
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Pagi yang berbeda untuk seorang Nathan ketika terbangun dari tidurnya, agaknya dia masih merasa linglung dengan keberadaannya saat ini.
Matanya sedikit menyipit sesaat terkena cahaya matahari yang sedikit masuk ke dalam kamar ini dengan bantuan angin yang menyibakan horden.
Dingin, mengapa pagi ini terasa begitu dingin padahal ruangan ini tidak memakai AC ataupun kipas angin, cahaya matahari di luar sana pun sepertinya tengah bersinar begitu cerahnya.
Dadanya terasa nyeri saat dirinya bergerak untuk mengambil posisi duduk. Nathanpun tidak tau mengapa Jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Di setiap ia terbangun dari tidurnya, ia kini harus menahan rasa sesak itu.
Nathan semakin meremat dadanya, ia menggigit bibir bawahnya untuk sekedar menyamarkan rasa nyeri itu. Saat rasa itu semakin menyeruak Nathan beranjak dari ranjangnya dan bergegas meraih tas slempang miliknya mencari obat pereda nyeri yang sempat ia dapatkan dari dokter saat terakhir kali ia melakukan kontrol.
Pria itu langsung menelan obat yang hanya tersisa 3 tablet saja. Setelah seperkian detik Nathan dapat bernafas lega saat nyeri itu mulai tersamarkan. Ia bersimpuh dengan punggung yang bersender pada sisi ranjang.
Pandangannya kemudian menemukan Mahendra yang masih tertidur dengan hanya menggunakan singlet saja dan selimut kotak-kotak yang terlilit di kaki sebelah kanannya. Nathan terkekeh, apa Mahendra tidak merasakan dingin sedikitpun? Padahal dirinya masih merasakan hawa dingin yang kini menyelimuti tubuhnya.
Nathan kemudian beranjak keluar kamar setelah memakai kardigan rajut yang tersampir di kursi. Pria itu berjalan menuju arah dapur.
"Gantari?" Ucap Nathan saat menemukan Gantari yang tengah berkutik di dapur Mahendra. Entah apa yang tengah gadis itu lakukan, Nathan berjalan menghampirinya.
Gadis yang merasa terpanggil itu kemudian menoleh kebelakang, tangannya melambai tak lupa dengan senyum yang ia pancarkan.
"Udah bangun Nat?" Tanya gadis itu basa basi. Nathan hanya tersenyum seraya menuangkan air kedalam gelas kemudian meneguknya.
"Lagi ngapain?" Nathan berbalik tanya saat dirinya sudah selesai meminum satu gelas air bening secara tandas, kemudian pria berdiri tepat di samping Gantari menilik apa sebenarnya yang dilakukan olehnya.
"Ini lagi nyuci beras, soalnya kran di rumah mati lagi di benerin sama Ayah"
Nathan ber-oh, "emang kenapa bisa mati?"
"Kesumbat kayaknya, mangkanya kran di sini juga sedikit keluarnya. Biasa lah Nat, maklum kran air udah lama jadi ya harus di benerin"
Nathan mengangguk.
"Mahira di mana?" Tanya Nathan, Gantari hanya tersenyum.
"Ada di rumah aku lagi masak bantuin nenek," ujar Gantari, "ke sana aja Nat kalo kangen mah".
"Hehehe" cengir Nathan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi emang gak papa kalo aku kerumah kamu? Soalnya aku belum kenal nenek kamu." Nathan sedikit kikuk.
"Ya gak papa lah," singkatnya.
"Kata bang Mahen Nenek kamu galak, emang iya?"
Gantari mengangguk, "galak cuma sama Mahendra doang kok, jadi gak usah takut selagi kamu ganteng dan kalem mah gak bakalan di galakin juga."
Mendengar pernyataan dari Gantari, Nathan malah terkikik, "ya udah deh aku ke Mahira dulu ya"
Gantari mengangguk seraya menyaksikan bagaimana Nathan keluar dari rumah masih dengan memakai kardigan yang menurutnya mahal. Memang ya, orang kaya selalu beda. Dalam keadaan apapun Nathan akan tetap terlihat stylish.
"Nathan mau kemana?" Tanya Mahendra yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Gantari.
Gantari memekik kaget, nafasnya tertahan.
"ASTAGAA!!!" Gadis yang masih memandang Nathan sontak terjingkat dan teralihkan pandangannya seraya mengelus dadanya sendiri lalu menatap nayalang ke arah Mahendra.
Alis Mahendra hanya menukik, pertanyaannya yang tadi belum terjawab.
"Lo bisa gak sih kalo dateng gak ngagetin!" Tangannya spontan meneplak bahu Mahendra, pria itu hanya memekik.
"Emang gue ngagetin?" Tanyanya polos, Mahendra malah menggaruk kepalanya, kebiasaan pria ini saat bangun tidur.
Gantari sesaat terpaku pada wajah berantakan Mahendra, suara seraknya membuat Gantari beberapa kali menelan salivanya.
Gadis itu bahkan tidak mengerjapkan mata sekalipun.
"Heh! Malah bengong" ucap Mahendra masih dengan suara beratnya.
Gantari tersadar kemudian mencoba untuk menghilangkan fikiran - fikiran yang kini terlintas begitu saja dalam otaknya. Daripada dirinya semakin hanyut lebih baik melanjutkan aktivitas mencuci beras yang sedari tadi belum terselesaikan.
"Ya lo lagian ngapain sih ngomong tiba-tiba banget, coba deh sekali-kali pake aba-aba dulu biar gak bikin kaget orang!"
"Gimana caranya Gantari, lo mah aneh banget. Kalo mau ngomong masa izin dulu"
"Ya enggak maksud gue tuh, liat keadaan dulu." Gantari kemudian melengos, ia menggelengkan kepalanya merasa tidak akan ada selesainya jika berdebat dengan Mahendra padahal hanya sepele.
Mahendra tersenyum, sedikit merapatkan tubuhnya
"Yang..." Panggil Mahendra sedikit mengaluskan suaranya.
Gantari sedikit merinding, Mahendra sungguh sudah membuatnya gila. Pria itu mendekat kemudian meletakan dagunya pada bahu Gantari.
"Gue laper banget, dari semalem belum makan" adu pria itu dengan tatapan yang masih tertuju pada aktivitas Gantari mencuci beras.
"Ini lo minggir dulu, gue jadi susah"
"Apa sih, orang udah selesai juga. Lagian lo nyuci beras udah kek nyuci baju sampe di kucek begitu"
Gantari menghela nafasnya sedikit jengah setelah mematikan kran air yang mengalir hanya sedikit itu. Gadis itu kemudian menoleh pada Mahendra yang masih meletakan dagunya membuat bibirnya sedikit mengerucut. Sungguh menggemaskan.
Mahendra sedikit tersenyum saat melihat wajah Gantari kini sangat dekat dengannya. "Gan, mau nasi goreng"
Gadis itu ikut mengulum senyumnya, kemudian tangannya terulur mengusak surai rambut Mahendra yang entah mengapa cepat sekali memanjang, "iya, tapi minggir dulu"
"Cium dulu" pinta Mahendra dengan mata terpejam.
"Enggak" gadis itu memalingkan wajahnya, namun dengan cepat di tahan oleh tangan Mahendra yang menangkup pipinya hingga wajahnya kembali menatap Mahendra yang masih terpejam.
Merasa tertolak, Mahendra langsung memiringkan kepalanya meraih bibir Gantari yang sedikit terbuka. Pria itu mengecupnya hingga membuat Gantari terbelalak.
__ADS_1
"Lo mesum banget sih Mahendraa!"
Mahendra hanya tersenyum melihat Gantari yang tengah di penuhi dengan amarah, namun tidak dengan pipi milik gadis itu sudah memerah menandakan bahwa dirinya sudah tersipu. Mahendra mengangkat kepalanya menjauh dari wajah gadisnya yang sudah hampir seperti tomat, sangat menggemaskan. Ia berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Gantari yang kini tengah merutuki kelakuan Mahendra.
"Gue selesai mandi udah harus jadi Gan." Pria itu berjalan seraya tersenyum.
Paginya sungguh indaaahhhh.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Setelah merampungkan kegiatan yang jarang sekali di lakukan Mahendra, yah mandi pagi merupakan kegiatan yang hampir tidak pernah dilakukannya. Kecuali jika dirinya ada kelas pagi, jelas Mahendra mau tidak mau harus mandi itupun harus berpadu dahulu dengan Gantari hanya karena masalah kran air.
Mahendra berjalan keluar hanya dengan memakai celana kolor berwarna hitam, ia sengaja tidak memakai kaos agar Gantari semakin terpesona dengan tubuh atletis miliknya.
Namun naas saat dirinya kembali ke dapur, dia tidak menemukan siapapun. Gantari sudah pergi. Mahendra menjatuhkan bahunya kehilangan semangat. Ia kemudian menepuk perutnya yang sudah tercetak terdapat 6 kotak. Mahendra dongkol, kemudian ia memilih untuk mengambil kaos lalu memakainya.
Mahendra keluar rumah dan memilih untuk pergi ke rumah Gantari karena terdengar suara ramai di rumah itu.
"Pagi Om" sapa Mahendra saat menemukan seluruh keluarga gadisnya termasuk Nathan dan Mahira yang tengah menyantap sarapannya.
Denish tersenyum kemudian mempersilahkan Mahendra duduk untuk bergabung.
Selang beberarapa menit, Gantari datang dari arah dapur seraya meletakan satu porsi nasi goreng tepat di hadapan Mahendra.
"Makasih" ucap Mahendra pada Gantari yang kini duduk tepat di sebelahnya.
Gantari hanya meresponnya dengan senyuman.
"Kamu gak ikut sarapan?" Tanya Mahendra dengan nada lirih pada Gantari di sela - sela suapannya.
"Udah tadi" jawab gadis itu. Ia kini lebih memilih untuk menyaksikan Mahendra yang tengah mengunyah. Gantari juga tidak tau mengapa memperhatikan Mahendra yang tengah makan membuatnya terkekeh, padahal pria itu makan dengan gaya biasa lalu dimana letak lucunya?. Tidak tau saja kini Mahendra sudah menjadi lucu dimata Gantari.
"Gan, nanti Ayah mau jenguk Mamahmu" tiba-tiba Denish bersuara seraya menatap putrinya yang sudah memalingkan wajahnya menatap Denish.
"Aku kira Ayah udah ke sana kemaren" jawab gadis itu.
"Iya kemarin udah waktu baru sampe sini, tapi kangen pengen ke sana lagi"
"Gantari temenin ya"
"Gak usah, Ayah bisa sendiri nanti naik taksi" tolak Denish, ia hanya tidak ingin merepotkan putrinya itu terlebih lagi di rumah sedang ada temannya jelas Denish tidak ingin mengganggu moment putrinya.
"Saya anterin aja, Om" Mahendra menawarkan diri, "sekalian mau minta izin sama camer, hehehe"
Gantari mngerutkan keningnya mendengarkan pernyataan mengejutkan dari Mahendra, apa dia bilang tadi? Camer?.
Tunggu dulu, Mahendra mau mengantarkan Ayah memakai apa? Motor? Tapi kan Gantari juga ingin ikut menjenguk Mamahnya, karena sudah terhitung 4 bulan dia tidak menemuinya.
"Pake apaan?" Tanya Gantari.
"Itu mobil nya Nathan di depan kan nganggur" singkat Mahendra dengan santai menyuapkan kembali nasi gorengnya.
Nathan hanya mengangguk dan tersenyum seolah menyetujui tawaran Mahendra, lagipula dirinya memang tidak berencana untuk kemana-mana.
"Kamu emang gak mau pergi kemana-mana, Nat?" Tanya Gantari.
"Aku jaga rumah aja sama Mahira, sekalian bantuin dia beresin berkas buat kuliah" tanggap Nathan, dirinya melirik sebentar pada Mahira yang berada di sampingnya.
Gantari kemudian mengangguk.
Cukup lama mereka berbincang, dan cukup banyak juga yang menjadi bahan pembicaraan yang terjadi di ruangan makan itu.
Denish pun merasa beruntung melihat putrinya yang sudah tidak terlihat kesepian lagi, gelakan tawa yang di buat Mahendra sungguh membuat hatinya luruh dan teduh. Putrinya sudah dapat tertawa lagi, bahkan Denish saja lupa kapan terakhir kali melihat putrinya tertawa di depannya. Karena tanpa di pungkiri Denish lebih sering melihat Gantari yang kesal daripada Gantari yang tertawa.
Padahal jika di ingat-ingat Gantari sering kali mengeluhkan kehadiran Mahendra yang membuat gadis itu ingin merobohkan rumah neneknya. Tapi Denish hanya tergelak mendengarnya, ya apalagi yang bisa Denish lakukan jika mereka berada di tempat yang berbeda, mau memberikan solusipun rasanya akan sia-sia karena Gantari tidak semudah itu mendengarkan saran dari orang lain.
Lega rasanya, melihat putri semata wayangnya itu berbahagia. Mahendra menurutnya juga lelaki yang baik jika dilihat secara langsung, meskipun terkadang sembrono sama seperti yang sering di ceritakan oleh Gantari.
Mereka sudah bersiap untuk segera berangkat menuju makam tempat dimana Mamahnya Gantari dimakamkan.
"Mahira, lapor aja nanti kalo Nathan ngapa-ngapain kamu ya." Pesan Mahendra pada Mahira penuh cecar.
Mahira hanya tersenyum kemudian mengangguk,
"Apa sih Bang!" Pungkas Nathan menahan malu yang luar biasa.
"Buat lo, gak usah aneh-aneh. Capek istirahat! Gak usah di paksain." Mahendra menatap Nathan, entah untuk berapa kalinya dia mengkhawatirkan kesehatan adiknya.
"Iya"
Singkatnya, Mahendra, Gantari dan Denish mulai meninggalkan pelataran rumah menyisakan hanya Nathan dan Mahira saja.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Nathan dan Mahira, keduanya berada di dalam ruangan yang sama tepatnya di kamar tamu yang ada di rumah Gantari. Nathan masih sibuk merapihkan kembali berkas yang di bawa oleh Mahira. Pria itu terlalu fokus mengecek kembali segala berkas milik gadisnya.
"Mahira, akta kamu gak dibawa?" Tanya Nathan seraya membolak balikan berkas yang berada di meja mencari akta kelahiran Mahira namun ia tidak menemukannya. Pria itu beralih menatap Mahira yang tengah melipat bajunya kemudiaan memasukannya kedalam lemari.
"Bawa kok" Mahira berjalan menghampiri Nathan, dan membuka berkasnya satu lagi yang tertimpa buku paket lalu menyerahkan pada Nathan. Pria itu hanya menyengir.
"Kamu udah tau mau ambil jurusan apa?"
Mahira mengangguk, "Photography".
Nathan langsung menatap Mahira yang masih berdiri di sampingnya, "Kenapa ambil Photography, bukannya kamu mau jadi guru ya?"
"Iya, tapi itu dulu. Sekarang Mahira pengen jadi Fotografer biar bisa bantuin mas Nathan".
Nathan tergelak, "bantuin aku gak harus jadi Fotografer juga Mahira, kamu jadi Guru juga bisa bantuin aku juga kok"
Kening Mahira tertaut, "bantuin apa? Kan gak ada hubungannya"
"Ada"
__ADS_1
"Apa?"
"Ngajarin anak-anak kita" singkat Nathan seraya tersenyum jahil.
Mahira jelas langsung terbelalak mendengar penuturan Nathan yang keluar dari topik pembicaraannya.
Gadis itu terdiam menatap Nathan yang juga sedang menatapnya begitu dalam, "Mas Nathan, kenapa mau sama Mahira sih Mas? Mahira kan banyak kurangnya. Mahira juga bukan anak dari keluarga berada. Bapak sama ibu cuma buruh biasa"
"Gak ada alasan buat gak suka sama kamu, Mahira. Semua yang aku butuhkan ada di kamu. Kamu inget dulu pernah nolongin aku waktu jatuh dari sepeda disaat untuk pertama kalinya aku di lepas sama bang Mahen?"
Nathan terkekeh, "Dan itu sebuah kebetulan yang membuatku jatuh hati untuk pertama kalinya. Bukan cuma tubuhku saja yang jatuh, tapi hatiku ikut jatuh Mahira"
Mahira tersipu, "Sejak kapan Mas Nathan jadi puitis gitu?"
"Sejak baca buku romance nya bang Mahen"
Jelas sekali tergambar 'ohalaahhh' pada raut wajah Mahira, dirinya sempat tidak mempercayai Nathan yang bisa bergurau seperti itu.
Namun pada akhirnya Keduanya tergelak. Mereka tertawa seakan tidak ada seorangpun yang berada di ruangan itu kecuali Nathan dan Mahira.
Tangan Nathan terulur meraih kedua tangan Mahira kemudian di usap punggung tangan itu dengan sangat lembut, membuat Mahira seketika tertegun.
"Mahira, kamu mau janji satu hal sama aku?" Tanya Nathan, tatapnya menatap lekat pada Mahira yang tengah menunggu kelanjutan dari pertanyaan Nathan.
"Berjanji apa?"
Nathan menghela nafasnya seakan tengah mengumpulkan keberanian, namun dengan sangat berat hati dirinya tersenyum, "Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu, aku ingin kamu tetap menjalani hidup sebagaimana kamu. Gapai semua hal yang sudah sangat lama kamu semogakan, kamu tau aku akan selalu tetap mendukung apapun itu."
Sebuah senyum manis pun terpancar dari wajah Mahira, bukankan janji yang dibuat oleh Nathan itu sangatlah mudah untuk di jalani? Bahkan jika nanti terjadi sesuatu, Mahira akan tetap meyakini bahwa Nathan akan tetap bersamanya.
Gadis itu mengangguk dan mulai membalas usapan Nathan yang masih menatapnya lekat.
Setelah menyetujui segala ucapan Nathan, tangan gadis dengan setelan dress tanggung itu mulai merapihkan surai rambut legam milik Nathan. Ia menepikan anak rambut itu dengan sangat telaten, ia seakan tengah mengingat segala yang ada pada pria itu.
"Emang masih dingin ya Mas?" Tanya Mahira saat menyadari bahwa sedari tadi Nathan masih memakai kardigan rajut tebal di waktu yang sudah menjelang siang, apa pria ini tidak merasa panas sama sekali?.
Nathan hanya mengangguk kemudian merapatkan kardigan yang di pakainya.
"Mas Nathan sakit?"
"Enggak"
Tangan yang sedari tadi mengusap surai rambut Nathan menjadi teralih memegang kening pria itu. Tidak panas, tapi mengapa Nathan masih memakai kardigannya?.
Mahira tertegun saat tubuh berdirinya di rengkuh oleh Nathan yang masih dalam posisi duduk. Pria ini merengkuhnya begitu erat saking eratnya membuat Mahira terheran.
Nathan meremat sisi baju Mahira, ia merasa sesak di sekujur dadanya. Nafasnya hampir tersendat, dan lebih memilih untuk menyembunyikan wajahnya pada pinggang Mahira. Jantungnya kini terasa sangat nyeri bersamaan dengan rematan yang kian menguat.
Mahira mengerutkan keningnya saat menyadari ada yang aneh dari Nathan, rengkuhan yang tidak biasa dan sangat kuat untuk di sebut pelukan.
"Mas?" Panggil Mahira, namun pria yang berada di bawahnya tidak menjawab apapun.
"Mas Nathan??-" Ia memanggilnya sekali lagi, kini tangannya beralih melepaskan rengkuhan itu.
Pria itu kini tengah menggigit bibirnya seperti menahan sakit, tangan Nathan meremat baju bagian depannya seakan menyalurkan rasa sakitnya.
Mahira jelas panik melihat Nathan yang memekik kesakitan dengan sedikit menggerang.
"Mas? Mas Nathan, kenapa?" Gadis itu bahkan tidak tau harus berbuat apa.
Tangan gadis itu bergetar, saat melihat Nathan tidak sadarkan diri dengan kepala yang bersimpuh di perutnya.
Mahira yang sudah kalang kabut dan hampir kehilangan akal langsung meraih ponselnya yang tergeletak pada nakas, ia mulai menghubungi Mahendra. Karena satu-satunya orang yang bisa ia hubungi hanyalah pria itu.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
Baru saja pertengahan perjalanan, Mahendra yang masih fokus menyetir mengalihkan atensinya menatap ponsel yang sedari tadi bergetar.
Ia menatap nama penelpon yang terpampang dengan jelas di layar ponselnya, Mahira. Mahendra menghela nafasnya kemudian melirik Gantari yang sedari tadi juga menatapnya. Gadis itu seakan menunggu siapa orang yang menelpon Mahendra.
"Mahira" kata Mahendra pada Gantari.
"Angkat, kali aja penting"
"Curiga di apa-apain sama Nathan" pria itu terkekeh, namun setelahnya mendapatkan teplakan oleh Gantari. Bisa bisanya pria itu berfikiran yang tidak-tidak pada adiknya sendiri.
Mahendra lalu mengangkat telepon itu seraya menyetir.
"Iya Mahira, kenapa? Nathan ngapain kamu sampe telepon gini?-" Tanya Mahendra di sertai kekehan saat teleponnya tersambung.
"Mas Nathan, -" Mahira memotongnya dari seberang, "Mas Nathan pingsan, Mas. Mahira gak tau gimana".
Mendengar hal itu, mata Mahendra memanas ada rasa sesak yang secara langsung menyambar hatinya. Ia hampir saja kehilangan fokusnya, dengan cepat ia mematikan sambungan teleponnya.
Suara Mahira sangat jelas terdengar bergetar di telinga Mahendra. Pria itu lantas memutar balik mobilnya. Ia berusaha untuk tetap fokus dan tidak panik.
Gantari yang melihat pergerakan Mahendra yang tiba-tiba memutar arah sedikit mengernyit, "Kenapa?"
"Nathan pingsan"
Denish yang sedari tadi memperhatikannya kini ikut merasa khawatir, walaupun ia tidak tau dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Gantari yang berada di samping Mahendra sedari tadi hanya bisa menenangkan pria itu agar tidak gegabah, namun tidak bisa di pungkiri Gantari juga khawatir dengan Nathan.
Di dalam perjalannya menuju ke arah pulang pria ini tidak henti-hentinya melantunkan doa, ia bahkan tidak tau doa nya ini akan di dengar oleh Tuhannya atau tidak, tapi setidaknya Mahendra tengah berusaha membujuk Tuhannya sebagaimana manusia pada umumnya.
Hal menakutkan itu tidak akan terulang lagi kan? Ia bahkan sudah memikirkan hal-hal buruk yang semestinya tidak perlu ia fikirkan.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...
"Jika penyesalan itu datang dari awal, maka tidak ada yang namanya hidup. Semesta tidak pernah berdusta akan bahagianya. Dan seluruh Manusia berhak untuk hidup dengan bahagia".
__ADS_1
...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...