JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
33. Butuh Rumah Untuk Sekedar Menetap.


__ADS_3


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________...


Hari sudah berganti, Mahendra menjadi demam akibat hujan-hujanan kemarin. Sepulang dari pemakaman Nathan, Mahendra jatuh pingsan yang sontak langsung membuat seluruh anggota keluarga dan sahabatnya panik.


Mahendra mendapatkan rawat jalan dirumah Pakle Tejo. Gantari merawat Mahendra dengan baik, gadis itu dengan telaten menjaga Mahendra meskipun pria itu belum juga sadar padahal Keshwari sudah memberikan pertolongan pertama.


Gantari menghela nafasnya menatap pria yang kini tengah terbaring lemah dengan tangan terinfus. Mata pria itu belum juga terbuka, bibirnya masih saja pucat. Gantari mulai khawatir, Mahendra baik-baik saja kan?.


Kemudian pintu kamar Mahendra terbuka menampakan Keshwari yang datang dengan botol infus baru, terhitung Mahendra sudah menghabiskan sekitar 4 botol infus dan ini adalah botol ke 5 Mahendra.


"Kesh, Mahendra gak apa-apa kan ya?" Tanya Gantari kepada Keshwari yang tengah mengganti botol infus kemudian beralih memeriksa kondisi Mahendra.


"Gak apa-apa kok mbak, dia cuma kecapekan aja jadi demam. Mudah-mudahan besok mas Mahen udah siuman." Kata Keshwari.


Kalimat yang sama seperti tadi sore, Dia mengatakan bahwa Mahendra akan segera siuman namun nyatanya sampai sekarang pun pria ini belum sadar.


"Dia dari tadi ngerintih, gue jadi khawatir" kata Gantari, karena memang Mahendra sedari tadi merintihkan nama bundanya dan Nathan namun sama sekali pria itu belum tersadar, mtanya masih tertutup. Apa dia tengah bermimpi?.


Keshwari yang melihat Gantari melamun seperti tengah memikirkan sesuatu itupun langsung memberikan perhatian, "Mas Mahen itu memang seperti ini mbak, waktu tante Wira meninggal Mas Mahen demam sampai 2 minggu."


"Dulu juga waktu dihari peringatan meninggalnya tante Wira Mas Mahen sakit lagi, sepertinya mas Mahen memang sudah terbiasa sakit di hari itu. Dan sekarang dia merasakan sakit lagi di hari meninggalnya Nathan" tatapan Keshwari beralih menatap Mahendra dengan melas.


Gantari mendadak teringat kejadian saat Mahendra demam sangat lama dan sangat parah, dalam tidurnya pun tidak pernah tenang, ia mencari bundanya.


"Mbak Gantari mau tidur di kamar tamu atau mau ikut pulang ke rumah aku?" Tanya Keshwari langsung membuyarkan lamunan Gantari.


"Di kamar tamu aja deh, Kesh"


"Oke, biar aku bersihin dulu ya"


"Gak usah Kesh, kasihan lo nya capek banget. Biar nanti gue aja sendiri yang bersihin"


"Gitu ya, ya udah deh mbak aku pamit pulang dulu ya. Nanti sekiranya kalo Mas Mahen bangun suruh minum obat yang ada di meja itu ya mbak. Kalo ada apa-apa kabari aku yah mba." Pesan Keshwari seraya menunjuk obat yang tergeletak di atas nakas.


Gantari lantas mengangguk menerima anjuran Keshwari. Kemudian setelah semuanya dimengerti oleh Gantari, gadis berparas cantik itu mulai keluar meninggalkan Gantari dan Mahendra.


Setelah kepergian Keshwari, Gantari kembali mengalihkan atensinya pada Mahendra, pria itu mengapa tidur sangat lama. Gantari sudah sangat merindu.


Tangan Gadis itu meraih tangan Mahendra kemudian menangkup dan menggenggamnya.


"Mahendra, lo tau kalo selama gue hidup lo yang paling gue khawatirkan sekarang. Gue sudah terlalu banyak mengkhawatirkan diri gue sendiri dan sekarang rasa khawatir ini sudah berpindah ke lo"


"Lo emang ngeselin bahkan untuk waktu sekarang lo masih aja ngeselin!."


Gantari menghela nafasnya, tatapannya menjadi sendu hanya dengan memandangi wajah Mahendra yang masih memucat. Bibir pria itu sedikit terbuka, sesekali ia menggerang lirih.


Mahendra sudah beberapa kali seperti ini, namun matanya sama sekali tidak terbuka.


Apa Gantari hubungi Keshwari saja agar Mahendra di bawa ke rumah sakit?.  Tapi gadis itu baru saja meninggalkan rumah ini sekitar 15 menit yang lalu dan tidak mungkin juga Gantari mengganggu Keshwari, dia juga kelelahan karena terus bolak balik menilik keadaan Mahendra.


"Gue juga pengen marahin lo lagi Mahendra, gue jadi bingung harus apa kalo lo kayak gini."


Setelah memandang lama Mahendra, Gantari beranjak berniat untuk keluar dari ruangan Mahendra. Namun baru saja ia sampai di ambang pintu, suara rintihan pria itu kembali terdengar membuat Gantari urung dan tidak tega untuk meninggalkannya.


Gantari kembali lagi, kemudian dengan perasaan ragu, gadis itu ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Mahendra, memeluknya dengan penuh kehangatan.


"Bund..."


"Nathh..."


Suara rintihan Mahendra sungguh memilukan, pria itu terus mencari keberadaan dua orang yang sudah pergi meninggalkannya, tanpa sadar air mata Gantari terjatuh.


Tangan Gantari bergerak mengelus dada Mahendra, diusapnya sangat lembut sebelum pada akhirnya ia menepuk pelan berharap pria itu bisa tertidur dengan tenang. Bersamaan dengan itu, Gantari lebih mendekatkan tubuhnya mengerat pada Mahendra. Ia menyembunyikan air matanya yang masih saja mengalir. Mengapa ia jadi ikutan sesak? Rasanya Gantari merasakan sakit itu, ia juga sudah kewalahan membuat tubuh Mahendra menghangat karena nyatanya pria tubuh itu masih saja terasa dingin meskipun sudah di bantu oleh selimut tebal.


"Mahendra, sedalam apapun hati lo terjatuh bukankah harus ada yang sudi untuk menangkap hati itu agar ia tidak terhantam langsung dan kemudian menjadi hancur?. Gue akan jadi orang itu, Mahendra. Gue bakalan menangkap hati lo agar tidak hancur dan rusak. Gue akan selalu ada disini bersama dengan rasa sakit lo, gue tau mungkin bukan keahlian gue tapi izinin gue menyamarkan segala luka lo. Gue janji, setelah ini lo bisa hidup dengan bahagia".


Sesaat setelah kalimat itu berakhir, Gantari dapat merasakan nafas Mahendra yang mulai teratur. Ia berharap Mahendra bisa lebih tenang sekarang meskipun ia tidak pernah tau mimpi seperti apa yang menjadi bunga tidurnya kali ini.


Tangan Gantari masih mengelus dengan lembut walaupun Mahendra tidak lagi menggeram ataupun merintih.


"Gue sayang sama lo, Mahendra." Ujar Gantari semakin menenggelamkan wajahnya di sela sela bahu Mahendra. Untuk saat ini ia hanya menginginkan Mahendra menjawabnya secara langsung dan membuat hati dan perasaannya menjadi lega.


Gadis itu kini ikut tertidur terjatuh dalam mimpi yang indah, dan semoga mimpi ini juga menjadi mimpi yang tersemat di dalam tidurnya seorang Mahendra. Karena pada dasarnya Gantari hanya ingin Mahendra dapat merasakan mimpi indah itu juga.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Keesokan harinya sangat terasa bahwa Matahari sudah bersinar setelah semalaman terguyur hujan. Sedikit cahaya masuk melewati celah horden yang tersibak oleh angin membuat ruangan menjadi remang.


Mata Mahendra sedikit menyipit, keningnya mengerut merasakan sisa sisa pusingnya yang masih saja membuatnya pening.

__ADS_1


Hingga akhirnya ia mencoba untuk membuka matanya perlahan. Ia menggeliat sampai pada akhirnya merasakan sebuah tangan yang bergerak mengusap dadanya.


Ia baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang tertidur di sampingnya. Mahendra tersenyum minim, ia ingin terkekeh namun rasanya sangat berat sekali karena kepalanya yang dirasa masih pusing.


Mahendra bergerak mengeluarkan tangannya yang terhimpit diantara dirinya dan Gantari kemudian memindahkan lengannya untuk menompang kepala gadis itu. Gantari yang merasakan pergerakan Mahendra lantas menggeliat semakin mengeratkan pelukannya. Mahendra yang tidak ingin terkekeh pun menjadi terkekeh hanya karena tingkah Gantari saat tertidur.


Mahendra menutup matanya kembali dan tangannya bergerak mengusap bahu Gantari hingga gadis itu menjadi terbangun. Gantari sedikit menyipitkan matanya kemudian menatap Mahendra yang masih menutup matanya namun tangan pria itu bergerak mengusap bahunya dengan lembut.


"Mahen?" Panggil gadis itu dengan ragu.


Seperkian menit tidak terjawab oleh Mahendra, Gantari memanggilnya sekali lagi memastikan bahwa ia merasakan tangan Mahendra bergerak sampai berpindah.


"Mahendra?"


"Eum ..." Mahendra berdhm dengan sangat lirih.


Mendengar Mahendra bersuara, Gantari langsung bangkit saking terkejutnya.


Mata Mahendra yang sembab itu perlahan terbuka dan Gantari adalah orang pertama yang ia lihat ketika dirinya membuka mata.


Gantari menghela lega, rasanya melegakan dapat melihat Mahendra tersadar.


"Masih pusing?" Tanya Gantari seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi Mahendra.


Mahendra mengangguk lemah, menandakan bahwa rasa pening itu masih saja menyeruak kedalam kepalanya.


"Sekarang minum obat dulu ya, nanti gue bikinin bubur buat lo sarapan"


Gantari turun dari ranjang kemudian membantu Mahendra untuk duduk bersender. Gadis itu meraih obat yang semalam di berikan oleh Keshwari, Mahendra menurut dan langsung meminum obat yang di suguhkan Gantari.


Setelah melihat Mahendra meminum obatnya dengan baik, Gantari langsung beranjak berniat untuk membuatkan bubur untuk Mahendra.


Namun belum sempat ia melangkah, tangannya di tahan oleh Mahendra membuatnya menjadi urung untuk meninggalkan pria itu.


"Gan, gue gak pengen lo pergi juga" kata Mahendra.


Gantari melihat lagi mata sendu itu, mata yang dapat menarik hatinya merasakan rasa sakit itu. Namun sebagaimana adanya Gantari berusaha untuk tersenyum.


"Gue cuma mau bikin bubur, nanti juga balik lagi kesini".


"Gue takut, Gan.- gue takut kalo pada akhirnya gue sendirian".


"Mahendra, gue gak bakalan pernah ninggalin lo. Gue juga bakalan tetap disini, ditempat yang sama kayak lo. "


Pria itu semakin mengeratkan genggamannya pada Gantari seakan ia tidak ingin membiarkan gadis itu pergi.


"Bentar doang Mahendra, gue janji gak ada 15 menit" yakin Gantari kepada Mahendra yang masih ragu untuk melepaskannya.


Pada tatapan terlamat Mahendra mulai luruh, ia mengamati gadis di depannya dengan sangat dalam hingga ia menemukan satu jalan yang membantunya untuk menghampiri keyakinan itu.


Mimpi itu akan semakin buruk jika Mahendra tetap berada di sana.


Gantari menghela nafasnya untuk kesekian kalinya, ia menangkup kedua pipi Mahendra yang dirasa masih panas di tangannya. Di tatapnya mata itu tak kalah lekat.


"Mahendra, sebesar apapun lo khawatir tentang gue yang bakalan ninggalin lo. Justru gue lebih khawatir kehilangan lo! Gue mohon keluar Mahendra, keluar dari segala luka dan rasa sedih lo. Gue tau ini gak akan mudah, tapi lo harus mencoba itu! Hidup lo harus tetap jalan, jangan mencoba untuk melukainya lagi Mahendra." Urai Gantari, matanya masih menatap manik mata Mahendra.


Mahendra pun begitu, pria itu sangat mendalami tatapannya, menelisik seluruh sudut mata penuh keyakinan.


Di kehidupan ini, mungkin banyak hal yang membuat Mahendra sempat berfikir bahwa ia adalah manusia yang paling tidak beruntung. Tapi, kali ini Mahendra sudah sangat berterimakasih kepada Tuhan karena mau memberikan setidaknya satu orang untuk Mahendra berkeluh sebagai tempat ternyaman dan teraman.


Kini Mahendra hanya membutuhkan rumah, rumah yang sudi menampung dirinya dengan segala luka dan sakitnya. Ketika hujan, dia tau kemana ia akan meneduh dan ketika lelah, dia tau kemana ia akan beristirahat.


"Gan, disaat gue ngerasa gak aman di luar rumah dan ketika pulang, sekarang gue tahu harus kemana. Walaupun kadang lo gak ngerespon itu dengan baik, tapi gue bersyukur masih punya lo yang khawatir tentang gue."


Tangan Mahendra terulur meraih tangan dingin Gantari yang menangkup pipinya, "Gue juga bakalan selalu jadi keramaian di setiap sepi lo, karena memang yang kita butuhkan sekarang hanya untuk saling melepas sepi. Tolong cintai gue Gan, cintai gue sebagaimana lo mencintai diri lo sendiri."


"Rumah gue sudah lama hancur Gan, lo mau bantu gue buat ngebangunnya lagi? Gue gak bisa kalo harus melakukannya sendiri, sangat melelahkan dan tidak akan pernah ada selesainya."


Gantari mengangguk sangat yakin dan sontak membuat Mahendra sedikit mengulas senyum. Senyum yang begitu indah kini terpancar kembali melalui sudut bibir yang pucat itu.


Tangan Gantari yang masih menangkup pipi Mahendra tergerak mengusap lembut permukaan hangat itu.


"Udah ya, gue mau bikin bubur dulu buat lo sarapan"


Dan pada akhirnya Mahendra mengangguk membuat tangan Gantari menjauh dari wajahnya. Sungguh ia sangat tidak ingin usapan di pipinya usai begitu saja. Mahendra mengulum bibirnya merasa kecewa.


Agaknya Gantari mengetahui kekecewaan Mahendra yang tidak menginginkannya jauh.


Gantari memajukan wajahnya mengecup bibir pucat yang tengah terkulum itu dengan singkat dan berhasil membuat Mahendra membulatkan matanya.


"Morning kiss" celetuk Gantari dengan ulasan senyum sebelum pada akhirnya gadis itu beranjak dan meninggalkan Mahendra yang masih duduk bersender dengan perasaan campur aduknya.

__ADS_1


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________


Gantari berhalan menuju dapur dan terlihat Bi Mina yang sudah sibuk, wanita itu ternyata tengah membuat bubur dan sekalian membuat sarapan untuk orang rumah.


Merasa ada yang menghampirinya, Bi Mina sedikit terjingkat karena keberadaan Gantari yang sudah ada di sampingnya.


"Ohalah, mbak Gantari." Ucap bi Mina menoleh sebentar pada Gantari yang tersenyum canggung. Wanita itu masih mengaduk bubur yang berada di panci.


"Kaget ya bi? Maaf" kata Gantari tidak enak karena keberadaannya sudah mengagetkan bi Mina.


"Sedikit mbak, hehe"


"Bubur buat Mahendra ya bi?" Tanya Gantari masih menyaksikan bi Mina yang tengah mengaduk itu.


"Iya mbak, mas Mahendra udah bangun?"


Gantari menjawabnya dengan anggukan.


"Niatnya aku yang mau bikin bubur buat Mahen, tapi karena udah di bikinin sama bi Mina jadi gak jadi deh. Maaf ya bi, harusnya tadi aku bantuin bi Mina. Eh malah bi Mina repot sendiri kayak gini."


Bi Mina terlihat tersenyum merespon Gantari yang merasa canggung seraya menyajikan bubur buatannya pada mangkuk yang sudah di letakan di atas nampan dengan satu gelas air bening.


"Gak usah sungkan mbak, kalo butuh apa apa tinggal bilang aja mbak. Saya juga gak ngerasa di repotin sama sekali karena memang ini sudah kewajiban saya. Justru saya yang harus berterimakasih sama mbak Gantari karena sudah mau ngejagain mas Mahen. Pasti capek banget ya mbak?"


"Enggak kok bi". Gantari kembali tersenyum canggung.


"Ini biar aku aja bi yang bawa"


Kemudian Gantari meraih nampan yang berada di meja yang sudah hampir di bawa oleh Bi Mina.


"Bener loh mbak, kalo mbak Gantari butuh apa-apa jangan sungkan buat panggil saya" pesan bi Mina sampai pada akhirnya direspon anggukan oleh Gantari.


"Makasih ya bi"


Setelah itu, Gantari kembali menuju ke kamar Mahendra setelah ia terdiam dan menatap sebentar pada ruangan tepat di seberang ruangan Mahendra. Ruangan yang di tandai dengan plat inisial 'N' pada pintunya sudah sepenuhnya tertutup sama seperti pertama kalinya Gantari melihatnya.


Tatapan Gantari usai, ia memilih untuk memasuki kamar Mahendra dan melihat pria yang tengah duduk bersender langsung tertoleh menatapnya meskipun sebelumnya ia terfokus mengamati jendela kaca dengan horden yang sedikit bergerak oleh angin.


Pria itu tersenyum dan hal itu jelas membuat Gantari sangat lega, Mahendra sudah bisa tersenyum lagi.


"Sarapan dulu" ujar Gantari, gadis itu meletakan nampan pada nakas kemudian mengambil mangkuk berisikan bubur lalu di aduknya.


Sesekali gadis itu meniup-niup bubur yang sudah berada di sendoknya sebelum ia menyuapkan kedalam mulut Mahendra.


Mahendra menurut, padahal dirinya sedang tidak nafsu makan. Namun entah mengapa dirinya meluluh saaat melihat dengan teliti cara Gantari merawatnya. Ia jadi teringat dahulu pernah seperti ini.


"Gan, udah" lirih Mahendra dengan sedikit menjauhkan kepalanya menolak suapan dari Gantari. Perutnya terasa mual.


"Baru juga dikit, satu kali lagi ya?" Ujar Gantari, tangannya tetap maju seakan meminta Mahendra untuk membuka mulutnya kembali.


Mahendra tetap menggeleng lemah membuat gadis itu mengulum kecewa.


"Perut gue mual banget Gan. Udah ya" keluhnya.


"Ya itu karena lo gak makan dari kemaren." Gantari menarik tangannya kemudian mengaduk buburnya asal. "Gue gak mau lo sakit lagi Mahendra"


Suara Gantari terdengar meluruh di sela sela adukannya. Mahendra tersenyum teduh, kemudian meraih mangkuk yang berada di tangan Gantari meletakkannya ke atas nakas.


Sontak gadis itu terheran dan menatap Mahendra dengan penuh kebingungan. Mahendra menggenggam tangan Gantari kemudian diusapnya pelan.


Pria itu kembali tersenyum lalu menghela nafasnya. Tatapannya sudah terlekat pada kedua manik mata indah Gantari.


"Gue udah gak sakit lagi Gan, keberadaan lo udah cukup buat gue sembuh." Ujar Mahendra sangat lembut, tangannya beralih mengusap sisi kepala Gantari sesekali menepikan rambut yang tak terikat dengan benar dan terlihat sangat berantakan.


Entah sudah berapa hari Mahendra tertidur dan tidak melihat Gantari dengan baik, Mahendra sungguh merindukannya, merindukan segala tatapan hangat dan kesal secara bersamaan. Mahendra sudah lama terjebak di dalam mimpi itu sampai pada akhirnya dia melupakan seseorang yang menunggunya untuk tersadar.


Mahendra mengusap kepala itu lagi, "Terimakasih banyak Gan, sudah sudi menjadi obat untuk segala luka gue. Lo satu-satunya harapan gue buat bahagia, dan di setiap waktunya gue bisa menjadi diri gue sendiri."


Terlalu lama mereka bertatapan, dan Gantari rasa usapan Mahendra terlalu kurang saat ia menarik tangannya mengakhiri segala pergerakannya.


"Gue gak perlu ngejawab kalo gue sayang sama lo juga kan Gan? Karena kayaknya lo udah paham sama perasaan gue." ujar Mahendra seraya mengulas senyum. Agaknya pria ini memang tengah menjawab perasaan Gantari semalam.


Gantari ikut tersenyum meskipun dirinya terlihat sedikit malu untuk menerima jawaban atas perasaannya.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________



Mahendra, kamu tidak perlu lagi merasa cemas dan kamu juga tidak perlu khawatir tentang tidurmu yang tidak pernah tenang. Kekhawatiran setiap malam kini sudah bisa tersamarkan.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ˎ˗..❁❁❁__________

__ADS_1


__ADS_2