
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
Seberapa pun hal yang sudah menjadi miliknya pasti akan tetap Mahendra syukuri, sama seperti apa yang pernah bunda katakan setiap kali dirinya berada di dalam ruangan tergelap, bahwa ia bisa dan mampu untuk menyalakan lampunya sendiri tapi ia juga harus mencari letak saklar itu. Tidak mudah memang berjalan dalam kegelapan, ia bisa menabrak apa saja yang tidak terlihat. Tapi pada akhirnya ini sepadan, ia bisa melewatinya meskipun ketika ia sudah berhasil menyalakannya semuanya terlihat berantakan. Tapi bukankah ia bisa membereskannya kembali? Terlebih lagi ruangannya tidak lagi gelap.
Mahendra sedikit bergerak, perlahan membuka matanya menemukan pemandangan pertama yang ia lihat adalah gadis yang saat ini masih memeluknya. Pria itu kemudian tersenyum, menatap begitu lamat setiap sudut wajah gadisnya. Dengkuran halus yang dirasa cukup mengganggu Mahendra ketika tertidur kini rasanya sangat impas saat dirinya menyaksikan sendiri bagaimana gemasnya Gantari tertidur.
Bagaimana bisa ia terhipnotis hanya karena melihat wajah urakan gadis di depannya. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya, bibir yang sedikit terbuka sumber dengkuran itu keluar. Mahendra kembali tergelak.
Tangannya terulur menepikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, mengusap pelan kepala Gantari. Mahendra sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya, ia hanya ingin menikmati segala hal tenang Gantari.
Gantari menggeliat, perlahan gadis itu membuka matanya dan mendapati Mahendra yang tengah memandanginya.
Mahendra kembali merekahkan senyumnya, "Selamat Pagii Sayangkuuu"
Gantari yang masih mengumpulkan nyawanya itupun menjadi termangu sesaat kemudian matanya mengerjap. Menatap Mahendra begitu lekat, Ia tidak salah mendengarnya kan? Ini mengapa Mahendra tiba-tiba menjadi sangat menggemaskan.
Jika biasanya Gantari akan geli sendiri kalau melihat Mahendra bersikap manis, kini malah dirinya yang terlihat merona hanya dengan sambutan selamat pagi dari Mahendra.
"Mahen, lo-" Kalimat Gantari terhenti ketika Mahendra menyelanya.
Mahendra mengecup singkat bibir yang entah mengapa masih terlihat ranum bahkan pemiliknya baru saja terbangun dari tidurnya. "Kenapa? Lo berbunga?"
Gantari lantas mengatupkan bibirnya, ia bahkan tidak bisa meneruskan kalimatnya jika Mahendra terus saja seperti ini.
"Lucu banget sih, pipinya merah gitu. Ahahaha" Mahendra kiini gemas sendiri.
"Sayang?" Panggil Mahendra lagi, kini matanya tambah berbinar seakan tengah menggoda Gantari.
"Ay-"
Sialan...
"Stoppp!!!!", Gantari membungkam mulut Mahendra, pria itu hanya terkekeh seraya meneruskan kalimatnya yang hampir tidak terdengar oleh Gantari.
"Stopp, Gue gak kuat!!!" Seperkian detik selanjutnya Gantari memilih untuk beranjak. Mahendra kemudian hanya tertawa terbahak melihat betapa menggemaskan reaksi gadisnya.
"Gan" panggil pria itu untuk kesekian kalinya, Gantari menoleh.
"Ayok sini tidur lagi" ajak Mahendra.
"Ogahhhhh" Gantari jelas menolaknya, gadis ini sungguh sudah memanas. Ruangan Mahendra sungguh sangat membuatnya gerah.
Gantari berdiri kemudian di ikuti oleh Mahendra yang mengubah posisinya menjadi duduk, pria itu masih saja tertawa.
"Gan, lo cantik banget tadi kalo tidur" aku Mahendra masih bercampur dengan kekehan.
"Alaghhh prett" Gantari mendengus.
"Benerannn,"
"Ayok tidur lagi Gan, gue masih ngantuk!" Rengek Mahendra, kini tangannya terulur meraih tangan Gantari.
"Walaupun lo kalo tidur ngorok, tapi gue tetep suka" papar Mahendra, Gantari yang mendengar hal itu pun mencibir.
"Gue gak ngorok Mahendra."
"Ya kan lo tidur Gantari."
"Tapi gue gak ngorokk"
"Gak papa ngorok, kan tadi gue udah bilang gue tetep suka"
Gantari justru mengentakan kakinya dengan gemas masih mengilah bahwa dirinya tidak mengorok. Mahendra memang benar-benar. "Aghhh, gue gak ngorokkk"
Mahendra lantas tertawa kemudian merengkuh memeluk pinggang Gantari yang tengah berdiri, "iya iya gak ngorok, cuma ngedengkur doang"
"Aaa, tuh kan lo nyebelin banget!!!"
Pria itu tertawa sembari melepas pelukannya. Mahendra ikut berdiri kemudian menangkup kedua pipi Gantari, bibir ranumnya itu kembali di kecup beberapa kali oleh Mahendra. Lagi-lagi membuat gadis itu merona, tangan Mahendra yang tengah menangkup pipi Gantari saja sampai merasakan hangat.
Gantari tidak pernah mengira bahwa Mahendra akan semenyebalkan ini, bukan menyebalkan yang membuat Gantari darah tinggi, tapi menyebalkan karena telah memporak pondakan hatinya, perasaannya dan juga jantungnya. Ia kini jadi lebih sering merona.
"Udaaahhhhh" kilah Gantari saat Mahendra terus terusan mengecup seluruh wajahnya.
Mahendra pun semakin terkekeh di sela sela kecupannya.
__ADS_1
"Mahendra lo bau jigong anjirrr!!!"
Saat mendengar hal itu Mahendra berhenti kemudian menatap Gantari penuh cecar, gadis itu hanya tertawa setelah melihat Mahendra menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Bodo amat" namun detik selanjutnya pria itu mengecupnya lagi membuat Gantari tertawa geli.
Saat dirasa sudah cukup, Mahendra beralih memeluk tubuh Gantari digoyang goyangkan tubuh dalam rengkuhannya itu penuh gemas. Gantari pun tersenyum kemudian membalas segala pelukan Mahendra. Menepuk pelan punggung lebar itu.
____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________
"Ada yang liat mbak Gantari gak?" Tanya Keshwari pada penghuni rumah yang tengah berkumpul di ruang Makan, dari dirinya terbangun dari tidurnya subuh tadi ia sama sekali tidak melihat Gantari. Gadis itu tiba tiba saja tidak ada di sampingnya.
"Lagi keluar mungkin, emang kenapa?" Tanggap Lukas kemudian berjalan menghampiri pacarnya.
"Urusan perempuan, hehehe" cengir Keshwari.
"Mahendra juga ngilang dari semalem" ujar Lukas
Kemudian Dirga nongol keluar dari kamar Mahendra, "paling lagi sama Gantari."
Keshwari mengangguk - anggukan kepalanya mengerti kemudian dirinya berjalan menuju dapur untuk membantu bi Mina yang tengah menyiapkan sarapan.
Dari arah pintu utama, datang Nathan dan Mahira lalu diikuti oleh Yanuar dan Jihan. Mereka membeli beberapa sayuran di pasar hitung hitung olahraga pagi.
Nathan meletakkan tas totebag berisikan sayuran yang baru saja di belinya bersama Mahira. Ia mengeluarkan seluruh isinya membersihkan ayam dan sayuran dengan di bantu oleh Mahira.
Keshwari yang tengah membantu bi Mina pun berpindah menghampiri Nathan.
"Nat, kamu tau mbak Gantari dimana?" Tanya Keshwari.
"Ada di halaman belakang " tutur Nathan.
Keshwari lantas menautkan keningnya, bahkan ia sudah mencari Gantari di halaman belakang.
"Tapi tadi aku udah nyari dia di halaman belakang tapi gak ada"
Nathan hanya menghendikan bahunya seraya tersenyum kecil, tangannya masih sibuk memotong sayuran.
Lalu menit selanjutnya, Mahendra dan Gantari datang dari arah halaman belakang membuat seisi rumah sontak menoleh ke arah keduanya.
Mahendra berjalan menghampiri Dirga dan Lukas yang tengah menikmati cemilannya diatas meja makan.
"Dari mana sih mbak?, daritadi aku cariin gak ada." Keluh Keshwari yang sudah berdiri di depan Gantari.
"Di halaman belakang " jawab Gantari.
"Kenapa emang?" Lantas Gantari bertanya.
"Itu, aku mau minta sabun cuci mukanya mbak Gantari, soalnya aku lupa gak bawa"
"Ohalah, Ya tinggal pake aja sih Kesh"
"Ijin dulu mbak, hehehe"
Setelah mendapat ijin dari Gantari, Keshwari lantas melenggang pergi menuju ke kamarnya.
"Mbak?" Mahira yang sedari tadi diam disamping Gantari bersuara, membuat gadis itu menoleh sambil berdhm. Nathan yang sibuk memotong itu juga ikut mengalihkan atensinya pada Mahira.
"Maaf mbak, itu lehernya mbak Gantari gak papa?merah gitu"
"Hah?"
Mendengar hal itu lantas Gantari langsung mengecek dan menelisik sekiar lehernya walaupun pada kenyataannya Gantari tidak bisa melihatnya sendiri.
Lukas datang menimbrung setelah dirinya mengambil minuman didalam kulkas.
"Lah, iya Gan. Kenapa tuh?" Tanya Lukas, namun sepertinya pria ini sudah tau hanya ingin basa basi dan sekedar menjahili Gantari saja.
Nathan sedikit menyenggol lengan Mahira yang tengah membantu Gantari menunjukan letak tanda merah pada leher Gantari. Nathan agaknya juga tidak polos-polos sekali terlebih lagi dirinya sempat masuk kedalam ruangan Mahendra yang berada di bawah tanah saat subuh tadi untuk mengambil beberapa buku untuk dirinya baca, tau kan Nathan kalo gabut ngapain?. Dan niatnya menjadi urung saat menemukan Mahendra dan Gantari yang tengah tertidur sangat lelap di sofa panjang. Ia pun sempat tercekat namun pada akhirnya dirinya salting sendiri ketika melihat Mahendra memeluk sangat erat gadis yang berada di sampingnya itu.
"Lo apain Gantari, Hend???" Tanya Lukas saat Mahendra duduk tepat di depan Gantari, senyumnya merekah. Kemudian ia menatap Lukas.
"Apa?"
"Itu leher Gantari sampe merah anjir, hahaha" tawa Lukas meledak.
Gantari yang sedari tadi tidak menemukan apapun dilehernya menjadi teringat kejadian semalam. Kejadian dimana Mahendra tenggelam di lehernya begitu dalam. Gadis itu tersadar lantas menoleh pada Mahendra penuh cecar, dan pria yang tengah di tatapnya hanya tersenyum jahil.
__ADS_1
Bangsat sekali.
"Kenapa Gan? Hayo lah cerita, gimana gimana Mahendra? Bisa diandelin gak? Ahahaha" Lukas kembali tertawa saat melihat Gantari menatap Mahendra dengan kesal.
"Digigit Nyamuk ini mah" kilah Gantari sedikit canggung pada Mahira yang masih memperhatikan tanda itu, jelas Gantari menjadi semakin malu.
Lukas yang masih tertawa beralih duduk di samping Mahendra, "wah parah sih Gan, itu kayaknya lo di gigit nyamuk gede"
"Nakal banget yah nyamuknya" Dirga bersuara, sedikit menepuk punggung Mahendra. Sang empu jelas terjingkat, ia sungguh kaget dengan Dirga yang menepuknya secara tiba-tiba. Padahal Mahendra tengah menikmati wajah cantik pacarnya.
"Mahira bantu obatin yah mbak, itu kayaknya gatel banget pasti" tawar Mahira. Wanita itu menoleh pada Nathan yan sedari tadi diam memilih untuk memotong ayam. "Mas Nathan punya salep?"
Nathan menoleh, "ada, dikamarku. Tinggal di ambil aja"
Mahira mengangguk seraya mengajak Gantari melenggang dari area dapur, ia lebih baik menjauh dari teman-teman seperbangsatan Mahendra daripada dirinya tertangkap basah menahan malu. Gantari meninggalkan Mahendra yang masih saja mengikuti pergerakan gadisnya itu. Ia semakin terpana, Gantari kini sudah menjadi kekasihnya.
"Liatinn terrooosss" seru Lukas pada Mahendra, namun tak sekalipun mengalihkan atensi pria yang sudah memiliki rambut cepak.
Nathan dan Dirga hanya terkekeh saat menyaksikan Lukas yang terabaikan oleh Mahendra.
"Huwanjirr, gue di cuwekin" keluh Lukas kembali, kini dirinya merasa lebih terkhianati.
Setelah menyaksikan Gantari yang melenggang pergi menuju ke kamar Nathan.
Dirga yang duduk di sebelah Mahendra hanya menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil.
"Bang..." Panggil Nathan, Mahendra langsung menoleh menatap adiknya.
Pria yang tengah memakai Appron merah itu menghentikan aktivitas memotong daging, "G-gue udah bisa balik ke rumah?" Tanya Nathan dengan takut.
Mahendra terdiam cukup lama sampai akhirnya ia mengangguk.
"Kabar Ayah, gimana bang?"
"Di penjara"
"Kalo lo belum yakin buat tinggal sendiri di rumah, lo bisa di kontrakan gue dulu" lanjut Mahendra.
Nathan langsung mengangguk, "Gue mau bawa Mahira"
"Lo udah izin ke ibunya?"
"Udah"
"Kalo mau, Mahira tinggal aja sama Gantari atau enggak sama Keshwari. Karena gue gak yakin bisa percayain Mahira sama lo"
Nathan hanya tersenyum, entah senyum seperti apa yang kini terpancarkan. Entah karena kecewa Mahira tidak tinggal bersamanya atau karena Mahendra telah hilang kepercayaan kepada dirinya. Tapi bukankah Mahendra sudah mengizinkan saja sudah bagus?. Nathan tidak lagi sendirian.
"Lo tenang aja Nath, gue bakalan sering main kok ke rumah lo" kata Lukas seraya merangkul bahu Nathan menepuknya pelan, pria bersuara berat itu tersenyum dengan alis yang sedikit terangkat. Nathan menjadi lebih bersyukur.
Dirga ikut mengangguk saat Nathan menatapnya, seakan pria itu juga mendukung Lukas yang akan sering berkunjung. Mahendra bahkan hidupnya lebih menguntungkan memiliki teman yang sangat perhatian.
Dari arah pintu utama Yanuar berjalan dengan penuh senyum setelah memisahkan diri dengan Jihan yang berbelok menuju kamar tamu. Keempat pria yang berada di dapur hanya memandangi kedatangan Yanuar dengan raut wajah yang sama, raut wajah penuh penasaran sebenarnya ada apa dengan Yanuar? Pria paling muda itu terlihat begitu berbunga di tandai dengan senyumnya yang masih saja merekah.
Sampai pria itu duduk di samping Dirga saja Yanuar masih mengulum senyumnya, sungguh anak ini memang benar-benar tengah kasmaran.
"Ini kenapa lagi anak satu, senyam senyum kesambet apa gimana." Cibir Lukas melihat aneh sekaligus geli melihat Yanuar tersenyum seperti itu untuk pertama kalinya.
Agaknya Yanuar tidak mendengar perkataan Lukas, buktinya ia masih mengulum senyumnya dengan mata yang lurus ke depan.
Dirga tergelak, kemudian menepuk pundak Yanuar berniat untuk menyadarkan adiknya itu. Yanuar sedikit terjingkat, merasa kaget namun pada akhirnya ia tersenyum kembali.
"Lah, malah jadi kayak orang gila" cetus Lukas, kini dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Di apain Yan sama Jihan, sampe senyam senyum gitu?" Tanya Mahendra menjadi ikutan tersenyum melihat senyum Yanuar yang tidak meluntur.
"Gue di cium pipinya sama Jihan" kata Yanuar sangat polos berhasil membuat seisi dapur menjadi riuh. Pria itu kemudian memegang pipinya yang memang sudah memerah, tepat di pipi bekas tercium oleh Jihan.
Semuanya kesenangan melihat raut muka merah Yanuar untuk pertama kalinya, namun di detik selanjutnya pria itu tersadar memandangi secara bergantian seluruh abangnya yang tengah tertawa hingga tergelak. Hanya Nathan saja yang tersenyum, agaknya ia masih merasa canggung berada diruang lingkup Mahendra.
Jujur saja ini pertama kalinya ia tersenyum untuk kebahagiannya, jika dulu ia hanya bisa tersenyum untuk menutupi lukanya kali ini ia tersenyum untuk bahagia. Jika Mahendra saja bisa berbahagia tanpa mengungkit lukanya, kenapa Nathan tidak bisa?.
Nathan hanya berharap hidupnya bisa lebih lama, bisa melihat bahagia yang sederhana ini, berisik bukan karena pecahan gelas ataupun teriakan Ayahnya tapi gelak tawa dari Mahendra dan temannya.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...
__ADS_1
"Di setiap sudut ruangan yang meremang dan di setiap hari yang membuatku khawatir, aku hanya berharap kamu berada di sampingku menghilangkan setiap kekhawatiran itu" -Mahendra.
...____________❁❁❁..˗ˏˋ ´ˎ˗..❁❁❁__________...