
...
...
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Gantari pernah mengeluh mengapa hidupnya sangat membosankan seperti ini, sampai pada akhirnya Tuhan mengirimkan Mahendra dalam kehidupannya. Padahal tidak apa jika hidup gadis ini sepi, karena memang kini ia sudah terbiasa dengan rasa sepi itu. Sama halnya seperti ia yang ditinggal oleh sang Ibu tepat dihari dimana dirinya terlahir di dunia ini, kemudian ia di tinggal oleh sang Ayah yang merantau jauh keluar kota dan akan pulang setiap 6 bulan sekali.
Neneknya pun juga tidak terlalu sering berkunjung kerumahnya, alasannya adalah rumah beliau yang memang cukup jauh dari kompleks Gantari.
Kini hanya tertinggal Mahen, entah apa yang membuat pria itu betah tinggal di kontrakan yang terbilang kecil itu, tinggal bersebelahan dengan gadis seperti Gantari bukankah sangat membosankan? Terhitung sudah hampir 2 tahun, mungkin hanya tinggal beberapa tahun kedepan saja sampai Mahen lulus, Gantari akan kembali sepi. Mahen juga akan ikut pergi meninggalkannya.
Gadis ini memang tidak perduli dengan hal yang akan terjadi dimasa depannya nanti, jika ia hidup sendirian sudah tidak ada masalahnya bukan?. Ia hanya perlu memberi makan untuk dirinya sendiri agar bisa tetap hidup. Jika kata Mahen, lo harus tetap hidup walaupun gak berguna.
Lelaki itu memang selalu punya kejutan untuk hal-hal yang tak terduga, terkesan aneh tapi itu menyenangkan. Setidaknya Gantari tau, bahwa masih ada satu celah kecil bagi Mahen untuk masa depan yang lebih cerah.
Jika suatu saat nanti waktu itu tiba, waktu dimana Gantari akan hidup sendiri maka ia tidak akan pernah melupakan Mahendra sebagai manusia yang penuh dengan warna.
Gantari beranjak dari tidurnya, rasanya sudah pagi saja padahal ia baru saja tidur jam setengah 2 tadi setelah mengerjakan tugas proposal untuk penelitian nya minggu lalu. Tiyan memintanya untuk membuatkannya yang baru, kesal saja karena proposal miliknya kemarin tidak di terima padahal ia sudah meminta bantuan Tiyan untuk membantu mengeceknya.
Ia berjalan seraya membersihkan kotoran yang berada di matanya kemudian mengikat tunggal rambut sebahu miliknya. Berjalan menuju dapur lalu membuka kulkas meraih gelas plastik berisikan jus buah naga lalu meneguknya.
Gadis itu termangu beberapa saat menoleh kearah sisi tembok yang terpasang dengan rapih foto terindah yang pernah Gantari lihat, sosok mamahnya yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya tengah tersenyum tepat kearahnya.
"Bukankah hidup kalian akan lebih bahagia jika aku tidak terlahir di dunia ini?" Lirih Gantari menatap foto pernikahan kedua orangtuanya tepat di samping bingkai foto mamahnya.
"Mah, kenapa sih dulu mamah rela ngelahirin Gantari kedunia ini kalo pada akhirnya mamah pergi?" Gadis itu mulai emosional hanya karena menatap foto perempuan yang tersenyum bahagia itu.
Hatinya mendadak pilu, rasanya sesak saja karena kehadirannya hanya menghadirkan kekosongan untuk Ayahnya. "Gantari jahat banget ya Mah bikin Mamah pergi"
Bahkan gadis ini sama sekali belum pernah merasakan pelukan dari sosok wanita yang berada di foto itu. Gadis berambut terikat itu kemudian mengusap air matanya yang entah sejak kapan keluar dengan seenaknya, untuk kesekian kalinya ia menangis. Ia bahkan tidak memiliki seseorang yang sudi mengusap air matanya ini, lucu saja dia kan hanya hidup sendiri.
Gantari kemudian membasuh wajahnya lewat wastafel yang berada di dapur, ia sudah berhenti menangis. Seraya membawa jus buah naganya ia berlalu keluar rumah dan langsung menemukan Mahendra yang tengah mencuci motor antik miliknya.
Mahen terlihat membasuh motor kesayangannya itu dengan telaten seperti sudah dianggap seperti anak sendiri. Mengelap body motor menggunakan canebo yang ia basahi. Mahen ini termasuk pria yang merawat motornya dengan baik, walaupun motornya bukan keluaran terbaru dan terkesan kuno tapi entah mengapa motornya ini terlihat sangat bersih dan terawat hampir seperti baru.
Sesekali pria ini akan bersiul untuk sekedar memecahkan keheningan sewaktu mengelap motor kesayangannya. Jangan lupa Mahen selalu melakukan semua hal itu dengan mengenakan kaos lekton oblong hitam yang mampu membuat anak gadis ataupun ibu-ibu yang melewatinya akan tersipu malu hanya dengan melihat body goal dari Mahen si primadona komplek ini.
Hingga pada akhirnya pria itu tersadar dengan keberadaan Gantari yang tengah memperhatikannya, "Gue tau gue cakep, liatinnya biasa aja"
Wajah Gantari seketika julid, "Dihh, mata gue masih normal ya moon maap. Cakepan Nathan kemana mana!".
"Halahhh, dia oplas itu" celetuk Mahen yang membuat Gantari semakin menjulid.
"Kalo iri mah bilang aja, gak usah sampe ngomongin orang lain oplas!!!"
Iya gue iri, iri banget sama dia.
"Hih, ngapain iri. Dia tuh kecilnya ingusan banyak beleknya." Jawab Mahen dengan nada sedikit jengkel.
__ADS_1
"Sok tau!!!"
"Yaudah kalo gak percaya"
"Mahen, lo kenapa sih kek gak suka banget sama Nathan?!" Gantari bertanya dengan suara yang sedikit sinis, gadis ini penasaran saja karena setiap kali Mahen tidak sengaja bertemu atau berpapasan dengan Nathan raut wajahnya akan berubah.
Padahal hampir semua orang di kampus sangat membanggakan dan menyukai Nathan, tapi tidak dengan Mahen yang akan langsung memasang wajah julidnya yang sangat ketara bahwa ia tidak menyukai pria itu.
"Kalo gue suka, berarti gue homo dong???" jawab Mahen tak kalah sinis, "moon maap yahh Gantari gue masih normal".
Lahh? "Bukan suka itu astagaaaa Mahenn!!!" Ingin sekali Gantari menimpuk wajah menyebalkan Mahen dengan gelas plastik yang masih berisi jus buah naga ini, dia tidak perduli.
Tapi ya gak salah juga sih, tapi ini salahhh. Bukan itu yang dimaksud Gantari. "Maksud gue tuh, kenapa lo gak ngebanggain dia kayak orang-orang?"
"Kenapa lo gak ngejadiin Nathan sebagai inspirasi hidup gitu, biar hidup lo tuh berjalan ke arah yang benar."
Mahen tekekeh lalu kembali mengelap body motornya, "Dia udah punya cukup banyak orang buat ngebanggain dia". Pria itu terlihat tersenyum getir di sela-sela gerakan tangannya.
..._________________//_//_________________...
...●・○・●・○・●・○・●・○・●・○・●...
..._________________//_//_________________...
Di perjalanan menuju kampus, ada beberapa hal yang membuat Mahendra sangat menyukai saat-saat dimana ia berjalan membuntuti Gantari seperti ini.
Ini bukan Fakultas nya, tapi entah mengapa selain ia menyukai trotoar sebagai tempat dimana ia bisa menikmati telor gulungnya, di tempat ini ia bisa melihat wajah kesal seorang Gantari. Sekali lagi, dia menyukainya.
Seperti saat ini, Mahen hanya terkekeh sudut bibirnya tertarik seraya berjalan berjingkrak jingkrak seperti anak kecil, pria itu masih saja ingin melihat wajah kesal gadis di depannya itu setelah tadi ia menerima siraman air sabun bekas cucian motor miliknya dari Gantari.
Sepertinya ada yang aneh dengan pria didepannya ini, otaknya tidak tiba-tiba gila kan? Atau dia tidak lagi mencoba cosplay menjadi Luffy kan? Was was saja jika Mahen ingin bertingkah konyol di depannya seperti ini. Jika iya, sungguh ia akan bersikap seolah-olah tidak mengenali pria itu.
"Gue laper Gan, temenin gue makan yokkk" keluh Mahen seraya memegangi perutnya dengan wajah yang tadinya tersenyum berubah menjadi kusut.
Gadis itu menautkan keningnya, ia tidak salah kan melihat Mahen seperti itu? Sungguh sangat menggelikan. "Lahh, temen seperhutanan lo pada kemana??? Biasanya juga makan bareng temen lo!"
"Lukas lagi ke rumah neneknya di solo, Dirga lagi jaga caffe gegara hari ini gak ada kelas. Gue gabud banget"
"Terus urusan lo sama gue tuh apaa??"
"Ya temenin gue lah biar gak gabud gabud amat"
"Ogah, males banget gue nemenin lo."
"Kenapa sih Gan? Nemenin orang ganteng juga. Dijamin dapet pahala"
"Pahala palalooo, yang ada malah duwit gue entar yang bodong kalo pergi sama lo!" Kelakar Gantari, ini fakta karena selama dia hidup berdampingan dengan Mahendra, uangnya tidak pernah utuh jika pria itu sudah mengajaknya makan bersama.
"Dah lah, gue mau ketemu kak Tiyan ada kelas" lanjut gadis itu berniat meninggalkan Mahendra.
"Gue ikut" ujar Mahendra membuat Gantari bodo amat, dia tidak memperdulikan lagi dengan kegabutan seorang Mahendra. Gantari hanya menghela nafasnya samar.
__ADS_1
Mahendra tidak lagi berjalan dibelakang Gantari, pria itu sekarang beralih posisi tepat di sampingnya. Sampai pada akhirnya gadis itu memasuki ruangan kelasnya, Mahendra hanya bisa duduk di depan kelas seraya menunggu Gantari merampungkan tugas kampusnya.
Dia memang segabud itu ketika tidak ada kelas seperti ini, terlebih lagi teman-teman nya yang sibuk dengan liburannya. Mau menemui Yanuar juga tidak mungkin, jam segini anak itu pasti tengah berada di sekolahnya.
Yang ia katakan tadi pada Gantari bahwa dirinya lapar itu memang benar, ia sama sekali belum makan dari kemarin malam. Bukan karena tidak punya uang ataupun tidak memiliki saldo untuk membeli lewat online. Hanya saja ia sangat malas sekali untuk bertemu seseorang yang menunggunya tepat di depan rumahnya. Sangat keras kepala, padahal ia sudah mengatakan bahwa tidak ada waktu untuk bertemu namun orang itu tetap keukeuh menunggunya kurang lebih 2 jam. Sampai pada akhirnya Mahendra tertidur di soffa, dan berakhir ia tidak makan apapun.
Mahendra kini mengetuk-ngetukan ujung kakinya berniat untuk memecahkan keheningan, punggungnya ia sandarkan pada tembok, bibirnya terkulum merasakan kebosanannya saat ini. Sungguh Fakultas ini sangat sepi, orang yang berlalu-lalang sedari tadi juga masih bisa dapat dihitung dengan jari oleh Mahendra.
Pantas saja Fakultas Psikologi sering disebut sebagai Fakultas terhoror se-antero kampus ya karena memang sehening ini, bisa bisanya Gantari betah sekali duduk menyendiri di pojokan.
Setelah duduk hampir 1 jam dengan keadaan bokong panas dan prut yang keroncongan, Mahendra membenarkan duduknya menjadi tegak ketika melihat kelas Gantari yang sudah selesai dan terlihat beberapa Mahasiswa yang keluar dari kelas.
Terakhir ia melihat Gantari yang keluar bersama Tiyan dan Nathan. Tunggu dulu, Nathan? Bagaimana bisa anak itu berada di kelas Gantari? Eh, tapi jika di pikir-pikir apa sih yang gak bisa dilakukan oleh anak itu, mau keluar masuk fakultas seperti nya adalah hal yang sangat mudah untuk di lakukan.
"Kamu udah makan belum?" Tanya Nathan pada Gantari lirih namun masih dapat didengar oleh Mahen.
Mereka mendadak berhenti di depan pintu kelas, sungguh menghalangi jalan. Pikir Mahen.
Lantas Gantari menggeleng, "belum"
"Mau makan bareng gak?." Ajak Nathan yang langsung membuat Gantari sumringah karena ajakan dari Nathan.
"Lo gimana kak?" Nathan berwlih bertanya pada Tiyan yang masih berada disampingnya tengah meneliti berkas yang berada di tangannya.
"Lo berdua aja deh, gue masih ada urusan sama pak Samsul" tolak Tiyan sebelum ia mengambil langkah untuk beranjak dari tempat itu tak lupa ia membenarkan kacamatanya terlebih dahulu.
Mahendra masih menatap kedua insan yang tepat berada di depannya, dengan wajah julid yang sedari tadi ia pasang. Sungguh ia tengah menahan diri agar tidak terlalu ketara bahwa ia ingin sekali menjulidi kedua manusia itu.
"Ayok!" Suara Gantari memecahkan keheneningan yang sedari tadi berada dalam lamunan perjulidan pada otak Mahen.
"Apa?" Ketus Mahen pada Gantari setelah sedikit melirik kearah Nathan.
"Kata mau makan?" Tanya Gantari.
"Udah gak nafsu" Nafsu makan Mahen tiba-tiba saja menurun. Ia hanya terlalu.... Gengsi.
"Yaudah, syukur deh gue jadi hemat. Yuk Nat, kita berdua aja" Ujar Gantari sebelum melenggang pergi meninggalkan Mahen yang tengah memasang muka kesal.
Tidak bisa di biarkan, Mahendra tidak bisa membiarkan mereka makan hanya berdua saja. Lupakan dengan perasaan gengsinya itu, selain tidak ikhlas dengan Gantari yang akan makan siang bersama Nathan, dirinya tidak bisa berbohong jika sekarang perutnya juga tengah keroncongan seakan meminta untuk segera diisi.
"Gan!!! Tungguin gue!" Teriak Mahen lalu berlari mengejar dua orang itu kemudian mensejajarkan jalannya tepat di samping Gantari.
Nathan diam-diam terkekeh terlihat seperti tengah menahan senyumnya sedari tadi melihat kelakuan Mahen yang terlewat lucu.
__________________//_//__________________
____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________
...
__ADS_1
...
Daripada gabudd mending Selfiiiii...📸