mengecek tas kameranya.


Gadis itu mengulum bibirnya, kemudian beralih mencari di rak buku samping meja belajar Nathan.


Ketiganya masih berkutat dengan kegiatan mencari kamera Nathan, sudah terhitung hampir 1 jam tapi mereka tidak menemukannya juga. Mereka memilih untuk menghentikan pencariannya, karena sudah dipastikan bahwa kamera itu tidak dapat di temukan.


Sampai pada akhirnya pintu kamar kembali terbuka menampakan Keshwari yang datang dengan benda tidak asing yang dikalungkannya. Gadis itu tersenyum sangat manis.


"Nat, ngebalikin Kamera. Makasih ya" kata Keshwari, Nathan hanya mengangguk dan tersenyum sedikit kikuk.


Seisi ruangan itu terlihat menghela nafasnya pasrah, mereka mencari kesana kemari dan ternyata kamerannya di bawa kabur oleh Keshwari.


Terlebih dengan raut wajah Mahendra yang beralih menatap Nathan, pria yang di tatap itu hanya menyengir seraya menggaruk tekuknya ya g tidak gatal. Ia baru mengingat bahwa Keshwari meminjam kameranya saat Nathan tengah berada di dalam kamar mandi.


"Udah, udahh. Biasa aja ini matanya" ujar Gantari meraup wajah Mahendra untuk menyudahi tatapan tajamnya pada Nathan.


Nathan yang kikuk dan merasa bersalah itu kemudian melanjutkan acara packingnya, memasukan beberapa baju yang semalam sempat ia ambil dari rumah paman Sam, Ayah Keshwari.


Keshwari yang menyadari warna mendung dari Mahendra kini ia bertanya tanya, "kenapa mas?"


"Tanya aja tuh sama sepupu lo, males banget gue" keluh Mahendra kini lebih memilih untuk menyandarkan punggungnya pada sisi kaki ranjang.


Nathan merengut, "gue lupa bang, gue lupa kalo kameranya di pinjem Keshwari"


Mahendra memutar bola matanya malas.


"Owhh, kan aku udah izin tadi waktu kamu di kamar mandi Nat"


"Iya, aku baru keinget tadi waktu kamu masuk"


Wajah Keshwari jelas menggambarkan 'Ohalah'. "Anak-anak lain udah pada siap mas"


Mendengar hal itu, Mahendra langsung beranjak kemudian meraih tangan Gantari menariknya untuk ikut bangun.


"Bantuin gue packing"


"Lo bisa packing sendiri Mahendra!" Gantari menahan tangannya sendiri.


"Biar cepet" Mahendra semakin menarik Gantari.


"Gak yakin bakalan cepet" cibir Nathan, langsung mendapatkan tatapan nyalang dari Mahendra. Nathan langsung menciut mengatupkan bibirnya seraya terkekeh.

__ADS_1


Setelah itu Mahendra membawa Gantari keluar dari kamar Nathan.


Setelahnya Memasuki kamar Mahendra yang berada tepat di depan kamar Nathan. Sudah tidak ada lagi Lukas dan Dirga. Agaknya mereka memang sudah siap di halaman rumah. Tidak apa, Mahendra hanya akan berpacking sekarang.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


"Lama bener lo perkara packing doang, gue udah lumutan ini. Habis 2 gelas kopi" gotak Lukas saat melihat Mahendra baru keluar dari rumah. Nyatanya memang dia sudah menunggu Mahendra dan Gantari selama hampir satu jam. Dia sampai menghabiskan dua gelas kopi siang ini.


Dirinya tambah tercengang dengan Mahendra yang tidak membawa apapun selain sling bag yang menggantung di lengan kirinya.


Semuanya terpelongo, lantas apa yang di lakukan Mahendra selama satu jam jika yang di bawanya hanya tas slempang kecil yang palingan hanya berisi dompet dan handphone.


"Anjirr,, bilang atuh kalo lo pada mau pacaran dulu" singkap Dirga seraya tergelak. "Kan gue jadi bisa berduaan dulu sama Laras."


Lukas memandang ngeri pada Mahendra dan Dirga ngeri, "Mrinding banget gue liat kalian berdua. Gan lo gak di gigit lagi kan sama Mahendra?" Pria itu beralih bertanya pada Gantari dengan tatapan khawatir.


"Apa sih, gak jelas banget lo pada!" Tungkas Gantari kemudian berjalan menghampiri Mahira dan Nathan.


"Ya lagian lo pada ngapain aja anjir di kamar berduaan selama satu jam. Kampret banget" masih di sertai kekehan kecil kini Dirga ikut protes pada Mahendra yang juga berjalan menuju mobil membawa koper milik Gantari.


"Kita packing" ucap Mahendra santai.


"Packing sekalian unboxing" sela Lukas langsung mendapat teplangan dari Keshwari. Pria itu meringis kesakitan, "sakit Ay!"


"Mas, kalo ngomong di filter dulu"


"Emang aku ngomong apaan? Kan siapa tau mereka udah packing tapi di unboxing lagi, mangkannya lama"


Keshwari hanya memutar bola matanya, memang dasar otak pria isinya begituan semua.


Setelah berpamitan dengan pemilik rumah yaitu pakle Tejo dan bi Mina, dan Juga Jihan. Akhirnya mereka memasuki mobil masing-masing. Namun agaknya Yanuar masih belum rela pergi dari Jihan terlihat dari cara berpamitannya yang terhitung lama. Yanuar mulai pasrah, dirinya akan menjadi manusia ngah ngoh lagi di perjalanan pulangnya.


Mahendra mengambil alih kemudi mobil Nathan, tadinya pria itu bersih keras untuk membawa mobilnya sendiri namun dengan cepat di sergah oleh Mahendra. Nathan masih dalam kondisi pemulihan dan ini perjalanan yang cukup jauh tidak mungkin juga Mahendra membiarkan adiknya itu menyupir.


"Bang, kalo lo ngantuk bisa gantian sama gue" ucap Nathan yang berada di jok belakang dengan Mahira yang tengah tertidur di bahunya.


Mahendra sedikit melirik lewat spion tengah tanpa merespon Nathan. Gantari yang duduk di sepan bersama Mahendra lantas menoleh pada Nathan.


"Kamu tinggal istirahat aja Nat, nanti kalo Mahendra capek bisa gantian sama aku" kata Gantari sontak membuat Mahendra langsung menatap Gantari sebelum kemudian ia fokus kembali ke jalan.


"Emang lo bisa nyetir?" Tanya Mahendra yang sedikit tidak percaya.


Gadis itu mengangguk, "bisa"


"Kok gue gak pernah liat lo nyetir, kan lo gak ada mobil"


"Iya iya tau yang sudah terlahir kaya"


"Dulu pernah di ajarin sama ayah. Waktu gue lulus SMA Ayah gue sempet ngajarin"


Mahendra mengangguk, "berarti udah 5 tahun yang lalu ya? gue yakin sekarang udah lupa ilmunya"


Gantari lantas menoleh pada Mahendra yang masih terfokus seraya terkekeh, "Wahhh, ngeremehin gue lo?"


Mahendra menghendikan bahunya, kemudian tersenyum. Gerakan tangannya memutar setir dengan handal hanya menggunakan satu tangan kelihatan sudah sangat pro ketika Mahendra mengendalikan mobil pada tikungan.


Gantari semakin terpaku, sejak kapan Mahendra terlihat sangat keren seperti ini? Atau apa mungkin Gantari yang baru menyadarinya? Bahkan ini kali pertama ia menyaksikan Mahendra menyetir.


Di sela-sela kemudinya, Mahendra sadar diperhatikan oleh Gantari sejak tadi lantas tergelak. Pria itu sedikit mengintip ke kaca spion tengah dan menemukan Nathan yang sudah terlelap bersama dengan Mahira.


Tangan kiri yang sedari tadi menganggur kini mulai tergerak meraih tangan milik Gantari membuat gadis itu sedikit terkejut, namun setelahnya gadis itu tersenyum juga. Mahendra nengenggam tangan kecil itu, mengusapnya begitu lembut, sampai sang empu mulai merasa nyaman. Dan pada akhirnya Gantari ikut tertidur.


Mahendra semakin tersenyum saat melihat gadisnya terlelap begitu nyaman. Dan di satu sisi dirinya juga merasakan bahagianya karena dapat menyaksikan orang-orang yang berada di sekitarnya bahagia.


Kini Mahendra hanya akan mempertahankan segalanya yang membuat dirinya bahagia. Kini ia bisa bernafas lega, setidaknya rasa sesak itu kian melebur mengikuti helaan nafas itu.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...


Sesampai di kota tepatnya di persimpangan jalan antara angkringan Bu Ummi dan rumah sakit mobil yang dikendarai Oleh Lukas memisahkan diri, ia berbelok mengantarkan Laras terlebih dahulu.


Mahendra masih berjalan lurus sampai mereka di komplek perumahan Gantari. Mahendra memilih untuk membawa Nathan menginap beberapa hari di rumahnya. Karena dirinya belum yakin untuk meninggalkan pria itu tinggal sendiri, ia perlu berbicara dulu dengan om Wisnu, apakah rumah itu sudah benar-benar aman atau belum.


Kedua pria itu membantu mengeluarkan seluruh barangnya yang berada di dalam mobil,


Dari arah pintu rumah Gantari menampakan seorang pria paruh baya yang baru saja keluar seraya tersenyum. Gantari yang menyadari itupun langsung tertegun sampai pada akhirnya ia ikut tersenyum kegirangan. Gadis itu langsung menghampiri pria yang berdiri menjulang di depan pintu, ia langsung memeluknya dengan erat.


"Suprise" lirih pria paruh baya itu seraya tersenyum di sertai dengan usapan lembut pada punggung sempit anaknya itu.


Gantari jelas sangat terkejut dengan kedatangan Denish sang Ayah yang tiba-tiba sudah berada di rumah. "Katanya gak bakalan pulang tahun ini."


Tanpa sadar matanya berair tanda bahwa akan keluar air di pelupuk matanya. Kemudian gadis itu menyembunyikan wajahnya pada dada Denish.


"Heyy, nanti baju Ayah basah!" Tegur Denish namun Gantari tidak perduli, gadis ini sudah sangat merindukan Ayahnya. Lalu kemudian beliau tergelak melihat anak gadisnya yang menangis di pelukannya, sudah lama sekali tidak melihatnya menangis seperti ini.


"Dih, udah gede masa nangis" suara Mahendra terdengar mencairkan suasana, membuat Gantari menyudahi tangisannya.


"Berisik lo!!!" Kesal Gantari, bibirnya masih sedikit bergetar. Tangan Ayahnya terulur mengusap air mata Gantari.


"Halo Om Denish, tambah seger aja yah Om" ujar Mahendra kembali menyapa, kini tangannya terulur menyalami tangan Ayahnya Gantari.

__ADS_1


Denish lantas tersenyum, "Mahendra, gimana sehat?"


Mahendra mengangguk, "sehat kok Om, cuma ya kadang Gantari bikin saya pusing tapi gak papa sekarang udah biasa"


Gantari yang sedari tadi diam lantas mendengus, yang ada malah Gantari yang darah tinggi setiap harinya. "Gak kebalik? Gue sekarang jadi sering darah tinggi selama hidup sama lo!"


"Untung gue baik hati, kalo enggak mah udah gue buang lo ke sungai!"


"Jangan gitu dong sayang" kilah Mahendra dengan nada imutnya.


Mendengar Mahendra yang tanpa sadar memanggil sayang itu lantas membuat Denish, Nathan dan Mahira terbelalak. Mereka tidak salah mendengar kan?.


Gantari yang masih belum lepas dari Denish itupun langsung panik setelah mendapat tatapan menuntut dari sang Ayah. Gantari menggeleng mencoba untuk menjawab pertanyaan yang tak terucap itu.


Denish tergelak, "gak papa kok, Mahendra baik ini"


Merasa sudah mendapat lampu hijau dari Denish, hati Mahendra langsung berbunga di tandai dengan senyumnya yang tertahan. Gantari hanya dapat mengerucutkan bibirnya.


Setelahnya arah pandang Denish tertuju pada Nathqn dan Mahira yang sedari tadi hanya diam. Merasa di tatap seperti itu Nathan langsung menyalami Denish lalu bergantian dengan Mahira.


"Adik saya Om, Nathan. Kalo yang ini Mahira pacarnya" kenal Mahendra pada Denish.


Hal itu sontak membuat Nathan dan Mahira saling tatap sampai pada akhirnya mereka menatap Mahendra penuh pertanyaan. Pasalnya mereka berdua belum sama sekali memiliki hubungan sejauh itu.


"Oh, Mahendra punya adek? Wahh, Om baru tau ini"


Nathan tersenyum kikuk, ia hanya bisa mengangguk mengiyakan pernyataan Mahendra yang mengenalkan Mahira sebagai pacarnya.


"Gini Om jadi untuk sementara saya minta ijin Mahira buat tinggal bareng Gantari dulu. Daripada nanti Mahira ngembul saya sama Nathan kan bahaya, heheh jadi mending ngembul sama Gantari aja" ijin Mahendra sedikit di bumbui dengan candaan membuat Denish tergelak untuk kesekian kalinya.


Denish hanya mengangguk, kemudian membiarkan Mahira memasuki rumahnya dan Nathan memasuki rumah Mahendra.


Nathan mulai merapihkan barang bawaannya, kopernya kemudian ia letakan di belakang pintu kamar Mahendra. Dirinya terlihat mengedarkan pandangannya melihat seluruh penjuru kamar Mahendra yang memang terlihat minimalis dengan ranjang singgle bad dan tidak terlalu besar, mungkin hanya mampu untuk menampung satu orang saja.


Ini kali pertama dirinya memasuki rumah serta kamar kontrakan Mahendra, karena biasanya Nathan hanya mampu mengunjungi pria ini sampai depan rumah saja. Dia sering berkunjung ke rumah ini tetapi Mahendra tidak pernah membukakan pintu untuknya, itulah yang membuat Nathan merasa bingung untuk pulang kemana. Saat itu ia juga tidak tau harus meminta pertolongan kepada siapa saat Mahendra mengabaikannya dan tak menerimanya.


"Lo, tidur di atas. Biar gue yang tidur di bawah" suara Mahendra terdengar hingga membuat Nathan yang masih berdiri itu sontak menoleh.


Pria itu menasuki kamar dengan handuk berwana pink yang ia pakai untuk mengusak rambutnya yang basah. Pria itu baru saja membersihkan dirinya.


Nathan menggeleng, "gue yang di bawah aja"


"Lo mau kena paru-paru basah? Udah deh gak usah aneh-aneh." Kata Mahendra sedikit meninggikan suaranya. Nathan jelas langsung menciut dan terdiam.


Nathan beralih mengambil handuk yang berada di tasnya, kemudian melenggang keluar kamar.


"Gak usah mandi! Cuci muka sama gosok gigi aja!"


"Iya" singkat Nathan, dirinya keluar dengan sedikit tersenyum. Mahendra kembali protektif, dia masih tau kalau mandi malam dapat membuatnya rematik tapi malah Mahendra sendiri masih sering mandi malam. Memang dasar.


Setelah selesai dengan aktivitas membersihkan diri, Nathan kembali memasuki kamar dan dirinya menemukan Mahendra yang sudah merebah di bawah dengan kasur busa tanpa sprei. Pria itu terlihat memainkan ponselnya.


"Susunya jangan lupa di minum" perintahnya tanpa melihat Nathan, pria itu masih asik bermain dengan ponselnya.


Nathanpun langsung meminumnya tanpa mengatakan apapun. Kemudian ia langsung ikut merebahkan dirinya pada kasur menatap langit-langit dengan cahaya yang meremang.


"Bang-" ucapan Nathan terhenti, "Gue kangen bunda" lanjutnya, membuat Mahendra yang tengah bermainpun ikut terhenti.


Mahendra menghela nafasnya sebelum dirinya menoleh pada Nathan yang tengah termenung menatap langit-langit kamarnya.


"Bang, gue bisa gak yah ketemu bunda"


"Nat, kalo tujuan lo buat minta maaf doang lo gak perlu sampai segitunya. Bunda emang udah gak ada, tapi gue harap lo gak lupa bahwa bunda bakalan tetep bareng sama kita. Disini lo udah gak sendirian lagi, mulai sekarang dan seterusnya lo bisa cari gue. Limpahin semua beban itu, gue cuma mau jadi abang yang lebih baik buat lo!"


Setelah mendengarkan hal itu Nathan ikut menoleh menatap Mahendra yang berada di bawah. "Tapi lo juga harus bahagia Bang"


Nathan kembali menatap langit-langit kamar, "gue bangga banget punya abang kayak lo, mangkanya setiap waktu gue pengen banget jadi lo. Jadi Mahendra yang mempunyai segala cara untuk bebas, lo selalu punya cara untuk berwarna bang, sampe-sampe banyak orang yang mikir enak yah jadi lo. Dan sampai mereka lupa bahwa lo juga punya luka."


Untuk waktu yang lama, keduanya terdiam. Entah apa yang membuatnya terdiam tapi atmosfer ini memang sangat cocok untuk merenung. Ruangan yang meremang menjadikan suasana menjadi lebih pas untuk menyembuhkan luka masing masing.


Mahendra menghela nafasnya, "Jangan merasa sendiri lagi, Nat."


Anak yang berada di ranjang itupun sedikit mengukir senyum dengan mata yang sudah tertutup, ia kemudian ikut menghela nafasnya lega lalu terlelap di dalam tidurnya.


Mahendra bangkit, tangannya terulur menaikan selimut tebal yang jarang di pakainya menutupi tubuh Nathan membiarkan anak itu tertidur dalam hangat.


Setelahnya, Mahendra kembali pada posisinya kini membelakangi Nathan yang sudah tertidur. Air matanya kini sudah merembes sampai ke pelupuk matanya. Ia berjanji akan menjaganya lagi, jika ia harus kehilangan nyawanya itu tidak apa setidaknya Mahendra dapat melihat Nathan berbahagia dengan masa depannya.


Tanpa di rasa, Mahendra ikut terlelap dengan tubuh yang meringkuk hanya tertutup selimut tipis khas rumah sakit favoritnya.


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...





Aku harap kalian gak melupakan moment ini🤍

__ADS_1


Sayang banget sama mereka berdua. 🙌


__ADS_2