JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
05. Diinjek Gantari.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...


.


Nathanael Abdi Putra, pria yang menjabat menjadi pria tertampan nomor satu se-antero kampus itu terlihat berjalan terburu-buru dengan membawa map dan kamera yang selalu menggantung indah di lehernya.


Setelan kaos putih polos yang ia masukan kedalam celananya dibalut dengan jaket jeans berwarna abu-abu. Ditambah dengan Topi Balenciaga yang menghiasi kepalanya. Jika di ingat ingat pria ini sangat jarang sekali memakai topi, mungkin karena untuk menutupi rambutnya yang sedikit berantakan saat ia menuju ke kampus.


Pria itu terlihat memasuki kelas sesaat setelah ia merapikan kembali penampilannya. Ia masuk tak lupa dengan senyum yang selalu terpancar indah di wajahnya


Seisi kelas bersorak atas kedatangan Nathan yang terlihat sangat tampan dengan penampilan layaknya pangeran kampus.


"Pagi pak" lirih Nathan seraya mengetuk pintu kelas lallu sedikit membungkuk menyapa pak Budi selaku dosen kelas ilmu politik.


"Eh Nathan, pantesan kelas pada rame ternyata ada kamu. Sini masuk" ujar pak Budi dengan ramah, begitupula dengan Nathan yang berjalan menghampiri meja pak Budi.


"Ada apa Nat?" Tanya Dosen Politik dengan setelan kemeja kotak-kotak itu sesaat setelah Nathan yang sudah berdiri di depannya.


"Mau nganterin laporan hasil magang anak hukum pak" jelas Nathan seraya memberikan beberapa map kepada pak Budi.


Pak Budi mengerutkan keningnya bingung, "kenapa kamu yang nganterin? Saya sudah suruh Ojin tadi"


"Oh tadi Ojin nitipin ke saya, soalnya saya mau ketemu pak Samsul jadi sekalian nganterin ini" kata Nathan seraya mengulum bibirnya sendiri.


"Oh ya sudah, terimakasih ya"


Nathan mengangguk "sama-sama pak, saya pamit dulu" katanya lalu pergi meninggalkan kelas.


Nathan berjalan melewati koridor penghubung antara gedung umum dengan gedung khusus kesiswaan, sesekali ia akan memotret apa saja yang di lewatinya. Seperti lorong yang sayup ini, dia memotret beberapa siswa yang tengah duduk di sepanjang lorong. Ia lalu tersenyum, setelah melihat seorang gadis yang tengah duduk di tangga dengan sebuah buku yang tengah ia baca.


Pria itu memotretnya kembali.


"serius amat, baca apa?" Tanya Nathan mengejutkan lalu duduk tepat di sebelah gadis itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya mengintip buku apa yang gadis itu baca.


Gadis itu tersentak, "Astaga!" Lalu ia mengelus dadanya karena terkejut, agaknya gadis ini memeriksa apakah jantungnya masih aman atau tidak.


Nathan mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Gantari yang terkejut tiba-tiba menjauhkan tubuhnya memepet tembok, "ngagetin ya? Hehe, maaf"


Gantari terlihat gugup melihat wajah Nathan sedekat ini, ia lalu menggeser posisi duduknya sekarang benar benar mepet tembok, lalu ia tersenyum canggung seraya menetralkan nafasnya. Tidak mungkin juga kan dia di depan Nathan nafasnya terpenggal seperti ingin pingsan, sangat sangat tidak aestetic. Pikir Gantari.


"Lagi baca apa?" Tanyanya sekali lagi, matanya menunjuk pada buku bacaan Gantari saat ini.


"Oh, ini. Baca buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa" Ujar Gantari seraya membalikan bukunya melihat Cover buku itu.


Nathan mengangguk seolah mengerti saja, dia memang sudah banyak membaca buku tapi bukan untuk buku seperti itu.


"Kamu udah pernah baca?" Tanya Gantari sumringah melihat Nathan mengangguk, lalu ia menutup bukunya setelah menandai halaman yang belum dia selesaikan.


"Belum" Nathan lantas menggeleng sontak membuat Gantari membulatkan mata tidak percaya, bukan bermaksud mengolok tapi Gantari hanya tidak percaya pria pintar seperti Nathan tidak pernah membaca bacaan ringan seperti ini. Apa mungkin dia memang terlahir sudah pintar? Atau pria ini hanya membaca buku yang berwawasan tinggi? Oh apapun itu, sungguh Nathan memang luar biasa.


"Emang isinya tentang apa?" Pria itu tanya kembali.


"Cuma tentang psikologi ringan aja sih, tapi banyak juga yang bisa diambil dari buku ini contohnya perihal kuliah, perihal waktu, perihal anak pertama dan perihal sukses di usia muda" Jelas Gantari menatap buku bersampul hitam dengan tulisan font berwarna kuning.


Nathan terdiam mendengar sedikit penjabaran buku itu dari Gantari kemudian ia tersenyum setelahnya. Gantari tidak tau apa pria ini benar-benar memahami penjelasannya atau tidak tapi seperti kelihatannya pria itu memanglah pendengar yang baik.


"Eh, kamu kenapa ada disini, ada urusan?" Tanya Gantari, gadis itu tersadar dengan keberadaan Nathan yang tiba-tiba berada di gedung D.


"Ini mau ketemu pak Samsul" kata Nathan sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia tersenyum setelah terdiam sejenak. Ah sangat gila, senyum Nathan memang seperti nikotin bikin candu.


"Aku duluan kalau gitu" lanjut Nathan beranjak dari duduknya membersihkan celana begynya yang sedikit kotor.


Nathan melambaikan tangannya pada Gantari yang masih duduk memandangi kepergian pria itu.


Lantas gadis itu tersenyum menghela nafasnya samar, pagi ini terasa bahagia saja hanya dengan hal kecil seperti ini, ya orang mana sih yang tidak teracuni oleh senyuman tipis seorang Nathan.?


"Ini mata ngeliatinnya biasa aja!!!" Seru seseorang seraya meraup muka Gantari dengan penuh tekanan.


Senyum Gantari seketika berubah menjadi senyum paksa setelah mendapat perlakuan menyebalkan di pagi terindah dirinya. Suara yang sudah sangat terkenal sampai ke gendang telinganya, gadis itu mendengus ini akan menjadi hari yang buruk.


"Ya Tuhan mengapa durasi bahagiaku sesingkat ini?" Keluh Gantari sesaat melihat Mahen yang berdiri di sampingnya, pandangan pria itu masih tertuju pada punggung Nathan dengan raut wajah tidak sukanya.


"Mahen, lo udah makan belum?" Tanya gadis itu dengan santai tetapi dengan raut wajah yang tidak santai, Mahen yang mengetahui raut muka Gantari berubah menjadi kusut dan rambut sedikit berantakan akibat raupannya tadi seketika membuat bulu kuduk Mahen berdiri.


"Hehehe, udah" jawab pria itu seraya menyengir kemudian menelan salivanya paksa saat melihat Gantari berjalan maju ke arahnya, dia otomatis membringsut mundur dengan bola mata yang sudah mengedar kemana-mana.


"Mau makan lagi gak?" Lirih Gantari.


Merasa sudah terpojokan di sudut tembok Mahen menjadi sangat takut jika dirinya diapa-apakan oleh gadis didepannya ini. Terlebih suasana di lorong ini yang sangat sepi, Mahen teriak meminta tolongpun sepertinya tidak akan ada yang mendengarnya.


Mahen was-was melindungi beo saat tatapan mengerikan Gantari menatap kearahnya, "Gan, gue masih perjaka jangan perkosa gue"


Dukk


"ANJIRRRR!" Seru Mahen dengan ringisan menahan sakit tepat di ujung kakinya.


Gantari menginjak kaki Mahen dengan cukup keras berhasil membuat sang empu meringis kesakitan.


Gadis itu lalu menyugar rambut panjangnya merasa sudah lega dan terpuaskan melihat ringisan Mahen. "Kalo lo ngegangguin gue lagi, gue bakal pastiin si beo bakal ninggalin tuannya!!!" Ancam Gantari dengan penuh tekanan.


Gantari kemudian berlalu setelah menatap Mahen dengan tajam lalu mendengus setelahnya


...____________________//_________________...


...____________________//_________________...


"Haha, Lo kenapa Hen?" Tanya Lukas seraya tertawa melihat Mahen yang berjalan ke arahnya dengan tergopoh-gopoh.


"Diinjek sama Gantari" jawab pria itu suntuk lalu mengambil duduk di sebelah Dirga yang sudah siap mengoloknya.


Dan benar saja Dirga tertawa keras melihat keadaan Mahen yang mengenaskan, "ya lagian lo nya gangguin mulu"


"Healing gue cuma gangguin dia, ya walaupun ujung-ujungnya di sakitin juga"


"Sad boy banget anjir" gelak Lukas setelah menyeruput kopi mix nya.


"-Kayak gue." Lanjut Lukas meratapi kemalangan sahabatnya yang ternyata tidak berbeda jauh darinya.


Sebenarnya Lukas ini tidak semalang itu jika berurusan dengan perempuan, Ia bisa saja langsung mendapatkan pacar karena memang banyak perempuan yang dekat dengannya. Tapi kali ini Lukas berada dalam misinya, bagaimanapun ia harus bisa mendapatkan Keshwari.


Karena selama berdekatan dengan perempuan, Lukas sama sekali belum bisa mempertahankan komitmennya. Ia terlalu sulit untuk jatuh cinta yang sebenar-benarnya. Mengingat kejadian minggu lalu dimana Lukas tertolak oleh Keshwari gadis tercantik se-antero fakultas kedokteran.


Yah Lukas saja belum memulai pdkt nya tapi sudah ditolak terlebih dahulu oleh Keshwari. Seperti ia sudah kalah sebelum berperang.


"Mangkanya fokus sama satu cewek aja, jangan semua cewek lo bidik, kan lo nya juga yang puyeng" timpal Dirga,


"Gue yang punya satu aja udah puyeng" lanjut pria itu.


"Lah ini gue mau fokus sama Keshwari" ujar Lukas seraya berdiri dari duduknya karena melihat sang pujaan hati yang berjalan menghampiri nya.

__ADS_1


Mahen dan Dirga hanya menggeleng tidak habis fikir dengan playboy satu ini. Bukan apa, hanya saja ini Lukas selain memiliki gelar pria tertampan kedua, dia juga mendapat predikat playboy nomor satu.


Keshwari dengan setelan kemeja putih dan celana kulot hitam tersenyum kearah 3 pria itu, Lukas yang sedang berdiri itu langsung membalas senyuman manis dari perempuan cantik itu seraya melambaikan tangannya.


Senyuman Lukas luntur saat Keshwari ternyata bukan tersenyum kepadanya, melainkan pada sahabatnya sendiri.


"Mas Mahen, free gak sore ini?" Tanya Keshwari pada Mahen yang tengah menilik luka di kakinya.


"Anjir patah hati gue!" Seru Lukas seraya menahan rasa sesak yang menyeruak di dalam dadanya, tangannya meremat kuat baju bagian dada. Sangat lebay bukan?.


Dirga menepuk nepuk bahu Lukas memberikan semangat bahwa hal ini bukanlah akhir dari segalanya.


Mahen yang tersadar akan Keshwari yang berbicara dengannya terlihat canggung kemudian melirik ke arah kedua sahabatnya secara bergantian seakan dia tidak percaya bahwa Keshwari memang tengah berbicara dengannya.


Kening Keshwari menaut menunggu jawaban dari Mahen, "mas?" Tanyanya lagi.


"Ada acara. Emang kenapa?" Jawab Mahen.


"Oh, aku kira free. Soalnya tadi sempet liat jadwalnya mas Mahen lagi free. Mau minta tolong bantuin bikin proposal tentang medical project." dengan suara lembutnya Keshwari mencoba tersenyum paksa.


"Kenapa harus sama gue? Kan lo bisa minta tolong sama yang lain" ujar Mahen mencoba santai menanggapi Keshwari. Lagian membuat proposal project medical bukanlah bidang seorang Mahen.


"Soalnya cuma mas Mahen doang yang bisa bikin proposal rapih dan di terima sama dosen"


Benar, Mahen adalah jagonya membuat proposal rapih, tapi jika tentang Medical jujur saja pengetahuan nya sangatlah dangkal.


"Gue sibuk sore ini" kata Mahen, membuat Keshwari langsung mengulum bibirnya kecewa.


"Waduuh, " pekik Dirga menyaksikan penolakan yang di lakukan oleh sahabatnya itu. Sungguh sangat terang terangan sampai membuat gadis di depannya itu jelas sangat kecewa.


Dirga terheran mengingat kembali tentang perkataan Lukas tempo lalu yang mengatakan bahwa Keshwari tertarik dengan Mahen, itu sangat tidak masuk di akal Dirga. Tetapi setelah menyaksikan hal itu sendiri,  Dirga malah semakin kehilangan akal, bisa bisanya wanita secantik dan sepintar Keshwari di tolak oleh seorang Mahendra.


Mungkin jika yang menjadi incaran gadis ini adalah Nathan, akan sangat sepadan dan Dirga akan mempercayai hal itu. Tapi ini Mahendra, pria yang terkenal aneh dan usil mana mungkin di sukai oleh Keshwari si kembang Fakultas Kedokteran yang memiliki banyak aset atas dirinya.


Dan baru kali ini Dirga menyaksikan bagaimana Keshwari tengah mempertahankan harga dirinya di depan banyak orang saat menerima penolakan dari Mahendra. Karena biasanya gadis inilah yang akan menolak ajakan dari para pria.


"Yaudah mas, aku harap next time bisa ya? Mas Mahen boleh minta no WhatsApp nya gak? Soalnya nomor mas Mahen yang lama udah gak aktif"


Setelah menerima penolakan itu, Keshwari memberanikan diri untuk meminta nomor telepon Mahen, tapi naas, Mahen tidak kunjung menjawabnya maupun memberikannya.


Keshwari kembali mengulum bibirnya karena di acuhkan oleh Mahen kemudian ia menyodorkan secarcik kertas berisikan nomor telepon Keshwari sendiri. "Kalo gitu, aku berharap banget mas Mahen bisa kontak aku" lanjutnya dengan suara sangat lembut dan anggun.


Setelah kepergian Keshwari, Mahendra masih terdiam dengan tatapan kosong menatap kertas yang gadis tadi letakan di atas meja tepat di depannya. Lalu ia merobek sebagian kertasnya kemudian ia simpan di dalam saku celananya.


"Lo pake pelet apaan dah Hen?" Tanya Lukas, lalu menerima sodoran sobekan kertas yang berisikan nomor Wa Keshwari yang sontak membuat Lukas menautkan kedua alisnya merasa bingung.


"Buat lo!" Tekan Mahen, tanpa menjawab pertanyaan dari Lukas. Kemudian melirik kembali pada ujung kakinya yang mulai membengkak.


Lukas langsung sumringah karena di sodorkan nomor Wa Keshwari sang pujaan hati, "Thanksyuu bro".


"Awas nanti Keshwari nya sawan lo tiba-tiba nge-Chat" ledek Dirga seraya menyeruput kopinya yang sudah dingin itu.


"Anjirr!"


...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...



T-tapi kalo Mahendra nya kayak gini mana mungkin saya tidak naksir. ㅠㅠ


__ADS_1


Ini juga Nathan bikin pusing.


__ADS_2