
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Hari itu, tepat di Hari Ulang Tahun Mahendra. Bunda di makamkan. Mahendra memilih untuk memakamkan bundanya di Jogja, tempat dimana beliau terlahir.
Ada hal yang membuat Mahendra jauh lebih merasakan sakit hati, Ayahnya sama sekali tidak terlihat dari sejak bundanya ia larikan ke rumah sakit.
Memang sudah dasarnya manusia anjing sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Biarlah, lagipula jika Mahendra menemukan wajah Ayahnya sudah dipastikan ia akan menghajarnya habis habisan dan melupakan jati dirinya sebagai anak.
Hari mulai sore, orang-orang yang ikut melayatpun sudah mulai berhamburan untuk pulang. Kecuali Mahendra, Nathan, Keshwari, Paman Sam kemudian Bi Mina dan Pakle Tejo.
Agaknya Mahendra sudah sangat lelah sekali untuk menangis, kini dirinya lebih banyak terdiam dan mencoba mengiklaskan kepergian bunda untuk selamanya. Bukan karena ia sudah tidak mau menangis, tapi Mahendra lebih memilih untuk menahan tangisnya. Sungguh, Mahendra juga ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang. Seperti Nathan yang masih menangis hingga di tenangi oleh Keshwari dan bi Mina.
Mahendra juga ingin ada seseorang yang menenangkannya, ia menatap Nathan irikemudian mengusap kembali air matanya. Untuk apa bunda menyuruhnya untuk menjaga Nathan padahal anak itu punya cukup banyak orang yang mengasihinya.
Detik kemudian Mahendra merasakan usapan pada punggungnya, ia menoleh pada Pamannya yang tengah menatapnya kasihan seakan tengah menguatkan Mahen. Mahendra tersenyum getir setelahnya.
Dirasa hari sudah sore dan terlihat mendung, mereka mulai meninggalkan makam namun Mahendra masih enggan untuk meninggalkan bundanya. Ia tidak ingin meninggalkan bundanya tertidur sendirian.
"Bun, maafin Mahen..." Suara Mahendra sudah parau, sedari tadi memilih untuk tidak bersuara kali ini terdengar penuh penyesalan.
Saat itu hujan turun, Mahendra menengadah keatas menatap langit yang sudah seutuhnya menghitam. Mahendra semakin bersimpuh di samping makam. Ia kini sudah tidak memperdulikan dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup.
"Bund, Mahendra kan udah janji kemarin gak bakalan ninggalin bunda. Tapi kenapa malah bunda yang pergi?"
"Mahendra punya banyak banget salah yah sama bunda, Mahen minta maaf karena belum bisa jadi anak yang pantas buat bunda."
Mahendra berakhir menangis, kini tangisnya terdengar keras. Ia mencoba meluapkan tangisan yang sedari tadi tertahan, tapi bukannya lega dadanya malah menjadi semakin sesak. Mahendra hanya menginginkan pelukan bundanya, pelukan yang membuat tubuhnya menghangat. Pelukan yang selalu membuatnya nyaman untuk berkeluh kesah kini telah hilang, lenyap dan sama sekali tidak dapat Mahendra raih lagi.
Langit tambah menggelap, sudah tidak ada orang lagi selain Mahendra di area makam ini.
Hujan bertambah deras seakan ingin menyamarkan tangisan Mahendra yang putus asa, tangisan frustasi mengapa hidupnya sangat penuh dengan petaka? Mengapa hidupnya merugikan orang lain?, mengapa ia terlahir di dunia ini? Mengapa, mengapa Tuhan sangat menginginkan Mahendra hidup dengan penuh penyesalan?.
"Bund..." Ucapnya sangat lirih pada sosok yang sekarang tengah merengkuhnya, ia merasakan usapan halus pada punggungnya yang bergetar.
"Maafin Mahen...."
Ia menangis lagi, menyembunyikan seluruh wajahnya pada bahu sempit itu.
Samar, Mahendra mendengar seseorang berbisik, "terimakasih abang sudah jagain bunda... Jangan nangis lagi bang, bunda beruntung punya anak pengertian kayak abang"
"Abang... Selamat Ulang Tahun"
Mahendra semakin menangis saat suara itu jelas masuk kedalam telinganya. Ia bahkan dapat mendengar suara itu dengan sangat jelas di antara suara hujan yang bergaduh. Mahendra memejamkan matanya, saat bayangan yang di rasa solid itu perlahan menghilangkan rengkuhannya yang hangat, Mahendra menjadi dingin kembali, bisakah ia memintanya kembali, bisakah ia mendapatkan pelukan hangat itu lagi? Mahendra sangat kedinginan sekarang.
Mahendra masih bersimpuh dengan kemudian ia membiarkan tubuhnya bergetar karena kedinginan tepat di bawah hujan dan di samping makam bundanya. Ia memejamkan matanya, menggeram di bawah sana terus mengucapkan kata maaf yang memang hanya kata itu yang mampu Mahendra keluarkan sekarang.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Mahendra membuka matanya perlahan menatap langit-langit kamarnya, kepalanya di rasa semakin pening, tubuhnya pun semakin dingin saja rasanya. Ia terbangun kemudian mengedarkan pandangannya hingga ke penjuru ruangan kamarnya, masih remang. Sepertinya bi Mina memang sengaja tidak membuka horden di kamarnya agar Mahendra bisa beristirahat dengan baik.
Ia sangat ingat kemarin malam dirinya pulang dalam keadaan basah kuyup. Rasa dinginnya pun tak kunjung menghilang padahal sinar matahari sudah berada tepat diatas sana. Mahendra menggeser horden kamarnya hingga sinar matahari mau masuk kedalam sela sela kamarnya, tak apa jika tak bisa menghangatkan, setidaknya kamarnya ini tidak terlihat terlalu suram.
Ia memang sudah kehilangan bundanya tapi ini semua ternyata bukanlah akhir dari segalanya, dikira dunia ini akan berakhir begitu saja tapi nyatanya Mahendra masih menemui hari esok. Ia kemudian tersenyum getir, ternyata dengan hujan-hujanan saja tidaklah cukup untuk mengakhiri hidup.
Pintu kamar Mahendra terbuka menampakan Keshwari yang masuk ke ruangannya membawa nampan berisikan bubur dan segelas susu.
"Buburnya Jangan lupa dimakan yah Mas, obatnya juga jangan lupa diminum." Perintah Keshwari seraya meletakan nampan itu pada meja nakas.
Mahendra tersenyum minim, "Makasih ya Kesh"
Keshwari mengangguk, "kalo gitu, aku keluar dulu yah Mas"
"Kesh," panggil Mahendra saat Keshwari akan keluar dari ruangannya.
"Ya?"
__ADS_1
"Nathan, gimana?" Tanya Mahendra ragu, ia nampaknya mengkhawatirkan keadaan adiknya itu. Bukan apa, ia hanya penasaran apakah dia masih menangis atau tidak.
Keshwari tersenyum mendengar pertanyaan Mahendra yang memang masih mengkhawatirkan keadaan Nathan. "Dia baik-baik aja kok Mas, ada di kamarnya lagi istirahat"
Mahendra mengangguk mengerti, katakanlah bahwa pria ini sedang berusaha untuk tidak peduli dengan hal apa saja yang dilakukan Nathan setelah kepergian bundanya. Namun nyatanya Mahendra adalah Mahendra, ia akan tetap menjadi orang yang paling khawatir dengan segala hal yang memang sudah ia jaga dengan lama.
Nathan salah satunya, mungkin anak itu sudah mulai dewasa namun tidak dengan hatinya. Menurutnya Nathan tetap menjadi anak kecil yang setiap malamnya perlu di bawakan susu agar dirinya bisa terlelap dalam tidurnya.
Bukan hanya Mahendra saja yang terluka, Nathan juga terluka. Mahendra tidak bisa mengelak akan hal itu.
Seperti saat ini hati Mahendra jadi semakin sesak saja saat mengintip keruangan Nathan yang memang berada di depan ruangannya. Anak itu tidur dengan posisi meringkuk dan memunggunginya, Mahendra jadi tidak tau apakah anak itu benar-benar tertidur atau memang tengah menyembunyikan tangisannya lagi. Punggung yang dilihat Mahendra menjadi sangat kecil, dan getaran itu masih dapat ia lihat dengan jelas.
Sangat lama Mahendra hanya menatap punggung Nathan dengan perasaan kecewa, marah, sesak dan khawatir seakan menjadi satu. Mahendra menutup kembali pintu itu perlahan sampai punggung kecil Nathan lenyap dalam pandangannya.
Mahendra berjalan menuju ruang tengah dan menemukan paman Sam yang tengah mengobrol dengan pakle tejo. Mahendra pun ikut bergabung.
"Udah sembuh mas?" Tanya pakle Tejo sesaat setelah melihat keberadaan Mahendra yang sudah duduk di depannya.
"Mendingan pak" jawab Mahendra sedikit tersenyum.
Paman Sam lantas menjadi khawatir saat melihat Mahendra yang memang masih terlihat pucat. "Kalo masih sakit istirahat lagi aja, Ma"
Mahendra tersenyum seakan mengatakan bahwa kini dirinya memang sudah tidak apa.
"Mahen, bunda kamu ada bilang sesuatu sebelum dia meninggal". Tiba tiba Paman Sam membuka suara setelah ia menyecap kopi miliknya. Mahendra yang sedari tadi menunduk dengan perlahan menatap paman Sam.
"Nathan" lirih Mahendra.
Paman Sam lantas tersenyum melihat Mahendra, namun sangat singkat sampai ia berucap kembali. "Kamu tau, Nathan punya asam lambung?"
Mahendra mengangguk. Dirinya memang sudah mengetahui hal ini sejak ia masih hidup berdampingan dengan Nathan. Sedari kecil, anak itu memang sangat sulit sekali untuk makan. Sampai akhirnya Nathan didiagnosa mengalami asam lambung, inilah alasan mengapa Mahendra selalu mengantarkan susu ke kamar Nathan setiap malam. Hanya untuk mengecek bahwa adiknya itu tidak mengonsumsi kopi lagi. Anak itu juga sangat keras kepala, ia lebih mementingkan tugas sekolahnya daripada kesehatannya.
Tapi rasanya masih sangat sesak dan kecewa saja saat melihat Nathan.
"Itu salah satu alasan bunda kamu masih mau bertahan di rumah itu, jika kamu masih bertanya mengapa bundamu tidak mau pindah sama kita disini, itu karena Nathan. Nathan juga bagian dari bahagianya bunda kamu" jelas Paman Sam. "Berhenti untuk menyalahkan dirimu sendiri".
Mahendra kembali mengangguk, "setidaknya Mahen sudah berusaha untuk menjalankan perintah bunda, walaupun Mahen gak tau ini bakal berjalan atau tidak."
"Paman paham, rasa kecewa itu pasti bakalan tetep ada. Dan rasanya percuma saja jika paman menasihatimu, biarlah nanti waktu yang akan menjawab segala kekecewaan mu"
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
"Mulai besok, kamu sudah harus pindah ke London. Sudah Ayah urus juga tiketnya, tinggal berangkat" kata pria paruh baya yang kini sudah berdiri di sisi samping meja makan seraya meletakan semua berkas kepindahan anaknya.
Nathan jelas yang berada di depan kulkas hanya menoleh dan menatap nanar ke arah Ayahnya yang tengan menegak minuman alkohol nya.
"Nathan pamitan dulu sama bang Mahen" ucap Nathan.
"Tidak perlu, lagipula Mahendra sudah tidak peduli lagi sama kamu. Kamu sepenuhnya milik Ayah, Nat"
Nathan sedikit mencelos, "Ayah, Nathan capek. Ayah gak pernah sekalipun ngiyain permintaan Nathan. Padahal Nathan cuma minta hal yang simpel"
"Nathan cuma pengen pamitan sama bang Mahen" pinta Nathan, kini rasanya ia sudah mulai kelelahan.
"Jangan pancing Ayah, Nathan". Ayahnya menghela nafas seraya meletakan gelas yang masih tersisa alkoholnya sebelum ia menatap Nathan yang sedari tadi menatap keaeahnya.
"Kamu tau kan akibatnya kalau ngebantah Ayah?"
"Ayah emang gak capek, hidup kayak gini?" Bukannya menjawab, Nathan malah balik bertanya pada Ayahnya. "Udah paling bener, Nathan mati aja ikut bunda".
Tanpa dikira, perkataan Nathan tadi sukses membuat sang Ayah menjadi panas. Pria paruh baya itu nampak kesal, lalu perlahan berjalan menghampiri putranya dengan senyum getir. Anak ini memang sudah tidak tau caranya berterimakasih.
"Kamu mau ketemu bundamu?" Tanya pria itu dengan nada lirih namun mampu membuat bulu kuduk Nathan berdiri.
Nathan berjalan mundur saat sang Ayah mulai mendekatinya dengan meraih vas bunga yang terhias diatas meja kemudian melemparkannya ke arah Nathan. Anak itu jelas langsung terjingkat melihat Ayahnya yang tiba-tiba melemparinya dengan vas. Nathan semakin menempelkan punggungnya pada pantry dapur.
__ADS_1
"Sini, katanya mau mati?" Perintah sang Ayah seakan mengisyaratkan kepada anaknya untuk mendekat. Nathan dengan cepat menggeleng, sungguh dirinya tidak ingin mati dengan cara seperti ini.
Ayahnya sungguh sangat menakutkan.
Prankk...
Pria itu kembali melempari Nathan gelas, membuat anak itu memejamkan matanya rapat-rapat saat Ayahnya terus menerus melemparinya dengan gelas, Nathan sekilas melihat bayangan bunda yang datang menangkup tubuhnya, wanita itu merelakan punggungnya terkena lemparan itu, Mata Nathan menjadi membulat saat melihat sang ayah dengan tergesa melepas ikat pinggangnya kemudian berjalan menghampirinya. Matanya kembali menutup dan tubuhnya meringkuk, kali ini memang Nathan sudah diharuskan untuk mati.
Satu cambukan Nathan dapatkan tepat di punggungnya, tubuhnya bergetar merasakan perih yang kian menjalar. Lukanya tempo lalu saja belum sepenuhnya kering, kini dirinya harus mendapatkan luka cambukan di punggungnya.
"Ayah, sakit" Nathan menggeram mengeluhkan rasa yang saat ini dirasanya.
"Kamu itu emang harus di giniin dulu biar bisa nurut sama Ayah!!!" Pria itu kembali melayangkan cambukannya, sangat keras sampai Nathan merintih betapa perihnya punggungnya kali ini
Nathan menangis menahan perih dan kebas tubuh bagian belakangnya. Ia kini hanya ingin pasrah, karena memang ia akan selalu berakhir seperti ini. Ia juga tidak berharap ada orang yang sudi menolongnya.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Mahendra berjalan dengan tergesa setelah mobil milik Keshwari berhasil terparkir di pelataran rumah lamanya. Besar, masih terlihat sama seperti dulu.
Pria itu sedikit berlari sampai Keshwari saja kewalahan menyamakan langkah Mahendra.
Lalu betapa terkejutnya Mahendra setelah dirinya berhasil masuk kedalam rumahnya sendiri. Pemandangan ini sungguh tidak asing, ia pernah menemukan pemandangan yang sama, pemandangan yang membuat darah Mahendra seketika mendidih.
Keshwari juga tidak kalah terkejut pasalnya ia baru pertama kali melihat hal yang mungkin sering Nathan ceritakan kini tertayang langsung di hadapannya, Keshwari menutup mulutnya berusaha untuk tidak berteriak saat melihat Nathan yang tengah di cambuk oleh Ayahnya sendiri.
"Anjing!!" Mahendra dengan cepat mengambil tongkat baseball milik Ayahnya yang berada di sudut ruangan seraya mengumpat, matanya sudah memerah sedari tadi, rahangnya pun mengeras ia berjalan mendekati kedua orang yang berada di dapur itu dengan penuh emosi.
Bugh...
Mahendra memukul punggung Ayahnya sebelum sang Ayah mencambuk kembali tubuh ringkih Nathan yang tengah meringkuk. Ayahnya seketika terjatuh saat menerima pukulan yang sangat keras, ia langsung terkapar namun setelahnya terkekeh saat melihat Mahendra yang sudah berada diatasnya mencengkram kerahnya dengan sangat kuat.
Bughh
Mahendra kembali menghantam wajah Ayahnya sendiri, ia kini sungguh sudah gelap mata, Mahendra sudah tidak memperdulikan lagi status manusia yang kini tengah ia hajar. Mahendra terus melayangkan pukulan seakan ia akan membunuh orang uang sudah membunuh bundanya, matanya sudah menggelap sampai pada akhirnya ia sadar. Mahendra menghela nafasnya lega kemudian menatap nyalang pada Ayahnya yang masih terkapar di bawahnya.
"Harusnya kematian di bayar dengan kematian, tapi itu bukan cara gue, gue masih ngehargain bunda yang terus ngelarang gue buat ngebunuh lo!" Ujar Mahendra lirh namun penuh dengan penekanan.
"Sekalinya Anjing, bakalan tetep Anjing!"
Mahendra menghepaskan cengkramannya pada kerah baju Ayahnya hingga pria itu melenguh sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri.
Mahendra menoleh pada Nathan yang masih meringkuk kesakitan, ia menghampiri adiknya itu kemudian memeluknya sangat erat.
Keshwari yang sedari tadi termenung melihat bagaimana ngerinya Mahendra saat menghajar Om Abdi dengan sangat brutal. Ia juga baru menyaksikan Mahendra yang terbiasa ceria dan penuh warna itu menjadi sangat menakutkan ketika ia benar-benar marah.
Gadis itu tersadar kemudian bergegas berlari kecil menghampiri Mahendra yang tengah menenangkan Nathan.
"Mas, Nathan di bawa ke kamarnya dulu. Biar Keshwari obatin. "
Mahendra mengangguk, kemudian membopong Nathan menuju kekamar anak itu.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Selamat bermalam minggu.
.
Maaf, terlalu dark ya? Tidak sesuai dengan Mahendra yang kalian bayangkan di awal?. Tapi memang seperti itulah adanya, Mahendra memang mempunyai banyak sekali warna, tapi jangan lupakan bahwa ia juga mempunyai warna yang gelap.
Dia juga ingin keluar layaknya pelangi. Tetapi ketika ia berhasil menjadi pelangi, dia tidak pernah ditanya dari mana asalnya.
Di bab ini sangat jelas jika bukan hanya Mahendra sajalah yang terluka, karena masih ada Nathan yang jauh lebih terluka.
__ADS_1