JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
25. Rahsa Sarayu.


__ADS_3

AYOK BISMILLAH DULU.


JANGAN LUPA UNTUK VOTE DAN KOMEN NYA YAHH, NANTI DI KASIH KETCUPP SAMA MAHENDRA.๐Ÿ˜š


SELAMAT MEMBACA DAN SELAMAT BERMALAM MINGGU. เฒ โ ย อœโ ส–โ ย โ เฒ 


18+



...____________โโโ..ห—หห‹ 'หŽห—..โโโ__________...


Di atas laju motor Mahendra yang di rasa santai, Gantari merasakan bahwa pria ini sangat menikmati perjalanannya. Perjalanan yang sama sekali Gantari tidak tau kemana arah tujuannya, gadis ini hanya mengikuti motor ini melaju.


Sedari tadi Mahen pun sama sekali tidak menanyakan kepada Gantari kemana tempat yang ingin gadis ini kunjungi. Jalanan menanjak dan berliku menuju ke arah pegunungan membuat Gantari sesekali menahan nafasnya tegang, ia tidak menyukai ini.


Mahendra hanya mengatakan bahwa ia akan membawa Gantari Camping. Yah Mahendra adalah pria yang sudah kelewat aneh, dia tidak mempersiapkan apapun untuk acara camping ini.


Terlebih ketika motor palang Mahen tiba - tiba terhenti di tengah tanjakan tajam dan panjang, tangan Gantari sontak terulur memeluk erat perut Mahen.


Jauh di depan sana Gantari melihat pemandangan Telaga yang luas dan panjang, di sepanjang jalan yang sudah benar tak menanjak seperti tadi, Gantari menghela nafasnya lega.


Mahen menghentikan motornya tepat di depan loket untuk membayar tiket masuk. Kemudian keduanya melajukan motornya kembali hingga berhenti di tepian telaga, di atas rerumputan yang sudah melebat terdapat satu tenda yang sudah lengkap dengan kayu bakar dan beberapa alat memasak di depannya. Gantari terkagum, ia kini tidak perlu menaiki gunung hanya untuk menikmati view seperti ini.


Dan dalam jangkauannya Gantari dapat melihat Telaga yang terbentang sangat luas di bawah semburat cahaya jingga oleh matahari yang hampir tenggelam.


"Lo gak takut sama Telaga juga kan, Gan?" Tanya Mahen sontak membuat Gantari terkekeh.


"Telaga kan bukan sumber Tsunami" tanggap Gantari.


Mereka duduk di tepian telaga dengan di temani 2 cangkir teh hangat seraya menikmati hembusan angin sore yang entah mengapa terasa dingin walaupun sinar matahari masih bersinar dengan semangatnya.


"Mahen?" Panggil Gantari, Mahen menoleh ke arah gadis yang tengah duduk di sampingnya.


"Lo tau gak sih kenapa gue benci banget sama pantai" tanya Gantari yang jelas Mahen tidak tau jawabannya.


Mahen menggeleng, "kenapa?".


"Dulu waktu umur gue 9 tahun, Gue pernah hampir mati tenggelam."


"Kenapa bisa tenggelam?"


"Dulu pernah ada anak yang tenggelam di area pantai tempat gue liburan sama Ayah. Gak tau kenapa saat itu insting superhero gue muncul aja gitu, gue ngeliat sekitar kayaknya gak ada yang nyadar kalo ada anak yang minta tolong, gue liat lebih deket niat pengen nolongin, eh malahan gue ikutan kesapu ombak" terang Gantari.


"Terus Ayah lo dateng nolongin lo?"


Gantari menggeleng, "Gue rasa itu bukan Ayah, samar-samar dia juga anak yang seumuran sama gue. Gue gak inget, tau-tau gue udah di klinik ngeliat Ayah yang udah nangisin gue. Gue ngira diri gue udah mati."


Mahen menatap lamat gadis di sampingnya ini, tidak dengan langit sore yang membuat hari ini terlihat cerah tetapi semburat wajah gadis inilah yang menjadi sendu.


"Tapi kan cerita lo gak ada hubungannya sama Tsunami, Gan. Kenapa setiap gue tanya kenapa lo benci pantai jawabannya selalu takut Tsunami?"


Gadis ini terkekeh, "Tenggelam karena Tsunami itu lebih menakutkan Mahendra."


"Kalo gue nyebur nih ke Telaga, lo mau nolongin gue?"


"Tergantung, kalo misal gak ada orang yang bantuin lo. Terpaksa gue yang bakalan nolongin."


"Berarti lo nolongin gue karena kepaksa?"


"Iyalah kepaksa, kalo ada orang lain yang mau nolongin lo ya kenapa harus gue?. Eh Bentar, Gue kan gak bisa berenang." Terus Gantari.


Mahen tersenyum, "Nolongin gue gak harus ikutan nyebur kok, gue gak setega itu menarik orang buat ngerasain rasa sakitnya juga."


Seperkian menit mereka terdiam, sama-sama tengah menikmati angin yang dingin di bawah langit jogja yang masih cerah.


"Mahen?" Panggil Gantari, pria di sampingnya menoleh ke arahnya.


"Lo lebih suka pantai apa pegunungan?"


"Gue lebih suka lo" tanpa berpikir panjang Mahen menjawabnya, jawaban yang sama sekali tidak ada dalam pertanyaan gadis ini.


Gantari tersekat, dia sudah tidak bisa lagi mengeluarkan sepatah katapun. Pandangan mereka terlekat satu sama lain.


Di bawah langit pegunungan Jogja yang dingin, mereka enggan untuk bergerak merasakan semilir angin yang semakin menggugurkan dedaunan yang telah mengering.


Mata yang sama-sama tak mau berpaling, Mahen sekali lagi bersuara denga sedikit penekanan. "Gue suka sama lo."


Ini mungkin pengakuan Mahen untuk kesekian kalinya yang didengar oleh Gantari.


Gantari membuka suara setelah matanya berkedip "Lo tadi gak salah minum antimo kan?"


Mahen menghela nafasnya pasrah, sesuai dugaannya hidup gadis ini memang tidak cocok dengan genre romance.


"Takutnya lo lagi mabok" Gantari berucap lagi tanpa melepas pandangan lekatnya pada Mahendra.


Mahen menatap gadis di sebelahnya dengan lamat dan sedikit menelisik berharap ada celah romansa seperti gadis-gadis lainnya.


"Dah lah! Gagal buat romantis, lo nya bercanda mulu." Pasrah, Mahendra sudah berpasrah.

__ADS_1


Pria ini dengan lucu memalingkan pandangannya lalu memutus kontak dengan Gantari yang kemudian tersenyum tipis.


Setelah menikmati perjalanan yang dinilai cukup asik oleh Gantari itu justru membuat Mahen kecewa karena tidak ada hal yang membuatnya tertarik, padahal dia sendiri yang mengajak Gantari ke pegunungan hanya untuk melihat telaga.


Bisa dibilang, niat Mahen membawa Gantari ke Telaga adalah untuk mengungkapkan perasaannya. Tetapi jauh dari semua itu, Mahen jadi mengerti bahwa gadis inilah yang paling kesepian. Dia diantara butiran-butiran sepi itu ia menjadikan Mahen kembali merasakan bagaimana cara membuat warna di atas awan yang kelabu.


Ini seperti dua manusia yang berusaha menepikan sepi masing-masing.


Gadis yang 2 tahun terakhir ini ia kenal, memberikannya begitu banyak kenangan baik yang mungkin tidak akan pernah terlihat oleh siapapun.


"Mahendra" panggil Gantari dengan begitu lembut membuat pria itu otomatis tertoleh menatap gadis di sampingnya.


"Jadi hubungan lo sama Nathan itu apa?" Lanjut Gantari.


Mahendra tergelak, "lo masih kepo? Gue kira udah lupa"


"Gue cuma penasaran aja, setiap kali lo ketemu papasan sama Nathan atmosfer lo kayak mendung gitu. Tadi juga kenapa Nathan tiba-tiba di Jogja? Kata anak-anak yang lain bilang Nathan pindah ke London "


Mahendra masih menatap lamat, ia tengah meyakinkan dirinya sendiri untuk memulai bercerita.


Pria itu beralih menatap telaga di depannya, "Nathan adek gue"


"Hah?" Dengan sangat jelas terpancar di wajah Gantari bahwa ia tengah terkejut dengan pengakuan Mahendra yang bagaimana mungkin kenyataan bahwa mereka adalah saudara.


"Lo gak percaya?" Mahendra kemudian sedikit tertawa getir, "Gue juga emang gak pantes sih di jadiin saudara sama dia".


"Enggak, maksud gue saudara kandung?" Tanya Gantari dan langsung di tanggapi oleh anggukan oleh Mahendra. "Tapi kenapa lo bertingkah seolah-olah gak kenal sama Nathan? Setiap kali ketemu, perasaan lo selalu abu"


Untuk kesekian kalinya Mahendra terkekeh, "ada banyak hal yang terjadi di masa lalu, Gan. Gue cuma pengen ngeliat dia hidup dengan bahagia, ya walaupun kadang gue masih suka iri kalo setiap kali ngeliat Nathan. Gue ini egois, banyak banget perasaan yang bikin gue gak pantes hidup di dunia hidup sebagai saudara Nathan"


"Akhir-akhir ini gue baru aja sadar sekaligus tertampar, gue ngerasa gak berguna banget jadi abang setelah tau selama Nathan hidup tanpa gue dia ternyata jadi bahan investasi dan kekerasan sama Ayah. Dan kemaren gue baru tau kalo ternyata Nathan punya kelainan jantung padahal sebelumnya dia juga punya asam lambung" Mahendra kembali tertawa getir, seakan tengah menertawakan dirinya sendiri.


"Selain gue gak becus jadi anak, gue juga gak bisa jagain adek gue sendiri. Harusnya dulu gue dengerin permintaan bunda buat ngejagain Nathan, eh malah gue jadi buta nyalahin Nathan sebagai alesan penyebab bunda gue meninggal, padahal jelas-jelas dia juga sama sakitnya"


Pria itu masih bercerita banyak tentang segala hal mengenai dirinya sendiri yang bahkan Gantari baru mengetahuinya. Sampai pada akhirnya semuanya menjadi sendu. Mahendra merampungkan ceritanya dan di dengarkan sangat baik oleh Gantari. Pria itu sekarang menjadi lebih lega atas perasaannya meskipun rasa sesak itu akan datang kapan saja, tapi ini sudah jauh lebih baik daripada harus menyimpannya sendirian.


"Tau gak sih Gan, kenapa lo itu suka banget liat lukisan pantai. Tapi lo takut kalo liat dia langsung?" Tanya Mahendra sedikit mengerutkan keningnya saat dirasa angin malam mulai menerpa pandangannya.


"Karena bisa jadi hal yang paling lo takutin adalah hal yang paling cocok buat lo" belum sempat Gantari menjawabnya, Mahendra meneruskan kalimatnya sebagai jawaban dari pertanyaan nya sendiri.


"Gue pernah takut sama Ayah yang setiap hari marahin Bunda, gue pernah takut kalo Nathan gak bakalan bisa sembuh, gue juga pernah takut sama semesta gak mau nerima gue. Gue bakal selalu ngehargain rasa takut itu, karena mungkin tanpa rasa takut gue gak bakalan bisa bertahan sejauh ini".


Selanjutnya Gantari tersenyum simpul, ia menatap sebentar pada Mahendra sebelum kepalanya ikut tertoleh memandang telaga yang kini sudah mendapat pancaran cahaya dari bulan di atas sana.


"Mahendra, gue memang pernah banget pengen ngilangin lo dari dunia ini. Karena memang lo semenyebalkan itu. Tapi kali ini jangan salahin gue kalo sekarang gue mulai mengakui kehadiran lo, mulai menyukai segala hal tentang lo yang mungkin bikin gue sempet mikir dunia ini memang butuh orang perhatian kayak lo!. Tanpa lo sadari, lo itu masih perhatian dan sayang sama dia cuma karena rasa gengsi aja."


"Jangan pernah lari dari diri lo yang sebenarnya, gue gak mau lo sampai menyesal untuk kedua kalinya. Jaga apa yang memang seharusnya dijaga. Kan lo sendiri yang bilang kalo lo gak mau kehilangan sesuatu yang memang sudah lo jaga dari lama! Lo itu cuma takut, takut jika pada akhirnya dia akan pergi juga." Gantari meneruskan kalimatnya.


Bahkan di kedua mata gadis ini juga menampakkan ketulusan. Sungguh, Mahendra menjadi semakin terjatuh dalam tatapan teduh milik Gantari.


Keduanya saling menatap mencoba menyelami perasaannya masing-masing, mereka bahkan membiarkan teh yang tadinya menghangat kini sudah menjadi dingin. Mereka terlalu asik bercerita, sampai angin yang berhembus menjadi iringan bahwa ia tidak bisa jika harus menyimpan segala perasaannya sendirian, mereka seharusnya berbagi.


Mahendra semakin mendekat, mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Gantari. Matanya mulai menyayu sebelum akhirnya terpejam, saat hembusan nafas Mahendra yang menerpa bersamaan dengan angin yang menyibakan surainya, Gantari mulai terhipnotis matanya ikut menyayu seiring dengan bibir tebal Mahendra kembali menyentuh bibir milik Gantari.


Menyentuhnya begitu lama sampai pada akhirnya Mahendra memberanikan diri untuk meraup bibir manis milik Gantari yang masih tertutup. Getaran dan debaran semalam kini ia rasakan kembali. Benda lembut yang menyentuh manis membuat Gantari melupakan hawa dingin yang kini mulai menusuk tulangnya.


Tangan Mahendra meraih tekuk gadisnya agar semakin mendekat dan lebih dalam. Apa dengan seperti ini caranya berbagi perasaan? Mahendra akan meminta maaf akan hal ini, ia hanya tidak bisa menahan perasaannya seorang diri.


Rasa pening kembali menyeruak di kepala Gantari, ia meyakini akan ada banyak kupu-kupu yang segera meledak di dalam kepalanya. Sungguh ia terlena dengan bibir lembut Mahendra yang masih setia meraup tanpa menuntutnya.


Gantari mulai membuka sedikit bibirnya membiarkan pria ini meluapkan segala perasaan-perasaannya. membiarkan hembusan angin dingin itu menjadi menghangat. Gadis ini mulai mengikuti ritme pergerakan Mahendra sampai akhirnya dia merasa payah dan frustasi karena tidak dapat mengimbanginya.


Di depan Telaga dan di bawah Langit malam dengan sedikit Bintang kini seolah menyanjung dengan suara gemericik aliran air dan hembusan angin yang menggerakan daun kering.


Tautan keduanya terputus namun tak ada niatan sama sekali untuk mengikis jarak, mereka tengah mengatur nafas untuk dapat memulainya lebih dalam lagi.


Kupu-kupu di kepala Gantari semakin banyak saja, jantungnya semakin berdebar saat Mahendra meraup bibirnya kembali dengan perasaan yang lebih gundah terasa dari tekanan ditekuknya dan lumatannya. Menghisap bibir bawah Gantari sesekali menyapunya.


Ini memang lebih gila dari yang terjadi di ruangan Mahendra kemarin malam.


Segala hal yang menjadi batas tidak dapat lagi mereka pertahankan.


...____________โโโ..ห—หห‹ ยดหŽห—..โโโ__________...


Mata Gantari terbuka perlahan, memperlihatkan sosok pria yang tertidur dengan tenang di sampingnya.


Hembusan nafasnya masih teratur, tidak ada lagi racauan ataupun suara berisik dari bibirnya.


Tangan Gantari terulur berusaha menutupi wajah Mahendra dari pancaran sinar Matahari yang menyelinap masuk lewat celah tenda, sungguh tampan. Tanpa sepengetahuannya Gantari tersenyum kecil, Mahendra sama sekali tidak terganggu saat tangan Gantari bergerak sedikit bermain dengan bayangan tangannya yang berada di wajah Mahendra.


Tidak ada pergerakan ataupun respon apapun dari Mahendra, Gantari menjadi usai. Ia kini lebih memilih untuk menikmati setiap sisi dan sudut wajah paripurna seorang Mahendra. Tidak ada satupun bagian wajahnya yang bergeragal dan segalanya sempurna.


"Gue tau, gue ganteng. Liatinnya biasa aja" Mahendra bersuara, suara berat khas bangun tidur membuat Gantari sedikit tercekat. Gadis itu mengulum bibirnya sendiri.


"Gak ada orang ganteng ngaku ganteng" sindir Gantari.


"Ada, nih gue buktinya" Mahendra semakin merapatkan tubuhnya, kemudian menarik tubuh Gantari untuk semakin mendekat. Pria itu kembali memeluk Gantari.


"Mahendra!!! Pengap anjir" keluh Gantari saat Mahendra memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Heh, mulutnya!!!" Mahendra sontak membuka matanya, menatap Gantari penuh dengan cecar.


"Ya lo lagian ngapain meluk-meluk gue!"


"Halah, semalem aja lo meluk-meluk gue."


"Siapa?"


"Lo"


"Hihh, enggak. Ngapain juga gue meluk-meluk lo!" Gantari begidik. Lantas Gantari menatap sedikit nyalang Mahendra.ย  "Awass ih!!"


Kemudian Gantari merubah tatapannya menjadi curiga, bisa saja pria ini sudah kelawat batas. "Jangan bilang lo..."


Mahendra yang merasa dilihatin seperti itupun merasa sudah mengerti maksud dari tatapan Gantari. Gadis ini sudah berfikiran yang iya iya pada Mahendra.


"Cuma meluk Gan, gak gue apa-apain. Lagian kalo misalnya gue ngapa-ngapain lo udah dari semalem gue ngapa-ngapain lo" Kelakar Mahendra, kini ia semakin merengkuh tubuh kecil Gantari. Gadis itu kini hanya bisa pasrah.


Mahendra perlahan menutup matanya kembali, rasanya kantuknya itu belum menghilang.


"Mahen..."


Mahendra hanya berdehm.


"Yang kemaren sama Nathan, siapa?" Tanya Gantari sedikit mendongak, Mahendra merendahkan pandangannya membuka mata perlahan.


"Pacarnya" Jawabnya singkat. "Kenapa emang?" Mahendra balik bertanya.


"Patah hati gue"


"Ngapain juga patah hati, kan lo udah dapet abangnya" ujar Mahendra seraya menaik turunkan alisnya.


"Gakk mauuu, maunya Nathan" keluh Gantari.


"Nathan sukanya sama cewek kalem"


"Gue kan kalem" aku Gantari, memuji dirinya sendiri.


"Kalem apaan, kek cacing kepanasan gitu lo ngaku kalem"


"Gue aslinya kalem, cuma karena sering ketemu lo ajaย  jadi darah tinggi mulu!"


"Eh, serius itu pacarnya Nathan?" Tanya Gantari kembali merasa belum yakin pada Mahendra.


"Nanti juga pacaran"


"Berarti belum kan?" Gantari menjauhkan tubuhnya dari Mahendra, "Minggir!"


Mahendra yang melihat Gantari akan bangkit langsung menarik lengan gadis itu sampai menubruk tubuh Mahendra lagi.


"Lo mau kemana?, Lagian lo mau berusaha gimanapun, si Nathan bakalan tetep sukanya sama Mahira" ujar pria itu membuat Gantari sedikit kecewa, ia sedikit mengulum bibirnya karena memikirkan bahwa sudah tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hati seorang Nathan.


"Nathan tuh udah naksir Mahira sejak SD, jadi usaha lo bakalan percuma. Dia kalo udah suka sama cewek gak bakalan ngelirik cewek lain." Mahendra terkekeh saat pikirannya berkelana ke masa lalu. Masa dimana saat melihat adiknya terpukau dan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Jadi udah gak bisa nih?" Tanya Gantari menatap Mahendra mencari keyakinan. Pria itu mengangguk dengan pasti.


"Yahhh,,, " Gantari kecewa untuk kesekian kalinya.


"Yaudah sih, sama gue aja. Sama-sama ganteng ini"


"Yaudah deh" kata Gantari lalu menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Mahendra dengan rasa kecewa, merasa buntu dan pasrah.


Mandengar hal itu, Mahendra mencoba menggoda Gantari. "Apa Gan? Gue gak denger"


"Apa?" Gantari mengulang pertanyaan Mahendra masih dengan menyembunyikan wajahnya.


"Tadi lo bilang apa? Jangan pasrahan gitu napa jawabnya."


"Bodo ah" Gantari semakin menyembunyikan wajahnya yang terlihat sudah memerah.


Mahendra tergelak, "coba liat itu muka lo udah merah"


"Enggak" elak Gantari saat tangan Mahendra mencoba menangkup wajah Gantari. Tidakk bisaaa, Gantari sudah sangat saltinggg rasanya ingin menghilang saja dari dunia inii.


Melihat Gantari yang terus mengelak seperti itu, Mahendra kemudian tertawa gemas kemudian merengkuh tubuh mungil Gantari untuk lebih merapat pada tubuhnya.


Biarlah, mungkin memang seperti ini caranya berbagi perasaan. Setidaknya mereka masih saling menemukan, dan tidak lagi kesepian.


...____________โโโ..ห—หห‹ ยดหŽห—..โโโ__________...



Foto ini di ambil sebelum Mahendra cosplay jadi vacum cleaner ๐Ÿ˜ญ๐ŸคŒ



.


.

__ADS_1


Udah yahh, udahann saltingnya...


__ADS_2