
Kini Akiela sudah ada ditaman menunggu Rayyan datang "Ku kira sudah jam 4 tadi, ternyata masih kurang 10 menit. Rekor baru!" gumam Akiela, namun tak sampai 5 menit dia mendengar suara motor Rayyan "Lha, udah sampai? lama nunggu?" tanya Rayyan "Gak, baru juga sampai. Ada apa ngajak ketemu?" tanya Akiela langsung pada intinya karna penasaran. Rayyan mulai ragu mengungkapkan perasaannya "Gak papa, pingin aja." menggaruk kepalanya "Hemm..." jawab Akiela mereka hanya diam lalu Rayyan membuka suara "Kie, sebenarnya aku suka sama kamu." katanya, Akiela terkejut dengan pernyataan Rayyan dia hanya melongo "Gimana Kie?" tanya Rayyan tak sabar karna ini pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya.
"Kasih aku waktu. Maaf kalau gak ada lagi yang mau disampaikan, aku pulang dulu." kata Akiela seraya berdiri melewati Rayyan. Tiba tiba Rayyan memegang tangannya "Ada lagi yang belum tersampaikan?" tanya Akiela, matanya kini mulai berkaca kaca menahan agar air matanya tak menetes di depan Rayyan, melihat itu Rayyan hanya menggeleng dan melepas tangan Akiela "Maaf." kata Rayyan, lalu Akiela segera berlari meninggalkannya ditaman "bodoh, bodoh, bodoh lo Ray! Dia gak bakal suka sama lo bogo! astaga, apa yang lo lakuin Ray dia pasti ngejauhin lo. Bener bener **** lo." kata Rayyan merutuki dirinya sendiri dia menjambak rambutnya frustasi.
Akiela terus berlari sambil menangis dia tak peduli dengan tatapan orang orang yang melihatnya 'Bagaimana ini? aku harus apa?' pikiran Akiela kacau, sesampainya dirumah dia segera masuk kekamarnya dan menangis. Dia mengharapkan Rayyan dan juga menaruh perasaan pada Rayyan tapi bagaimana dengan impiannya menjadi seorang Jendral besar dan bagaimana dengan Rayyan yang ingin menjadi seorang dokter, Akiela takut itu akan mempengaruhi mimoi mereka berdua.
__ADS_1
Selama seminggu di sekolah, dirumah maupun lewat pesan atau sambungan telepon mereka berdua saling menghindar dan hanya menyampaikan seperlunya saja. Dirumah Rayyan saat dia diruang keluarga bersama dengan orang tuanya "Ray, setelah lulus nanti apa keputusanmu nak?" tanya papanya "Entahlah pa." jawab Rayyan kini pikirannya tertuju hanya pada Akiela "Ada apa denganmu nak?" tanya mamanya, dengan berat hati Rayyan mengatakan "Ditolak." orang tuanya saling pandang mengerti apa yang sedang dirasakan putranya itu "Tidak apa, mungkin dia punya alasan tersendiri." kata papanya menguatkan "Pa, ma. Jadi seorang militer apa hebatnya?" tanya Rayyan,orang tuanya bingung harus menjawab apa "Semua profesi itu istimewa sayang." kata mamanya "Kenapa?" tanya papanya "Dia." jawab Rayyan.
Papanya mengerti siapa yang dimaksud dengan 'DIA' Rayyan tak melanjutkan pembicaraannya, lalu Rayyan segera masuk ke kamarnya "Apa yang harus kulakukan?" kata Rayyan Toktok Rayyan segera membuka pintu "Ada apa ma?" tanya Ray "Boleh mama masuk?" pinta mamanya, Rayyan mengangguk mereka duduk ditepi ranjang Rayyan "Nak, apa dia begitu berharga?" tanya mamanya, dan di jawab anggukan oleh Rayyan "Apa kamu sudah yakin?" tanya nya lagi, Rayyan hanya mengangguk yakin "Jika dia berharga bagimu, apa kamu bisa menunggunya hingga menyelesaikan militernya?" tanya mamanya lagi dan lagi lagi hanya anggukan yang menjadi jawaban Rayyan pada pertanyaan mamanya. Mamanya tersenyum dan memeluk putranya "Maka hargailah apapun keputusannya. Jika dia memilih impiannya, itu sudah menjadi keputusannya kamu gak boleh memaksakannya." nasihat mamanya, Rayyan hanya tertunduk. Dia lega karna sudah menyatakan perasaannya tapi hatinya juga sakit.
Dirumah Akiela, dia segera turun untuk makan malam bersama keluarga. "Dek, kenapa matamu bengkak? kamu menangis, kenapa?" tanya mamanya khawatir, mendengar itu ayah langsung menatapnya "Ada apa?" kata ayahnya yang juga khawatir "Tidak ada apa apa, ma." katanya. Orang tua Akiela mengerti, mungkin itu urusan pribadinya "Baiklah. Lanjutkan makanmu." kata mamanya, tidak ada obrolan yang terjadi di meja makan, setelah selesai Akiela langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Berkat kata kata dari ayahnya kini dia bisa tenang. Dia menata kembali apa yang akan dia lakukan di masa memdatang, menatanya dengan benar benar matang agar dia bisa menggenggam cita citanya "Aku harus bisa!" katanya menyemangati dirinya sendiri.
Sejak saat itu dan sampai ujian Nasional selesai Akiela dan Rayyan saling menghindar. Dia mulai ragu, bingung, sedih apa yang harus dilakukannya, dia melihat Rayyan dari jauh dan segera menghampirinya. Rayyan menyadari ada yang mendekat lalu dia menoleh ternyata Akiela sedang berlali ke arahnya "Kenpa kamu lari lari? Ada apa?" tanya Rayyan "Sebentar..." Akiela mengatur nafas "Maaf .... A aku tak bisa men menjadi pacarmu. A aku harus fokus pada pelatihanku. Kamu pun juga harus fokus pada kuliah kedokteranmu." kata Akiela ragu sampai terbata bata "Jika kita berjodoh, kita akan bertemu kembali." kata Akiela, mendengar itu hati Rayyan seketika terasa sangat sakit karna ini adalah yang pertama 'Sesakit ini!' batinnya, dia menahan sesak di dadanya "Tak apa, aku mengerti. Aku akan menunggumu, ayo kuantar pulang." kata Rayyan dengan senyum terpaksa, tapi dia tak menyerah dia akan menunggu Akiela.
"kamu, tetap akan masuk militer?" tanya Egar ragu, Revin mendengar ada yang berubah dari kata katanya langsung menoleh 'Apa aku salah dengar?' batin Revin tak yakin "Apa katamu?" kata Revin "Kamu! Apakah akan tetap masuk militer?" kata Egar mengulangi pertanyaannya "Ah, ya itu mimpiku dari kecil." kata Revin 'Ternyata tak salah dengar, ku kira otaknya rada geser tiba tiba bicara pakai aku kamu.' pikir Revin.
__ADS_1
Egar mengantar Revin sampai rumah dengan aman dan selamat "Paket telah sampai tujuan tanpa lecet sedikitpun, beri tip." kata Egar merentangkan kedua tangan berharap dapat pelukan dari Revin yang berstatus kekasihnya tapi Revin malah berbalik pergi meninggalkannya "Makasih Narona." kata Revin sambil berjalan masuk rumahnya "Demi celana kotak spongebob, kenapa harus Narona lagi!" kata Egar pelan tapi masih bisa didengar oleh Revin "Panggilan sayang untukmu!!" teriak Revin yang sudah membuka pintu rumahnya, wajah Egar langsung berbunga lalu dia meninggalkan halaman rumah Revin dan segera memasuki pekarangan rumahnya.