JANUARI DAN MAHENDRA

JANUARI DAN MAHENDRA
32. Bunga Yang Tergenang Air.


__ADS_3


**SEDIA TISYUU YAH GAESSUEE, KALI AJA BUTUH.πŸ™ƒ


HAPPY READING 🌱**


...____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ΛŽΛ—..❁❁❁__________...


Mahendra kini tengah membereskan meja pada ruangan Nathan, menyingkirkan sampah-sampah yang tadi sempat tertinggal. Gantari dan Mahira sudah pulang kerumahnya sekitar 30 menit yang lalu dan Mahendra menyuruh Lukas yang ternyata masih berada di rumah sakit untuk sekalian mengantarkan dua gadis itu.


Mahendra jelas tidak bisa mengantarkan Gantari dan beruntungnya gadis itu sungguh mengerti. Gantaripun tidak pernah ribut untuk hal seperti ini, bahkan gadis itu sempat meminta Mahendra untuk membiarkannya pulang sendiri, tapi mana mungkin? Di tengah malam seperti ini akan ada banyak resiko jika membiarkan seorang perempuan pulang sendirian terlebih lagi dia adalah gadis yang sangat berharga di hidup Mahendra.


Nathan yang terbaring di ranjang pun sedari tadi memandangi Mahendra yang tengah sibuk membereskan barang yang tercecer dengan sangat rapih. Lalu beralih melipat baju Nathan yang baru saja kering.


Pria terinfus itupun sedikit terkekeh, "Bang, gue baru pertama kalinya liat lo ngelipet baju"


Mahendra tertoleh, namun di detik selanjutnya pria itu kembali melanjutkan aktivitas melipat. "Terpaksa gue, kalo gak ngeliat baju lo pada berantakan gini mah gue ogah"


"Turunin dikit gengsinya bang" ucap Nathan, "gue pengen lo bisa enjoy dengan keberadaan gue"


Mahendra sedikit terdiam, memangnya ada yang salah dengannya? Apa Mahendra tidak terlihat sama seperti dulu lagi.


Nathan mengerti, mungkin butuh waktu untuk sekedar mendamaikannya. Namun jika Mahendra terus saja gengsi seperti ini, ia tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri.


"Tetep kayak gini yah bang, gue pengen lo jadi yang apa adanya. Tetep khawatir dengan cara lo sendiri." Ujarnya kembali membuat Mahendra menghela nafasnya dan benar-benar menghentikan aktivitas melipat baju.


Kemudian Mahendra mengalihkan atensinya untuk menatap Nathan yang terkapar lemah di atas ranjang.


"Gue cuma pengen lo maafin gue, maaf udah bikin bunda pergi, dan maaf juga udah bikin luka di hati lo" lanjut Nathan, kini suaranya mulai melirih.


Mahendra beranjak menghampiri Nathan dan duduk tepat di samping ranjang.


"Gue udah maafin lo, udah gak usah di bahas lagi. Sekarang lo istirahat besok operasi kan?. Gue temenin lo disini" perintah Mahendra tangannya bergerak menaikan selimut hingga menutupi hampir seperempat badan Nathan.


Nathan sekilas mengernyit saat merasa pusing namun mengantukan.


"Bang gue boleh minta sesuatu gak?"


"Apa?" Tanya Mahendra saat Nathan meminta sesuatu darinya, karena ini pertama kalinya dia meminta hal secara langsung seperti ini.


"Lo juga harus bahagia bang, aneh gak sih lo minta kebahagiaan untuk semua orang tapi lo sendiri gak bahagia?!".


Mahendra menatap adiknya, "Gue bahagia kok, bisa ngelakuin hal yang bermanfaat kayak gini udah bikin gue bahagia. Seenggaknya gue hidup ada kontribusinya buat orang lain"


"Janji, habis ini lo harus berbahagia buat diri lo sendiri. Kadang lo hanya perlu meyakinkan diri sendiri kalo sebenarnya sebagai manusia tidak apa untuk terlihat tidak baik-baik saja. Lo gak perlu gengsi untuk mengakui perasaan itu. Sama halnya kayak lo jatuh cinta, sepandai apapun lo bilang 'tidak' tetep saja rasa khawatir lo mengalahkan segala yang terucap. Semuanya akan terlihat meskipun lo terus mengelak." Dalih Nathan, pria itu sepertinya tengah susah payah mengucapkan apa saja yang kini ingin ia sampaikan pada Mahendra.


Dengan lekat dan padat tatapan Mahendra, pria itu mulai menekankan kalimatnya. "Tapi lo juga janji setelah ini lo harus sembuh!!!"


Namun setelahnya tangan Mahendra mulai merapihkan selimut yang diliat sedikit melipat, pria itu kemudian beranjak. "Udah, sekarang lo istirahat gak usah mikirin hal yang gak perlu"


Nathan mengulas senyumnya dengan sedikit tertahan.


"Bang-" Panggilnya dengan suara lirih namun masih dapat didengar jelas oleh Mahendra.


"Eum"


"Bau obat, gue pengen pulang"


Mahendra tergelak, "namanya juga rumah sakit"


"Nanti anter gue buat ketemu bunda yah bang, gue kangen banget. Udah lama gak ketemu ".


"Iya nanti kalo lo udah sembuh, gak mungkin kan kita ketemu bunda dengan keadaan lo yang kayak gini? Yang ada malah gue yang dimarahin" Mahendra kemudian menanggapi ucapan Nathan dengan sedikit terkekeh.


"Besok ulang tahun bunda soalnya" sela Nathan membuat Mahendra mendadak teringat.


Benar besok tepat tanggal 1 Januari adalah hari ulang tahun bundanya. Bahkan di malam pergantian tahun ini, Mahendra tidak dapat merayakannya.


"Lah, iya yah. Hampir aja gue lupa. Besok sebelum lo Operasi gue bawain kue buat ngerayain ulang tahun bunda dulu, gimana?" Saran Mahendra, karena pria ini juga tidak tau cara merayakan ulang tahun di keadaan yang seperti ini.


Nathan mengangguk lemah dan mengulas senyum menyetujui saran dari Mahendra, menurutnya tidak buruk juga. Setidaknya mereka dapat menjadi lebih bahagia setelah ini.


"Besok jangan lupa bangunin gue yah bang, gue mau istirahat dulu. Makasih juga udah menganggap gue ada di sebagian hal berharga lo".Β  Ucap Nathan sebelum akhirnya matanya perlahan menutup membawa dirinya pada mimpi yang sangat indah.

__ADS_1


Mahendra yang melihat Nathan sudah hampir terlelap dan nafas yang teratur mulai tersenyum lega. Ia mendekat kembali pada adiknya, mengusap surai hitam legam yang sudah memanjang entah sudah telat berapa bulan pria ini tidak memotong rambutnya.


Mahendra mengecup sekilas kening adiknya untuk pertama kalinya, karena selama dirinya hidup ia tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya dengan cara seperti ini. Namun tidak apa Mahendra tidak akan merasakan malu karena Nathan sudah tertidur.


"Gue bahkan rela mempertaruhkan nyawa gue demi hidup lo, Nat!. Gue gak pernah menyesal melakukan ini meskipun gue harus meninggalkan satu hal berharga gue yang lain".


"Tidur yang nyenyak Nat, gue janji besok kita bisa mengawali segalanya dengan bahagia".


Bersamaan dengan ucapannya, samar-samar terdengar suara ramai kembang api di luar sana. Dari arah jendela kaca dengan horden yang sedikit terbuka terpampang jelas indahnya nyala kembang api yang menghiasi langit. Tahun telah berganti, hari pun sudah berganti begitu saja. Mahendra sejenak menutup matanya untuk sekedar berdoa. Doa yang kini menjadi lebih sering ia panjatkan. Tuhan akan mengabulkannya kan?.


Di detik kemudian Mahendra membuka matanya masih menatap kembang api yang tengah mekar di atas sana, pria itu mengulas senyum.


"Selamat Ulang Tahun, Bunda."


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ΛŽΛ—..❁❁❁__________


Mahendra terbangun kemudian mengecek jam pada dinding ruangannya dengan mata sedikit menyipit. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, kepalanya celingukan mencari ponselnya.


Mahendra tersenyum saat melihat 7 notifikasi pesan dari Gantari, gadis itu sungguh membuat paginya sangat indah.


Gantari mengatakan bahwa dirinya berada di perjalanan menuju kerumah sakit bersama dengan semua temannya dan membawa kue yang katanya buatannya sendiri.


Setelah membalas semua pesan Gantari, amahendra beranjak untuk membersihkan diri. Selang beberapa menit dirinya selesai dengan segala urusan pribadinya, Mahendra beralih menatap Nathan yang masih tertidur dengan tenang, sangat tenang sampai sampai dirinya tidak merasa terganggu dengan Mahendra yang tengah membuka horden membuat sinar matahari seluruhnya masuk kedalam ruangannya.


Ia berjalan mendekati adiknya kemudian membersihkan nakas yang terlihat sedikit berantakan. Setelah setiap sisi sudut ruangan sudah terlihat enak di pandang, Mahendra menghela nafasnya lega. Dirinya beralih menatap Nathan berniat untuk membangunkannya namun dirinya ragu saat menyaksikan Nathan yang masih sangat tenang dalam tidurnya.


Sampai pada akhirnya Mahendra di tatapannya yang membuat dirinya langsung tersekat bersamaan dengan nafasnya yang mendadak tercekat. Mahendra menyadari sesuatu, tidak ada pergerakan apapun. Pria itu tidak lagi bernafas dengan teratur, nafasnya menghilang membuat dadanya terdiam tidak naik turun seperti saat terakhir kali Mahendra melihatnya.


Tubuh Mahendra kian menegang menahan segala ketakutan, ia kali ini hanya ingin berfikir dengan jernih. Namun ternyata segalanya sirna saat tangan Mahendra terulur meletakan telapaknya pada dada Nathan. Benar Jantung Nathan sudah tidak berdetak, detakannya sudah berhenti untuk selamanya.


Mahendra menahan nafasnya yang tercekat tiba-tiba, matanya mulai memerah dan tanpa di sadari air itu keluar begitu saja tanpa tergenang.


Ia memberanikan diri untuk menatap wajah Nathan seraya mengusap lebut pipi adiknya.


"Nat-" lirih Mahendra dengan sekuat tenaga untuk mengulas senyum, namun nihil saat Nathan tidak memberikan reaksi apapun.


"Nathan" Mahendra kembali memanggil Nathan, pria itu sedikit menggigit bibirnya seakan tengah menahan rasa sakit dan sesak yang bercampur menjadi satu di dadanya.


Mahendra menepuk pelan pipi Nathan, berharap adiknya itu terbangun dari mimpinya dan kembali melihat Mahendra.


"Gue mohon, Nat-. Bangun. Jangan bikin gue takut." Racau Mahendra sedikit menggoyangkan tubuh Nathan dengan sedikit rematan frustasi pada kedua bahunya, kini tubuh Mahendra meluruh terduduk bersimpuh menahan segala sakit didadanya.


"Nathaann..."


Memang benar, lukanya tidak pernah sembuh. Dia bahkan menjadi semakin parah. Karena sekalinya malapetaka akan tetap malapetaka, takdirnya selalu begini.


Pria itu semakin merematkan genggamannya pada sisi ranjang, nafasnya kembali tersendat oleh rasa sesak yang kian menyeruak. Mahendra kembali merutuki dirinya sendiri, mengapa Tuhan begitu tidak sabaran? Padahal hari ini Mahendra ingin mengorbankan dirinya sendiri.


"ARGGH!!! " Erangnya seraya memukul nakas membuat barang yang berada di atasnya jatuh berantakan. Gelas yang masih berisi air itupun ikut tejatuh hingga pecah dan tanpa di sadari ikut melukai tangan Mahendra. Namun pria itu sama sekali tidak merasakan perih di tangannya melainkan pada hatinya. Hatinya seperti tersayat, ditambah dengan pukulan keras pada punggungnya hingga membuat pria ini tidak dapat lagi menopang seluruh tubuhnya.


Mahendra menggerang dengan sekuat tenaga meluapkan apa saja yang kini tertahan membuatnya sakit. Suaranya terdengar sampai ke penjuru ruangan, pria itu menangis sekerasnya di tambah dengan isak yang tersendat.


Ia bahkan sampai memukul dadanya sendiri, sekali lagi dirinya merasakan sesal. Ia melihat kematian untuk kedua kalinya.


Seluruh tubuhnya sampai gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman yang membuatnya hampir mati kini mengalir kembali ke pembuluh daranya. KiniΒ  rasa itu semakin menjadi saat Mahendra berteriak dan menggerang.


Bersamaan dengan teriakan Mahendra, pintu ruangan terbuka sangat lebar menampakan seluruh temannya dengan Gantari yang berada di depan membawa kue yang sudah siap dengan lilin yang menyala di atasnya.


Semua orang yang baru saja memasuki ruangan menjadi terdiam sekaligus tercekat setelah mendengar teriakan Mahendra yang sangat mendominasi ruangan, pria itu menggerang sangat hancur.


Gantari jelas tersengat menatap keduanya bergantian, tangannya gemetar sampai menjatuhkan kue yang berada di genggamannya. Mungkin tidak hanya gadis itu saja yang merasakannya, namun Mahira yang melihat Nathan yang masih tertidur dan Mahendra yang bersimpuh di pinggir ranjang membuat tubuh gadis itu meluruh dengan pandangan kosong menatap Nathan seakan dunianya sudah runtuh. Ini tidak nyata kan? Katakan pada Mahira jika semua ini tidak nyata, Nathan sudah berjanji untuk sembuh malam tadi.


Keshwari dengan sigap menahan tubuh Mahira. Mahira lemas, ia hampir saja pingsan.


Lalu Lukas, Dirga dan Yanuar hanya bisa termangu sedih. Mereka ikut tercekat melihat betapa hancurnya Mahendra.


Gantari berjalan menghampiri Mahendra merengkuh tubuh besar yang bergetar dan sudah kuyup karena keringat. Pria itu semakin menggerang dan menangis sejadinya di pelukan Gantari.


Gadis itu hanya bisa menenangkan Mahendra semampunya karena dirinya juga sudah ikutan pilu melihat Mahendra.


Dunianya seakan meluruh, warna-warnanya meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin melenyap bersamaan dengan sorot sinar matahari. Mahendra menghilangkan semua warna itu dalam satu waktu. Ia sudah hancur, terluka dan sakit.


"Nathan pulang, Gan." Racau Mahendra masih berada di pelukanan gadis itu, ia menyembunyikan segala tangisnya pada ceruk leher Gantari. Pria itu mulai lemas, hingga tangisannya tidak terdengar lagi, namun isakannya masih dapat di rasakan oleh Gantari. Tangan gadis itu kembali mengusap punggung lebar Mahendra, ia menatap Nathan yang masih tertidur dengan tenang namun hatinya kembali mencelos saat menyadari kenyataan bahwa Nathan sudah tiada.

__ADS_1


Gantari menggigit bibirnya menahan tangis, ia merasakan Dirga datang membantu merangkul tubuhnya dengan Mahendra.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ΛŽΛ—..❁❁❁__________


Sore ini gerimis seakan menjadi pengiring acara pemakaman Nathan. Raganya diantar pulang oleh Mahendra. Terkubur bersebelahan dengan pusara bundanya.


Mahendra tidak ingin menangis lagi kali ini, entah air matanya sudah habis atau memang dirinya sedang berusaha untuk tegar. Namun tatapannya masih kosong seakan nyawanya ikut terbawa pergi oleh kedua manusia yang berdiri di depannya dengan tersenyum lebar kearahnya. Bahkan di pemakaman yang ramai ini, Mahendra dapat menemukan bayangan mereka secara nyata. Bayangan yang ingin sekali Mahendra rengkuh, bayangan yang selalu Mahendra inginkan setiap waktunya.


Jika terus seperti ini rasa sesalnya tidak akan pernah menghilang, alasan mereka berpulang adalah ketidaktepatan waktu. M


Bisakah Mahendra mendapatkan genggaman tangan bunda yang tengah menggenggam Nathan di depan sana?. Apa mereka sudah bahagia sekarang?.


Mahendra menggigit bibirnya sendiri bersamaan dengan air matanya yang kembali mengalir, padahal dirinya mengira air matanya sudah terkuras habis. Namun nyatanya dia masih bisa menangis.


Mahendra merasakan genggaman di tangannya membuat pria itu otomatis menutup matanya. Punggung tangannya diusap sangat lembut, namun bukannya tenang, Mahendra malah semakin menangis dalam diam menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.


Ia terisak membuat tubuhnya seketika bergetar, Gantari ikutan pilu.


Seluruh orang yang melayat dan mengantarkan Nathan kian berkurang, mereka memilih untuk menyudahinya setelah memberikan doa dan berbagai macam bunga yang tersebar di atas makam Nathan yang kian basah terkena air hujan.


Sampai pada akhirnya hanya menyisakan Mahendra dan Gantari yang masih dengan setia memayungi Mahendra.


"Gan, gue nunggu di mobil ya. Dirga sama Yanuar langsung pulang soalnya." Ucap Lukas pada Gantari dan melirik sekilas ke arah sahabatnya.


Gantari langsung menganggukan kepalanya. "Makasih ya Kas"


"Its okay,. Lo temenin Mahendra aja, gue sama Keshwari nunggu di mobil".


Gantari mengamati Lukas dan Keshwari yang sudah pergi meninggalkan makam sebelum dirinya menatap kembali pada Mahendra yang sudah bersimpuh tepat di samping makam Nathan. Gadis itu ikut bersimpuh mensejajarkan dirinya dengan Mahendra.


"Sakit banget rasanya" lirih Mahendra di sela sela tangisannya, pria itu sedang mengadu entah kepada Tuhan atau kepada Gantari.


Gantari tidak menjawab, karena memang gadis itu sama sekali tidak memiliki jawaban atas rasa sakit seorang Mahendra. Ia lebih memilih untuk memeluk kembali menenangkan tangisannya meskipun dirinya tau dengan seperti ini saja tidak akan pernah bisa menyamarkan luka Mahendra.


"Kenapa mereka ninggalin gue sih, Gan?. Apa mereka gak sesudi itu punya gue?" Tanya pria yang tengah bersimpuh dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali pada kedua makam itu.


Gantari menghela nafasnya berniat untuk memberikan jawabannya, "lo masih punya gue, Mahendra-"


"Gue janji gak akan ninggalin lo sendirian" kata gadis itu dengan sangat lembut.


Mahendra kembali menangis di pelukan Gantari, air hujan kini sudah membasahi keduanya padahal Gantari masih memegangi payung untuk melindungi tubuh mereka. Tapi nyatanya air hujan tetap saja menciprat dan membuat baju keduanya basah kuyup dan kotor terkena tanah.


Hujan semakin turun dengan derasya seakan ikut menyamarkan tangisan Mahendra yang belum usai. Tangisan pilu dan rasa sesak di dadanya semakin menyeruak seakan mengatakan pada pemiliknya agar ia menyerah saja.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ΛŽΛ—..❁❁❁__________




01/01/2023.πŸ₯€


Nathanael Abdi Putra.


Selamat berpulang Nathan. Ternyata kamu memilih bahagia yang seperti ini, bahagia dengan meninggalkan banyak sekali luka. Jika saja kamu mengetahui satu hal, bahwa kini Dia sudah menjadi manusia paling menyesal di dunia.


.



Menjadi tegar bukan satu-satunya pilihan untuk menyembunyikan segala rasa sakit. Sebagian dari mereka memilih untuk terlihat baik-baik saja dengan menyingkirkan seluruh luka dalam hatinya.


Mahendra bukankah dalam hidup adakalanya kita tertinggal?. Cara kerja semesta memang seperti itu, Tuhan mengambil sesuatu di tanganmu agar kamu bisa menerima sesuatu yang lebih baik lagi.


____________❁❁❁..˗ˏˋ 'ΛŽΛ—..❁❁❁__________



Dan Selamat Tahun Baru, untukmu tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi apa-apa. Sejatinya manusia memang berhak meminta, tapi bukankah tidak baik juga jika terus memaksa?.


Menjadi sehat sekaligus bahagia bukankah itu paket komplit?. Tapi bukan hidup namanya jika tidak ada rasa sakit. Mari untuk lebih berbahagia di tahun depan.


πŸ¦• daynosawrush.

__ADS_1


__ADS_2