
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Seperti apa yang dikatakan Mahen pada Keshwari di kantin siang tadi. Mahendra memang benar-benar sibuk mengerjakan tugas dari pak Cipto yang tadi pagi sempat ia tunda. Dan harus terselesaikan sebelum jam 4 sore. Karena jika telat satu detik, kalian pasti akan tau bagaimana hidup pemuda ini berakhir.
Sejahil-jahilnya seorang Mahen, ia tidak pernah menunggak tugas sekalipun. Pendidikan tetap nomor satu. Malu dong sama muka ganteng bak boyfriend'able jika ia tidak lulus sebagai sarjana.
Masih ada waktu 2 jam lagi dan pria ini harus menyusun laporan miliknya, agar tugasnya itu cepat terselesaikan.
Ia sengaja memilih caffe di depan Fakultas Psikologi sebagai tempat pengerjaannya kali ini. Karena secara tidak langsung ia akan mengetahui kapan Gantari keluar dari Fakultas.
Mahen duduk tepat di depan kaca menghadap langsung dengan gedung yang memang sering digunakan untuk kelas Gantari. Gadis itu biasanya akan keluar seorang diri pada saat seluruh temannya sudah keluar gedung.
Mahendra entah mengapa sejak satu tahun terakhir ini sangat tertarik dengan apa saja yang dilakukan oleh gadis itu. Segalanya menyenangkan, lucu dan gemas saja ketika melihat Gantari memasang wajah kesalnya ketika Mahen mengganggunya. Mungkin karena setiap hari bertemu dan rasanya tidak terduga saja karena semua tentangnya akan terekam baik diotaknya. Segala perseteruan yang dialaminya menjadi sangat menarik menurut Mahendra.
Mungkin saja perasaan ini tidak cukup jika hanya dianggap sebagai teman yang mengontrak di sebelah rumah dan menjadi tetangganya. Awalnya memang Mahen terlihat biasa saja ketika menjahili atau membuat kesal gadis itu karena memang itu sudah menjadi hobi dari seorang Mahen. Tapi entah mengapa ketika melihat Gantari sebegitu kesepiannya hidup seorang diri membuat Mahen ingin bertahan, setidaknya ia bisa menemani gadis itu agar ia lupa akan sepinya.
Tidak terasa terselesaikan sudah tugasnya hari ini Pria berambut mulet hitam legam itu menyeruput es kopi Moccachino yang sudah tidak dingin lagi, luar gelasnyapun sudah berair membasahi meja.
Di sela-sela dirinya merapikan meja dan memasukan laptop serta buku projectnya tiba-tiba saja seorang gadis datang menghampirinya.
"Eh? Kak Mahen ya?" Tanya seorang gadis yang sudah berdiri tepat di samping Mahen.
Pria ini lalu mengerutkan keningnya menoleh gadis itu, "siapa ya?" Tanyanya
"Saya sales kecantikan yang pernah minta bantuan sama kak Mahen, masa gak inget sih" ujar gadis bermata sipit dengan rambut terikat tunggal dan memang masih memakai seragam khas salesnya.
Mahen mulai menyelami gadis itu mencoba mengingat dengan benar bentuk wajah gadis yang memang terlihat familiar persis dengan gadis yang dulu pernah menjadikannya media bukti dan testimoni dari produknya.
"Ahh, iya iya." Mahen mengingatnya. "Ngapain disini?" Tanyanya basa-basi walaupun Mahen tau ini adalah tempat umum terlebih lagi ini Caffe yang sudah jelas pasti jika ia mau membeli kopi. Tapi tidak apa, biar tidak dikira sombong dan cuwek saja.
"O, ini mau beli minuman. Tadi saya juga ada keperluan sama Kak Mahen. Terus kebetulan ketemu disini, jadi sekalian aja." Ujarnya dengan nada sopan, tidak lupa dengan senyum khasnya gadis ini selalu menunjukan rentetan giginya yang rapi berbehel.
Mahen masih menatap gadis didepannya seraya menunggu apa sebenarnya keperluan dari gadis ini dengannya.
"Mau ngasih hadiah buat kak Mahen dari kantor, dan mau ngucapin terimakasih juga karena dengan bantuan kak Mahen produk kita jadi banyak yang pakai. Dan penjualan nya juga semakin naik." Jelas gadis itu seraya menyerahkan paperbag berwarna putih.
Mahendra dengan senang hati menerima hadiah itu, "terimakasih juga ya".
Gadis itu mengangguk lalu tersenyum, "ya udah ya kak, saya pamit dulu mau beli minum, udah di tunggu sama yang lain soalnya." Lantas gadis itu meninggalkan Mahendra.
Pria itu menilik isi paperbag yang tenyata berisi satu paket skincare dikemas dengan box cantik berwarna biru dan dihias dengan pita putih di atasnya.
...__________________//____________________...
...●・○・●・○・●・○・●・○・●・○・●...
...__________________//____________________...
Mahen kembali mengunjungi Fakultas Psikologi sesaat setelah dirinya mengumpulkan tugas dari pak Yanto.
__ADS_1
Pria ini sedikit menggerakan ujung jari kakinya seraya menunggu seseorang yang tidak kunjung keluar dari gedung.
Mahen sempat memberi tahu Gantari bahwa hari ini ia tidak perlu pulang menaiki bus, karena Mahen akan menjemputnya. Diatas motor antiknya itu mahen duduk manis masih dengan menyangking paper bag putih pemberian sales tadi.
Melihat seorang gadis yang keluar dari pekarangan Fakultas, Mahen tersenyum kecil menatap Gantari yang berjalan sendirian menghampirinya.
"Tumben" ujar Gantari yang sudah berada tepat di depan motor Mahen.
Gantari menatap Mahen tidak percaya, pria ini benar-benar menjemputnya. Dia mengira Mahen akan mengerjainya lagi dengan memberikannya harapan palsu. Karena pernah sesekali Gantari menerima ajakan Mahen untuk pulang bersama tapi ia tak kunjung tiba padahal ia sudah berjanji akan menjemputnya 10 menit lagi tapi sampai lewat satu jam sosok Mahendra tak kunjung datang lalu Gantari berakhir pulang menaiki bus.
"Jangan gitu, gini-gini gue juga lagi latihan jadi manusia penepat janji" kata Mahen menjelaskan sebelum Gantari mengoloknya.
Gantari mencelos, gadis ini masih kesal pada Mahen karena perkara dirinya sudah mengacaukan pagi terindah Gantari.
"Masih kesel lo sama gue?" Tanya Mahen ketika melihat air muka Gantari yang tidak mengenakan. Gadis didepannya masih terdiam.
Mahen menyodorkan paperbag yang dicangkingnya pada Gantari. "Nih!!!"
"Apa?"
"Buka aja"
Gantari sedikit tercengang dengan isi yang berada di paperbag ini, lalu keningnya tertaut menatap Mahen seakan menanyakan untuk apa ia menyodorkan barang ini kepadanya.
"Buat lo" ucap Mahen yang langsung mengerti hanya dengan bertatapan dengan Gantari.
"Sogokan apa gimana nih gue gak maksud"
Kali saja Mahen ini tengah mencoba berbaikan dengan Gantari mangkannya pria ini memberikannya satu set skincare yang dibungkus dengan box biru ditambah dengan pita putih diatasnya. Manis, tapi Sangat tidak cocok dengan Mahen, Gantari saja sampai menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kenapa gak lo pake sendiri? Kenapa lo gak kasih ke orang lain aja? Kenapa harus ke gue?" Rentetan pertanyaan di lontarkan pada Mahen, Gantari hanya ingin tau alasan pria ini. Karena hampir tidak pernah Mahen berlaku baik ataupun manis kepadanya. Kali saja Mahen ini mempunyai maksud lain.
"Orang lain siapa sih Gan, orang temen gue pejantan semua. Lagian mereka udah pada terlahir ganteng gak ngaruh pake begituan. Ditambah lagi itu skincare cewek jadi Gak kepake juga di gue"
"Halah, alesan skincare cewek. Shampo hijab punya nenek gue aja lo pake!". Olok Gantari, pasalnya neneknya sering sekali protes mengenai shamponya yang tiba-tiba saja menyusut padahal beliau baru saja memakainya satu kali. Dikira Gantari yang memakainya ternyata pelakunya adalah Mahendra gegara rambut Mahen yang wangi sama persis seperti milik nenek.
"Yaudah sih, shampo bukan punya lo ini. Lagian gue cuma pake satu kali doang karena males pergi ke warungnya pak Somad"
Gantari tau alasan mengapa Mahen akhir-akhir ini malas pergi ke warung Haji Somad kalau bukan dikeadaan genting. Karena dia pernah di tawari untuk menikah dengan anaknya pak Haji yang memang sudah Janda beranak satu. Gantari ingin tertawa saja rasanya ketika mengingat betapa takutnya pria itu saat ditawari menikah dengan janda, katanya jika ada yang gadis mengapa ia harus menikahi janda.
"Takut di tawarin nikah lagi sama anaknya pak Haji?" Gelak Gantari.
"Y-ya itu salah satunya" jawab Mahen melengos.
Gantari lalu tertawa melihat Mahen yang tiba-tiba bersikap malu seperti itu, telinganya memerah sangat ketara bahwa dirinya tengah menahan perasaannya.
"Iyaa gue tau lo pasti mau ngetawain gue kan?" Tanya Mahen ketika melihat Gantari yang tengah menahan tawanya, "Janda aja kepincut sama gue apalagi yang gadis"
Mahen memakaikan helm pada kepala Gantari lalu mengaitkannya. Kemudian mereka mulai menaiki motor Antik Mahen. Mahendra selalu seperti itu, ia lebih memilih memberikan helm satu satunya untuk dipakai Gantari. Padahal pria ini sudah sering sekali meminta Gantari untuk membeli helm sendiri agar mereka lebih sering pulang bersama.
"Padahal enakan yang janda loh" celetuk Gantari yang sontak membuat Mahen menoleh kebelakang sebelum ia benar-benar menyalakan mesin motornya.
__ADS_1
Kening Mahen tertaut, "tau darimana? Lo kan cewek!"
Mahen curiga Gantari ini penganut bendera pelangi.
"Dari temen cowok"
"Siapa?"
"Dirga"
Huasemmm!
...____________________//_________________...
...●・○・●・○・●・○・●・○・●・○・●...
...____________________//_________________...
Sesampainya dirumah, Gantari tidak langsung memasuki rumahnya. Ia menaiki tangga yang berada diantara rumahnya dan rumah Mahen, berjalan menuju ke atap rumah berniat untuk mengangkat jemuran miliknya. Gadis itu dengan telaten mengangkati jemuran karena dirasa hari semakin sore langitpun sudah hampir menggelap.
Gantari pun menghela nafasnya saat melihat kolor dan sebangsanya milik Mahen yang lagi-lagi berada di tempat jemurannya.
Memang seperti ini, ia tidak hanya mengangkat jemuran bajunya sendiri melainkan baju Mahenpun ikut tercampur karena memang tempat penjemuran di rumahnya hanya tersedia satu saja jadi jangan salahkan Mahen jika ia seringkali menitip menjemur baju disana.
"Harusnya lo beli jemuran baju sendiri!!!" Ujar Gantari seraya menuruni tangga dengan menyangking keranjang berisikan bajunya dan baju Mahen.
Gadis itu kemudian memilah baju milik Mahen lalu meletakannya asal di kursi rotan yang berada tepat di latar rumah Mahen.
Mahen yang baru memasukan motornya itupun lantas mendengus, melihat Gantari yang meletakan bajunya asal hampir mirip seperti dirinya tengah di usir. "Ya, di tilepin sekalian napa Gan" lirihnya.
"Dih, udah syukur gue ngangkatin jemuran lo. Kalo enggak mah udah gue biarin aja tuh kampret pada melayang layang di atas atap"
"Gue tuh berasa di telantarin kalo lo naroh baju gue kayak tadi, sadis banget" Ujar Mahen dengan nada sedikit merajuk seraya mengambil tumpukan bajunya.
"Niat gue emang mau nelantarin lo." Decak Gantari sebelum ia benar-benar masuk kedalam rumahnya.
"Jahat banget lo jadi cewek!!!" Teriak Mahen dengan penuh tenaga.
"GUE JAHAT KE LO DOANG KOKK!!!" seru gadis yang berada di dalam rumahnya tak kalah bertenaganya, membuat Mahen sedikit mengulum bibirnya.
Mahen lantas memasuki rumahnya, kemudian meletakan tumpukan baju miliknya pada sofa yang berada di ruang tamu. Ia lalu menyugar rambut muletnya itu sebelum dirinya menjatuhkan bokongnya pada lantai tepat di samping tumpukan bajunya.
Pria itu meraih ponsel yang berada di atas meja berniat untuk menilik jam berapakah sekarang karena jam di rumah milik neneknya Gantari tidak bekerja dikarenakan baterainya habis, Mahen belum sempat menggantinya, pasti kalian sudah tau alasannya mengapa Mahen tidak membelikan baterai yang baru.
Mahen lalu mendengus saat melihat banyaknya notifikasi panggilan tak terjawab yang hanya dari 2 orang. Pria ini lalu mencoba mengabaikannya lalu menghapus semua log panggilannya, kemudian meletakkan ponselnya kembali.
Ia lebih baik melipat bajunya daripada menanggapi panggilan dari dua orang itu.
...__________________//_//__________________...
...●・○・●・○・●・○・●・○・●・○・●...
__ADS_1
...__________________//_//__________________...