
"Jadi paman adalah.... Seorang mafia?!" Akiela benar benar tak percaya bahkan kata mafia seperti mitos menurutnya "Lalu bagaimana dengan amda berdua Tuan Bayu dan Tuan Abraham?!" beralih pada seniornya.
Keduanya hanya tersenyum, Akiela semakain tak percaya "Aku di latih dua orang mafia juga!!" suara cempreng Akiela menggema di dalam ruangan tersebut membuat Bayu dan Abrahan menggelakkan tawanya, tapi tidak dengam Xander dia masih kecewa dengan sikap putrinya.
"Biarkan Susan menjalani hukumannya Akiela!" tangan Xander terangkat hendak meraih Susan dari dekapam Akiela namun langsung terhalangi oleh tangan Akiela.
"Tidak!! Dia juga adikku! Aku akan membawanya ke rumah sakit." Akiela berdiri lalu satu orang pengawal yang ada di sana membantu Akiela menggendomg Susam ke dalam mobilnya.
"Dan jika paman ikut denganku maka kita akan langsung ke tempat bibi Dinda tinggal tapi jika paman ingin bernistalgia disini maka di tunda saja bertemu dengan bibi Dinda." kata Akiela yang berlalu meninggalkan Xander yang melebarkan mata kaget sekaligus bahagia.
Xander dengan cepat melangkahkan kaki mengejar Akiela yang sudah berjalan keluar rumah, "Apa dia mau pemsiun?!" tanya Abraham pada Bayu.
"Mungkin! Kitakan sudah mulai tua." jawab Bayu tanpa melihat ke arah Abrahan lalu sedetik kemudian mereka saling berpandangan dan tertawa bersama atas kekonyolan mereka bertiga.
Susam sudah mendapatkan perawatan oleh dokter ahli di rumah sakit milik Rayyan, dan sekarang Akiela dan Xander melajukan kendaraannya ke lokasi yang telah di kirim.
Desa terpencil yang jauh dari keramaian, desa yang tentram dan udara yang sejuk. "Di mana kalian?", "Ya." memutuskan sambungan teleponnya.
Akiela menanyakan berapa nomor rumahnya tapi hanya di jawab dengan warna cat rumah dan ciri ciri rumah lainnya. Akiela sebalenarnya antara yakin dan tidak yakin dengam rumah yang di pandangnya "Apa benar?" gumam Akiela lalu melihat ke sekitar rumah tersebut.
Dan benar tampak satu orang suruhannya yang masih berada di dekat sana dan sedang berbincang dengan warga sekitar agar tidak di curigai dan menyebankan masalah baru lagi.
Akiela turun dari mobil melangkahkan kaki ke rumah kecil dan sederhana, belum Akiela mengetuk pintu tapi pintunya sudah di buka oleh seorang wanita yang mirip sekali dengan mamanya. Akiela lantas meneteskan air matanya "Bibi." lirihnya tapi masih bisa di dengar jelas oleh Dinda.
"Kamu siapa nak?!" tanya Dinda yang mendapat pelukan hangat dari Akiela yang menumpahkan rasa haru dan bahagianya "Bibi." Dinda bingung dengan kata 'Bibi' yang di keluarkan Akiela.
"Dinda." suara berat yang selama ini selalu di rindukannya, Dinda menoleh ke arah sumber suara bening keristal mengalir di pipi putihnya.
"Mas!" air matanya terus mengalir ke tak henti hentinya, Xander menghampiri Dinda yang masih di peluk oleh Akiela "Dia keponakan kita, apa kau lupa?" kata Xander yang mengelus kepala Akiela.
__ADS_1
"Dia!" Dinda menutup mulutnya, tangisnya semakin menjadi sampai banyak tetangga yang keluar melihat kejadiam tersebut. "Kamu putrinya mbak Mela? Namamu Akiela nak?" menangkup wajah Akiela.
Akiela hanya mampu mengangguk dia sangat bahagia bisa menemukan bibinya yang sudah lama menghilang.
Mereka masuk ke dalam rumah untuk melanjitkan perbincangan mereka, "Susan di mana mas? Katanya ikut kamu ke Italia?!" ramah Dinda.
'Sunggu wanit yang lemah lembut beda dengan mama yang apa apa langsung teriak!' batinnya memandingan kakak beradik antara mama dan bininya yang sedang di depan mata.
"Susan berada di rumah sakit sekarang karna salah paham dengan Akiela dan berkerja sama untuk memeberontak pada negara." kata Xander yang jujur.
"Paman kenapa jujur banget sih!" Akiela mencubit kesal lengan pamannya yang langsung jujur begitu saja tentang keadaan Susan pada bibinya.
"Lalu harus bagaimana? Dia kata bohong itu dosa, jadi paman haris jujur." menunjuk ke arah Dinda yang tersenyum melihat tingkah suami dan keponakannya.
"Sudah sudah." Dinda melerai perdebatan mereka. Lama sekali mereka membujuk Dinda agar ikut bersama ke kota dan tinggal bersama kembali.
"Baiklah aku akan ikut." jawab Dinda pasrah lagi pula dia juga memang merindukan keluarganya, "Yay!!!" sorak mereka berdua senang.
"Walaikumsal.... Bunda!!" teriak Susan dia langsun turum dari ranjang tanpa mengjiaraukam selang infus yang masih tertancap pada tangannya.
"Kalau itu tanganmu rusak, toko material gak jual barang murahan seperti itu." Akiela menunjuk tangan Susan yang luka akibat jarum infus yang tertarik "Mau ku ganti dengan tangan orang utan, mumpung banya dokter spesialis di sini." gurau Akiela.
Dokter dan perawat sedikit kesal dengan tingkat Susan yang sampai seperti ini "Maaf dokter." namun hanya mendapat dengusan oleh mereka.
Akiela malah tertawa ngakak "Rasain tuh, anak bos mafia di ocehin dokter." menggelakkan tawanya lagi dan mendapat lemparan jeruk dari Susan.
"Senang ya!" cibir Susan yang mulai panas "Dasar Kompor!" julukan baru yang Susan beri untum Akiela.
Akiela berdiri mendekati Susan dan mengukurkan tangam mengajak berjabat tangan dan dengan bingung Susan menerima jabatan tersebut "Kenalin! QUANTUM!" kaya Akiela.
__ADS_1
"Dasar Jendral Bengek!!" Susan menghempaskan jabatan tangan Akiela, Dinda dan Xander tertawa dan senang melihat mereka yang sudah akur.
Ryan dan Mela juga Rayyan mendapat kabar dari Akiela jika sekarang dia sedang di rumah sakit bersama dengan Susan, Xander dan Dinda yang baru di bawanua dari desa langsung menancapkan gas berangkan ke tempat tujuan tak lupa juga Dilla dan Dika yang ikit serta.
"Dinda!!!" teriak Mela berlari memeluk adik satu sarunya itu "Mbak sudah ada cucu masih saja begini." kata Dinda yang juga membalas pelukan Mela.
"Kangen emang kenapa sih?!" mengerucutkan bibirnya kesal, Dinda hanya tersenyum geli ternyata sifat kakaknya masih juga sama seperti dulu tidak berubah sedikit pun padanya.
"Sudah nenek nenek masih manja sama adik pula." cibir Akiela pelan namun masih bisa di dengar oleh pendengaran tajam Mela yang setajam silet.
"Kau bilang apa?!!" sambil berkacak pinggang Mela mendekati sang putri yang dari dulu selalu usil mencibir apa apa saja yang dia atau Ryan.
Merasa tanda tanda bahaya segera Akiela bersembunyi di belakang ayahnya "Hehehe." dengan tertawa usil Akiela terus mengejek sang mama agar semakin kesal dan terjadilah kejar kejaran hingga membuat semua orang tertawa melihatnnya.
Susan kembali lagi menjadi pribadi yang lebih baik, lemah lembut dan sopan seperti dulu. Susan dan Dinda ikut bersamaXander tinggal di Italia "Maaf atas semua kelakuanku padamu dan pada keluargamu." sesal Susan pada Rayyan dihadapan keluarga Akiela dan orang tua Rayyan.
Raka membelai penuh sayang layaknya seorang ayah pada putrinya "Tidak apa, itu sudah berlalu. Sekarang kita mulai dengan lembaran baru." dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Susan mendongak menatap Raka yang bagai ayahnya sendiri sejak dia kecil "Terimakasih." memeluk Raka dengan derai air mata.
"Maaf kami harus segera pergi." kata Xander memotong pembicaraan mereka "Jet pribadiku sudah menunggu kami harus segera berangkat." dia mendekati Akiela yang masih bercanda demgan Susan "Nak, jaga diri baik baik. Jika kau perlu bantuan paman siap membantumu apa pun itu." dengan mantap Xander memgatakannya.
Akiela mengangguk, "Tapi baru kemarin aku bertemu dengan bibi tapi sekarang sudah mau di bawa pergi sama paman." menengok Dinda yang berada si belakang Xander dengan cemberut.
Xander mengikuti arah pandang Akiela dan tersenyum "Mereka berdua bisa kapan saja berkunjung kemari, aku tidak akan melarang nya." mengacak acak rambut Akiela.
Mereka mengantar Susan dang kedua orang tuanya sampai depan rumah "Selamat beetemu kembali Jendral besar." ucapan terakhir dari Susan lalu mereka masuk kedalam mobil yang sudah menjemput mereka sejak tadi.
Air mata Akiela menetes "Dari musuh yang ternyata adalah saudara." mengusap tetes tetes kristal bening yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
Rayyan memeluk pundak Akiela begitu banyak cobaan yang mereka tempuh dari titik nol sampai sekarang. Hingga masa masa tersulit pun mereka sanggup melaluinya.
Kini rumah tangga Rayyamln dan Akiela kembali tenang, dan acara pernikahan Nico dan Vivian yang tertunda di rencakan kembali juga acara pertungan Johan dan Marsya hingga persiapan pernikahan Revin dengan Egar yang berjarak dua bulan setelah Nico dan Vivian.