
Sudah setahun lamanya sejak kedatangan mereka di tanah air, mereka belum pernah bertemu dengan pujaan hatinya hanya sekedar mendengar dan membaca berita jika mereka sudah berpangkat tinggi. Saat mereka berkumpul di sebuah cafe "Aku merindukan dia." kata Egar "Aku juga." timpal Johan, Niko hanya menghembuskan nafas kasar "Aku juga merindukan Akiela, sudah genap enam tahun tak bertemu." tambah Rayyan, mereka merubah bahasa mereka menjadi lebih formal agar tak berpengaruh pada saat bertemu dengan partner kerjanya.
Tak jauh dari tempat mereka berkumpul tak sengaja Niko melihat Revin dan Vivian "Itu kan....?!" seraya menegakkan duduknya dan menunjuk ke arah luar "Revin dan Vivian!" kata johan, Niko dan Egar segera berlari ke arah mereka "Vi!!" panggil Niko. Vivian merasa namanya di panggil pun menoleh ke arah suara, segera Niko menggengam tangan Vivian "Akhirnya aku bertemu denganmu." kata Niko dengan hati yang berbunga "Maaf, lama ya?" senyum manis Vivian, Niko pun mengangguk.
"Re, bagaiman keadaanmu? kenapa rumahmu juga terlihat sepi? Dimana mama dan papa tinggal sekarang?" rentetan pertanyaan Egar "Aku memang jarang sekali pulang, dan mama papa juga lebih sering bersama nenek di Malang." jelas Revin "Dimana Akiela?" tanya Rayyan "Marsya?" tambah Johan "Kebetulan mereka sedang ada tugas." jawab Revin, Vivian tersenyum penuh arti "Kalian merindukannya ?" goda Vivian "Tentu saja!" Johan segera menjawab.
Berbeda dengan Rayyan, dia tampak terlihat gelisah "Kau kenapa, ada yang kau pikirkan? kenapa gelisah?" tanya Niko dia tau karna dia juga ambil jurusan psikologi selama satu tahun setelah tiga tahun dia menyelesaikan sarjanah hukumnya "Entahlah." kata Rayyan 'Kenapa aku sangat khawatir dengan Akiela, ada apa ini??' batin Rayyan.
Niko mengajak Vivian dan Revin untuk ikut bergabung dengannya di cafe tempat awal mereka berkumpul, "Baiklah." Vivian menerima tawaran Niko dan Revin juga setuju ikut bergbung dengan mereka, lama mereka berbincang. Membicarakan tentang masa lalu saat sekolah bhkan bertukar cerita selama enam tahun lalu.
__ADS_1
Di rasa cukup puas mereka bertukar cerita, Revin berpamitan "Sepertinya kita harus menyambung ceritanya di lain waktu, aku harus pulang rindu dengan suasana rumah!", "Ya, benar kata Revin. Aku juga rindu suasana rumah! Jarang sekali aku pulang, sampai jumpa!" lanjut Vivian. Karena tugas membuat waktu mereka terkuras, sampai tak sempat mengunjungi rumah dan keluarga nya.
Saat Vivian bari saja berdiri, tiba tiba hpnya bergetar tertera panggilan masuk dari rumah sakit TNI. Dia mengernyit bingung "Rumah sakit?" gumamnya, Revin mendengar kata rumah sakit dari Vivian lantas menoleh dengan wajah yang mengatakan 'Apa yang terjadi?' Vivian menjawab dengan memgangkat bahu.
Dia menjawab panggilan tersebut "Apa!!" teriaknya "Kau jangan membual! Memakai nama Jendral Besar sebagai bahan candaan!!" kata Vivian dengan nada marah dan tak terima mendengar kaba4 tersebut, mendengar kalimat Jemdral Besar seketika badannya menegang 'Jen jendral be besar? Jangan bilang itu... Akiela.' batinya susana hati Rayyan seketika bercampur aduk pikirannya melayang layang, memikirkan hal buruk.
"Rumah sakit mana!!" bentak Vivian, setelah mengetahui nama rumah sakitnya Vivian segera memutus sambungat teleponnya,"Ada apa?" tanya Rayyan dengan khawatir "Akiela kecelakaan saat kembali setelah menyelesaikan tugasnya!!" kata Vivian, dia buru buru memasukkan hpnya dalam saku celana kempolnya dan Revin temlntunya juga panik mendemgar jika Akiela kecelakaan.
Rayyan mengendari mobil dengan kecepatan di atas rata rata dan membuat mobil yang lain juga mengikutinya, Rayyan beraharap sampai secepatnya di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit JK, Rayyan segera mendekati meja resepsionis "Dimana ruang rawat Akiela?!" tanya Rayyan dengan nafas tak teratur karna berlari dari tempat parkir "Jendral besar Akiela sedang dalam ruang oprasi dokter." kata resepsionis itu, rumah sakit mana yang tak mengenal Dr. Rayyan. Dokter tampan yang memiliki banyak cabang rumah sakit dan segudang prestasi di bidang kedokteran, dan mendapat oredikat terbaik dokter spesialis anastesi dan bedah.
__ADS_1
Seketika hati Rayyan semakin hancur mendengar itu Rayyan dan yang lain kaget, segera Rayyan berlari ke ruang oprasi sesampainya didepan ruangan terasa kaki Rayyan sangat lemas dia terhuyung hendak terjatuh tapi segera ditangkap oleh ayah Akiela "Kau tak apa apa nak?" tanya ayah Akiela, Rayyan hanya mengangguk, tak lama teman yang lain datang mengejar Rayyan "Om Ryan, tante Mela bagaiman dengan Akiela?" tanya Revin "Masih di dalam., mohon doanya ya." kata ayah Akiela. Mama Akiela melihat ke teman teman Akiela lalu berhenti di Rayyan "Apakah kamu yang bernama Rayyan?" tanya mama Akiela "Ya." jawab Rayyan dengan suara yang sangat lemah.
"Doakan yang terbaik untuknya." kata mama Akiela dan seraya duduk disamping Rayyan "Dia selalu menyebut namamu saat tidur dulu." kata mama Akiela, Rayyan langsung menoleh padanya "Dia juga menitipkan ini, katanya untuk Revin tapi tante yakin sepertinya ini untukmu." kata mama Akiela melihat Revin lalu ke Rayyan dan memberikan surat yang dititipkan Akiela padanya.
Rayyan menerim surat tersebut dengan tangan gemetar dan dengan suasana hati yang sekain kacau 'Ku mohon jangan lagi!' ronta batinnya, Rayan membaca surat dari Akiela dengan hati hati. Tiap kata dalam surat Akiela membuat hati Rayyan semakin teriris kini dia pun menangis, ayah Akiela paham dengan perasaan Rayyan dan segera menepuk bahunya "Doakan yang terbaik." kata ayah Akiela "Kamu adalah pria tegar! Akiela akan sedih melihatmu begini." lanjut ayah Akiela.
Seorang perawat laki laki keluar dari ruang oprasi, Rayyan yang melihat itu segera menghampirinya "Bagaima keadaannya??" tanya Rayyan dan menggenggam erat baju perawat tersebut, "Mohon tenanglah!" kata perawat tersebut. Jas putih Rayyan tersibak hingga memperlihatkan nametag pada kemejanya, perawat tersebut melihat nama yang tertera "Kebetulan dokter Rayyan disini, dokter Hendra meminta saya untuk memanggil anda..." perawat itu belum menyelesaikan kata katanya dan tanpa pikir panjang Rayyan segera masuk karna mengerti dengan ucapan perawat itu.
Pintu ruang oprasi kembali tertutup rapat "Lakukan yang terbaik." gumam mama Akiela, ayah Akiela yang mendengar itu segera memeluk istrinya yang menangis dan tak henti hentinya mereka berdoa begitu juga teman teman Akiela dan Rayyan.
__ADS_1
Didalam ruang oprasi Rayyan gemetar dan tertegun melihat keadaan Akiela 'Apa yang terjadi?' batinnya, "Dokter, bisa kita lanjutkan oprasinya?" tanya salah satu dokter yang mengagetkan lamunannya "Astaga! Ya ya! Kita lanjutkan." kata Rayyan. Oprasi berjalan kembali, banyak luka di tubuh Akiela akibat kecelakan yang menimpanya, Rayyan berusaha keras untuk tingkat keberhasilan oprasi pada Akiela.