JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
15. Lagu favorit.


__ADS_3


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Malam ini adalah malam terakhir di bulan November. Jika biasanya Gantari mengakhirinya dengan meniup lilin bersama Ayahnya, tahun ini ia habiskan hanya dengan tertidur lalu bangun tepat jam 00:00 hanya untuk mengucapkan selamat ulangtahun untuk Ayahnya.


Beliau mengatakan bahwa tahun ini ia tidak dapat pulang, tapi sebisa mungkin akan tetap pulang di Januari nanti.


Terkadang Gantari merasa bahwa Ayahnya kini telah terlalu keras untuk bekerja apalagi umur beliau yang sudah tidak muda lagi, tadi saja beliau sempat mengeluh bahwa punggungnya kini sudah sering linu. Jika saja sang Ayah berada dikatnya, akan di pastikan Gantari akan mengomeli sang Ayah setiap waktu.


Ia masih merindukan Ayahnya padahal tadi ia sudah berteleponan satu jam penuh sampai akhirnya Gantari tertidur kembali saat mendengarkan nyanyian Ayahnya. Lagu yang selalu beliau nyanyikan setiap kali beliau Ulangtahun.


I lay My Love On You dari Westlife, suara Ayahnya yang akan selalu keren didengar walaupun beliau tidak hafal liriknya, namun ia hafal dengan nadanya. Gantari pasti akan tergelak setiap kali Ayahnya itu mengucapkan I love You di setiap akhir liriknya sebagai pengakhiran dalam lagu favoritnya itu.


Kata beliau Januari depan Ayah akan pulang dan akan merayakan ulangtahun Gantari berdua seperti Januari lalu, semoga saja Januari depan akan lebih baik. Ayahnya akan menepati janjinya bukan? Beliau akan meninggalkan semua pekerjaannya untuk pulang kan? Dia juga pasti sangat merindukan kekasihnya, satu tahun tidak jumpa dan tidak mengunjungi rumah ibu yang mungkin sudah di penuhi dengan rumput dan bunga lily di pusaranya pun sudah kering. Ia harus menggantikannya dengan bunga lily yang baru kan?.


Dari ruangan sebelah terdengar lagu Westlife Better Man versi akustik yang dinyanyikan secara live oleh Mahen. Gantari perlahan membuka matanya enggan untuk beranjak dari ranjangnya. Suara Mahen terkadang memang seperti Alarm yang membuat Gantari geram setiap kali ia mendengar suara Mahendra, tapi kali ini rasanya Gantari ingin kembali tertidur. Suaranya kali ini terlalu sopan masuk ketelinganya, beserta dengan iringan gitar yang membuatnya lebih indah. Ia bahkan melupakan satu hal yang menjadi kelebihan Mahendra, yaitu suaranya ketika pria itu bernyanyi.


How do you lose the one you love? (how do you lose?)


After giving it all, you gave it up


And maybe my love wasn't enough


You think you know, but you never can


And how do you lose your only plan?


Well darling, just give me one more chance


And I'll give you everything I have


I'll try to be a better man


Gantari terkekeh sesaat lagu itu selesai, ia mulai bangkit dari ranjangnya.


"Tumben nyanyinya Better Man, biasanya My Love" ucap Gantari dengan suara yang sedikit mengeras berniat agar Mahen mendengar suaranya.


"Kalo gue nyanyi My Love entar lo bosen dengernya" sahut Mahen dari ruangannya seraya meletakan gitarnya.


"Mahen,-" ucapan Gantari terpotong, "Ayah gue kagak jadi pulang hari ini" Gantari lalu menunduk mengamati jari jarinya. "Sepi banget rasanya, padahal hari ini ulang tahun Ayah harusnya gue bisa ngerayain ulang tahun bareng Ayah".


"Selamat ulang tahun yah buat Ayah lo, gue doanya di dalem hati aja biar cepet nyampenya" Cakap Mahendra seraya melipat selimut miliknya.


Gantari yang berada di seberang sana hanya dapat mengulum senyumnya menahan gelakan, "doa lo gak mungkin nyangkut kan?" Ledek gadis itu


"Lo kira layangan pake acara nyangkut segala" Mahendra lantas menyungut.


Gantari lantas tergelak mendengar respon Mahendra, pria itu memang sangatlah menyenangkan hanya saja Gantari yang terlambat mengakuinya


"Gan, kalo lo butuh orang yang mampu buat menepis rasa sepi lo. Dateng ke gue Gan, gue siap jadi orang yang paling lo butuhin. Lo sekarang gak perlu lagi khawatir kalo gue hilang karena memang gue gak pernah kemana-mana." Ujar Mahendra setelah dirinya menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas ruangannya dengan ruangan Gantari.


"Lo gak cocok banget ngomong serius kayak gitu, image lo di otak gue tuh tukang kibul"


Mahendra terkekeh, "Gue serius dikira bercanda, giliran bercanda dikira gila. Gue tuh emang gak pernah bener di mata lo".


"Ya udah jangan serius-serius, soalnya lo lebih aneh kalo serius"


Karena nyatanya keseriusan Mahendra tidak pernah bisa terukur nyata. Seperti halnya yang sudah-sudah, Mahendra akan kembali melakukan hal konyol saat Gantari mulai menganggapnya serius.


"Mahen, Emang lo kagak kangen sama keluarga lo?" Tanya Gantari yang seketika membuat Mahen langsung tersekat. Jantungnya serasa langsung berhenti sesaat.


"Kangen sih, tapi males aja buat pulang" kekeh Mahen.


"Lo kalo pulang ke Jogja ajak gue yah. Gue pengen naik kereta"


Mahen tergelak setelah mendengar pernyataan Mahendra yang ternyata diluar dugaannya. Mahendra mengira bahwa Gantari akan bertanya jauh tentang keluarganya, tentang dari mana asalnya, dan bagaimana Mahendra bisa bertahan hidup.


"Yuk ah ntar gue ajak lo naik kereta. Hari ini ayuk cus ngengg"


"Hari ini kan ada projek, Mahen" Gantari menghela nafas.


"Yaudah habis projek lo selesai, gue ajakin lo ke Jogja"


"Serius ya?"


Mahen hanya berdehm disertai dengan unjung bibir yang tertarik mengukir senyum.


"Siap-siap gih, gue manasin motor dulu"


"Kemana?"


"Ke kampus lah!!!"


"Oiya lupa, hehehe"


_________________♡♡♡________________


Pak Samsul sudah stand by di depan fakultas psikologi seraya menilik jam tangannya terus-terusan dan sesekali menaikan kacamatanya yang menurun.


Diikuti oleh Tiyan dan Damar yang baru saja datang juga menghampiri pak Samsul.


"Yang lain mana?" Tanya pak Samsul kepada Tiyan.


"Tuh" tunjuk Tiyan kepada Gantari dan Mahen yang baru saja sampai di area kampus.


Lalu diikuti dengan Nathan yang baru saja keluar dari mobil BMW X6 hitamnya tak lupa dengan camera canon yang selalu tergantung di lehernya. Dengan wajah penuh senyum Nathan mendekati tim projeknya yang sudah berkumpul.


"Sudah kumpul semua kan?" Tanya pak Samsul pada semua mahasiswa yang berada di hadapannya.


"Ningsih belum sampe pak, katanya lagi otw tadi" sahut Gantari seraya menilik ke arah gerbang kampus.


"Otw kemana nih? Nanti malah baru otw mandi" kata pak Samsul dengan nada sewot.


"Tuh" tunjuk Gantari pada gadis dengan rambut sebahu yang ia hias dengan jepitan kecil di atas telinganya terlihat berlari lalu berdiri tepat di samping Gantari lalu berbisik, "maaf lama soalnya tadi motornya mogok"


"Sudah kan?" Tanya pak Samsul sekali lagi.


"Bentar pak temen saya belum dateng" ujar Mahen yang sukses membuat semuanya memandang penuh pertanyaan.


Gantari kemudian menatap Mahendra dengan penuh pertanyaan, Siapa lagi? Ini sudah kebanyakan member, dikira mau study tour kali. Terlebih lagi ini adalah Mahendra, soalnya teman dia babi semua.


Dan benar saja teman yang di bawa Mahen adalah Lukas. Pria ini terlihat tengah menenteng keresek berisikan beberapa foam yang entah apa isinya.


"Anjir lo Mahen, gue di suruh bawa beginian!!!" Baru saja sampai di gerombolan tim projek, Lukas sudah mengeluh penuh protes.


"Eh, ada neng ningsih" seketika nada Lukas berubah setelah melihat ningsih yang juga ikut dalam projek ini.


Lukas langsung memasang muka kalem kemudian berdiri tepat di samping Ningsih dan masih menyangking kresek besar.


Ningsih hanya tersenyum, mau saja nih anak di godain buaya seantero fakultas ekonomi bisnis.

__ADS_1


"Oke, kita berangkat sekarang. Mumpung Nathan dan Tiyan bawa mobil, kita bagi saja. Gantari, Ningsih sama Lukas kamu ikut mobilnya Nathan. Terus sisanya ke mobilnya Tiyan". Jelas pak Samsul


"Eh enggak pak, Gantari sama saya saja naik motor" sergah Mahen dengan cepat mendapatkan tatapan dari Gantari.


"Gak ada yang bawa motor, biar kagak ada yang ilang!!!" Tolak pak Samsul.


"Pokoknya saya sama Gantari fix pak"


"Ya sudah pak, Mahen ditukar aja sama Lukas" usul Tiyan dan langsung mendapat anggukan dari pak Samsul.


"Lah kok gitu? kan kagak jadi semobil bareng neng Ningsih" protes Lukas kesal sambil mengeluarkan kembali keresek berisikan foam yang sudah ia masukan ke bagasi mobil Nathan.


"Kenapa di keluarin lagi ngab?" Tanya Mahen heran.


"Lah kan gue mau pindah ke mobilnya Tiyan" jawab Lukas santai.


"Lo nya aja yang pindah, makanannya kagak usah" geget Mahen.


"Oiya yah, bener juga" ujap Lukas seraya menepuk jidatnya lalu berlari kecil menyusul Tiyan dan Damar. "Bye bye neng Ningsih"


Ningsih hanya tersenyum menahan gelak tawanya.


Gantari yang baru saja akan masuk ke jok depan sudah disergah dahulu oleh Mahen, "lo belakang!" mau tidak mau Ia harus berpindah ke jok belakang bersama Ningsih. Ini sebenarnya Mahen kenapa lagi sih?, Padahal kan Gantari sangat ingin duduk di samping Nathan seraya menggenggam tangannya atau sekedar mengamati Nathan mengemudi.


Mahen menghela nafas panjang saat matanya menatap Nathan. Fasilitas anak ini sangat di cukupi oleh sang Ayah. Dilihat saja dari mobil BMW yang harganya berkisar 3 Milyar dan tidak segan untuk memberikannya pada anak kesayangannya ini.


Memang sangat berbeda sekali dengan Mahendra yang hanya memakai motor jadulnya.


Mobil mulai meninggalkan area kampus menuju ke SMA Pelita Bakti.


"Nathan, putar lagu dong.!!!" Usul Gantari.


"Request lagu apa?" Tanya Nathan dan dari kaca spion tengahnya terlihat Gantari tengah memikirkan lagu apa yang cocok untuk perjalannya kali ini.


"Terserah kamu aja deh"


Lalu terputar lagu dari Niki - Lowkey sampai berganti dengan lagu Ariana Grande - Position.


Nathan memang terkenal dengan kesukaannya dengan music barat. Dilihat dari playlist yang terpampang jelas di monitor mobilnya. Mobil mewah pas sekali di bawa oleh orang sekeren Nathan.


Di sisi lain, sangat tumben Mahen tidak berisik. Biasanya ia yang paling berisik jika berada dalam mobil seperti ini.


Mahen tertidur di sepanjang perjalanan, mungkin saja tidak atau mungkin dia hanya memejamkan matanya saja?.


Gantari merasa aneh saja, sedari tadi dirinya sibuk memandangi Mahen yang anteng di depan.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Mahen masih saja diam tak bersuara di sepanjang jalan, sampai sampai Ningsih saja heran dengan Mahen saat ini.


Ya gimana yah, semua orang pasti akan aneh melihatnya. Orang yang biasanya berisik tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini sungguh bukan Mahendra yang biasanya.


Baru setengah perjalanan, Ningsih bersuara mencoba menanyakan keadaan Mahen, kali aja ini anak diam karena mabok kendaraan.


"Mas Mahen, nih saya bawa Antimo" kata Ningsih seraya menyodorkan satu tablet Antimo dengan ragu.


Mahen menoleh ke belakang dengan tatapan bingung terlihat dengan kerutan di dahinya. Tapi detik setelah nya dia terima juga.


"Lo beneran mabok kendaraan?" Tanya Gantari khawatir.


"Kagak" jawab Mahen menggeleng kan kepalanya.


"Lah terus itu Antimo dari Ningsih kenapa lo terima?"


Ningsih hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Duh, Ningsih senyumu itulohhh"


"Kenapa mas?" Tanya Ningsih.


"Memleyotkan"


Sontak Gantari memandang Mahen julid,


rasa ingin muntah saja.


Nathan yang sedari tadi fokus dengan kemudinya sesekali tergelak mengintip ekspresi Gantari yang lucu saat menyaksikan Mahen menggoda Ningsih.


"Udah ih Mahen, gue jijik banget liatnya. Mending lu tidur aja kaya tadi"


"Gantari, Kamu cemburu yah? Iyain aja napa. Iyakan lo pasti cemburu kann??" ujar Mahen dengan menggoda Gantari yang masih dengan tatapan julidnya.


"Gue? Cemburu? Hah.. Gak lah!! Yakali" ucapnyaa lalu mencelos pandangannya keluar jendela mobil.


Mahen terbahak melihat ekspresi Gantari yang tengah sewot dan kesal begitu.


Mobil mereka mulai memasuki area SMA PELITA BAKTI Setelah Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga.


Pak Samsul menjadi pemandu untuk projek kali ini. Keikut sertaan Pak Samsul ke Sekolah Menengah ini hanya untuk mengecek dan sedikit meminta pihak sekolah membantu penyelenggaraan tugas anak-anak nya.


Lalu setelah berbincang dengan bu Sinta selaku guru Bimbingan Konseling dari pihak sekolah, pak Samsul menghampiri anak-anak yang tengah berada di ruang tunggu.


"Kalian bisa mulai projek nya, sudah dapat izin juga dari pihak sekolah. Nanti koordinasi saja dengan guru BK kelas mana saja yang hari ini ada jadwal mapel BK, kalian bisa mulai survei di jam itu dulu. Setelah nya bisa ambil di jam pelajaran mapel lain tapi koordinasi juga dengan guru mapel terkait, minta waktu dan tempatnya" jelas pak Samsul dan langsung di respon mengerti oleh semuanya.


"Tiyan, saya serahkan tugas ini sama kamu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya saja. Saya mau pulang dulu, laper belum sarapan" lanjut beliau.


Baru saja selangkah meninggalkan Tiyan dan kawan kawan, Pak Samsul kembali berbalik. "Oiya, ini saya bawa satu ya" kata beliau seraya mengambil satu foam yang tadi di bawa oleh Lukas. "Eh, satu lagi deh buat anak saya"


Mau heran, tapi itu pak Samsul.


"Oke, kita sudah bagi tugas ini kemarin, dan datanya juga udah dipegang sama Gantari. Sekarang gue koordinasi dulu ke guru BK. Nanti gue, Damar, Gantari, Ningsih sama Nathan langsung aja masuk bareng . Kita ambil 2 kelas aja buat dokumentasi biar gak kebanyakan waktu. Informasi survei nanti kita minta langsung aja ke guru BK"


"Lah kita berdua ngapain ngab?" Tanya Lukas menunjuk dirinya sendiri dan Mahen yang tepat di sebelahnya karena tidak dapat pembagian. Salah Lukas gabung di saat semuanya sudah mendapat bagian tugas. Tau begini Lukas tidak akan mengiyakan ajakan Mahendra kemarin yang bilang akan membawanya ketempat dimana ia bisa menikmati apa itu hidup.


"Lo pada kan bagian konsumsi" ungkap Damar.


"Ngikut aja di belakang, nanti foamnya di bagi bagiin ke siswanya. Jangan semuanya dulu, sekiranya cukup buat sekelas sisanya nitip di ruang TU. Lukas bawa foam terus Mahen bawa softdrink nya" atur Tiyan.


"Ya Allah, udah kasep juga malah disuruh bawa beginian. Dah kaya orang jualan" Lukas menghela nafas menerima semua ketentuan dari Tiyan.


"Yang sabar yah Bestie" ujar Mahen seraya menepuk nepuk bahu Lukas seakan menerimanya.


"Tau gini mending nongkrong ke fakultas kedokteran cuci mata" kata Lukas dengan kepala menunduk.


"Angkat kepalamu Bestie dan lihatlah sesuatu di depan sana" Mahen merangkul bestie nya itu lalu kepala Lukas terangkat dan melihat beberapa siswa SMA yang berjalan di depannya dengan malu malu.


Sontak Lukas menjadi semangat dan bergairah untuk ikut dalam projek ini setelah dirinya di perlihatkan dengan gadis gadis yang tidak kalah cantik dan bening dengan mahasiswi fakultas kedokteran.


Tidak ada ruginya bukan?


"Kiw" goda Lukas pada beberapa siswi yang datang untuk mengganti spidol dan mengambil proyektor.

__ADS_1


Semua tim projek hanya menggeleng gelengkan kepalanya, Mahen hanya tersenyum geli.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


"Makanannya di depan kelas aja dulu" suruh Damar dan langsung di respon 'oke' oleh Mahen dan Lukas.


Mereka berdua menurunkan foam dan softdrink nya tepat di pinggiran kelas, sekiranya tidak menghalangi orang lewat.


Tiyan memimpin dengan memasuki kelas terlebih dahulu dan sontak membuat siswi yang berada di kelas itu ricuh terkagum dengan visual Tiyan yang hampir sangat mirip dengan karakter manga yang baru saja keluar dari komik.


Tidak hanya siswinya, seluruh siswa nya juga terbelalak tidak percaya bahwa ada manusia yang memiliki wajah seperti itu.


"Mirip Kazuto Kirigaya gak sih?" Celetuk salah satu siswa laki-laki seraya menutup mulutnya yang nyaris membulat saking tidak percaya nya. "Waahhh, kurang semir merah aja sih ini"


"Gila, manusia apa Anime sih. Mukanya kek bukan manusia" sahut teman siswa tersebut yang duduk di sampingnya.


Setelah mendapat izin dari guru BK dan membuat ricuh satu kelas, teman-teman Tiyan memasuki kelas setelah mendapat komando darinya. Lalu berbaris memperkenalkan diri.


"Selamat pagi semuanya, sebenernya udah agak siang ini yah tapi gak papa. Perkenalkan kami dari UNiV, nama saya Tiyan." Tiyan mulai memperkenalkan dirinya.


"Lalu di samping saya ada Damar, Gantari, Ningsih, Nathan, Mahendra dan Lukas" lanjut Tiyan seraya memperkenalkan dan menunjuk teman temannya satu persatu.


"Tujuan kami kesini ingin mensurvei dan mendata anak yang mengalami tekanan sewaktu bersekolah dan apa tujuan kalian nantinya setelah lulus dari sekolah ini. Nanti kita kasih satu kertas yang di situ kalian bebas untuk nulis apa aja perasaan kalian. Tulis sesuatu yang mungkin tidak bisa kalian ungkapin dengan kata l-kata. Bebasin aja pikiran kalian".


Gantari dan Ningsih mulai membagikan kertas yang nantinya akan menjadi media pendata murid murid disini.


Nathan berpindah tempat ke belakang setelah mengambil beberapa foto dari depan. Bukannya melihat dan mendengarkan penjelasan dari Tiyan seisi kelas mendadak mengalihkan atensinya pada Nathan yang tengah berjalan ke belakang.


Nathan seakan mengalihkan fokus para gadis SMA ini karena pesonanya ketika memotret. Semuanya terkagum dengan apa saja yang melekat pada tubuh Nathan.


"Kak Nathan, Suka kopi gak ya?" Tanya salah satu siswi dengan rambut ikal kepada Nathan yang berdiri tepat disampingnya.


Nathan lantas tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu, "Iya, suka"


"Sama kak, aku juga suka sama kak Nathan". Mendadak siswi itu langsung salting sendiri dengan gombalan yang dia buat, teman sebangkunya pun terlihat ikut salting ketika mendapat lirikan kecil dari Nathan.


Nathan tergelak kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan dari beberapa siswi yang tengah menggodanya.


"Kak Nathan jangan Senyum, nanti saya diabetes"


"Pantesan gula di rumah habis"


"Jangan lupa nanti mampir kerumah ya kak, siapa tau di restui mamah"


Yang digoda hanya tersenyum kikuk, Nathan memang jagonya membuat semua orang menggila. Dia nafas saja rasanya sudah membuat para siswi ingin pingsan di tempat.


Jangan tanyakan apa yang dilakukan Mahendra dengan Lukas, mereka sibuk menggodai siswi SMA cantik berkerudung yang duduk tepat berada di depan pojok dekat pintu masuk.


Lukas, tolong jangan kamu nodai siswi berkerudung itu. Godalah siswi yang lemah iman saja.!!!


Sebenarnya yang tengah menggoda itu bukan mereka berdua tapi hanya Lukas saja, sedari tadi tatapan Mahen tertuju pada Gantari yang tengah memberikan pengarahan dan konsultasi kepada siswi yang tengah kebingungan.


Nathan memotret moment langka tersebut, lalu detik selanjutnya Nathan menyunggingkan senyumnya seraya melihat kembali hasil jepretannya.


Memang sangat terlihat jelas bahwa Mahendra ini menyimpan perasaan kepada Gadis berambut tanggung sebahu yang tengah sibuk mondar-mandir .


Disini pertama kalinya Nathan melihat mata seorang Mahendra berbinar, dari jarak yang jauh saja masih sangat terlihat jelas bahagia Mahendra kini sudah ada pada Gantari. Setelah Bundanya, Mahendra ini menemukan hal yang lain, yang membuat perasaan dan jiwanya tenang. Tidak mendengar keributan ataupun pecahan gelas yang mampu membuat bulu kuduk Nathan mendadak berdiri.


Setidaknya melihatnya bahagia dengan hal-hal sederhana seperti ini bisa membuat Nathan tenang sementara, karena ia tidak mungkin setiap hari dapat melihat momen seperti ini.


Jika biasanya Mahendra yang terlalu sering membuat semua orang bahagia, kini dengan mata kepala Nathan sendiri menyaksikan Mahendra yang sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Dia hidup dengan sangat baik.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________



"Setidaknya kamu masih bisa mendengarkan lagu dari band favorit mu"


Mahendra Mahawira Hareshananda,-


.


.



📷


Nathanael Abdi Putra,-


Nathan juga jangan lupa untuk selalu bahagia, dan jangan sakit. Tapi jangan lupa juga, kamu itu manusia.


.



Tiyan Aryasetya.


Ketua komting yang sibuknya minta ampun, tapi walaupun sibuk ikan ****** tetap nomor satu.


.


.



.


Damar Pramudya,-


Anak fakultas Psikologi yang gayanya boyfriendable sekaliii. Siyap membantu Tiyan si bestie dengan senang Hatiiii.


.



.


Setyaningsih Arum,-


Cantik, Kembang desa kalo ngomong alus banget tapi kelewat polos. Mangkanya kalo lagi di kerdusin Lukas iya iya aja jawabannya.


.


.



Nama Lukas Sahaja,-


Gak perlu dijelasin lagi lah ya, Lukas tuh emang seganteng itu. Cuma ya kelakuannya aja yang buat geleng-geleng kepala.

__ADS_1


.


__ADS_2